
Ny. Alice telah habis kesabarannya. Sudah beberapa bulan ini dia mengetahui pernikahan diam-diam salah satu putranya yang bernama Lucas itu. Baginya, samasekali tidak masalah putranya berhubungan diam-diam atau lebih tepatnya memiliki istri simpanan.
Namun, yang membuat Ny. Alice berang adalah, perempuan yang dipilih Lucas sebagai istrinya adalah seorang perempuan muda yang saat ini tengah hamil. Akan bagus jika itu anak Lucas, berarti perempuan itu mengandung cucunya. Dan nyatanya, hanya kekecewaan terasa. Karena pada kenyataannya, istri Lucas tengah mengandung dari hubungannya di masa lalu dengan lelaki lain. Dan mirisnya, Lucas tahu situasi itu. Lucas memilih berkorban untuk itu.
Apa yang sebenarnya ada dalam fikiran Lucas saat itu ?
" Ibu mengetahuinya ? " Tanya Lucas terlihat begitu tegang.
" Tentu saja. Kau fikir ibumu ini bodoh, sampai tidak mengetahui semua masalah yang sedang dialami kedua putraku. "
Ny. Alice menjawab pertanyaan itu dengan begitu santai. Bagi Ny. Alice, Meera adalah sebutir pasir di pantai. Yang tidak sengaja terbawa ke dalam kapal pesiar. Saat pemiliknya turun menginjak pantai lalu kembali ke lautan. Mengusir Meera dari hidup Lucas semudah seperti menjentikkan jari. Namun, dia tetap membutuhkan Meera untuk mengendalikan Lucas di masa depan.
Helaan nafas Lucas terdengar begitu kencang. Fikirannya kalut, mendadak gusar dan tidak tenang. Sudah dua hari ini dia menghindari Meera. Pergi dari apartemen, malah pulang ke rumah sang ibu untuk menenangkan diri dan sedikit melepas rindu. Siapa sangka, nyatanya masalah baru datang mendera.
Apa, jangan-jangan ibu yang sebenarnya sudah mengirim foto Meera dan Vano padanya ?
" Tunggu ! " Ny. Alice menoleh. Mengangkat kedua alisnya.
" Apa ibu yang mengirim foto itu ? " Lucas terdengar begitu serius. Dan saat itu, tanpa mendengar jawaban dari Ny. Alice pun, Lucas langsung tahu saat melihat seringaian tipis di bibir ibunya.
" Arrgghhh !! " Lucas menjambak kasar rambutnya kesal.
" Menikahlah dengan Helena ! " Sergah cepat Ny. Alice.
" Tidak ! " Tolak Lucas tegas.
" Aku sudah memenuhi janjiku padamu bukan ? Dalam enam bulan sudah kubuktikan padamu. " Teriak Lucas lantang.
" Baiklah kalau begitu. Kita lihat saja nanti. " Jawab Ny. Alice dengan begitu santai. Sembari menyeringai.
" Apa maksudmu ? " Teriak Lucas.
Tak ada jawaban terdengar, karena setelah itu, Ny. Alice berlalu pergi begitu saja meninggalkan Lucas untuk merenungi semua masalah yang dibuatnya itu.
.
.
Hari ini adalah hari paling kelam dalam hidup Meera. Sudah dua hari Lucas pergi dari apartemen tempat mereka tinggal, dan belum kembali sampai sekarang juga. Meninggalkan tanda tanya besar dalam benak fikirannya.
Setelah sikap dingin Lucas malam itu, Lucas tiba-tiba saja pergi meninggalkannya sendiri tanpa sepatah katapun. Bahkan sampai detik ini pun tidak ada kabarnya sama sekali. Ponselnya samasekali tidak bisa dihubungi. Hanya sempat terdengar kabar dari Vincent asistennya, jika Lucas sedang menyelesaikan beberapa masalah di perusahaannya.
Dan baru saja, beberapa menit lalu, Ny. Alice baru saja beranjak pergi dari hadapannya. Meninggalkan dirinya yang kini dipenuhi dengan air mata.
Tadi pagi, baru saja Meera terbangun dari tidurnya yang tak lagi nyenyak, mendapat panggilan telfon yang cukup memekakan telinga. Awalnya Meera senang, mengira Lucas yang menghubunginya. Namun, nyatanya orang lain yang ternyata adalah ibu mertuanya yang memintanya bertemu di luaran sana. Tepatnya di restoran di dekat gedung apartemen milik Lucas.
Masih terngiang dengan begitu jelas ucapan sang ibu mertua yang baru pertama kali dia jumpai itu. Tak ada sambutan hangat kepada sang menantu ataupun yang lainnya. Yang ada hanyalah rasa sakit yang kini tersisa dan terukir jelas di hatinya.
" Tinggalkan putraku ! Kau samasekali tidak pantas untuknya ! " Ucap Ny. Alice.
Meera hanya menunduk, jarinya bertautan saling merem*s, tak berani bahkan tak mampu untuk berucap sekalipun. Dia terlanjur rendah diri saat itu.
Meera mengerti, ibu mana yang ingin dan menerima dengan sukarela bahwa putra lelakinya menikahi perempuan yang sedang hamil dari lelaki lain. Tapi, ini bukan sepenuhnya kesalahannya bukan ? Lucas yang memintanya, bahkan dengan sedikit memaksanya, menentukan tanggal pernikahan dengan begitu cepat tanpa memberi waktu bagi Meera untuk berfikir apalagi menolak.
" Kapan kau akan pergi dari hidup putraku ? " Tanya Ny. Alice.
Meera hanya diam terpaku saat itu. Dia masih bingung dengan apa yang dihadapinya kini. Belum lagi Lucas yang belum juga dia temui setelah dua hari ini.
" Kapan ?!! " Sentak Ny. Alice. Ketika merasa Meera tak menggubris.
Meera tersentak kaget, lalu menatap Ny. Alice dengan mata yang sudah berlinang.
Terbata-bata Meera berucap. Terisak kemudian, dia sungguh tidak mampu menjawabnya dan melakukannya.
Dia samasekali tidak memiliki siapa lagi di dunia ini. Orang tua yang selama ini membesarkan dan merawatnya sudah meninggal dari semenjak Meera remaja. Tanpa ada saudara dan keluarga lainnya. Menyisakan dia yang hidup sebatang kara.
Meera menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Aku tidak bisa, Nyonya. Maafkan aku. "
Meera menangis sesenggukan saat itu. Bukanlah Ny. Alice jika hatinya mudah tersentuh. Dia samasekali tidak peduli dengan pemandangan menyedihkan di depan matanya itu.
Berlangsung lama perbincangan itu berlanjut, penuh dengan kata-kata menyakitkan nan memilukan hati. Dan penuh dengan deraian air mata yang membasahi pipi.
Namun, akhirnya tetap sama, kesimpulannya tetap tak berubah. Meera tetap harus pergi dari sisi Lucas.
.
.
Lucas tiba-tiba datang menginterupsi lamunan Meera, yang saat itu tampak sedang tidak fokus memotong sayuran di dapurnya.
" Apa yang sedang kau fikirkan, hmm ? Kau hampir memotong jari-jari cantikmu ini. "
Lucas meraih jari-jari Meera yang lentik, lalu mengecupnya dan menyesapnya lembut dalam waktu yang cukup lama.
Sudah sedari malam Lucas pulang. Setelah pergi menghilang selama dua hari, Lucas kembali dengan hati yang semakin tidak tenang yang justru semakin carut marut terasa. Mengetahui Ny. Alice dalang dari masalah tempo hari, cukup membuat dirinya merasa gelisah. Syukurlah, menghabiskan waktu bersama Meera membuat hatinya lebih tenang dan nyaman.
Dan kini pagi ini, Meera tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk sang suami yang akan pergi untuk bekerja. Setelah semalam tadi mereka menghabiskan waktu semalaman untuk bercinta dan bermanja.
" Kau juga belum menjawab kenapa dua hari lalu kau menghilang ? " Meera mencoba menghindari pertanyaan dengan cara membalikkan keadaan.
" Aku-- apakah itu penting bagimu ? " Lucas menyampirkan lengannya di pinggang istrinya. Sembari nakal mencuri ciuman di pipi mulus istrinya itu.
" Apakah penting juga mengetahui apa yang sedang ku fikirkan ? " Tanya Meera tajam. Dia tak ingin menyerah sampai mengetahui alasan suaminya pergi meninggalkan dirinya begitu saja dua hari lalu.
Kadang Meera berfikir, haruskan dia mengetahuinya ? Sementara dirinya sendiri merahasiakan permasalahannya sendiri, bahkan kemungkinan akan pergi dari sisi Lucas entah kapan waktunya tiba.
Meera hanya berharap suatu saat Lucas tahu bahwa yang dilakukan olehnya hanyalah karena keterpaksaan belaka.
Lucas tersenyum kecut, menjauhkan lengannya dari tubuh Meera. Menghela nafas kemudian, lalu memutuskan untuk memilih topik pembicaraan yang lain saja.
" Kandunganmu sudah semakin membesar, aku ingat, sekitar dua minggu lagi jadwal melahirkanmu. Apa kau sudah siap ? " Tanya Lucas sembari mengelus perut istrinya itu. Tampak raut cemas tergambar begitu jelas di wajahnya.
" Hmm. Aku-- akan berusaha untuk slalu kuat. Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja. " Jawab Meera ragu. Membayangkan dirinya yang akan pergi dan melahirkan tanpa didampingi suaminya nanti. Sungguh menyedihkan.
" Aku akan slalu mendampingimu. Percayalah hmm .. " Kecup Lucas pada kening istrinya berusaha menenangkannya sekaligus.
Dan Meera hanya membalasnya dengan anggukan pelan, senyuman getir dan tatapan kosong penuh kehampaan. Karena menyadari hal itu sudah dipastikan tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, coment yang banyak ... dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐