
Tujuh tahun kemudian. Di kota LN. Cindy duduk di kursi belakang kemudi mobilnya dia memandangi lalu lintas dan orang-orang yang berlalu lalang di jalanan padatnya kota LN, kegiatannya pergi ke butik dan sekolah kursus yang di dirikan nya semuanya atas ijin Stuart, ia juga diijinkan Stuart pergi kemanapun dengan mobilnya yang mini namun berharga selangit. Dia masih berperan sebagai seorang ibu dan istri yang baik. Mobilnya pun terparkir berjejer dengan mobil-mobil yang lain. Dengan santai ia melenggang berjalan di basemen menuju ke lift di gedung mall. Melewati ruko-ruko dan estalase-estalase dia menikmati pemandangan disekitarnya hingga akhirnya ia pun fokus pada pandangan orang yang duduk beramai-ramai di bangku food court, Wanita muda itulah sebabnya mengapa dia menatapnya tak berkedip. Revalia? Dia di kota LN? Apa yang akan terjadi selanjutnya jika kami bertemu? Cindy bergegas berjalan menuju ke tempat kerjanya agar tidak terlihat oleh gadis itu. Hatinya bertanya-tanya dan cemas bagaimana caranya dia menjelaskan nantinya. Cindy mempercepat langkahnya menuju ke sekolah kursus miliknya. Dia langsung masuk ke dalam ruangan nya dan mengambilnya air mineral di dalam mesin pendingin diminumnya hingga tandas. Tenanglah Cindy kota LN sangat luas yakinlah bahwa kemungkinan kecil kaliyan akan bertemu. Mereka bersaudara tentunya struktur wajah, rambut, mata akan sama dan kenapa gen Ambressio begitu kuat, runtuknya kesal.
Dia duduk tangannya masih gemetar saat memegang botolnya sisa minuman. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja jangan khawatir karena sesuatu hal yang sama sekali tidak penting. Dia yang mencampakkanku dia juga yang berkhianat jadi wajarlah kalau kau berbohong seperti ini. Jangan takut semua sudah yang terjadi sesuai atas keinginannya. Dia kemudian mencoba memfokuskan perhatiannya khusus pada kertas-kertas design, saat ini dia mendapatkan pesanan dari pelanggan dan dia sudah memiliki beberapa prestasi dalam design fashion nya, dengan mengikuti event fashion show yang diselenggarakan di kota LN. Dia selalu mengikuti setiap event yang ada hingga design nya dikenal dan sekarang sudah memiliki nama dan sudah dapat disejajarkan oleh para designer muda.
Di food court Revalia duduk bersama teman-temannya satu kelas, mereka kuliah di universitas yang sama .Mereka mengobrol dan berbagi makanan karena kelasnya kosong Dia hanya ingin hang out bareng teman-teman nya. Setelah suntuk dengan berbagai rutinitas sebagai mahasiswi. Revalia tertawa mendengar cerita lucu temannya dan tampa sengaja ia menoleh menatap sebuah objek yang menarik perhatiannya matanya menyipit, iris mata birunya menatap seorang gadis cilik yang berjalan bersama seorang lelaki berpakaian kasual dengan menggendong anak kecil berusia kurang lebihnya lima tahun. Berambut hitam panjang. Keduanya berambut panjang, hanya yang berjalan itu mirip dengan Sarah saat masih kecil. "Permisi aku ke toilet dulu." pamitnya setengah berlari mengejar ketiganya.
"Hai.. permisi. Maaf mengganggu." Revalia memotong langkah keduanya.
"Ya ? Ada yang bisa kita bantu ?" tanya Stuart.
" Mhmm. Ya, maaf boleh kah kutahu namanya? " katanya dengan menunjuk gadis disampingnya Stuart. Lelaki itu tersenyum dengan lesung pipinya dia menatap gadis kecilnya.
"Dia putriku Isabella Weitzman. Ada yang salah?" tanyanya. Revalia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan gawai dan disodorkannya pada Stuart. Wallpaper phone nya adalah gambaran dirinya saat dulu dengan Sarah. " Lihatlah Dia sangat mirip dengan adikku. Maafkan aku sebelumnya", katanya sedangkan Stuart menatapnya dingin tampa ekspresi. Revalia kekeh masih membuka galery photo dan disodorkannya lagi ada gambar dirinya, Sarah dan Cindy. "Apakah kau juga mengetahui dirinya?" lanjutnya. Stuart menggeleng cepat lelaki itu semakin kesal ," Mungkin ini hanya suatu kebetulan saja". Jawab Stuart lagi kemudian mulai berjalan bersama Isabella meninggalkan Revalia.
Begitu mereka memasuki ruangannya Cindy wanita cantik ini langsung menyapa Stuart dengan ciuman di bibirnya dengan memeluknya dan Lelaki itu hanya diam dengan ekspresi wajah datarnya. "Kenapa?" Cindy bingung melihat keduanya. "Tadi ada kakak yang bertanya kepada Daddy tanyain aku, katanya aku mirip adiknya." Jawab Isabella Cindy menghentikan pergerakannya saat hendak menciumi pipinya Isabella. Cindy hanya terdiam terpaku menatap sang suami." Aku tadi juga melihatnya secara tak sengaja tapi aku sudah berhasil menghindarinya kurasa dia tidak melihat aku", jawab Cindy dengan menarik bajunya Stuart dengan menunduk. Stuart menarik pinggulnya Cindy memeluk nya erat-erat hingga tak bercelah merasa bersalah pada istrinya. "Kau terkejut melihatnya?" tanyanya dengan nada melunak. Wanita itu hanya mengangguk, Stuart mencium bibir Cindy sekilas. Mereka berjalan beriringan menuju sofa. "Maaf" Cicit Cindy saat mereka duduk. Stuart membelai rambutnya dengan lembut. Stuart mengalihkannya dengan memberikan si kecil Shawn Weitzman. Setelah pernikahan mereka menginjak tahun ke tiga Cindy melahirkan anak laki-laki diberi nama Shawn Weitzman Stuart yang memohonkan padanya untuk menjeda kelahiran. "Bagaimana kamu suka sekolah, apa kegiatan sekolahmu hari ini sayang?'" tanya Cindy mengalihkan pembicaraan. "Ya momy. Amat sangat" jawabnya dengan antusias dia pun menceritakan segalanya dari awal hingga akhir. Cindy mendengarkan celotehan Isabella dengan mengelus punggung Shawn yang ada dipelukkan nya karena balita nya mulai mengantuk. Sedangkan Stuart asyik dengan gawainya namun tangannya yang satunya melingkar di bahu istrinya. " Bagaimana jika kita makan siang bersama kita jemput kakak dulu lalu kita ke restoran favorit kalian,mhm?" usulan Cindy. Isabella bersorak gembira. Sebelum datang ke kantor Cindy, Isabella sudah pulang ke rumah dan berganti pakaian lalu diajak Daddy nya pergi ke kantor momynya.
Mereka berjalan beriringan keluar dan melewati tempat Revalia duduk tadi namun ia sudah tidak ada. Mereka pergi menjemput Revano dan Amalia di sekolah nya terlebih dahulu baru kemudian mereka pergi ke restoran untuk makan siang. Mereka bersenda gurau dengan cerianya.
Malam hari. Cindy duduk di depan cermin melakukan aktivitas ritual skincare nya matanya menangkap bayangan Stuart keluar dari kamar mandi ia bangkit menghampirinya dan memeluk pinggangnya. Lelaki itu hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya, saat ini dia hanya mengenakan handuk sepinggang dengan dada bidangnya terekspos polos. Cindy mengelus dadanya dan mencium nya sekilas. " Maafkan aku sayang. Ketakutan ku akan terjadi bagaimanapun mereka bersaudara. Bagaimana cara mengatasi nya?" tanyanya gamang. Stuart meraih wajahnya dan mencium bibir istrinya lembut secara perlahan lama kelamaan menjadi tuntutan penuh hasrat Cindy mengalungkan tangannya ke leher Stuart dengan tangannya Stuart menanggalkan gaun tidurnya. Diremasnya pantat Cindy dan dengan sekali gerakan ia mengangkat kedua pahanya Cindy, Wanitanya itu langsung melingkarkan kakinya ke pinggang Stuart keduanya saling bercumbu dengan segala cara. Seusai pergumulan panas yang panjang Cindy dalam dekapannya Stuart " Semua akan aku atur sweat heart. Jangan cemas, aku yang akan menangani semua nya". Kata nya mencoba menenangkan Cindy wanita itu hanya mengangguk hingga akhirnya mereka tertidur.
Di Club malam. Ambressio sedang menikmati permainan wanita bayarannya di pangkuannya tangan nya menggenggam segelas wine bersama kedua rekannya. Mereka bahkan melakukan di tempatnya itu tampa ragu atau sungkan dengan yang lain. Phonsel pintar nya bergetar sebuah notifikasi SMS masuk. Awalnya dia tak menganggapnya namun suara beruntun terdengar lagi. Sejenak ia mengeram hasratnya sudah tersalurkan tampa basa basi ia menyingkirkan wanita itu dan melepaskan pengamanan serta melemparkan ke tempat sampah serta membetulkan celananya ia raih gawainya. Sedangkan yang lainnya juga menyudahinya kegiatan panasnya. Tut. Sekali sentuh nampak lah foto-foto gadis cilik yang di gandeng seorang lelaki dan wajah sang anak perempuan kecil itu. Dan terakhir gambar keluarga dari belakangnya dan dari samping. Dari postur tubuh mungil itu dia teringat mendiang istrinya nya digulirkan oleh Ambressio lagi nampak dari samping ia zoom lagi dan jelas senyuman itu. Cindy! gumamnya.
"Ada apa serius sekali?" tanya Xander
Begitu sampai dia memakirkan mobil dan berlari masuk. Lelaki itu berteriak memanggilnya " Reynald ! Rey.." belum selesai dia berkata suaranya Reynald menginterupsi " Ada apa berteriak. Ini sudah tengah malam.'
"Revalia mengirimkan foto-fotonya apa kau sudah menerimanya?" tanyanya bergegas naik ke lantai dua. Reynald berjalan ke ruang kerjanya dan duduk. "Lantas apa masalahnya?"
Tanyanya malas. " Bukan hanya sekedar iseng? Apa ini nyata?" cecar nya. "Aku akan mengeceknya besuk." Jawab Reynald santai. "Apa dia putriku yang dikandungnya itu sudah tujuh tahun. Aku rasa.." Belum selesai kalimat Ambressio sudah dipotong lagi. " Tenanglah lihat situasi dulu baru bertindak. " Apa kau tak melihat dia tidak sendirian? Dia bersama anak-anak dan ada seseorang membantunya parahnya dia orang yang berpengaruh, nyatanya pekerjaan itu sangat rapi dan tak ada jejak di tempat kejadian. Kita harus berhati-hti Ambressio." Tekannya mencoba memberikan penjelasan.
Celine Cartwright melenggang menyusuri pertokoan di mall terbesar kota LN dia asyik berbelanja, dia sudah mengacuhkan keluarga yang dipikirkannya hanya uang, jika sudah bosan dengan semua pakaiannya ia menjualnya lagi, dia membeli bangunan yang di gunakan untuk menjual pakaiannya yang tidak disukainya dengan harga setengahnya. Bruukk. Celine Cartwright menabrak seseorang sehingga tas-tas belanjaannya berserakan ", Maaf saya tidak sengaja." serunya. "Iya tak masalah." Wanita itu membantu mengambil tas-tas belanjaannya. "Cindy?" Celine Cartwright tertegun menatap tajam kearah orang didepannya." Kau masih hidup? " Tubuhnya Cindy menegang kaku, Celine Cartwright bergerak maju tiba-tiba seseorang menyela diantaranya mereka berdua. "Apa kau mengenal istri ku nona?" tanah lelaki itu bernada dingin.
"Kau?" Celine seperti terhipnotis melihatnya Stuart langsung mendekapnya dan membawa pergi dari tempat itu. "Mulai besuk jangan ke kantor cukup asisten mu yang datang ke mansion kita." bisiknya dengan menciumi puncaknya.
Cindy linglung dia bertemu dengan orang dimasa lalu yang mengingatkan lukanya lagi.
Celine Cartwright mengenali Stuart Weitzman dia sudah melihatnya di media cetak ataupun elektronik, lelaki itu mengakui menikahi seorang wanita biasa dari benua Asia ternyata yang dimaksud adalah Cindy. Dunia benar-benar sempit batinnya. Sesampainya dimansion Cindy masih tidak percaya sudah bertemu lagi dengan wanita itu. Stuart membimbingnya ke kamarnya dan duduk di pinggiran kasur king size. "Sayang.." kata Cindy terbata matanya mengerjap-ngerjap mengembun. Stuart menciumi bibirnya " Tenanglah sayang. Semua baik-baik saja". Dipeluknya dengan erat-erat tubuhnya yang mungil.Dan mengalihkan pikirannya dengan mencumbuinya dan mengajaknya bercinta. Pergulatan panas pun terjadi.
Begitu sampai di hotel Celine Cartwrigh menghubungi Ambressio," Tidak ada salahnya bersenang-senang " gumamnya.
Wanita itu berangan-angan akan mendapatkan kompensasi atas informasi ini dari Ambressio. Diapun mengirimkan pesan singkat pada Ambressio.
Bandara kota LN. Ambressio melangkahkan kakinya tergesa dengan koper nya. Ia sudah tidak sabar menunggu keputusan Reynald yang selalu berusaha untuk tenang dan sesuai prosedur. Dia membuka gawai nya. Notifikasi mengatakan informasi tentang Cindy dan foto nya yang jelas bersama lelaki itu lagi. Dia menuju hotel tempat Celine menginap sebelumnya dia memboking kamarnya dan menyuruh room boy memasukkan koper nya. Disinilah dia berhadapan dengan Celine Cartwrigh. Wanita itu mengenakan lingerie pendek merah menyala tampa bra hanya penutup **** * saja pada saat membuka kamarnya. Celine tersenyum menggoda diraihlah dasi Ambressio dan menariknya masuk lelaki itu langsung meringsek mengikis jarak diantara mereka seraya melepaskan pakaiannya matanya nyalang menatap tubuh yang hampir telanjang . "Let's have fun honey". Katanya dengan mengalungkan tangannya ke lehernya Ambressio. Lelaki itu hanya mengikutinya kemauannya, dengan kasar ia mencumbuinya, bersamaan dengan merobek lingerie itu dia meremas dan bergerak ke seluruh tubuhnya parahnya Celine Cartwright mendesah saat dia langsung menekan penyatuan dan menghentakkan nya celaka ia memintanya terus. "Akh....Terus Ambressio " teriaknya diantara desahannya, terus terang Ambressio bertambah kesal karena informasi yang diinginkan harus dibayar dengan cara seperti ini. Dia bergumul hanya terus bergerak melakukan itu dengan penuh kemarahan bahkan ia langsung melakukan penyatuan tampa pemanasan. Rupanya Celine sudah menyediakan pengaman yang banyak di atas nakas, Celine merasa puas atas cumbuan Ambressio biarpun kasar namun ia menyukainya. Akhirnya aku tahu rasanya bercinta dengan lelaki idamanku hanya itu pikirannya. Berbagai gaya mereka gunakan bahkan Celine sengaja mencampur minumannya dengan obat-obatan agar mereka dapat bercinta berlama-lama. Ambressio hanya melakukan hubungan intim sesuai arahan Celine. Dia menyadarinya jika semua itu sudah diatur oleh wanita itu dari alat pengaman, minuman dan makanan yang sudah tersedia di kamarnya. Sama seperti saat ini dia sedang menggempur Celine di bawah shower, tubuhnya di tekannya di dinding kamar mandi dengan kakinya diangkat satu sedangkan tangannya Celine berpegang pada lehernya Ambressio. Lelaki itu langsung melesat ke intinya tampa pemanasan seperti biasanya, dan tampa mencumbui nya. Ambressio masih kesal karena pengaruh obat itu masih ditubuhnya. Dia mempercepat irama nya agar cepat mencapai puncak kenikmatan. Setelah pelepasan pertama dia masih menyatukan lagi lewat belakang Celine berpegangan pada wastafelnya tubuhnya luruh setelah pelepasannya Ambressio langsung membersihkan diri tampa memperdulikannya dia keluar dari kamar mandi dengan handuk sepinggang. Duduk di sofa dengan mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Ranjangnya masih berantakan karena pergulatan panas yang mereka lakukan. Dia meminta jasa layanan kamar untuk seprai baru dan membersihkannya Ambressio hanya duduk di balkon dengan bertelanjang dada dengan handuk sepinggang ia makan makan dan minuman nya karena dia butuhkan asupan. Saatnya perhitungan dia sudah bercinta dengannya selama tiga hari sungguh membosankan pikir nya. Celine muncul dengan berbalut bathrob duduk di hadapannya. "Dia sudah menikah dengan lelaki berpengaruh di kota LN dan lelakinya begitu posesif".