
Dengan memakai kursi roda, Meera kembali pulang ke rumah. Lucas setia mendorongnya di belakang. Dengan wajah yang masih ditekuk. Dari kemarin dia memendam perasaan, beribu penasaran, dan sejuta pertanyaan. Ada apa gerangan yang terjadi dengan Vano dan istrinya.
Setelah melihat kondisi Meera kemarin, Lucas keluar dari kamar istrinya untuk menemui Vano dan meminta penjelasan padanya. Namun sayang, Vano telah pergi dari rumah sakit.
Pengasuh Nara bahkan sudah menjelaskan kejadian kemarin siang. Namun, karena rasa cemburu yang berlebihan, penjelasan itu samasekali tak mengobati rasa penasaran yang bergemuruh di dalam dada.
Lucas hanya butuh pelampiasan untuk menunjukkan rasa cemburu yang berlebihannya itu. Bagaimana tidak cemburu, bahkan Vano memiliki kenangan kuat dalam masa lalu istrinya, dan Nara menjadi buktinya. Mereka bahkan bisa saja kembali bersama, dengan Nara menjadi alasannya.
Satu Minggu kemudian ...
" Apa maksudmu ? " Ketus Meera saat itu. Tidak menyangka Lucas bisa berfikiran seperti itu padanya.
" Kau tahu betapa aku kecewa dan sakit hati padanya. Kau tahu sendiri bagaimana kehamilanku saat itu, saat mengandung Nara, terlunta-lunta, menderita, dan kini kau menuduhku akan kembali bersamanya. Astaga, Lucas !! " Meera memborbardir Lucas dengan amarahnya. Berdecak sungguh tak percaya.
" Kau gila ! Kau sungguh keterlaluan padaku ! Lalu apa artinya pernikahan ini bagimu ? Jika kau masih saja mencurigaiku. " Sedari tadi Meera terus marah tak berhenti. Tak memberi kesempatan sedikitpun bagi Lucas untuk menyela kalimatnya.
" Aku membenci dia, Lucas. Aku membenci dia ! " Teriak Meera dengan bola mata berkaca-kaca. Air matanya luruh bersamaan dengan rasa kecewa yang timbul terhadap suaminya itu.
" Jika saja dia bukan ayah dari putriku, dan tidak menyelamatkanku kemarin, aku akan membenci dia untuk selamanya. Kau harus tahu itu ! " Camkan Meera saat itu dengan begitu tegas.
Lucas terlihat begitu kacau sekali saat itu. Mendengar penjelasan panjang lebar istrinya membuat dirinya tersadar. Namun sedikit penasaran muncul di dalam hatinya.
" Bukankah benci dan cinta itu, jaraknya sangat tipis sekali ... " Ucap Lucas datar. Meera melotot mendengarnya.
Prannnkkkk
Sebuah benda melayang dilempar ke udara oleh Meera, membentur tembok hingga hancur berserakan ke mana-mana.
" Lucas. Kau brengsek sekali ! " Marah Meera saat itu. Menangis tersedu.
****
Meera terbaring tidur di atas ranjangnya. Setelah kenyang menangis hampir beberapa jam. Karena pengaruh hormon kehamilan, emosinya menjadi begitu labil. Naik turun secara drastis tak menentu.
Meera tersadar, Lucas hanya sekedar bertanya tadi, tidak marah sama sekali. Jelas terlihat dia begitu menahan diri di hadapan Meera yang saat ini tengah mengandung anaknya.
" Maafkan aku ! " Tiba-tiba Lucas datang menghampi Meera yang tengah tidur miring saat itu. Mmemeluknya dengan begitu erat dari balik punggungnya, setelah tadi ikut berbaring di belakang istrinya.
Meera mengerjap kaget. Dia fikir, Lucas akan marah besar padanya. Apalagi setelah mengingat luapan emosi dirinya tadi, yang sampai melempar barang pecah berharga yang dipajang di kamar mereka. Dan sialnya, barang itu begitu mahal dan langka dan merupakan benda kesayangan suaminya. Menyebabkan rasa bersalah hadir di dalam hatinya.
Meera menatap dalam suaminya.
" Sayang .. "
" Ada apa, hmm ? " Lucas terlihat senang Meera mau berbicara dengannya dan menatap dirinya dengan tatapan penuh cinta tersirat di sana.
" Guci itu ... " Ucap Meera terbata.
" Apa mahal sekali ? " Tanya Meera polos.
Lucas tergelak mendengarnya.
Cup
Sebuah kecupan melayang di bibir manis Meera.
Wajah Meera merona seketika. " Ish ! " Sembari memukul dada suaminya itu.
Cup
Kali ini Meera yang melayangkan kecupan di bibir Lucas. " Maafkan aku ... " Ucapnya lembut.
Mereka tersenyum bersamaan. Saling memeluk dengan penuh cinta dan damba. Menahan diri menahan gejolak di dalam tubuh mereka.
Bagaimana tidak ? Sampai melahirkan nanti, mereka benar-benar harus menahan diri untuk tidak melakukan hal intim diantara mereka berdua.
Keesokan harinya ...
Meera terpaksa merelakan Nara untuk bertemu Vano barang sekali saja. Setelah obrolan panjang antara dirinya dan Lucas berdua tadi malam.
Dr. Amanda yang akan menemani Nara saat pertemuan itu. Pertemuan kedua kali setelah beberapa lama tidak bertemu antara ayah dan anak sedarah daging itu.
" Sayang, jika kau merasa tidak nyaman, menangislah yang kencang nanti. " Nasihat Meera pada putrinya saat itu. Sembari mendelik ke arah suami dan mamanya.
Ternyata saat terjadi pertemuan antara Vano dan dr. Amanda saat itu, Vano meminta ijin pada mama Meera untuk diijinkan bertemu dengan putrinya. Dengan seribu janji tidak akan pernah mengusik pernikahan Meera dan Lucas, dan tidak akan pernah meminta hak asuh atas Nara-- Andara.
dr. Amanda dan Lucas terlihat terkekeh mendengar ucapan konyol itu. Bagaimana bisa Meera mengajarkan hal buruk pada putrinya.
" Lagipula ... Dia tidak pernah mengurus Nara. Jadi-- jangan pernah berharap untuk bisa mengambil Nara dari hidupku. " Ucap Meera saat itu, masih sarat kebencian di bibir manisnya itu.
" Sudahlah, sayang ... dia hanya ingin bertemu dengan Nara. Tidak lebih, apalagi bermaksud untuk mengambilnya. " Jelas dr. Amanda menenangkan putrinya itu.
Meera lama terdiam, cukup lama sekedar menenangkan diri. Dia terlalu paranoid tadi. Saking takut kehilangan Nara dari hidupnya.
" Dan juga, dia sudah menolongmu saat di mall kemarin. Kita-- bahkan belum mengucapkan terimakasih padanya. " Ucap Lucas. Dia sadar sesadar sadarnya, istrinya dan calon anaknya yang masih hidup dan terselamatkan tidak lepas dari jasa Vano yang telah menolongnya saat itu. Jika tidak ada Vano entah apa jadinya. Walaupun pada akhirnya akan ada yang menolong Meera, namun tak secepat dan segesit Vano saat itu.
Deg
Mendengat ucapan itu, Meera tersentak, tersadar akan semua itu.
•
•
Dua bulan kemudian ...
Setelah mengejan beberapa kali, dengan keringat membanjiri seluruh tubuhnya, Meera berhasil melahirkan secara normal untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
Meera bahagia, proses melahirkan kali ini ditemani oleh suaminya. Menggenggam tangannya erat dan kuat. Yang kini tengah meringis perih di sepanjang kedua lengannya. Lihat saja, lengan kekar itu kini dipenuhi dengan cakaran dan gigitan Meera di sana.
Lucas bahkan menangis tadi, kala melihat Meera mengejan, menahan sakit tiada henti. Dengan rasa takut yang menyelimuti dada, khawatir sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada istrinya.
Bahkan tadi, saking begitu cemasnya, Lucas meminta Meera untuk menyerah dengan kelahiran normal yang dipilihnya.
" Kita oprasi saja, Sayang ! Hmm ? " Tanya Lucas menyatukan dahi mereka, merangkum kedua pipi istrinya dengan kedua tangannya, mendekatkan wajah mereka.
Menatapnya dengan begitu dalam dan lekat penuh dengan kasih sayang dan dorongan semangat. Sesekali mengecup wajah istrinya sembarang, yang saat itu dipenuhi dengan peluh keringat yang bercucuran. Meera terengah menahan sakit dan lelah bersamaan.
" Ehhhh !! " Jerit Meera saat itu. Mengatupkan giginya. Mengeluarkan tenaga sebesar-besarnya. Mendorong bayi itu untuk keluar dari rahimnya dengan segera, dalam satu hembusan nafas yang dia kerahkan sekuat tenaga.