
Dengan tatapan kosong, Lucas terdiam terduduk di dalam mobil bersama Helena. Mengingat kembali pertemuan penuh luka tadi bersama Meera. Mengetahui Meera yang telah menikah dan kini tengah mengandung anak Vano, sungguh menyesakkan jiwa.
Lucas pasrah, mengikuti kemana dirinya dibawa pergi oleh sang sopir yang sekarang diambil alih oleh asisten pribadinya.
Hingga akhirnya tiba juga, setelah dua jam perjalanan lamanya, di sebuah resort mewah, berkelas, dan berskala internasional pula. Mobil berhenti tepat di depan salah satu rumah mewah di sana.
Reynald dan Diana tampak sudah ada di sana. Mereka berangkat lebih dulu tadi, meninggalkan Lucas dan Meera untuk berbicara sejenak menyelesaikan permasalahan yang masih mengganjal di dalam hati.
Tampak Dafa berdiri tidak jauh dari kakaknya berada. Dia tersenyum ke arah Lucas yang kini tengah berjalan menghampiri mereka semua.
Mereka memang tengah berkumpul di sana, menunggu dan menyambut Lucas sang pengusaha yang mungkin saja akan menjadi investor terbesar dalam proyek pengembangan resort itu.
Namun,
Lucas mengernyit heran, kala mendapati seseorang yang begitu dia benci tampak berdiri di antara kerumunan.
Vano ?
Begitu pun Vano, tak kalah kaget mendapati Lucas di sana. Yang ternyata ia-lah seseorang yang sedari tadi dia tunggu, untuk dia sambut dengan tangan terbuka dan meriah di tempat tinggalnya kini.
Lucas ?
Mereka berjabat tangan, dengan cengkraman erat di telapak tangan, dan sorot mata penuh dengan kebencian.
.
.
Kegusaran Lucas semakin menjadi-jadi. Membayangkan Meera kemungkinan juga ada di sini, tinggal di sini. Hanya tinggal menunggu waktu, mungkin mereka akan bertemu kembali, fikirnya.
Membayangkan Vano yang akan mengajak Meera untuk turut berkumpul dalam acara makan malam nanti, sungguh menyiksa hati sanubari. Tentu saja, dengan sajian adegan romantis yang akan disuguhkan sang tuan rumah padanya, membuat Lucas gusar, gelisah, tak tergambarkan.
" Kau sudah siap ? "
Tampak Helena berusaha menenangkan. Walaupun Lucas tak menjelaskan, pertemuan dengan wanita hamil tadi, cukup untuk membuat dia mengerti. Walau dia sedikit masih bingung, adakah kaitan-nya dengan si tuan rumah ? Helena memilih tidak banyak bertanya, seiring dengan waktu semua akan tersingkap juga.
" Emh. "
Lucas mengangguk pelan, menatap lembut Helena. Kadang dia heran, Helena begitu cantik, baik dan pengertian. Tapi entah mengapa, rasa cinta tak kunjung datang untuknya.
Lucas bergegas memakai jas-nya. Dengan dibantu Helena, penampilannya semakin sempurna.
" Semangat ! " Ujar Helena sembari mengangkat tangannya yang terkepal, Lucas pun tertawa.
.
.
Saat makan malam tiba. Lucas, Helena, Reynald dan Diana memasuki tempat yang disiapkan oleh sang tuan rumah. Berikut asisten pribadi mereka, walaupun hanya sekedar menikmati cemilan yang tersaji di atas meja.
Mereka kerap ikut, untuk mencatat apa-apa yang bisa saja dicetuskan secara mendadak dalam acara tidak formal itu. Walau tak formal, pertemuan bisnis tetaplah bisnis.
Vano sang tuan rumah datang. Dengan seorang wanita cantik di sebelahnya. Lucas belum melihatnya, tidak ingin melihatnya dan memang sengaja untuk tak melihatnya. Jantungnya, berdenyut nyeri.
Deg deg deg ...
Bertahan, Lucas memilih untuk tetap memalingkan wajah, apalagi saat terdengar Vano memperkenalkan istrinya.
" Perkenalkan, ini istriku ... " Ucap Vano terdengar hambar.
Terdengar Helena menimpali. " Wah, cantik sekali. " Pujinya.
" Aku, Diana. " Ujar Diana, Lucas mengernyitkan dahi.
" Dan ini, suamiku Reynald. " Lanjut Diana lagi. Lucas semakin mengernyitkan dahinya.
" Lucas ! " Diana menegur Lucas yang sedari tadi cuek saja.
Dengan mengumpulkan keberanian yang sebenarnya seujung kuku, bagi Lucas Meera adalah kelemahan dan kekalahan telak baginya.
Akhirnya,
Bugh !!!!
Kegilaan ini, sungguh harus diakhiri !!
Sebuah pukulan keras melayang tepat di wajah tampan Vano. Kepalan tangan Lucas, begitu kokoh mendarat di sana, membuat sudut bibirnya sedikit berdarah.
" Apa yang kau lakukan ? " Vano memegang pipinya sembari meringis sakit. Setelah sesaat lalu tubuhnya limbung terjerembab ke lantai.
" Bukankah kau menikah dengan Meera ? " Teriak Lucas.
Seketika itu juga, semua orang yang ada di sana membelalakkan matanya karena kaget hampir tidak percaya dengan apa yang difikirkan dan diucapkan oleh Lucas. Terutama istri cantik Vano.
" Lucas ! " Reynald berusaha menenangkan Lucas, Diana walaupun sahabatnya tidak ingin ikut campur dalam urusan kekerasan seperti ini.
.
.
Akhirnya, Lucas dan Vano berbicara berdua. Kali ini, dengan kepala dingin. Reynald dan Diana tidak henti mewanti-wanti sebelumnya tadi.
" Apa maksudmu ? "
Vano meminta penjelasan. Mendengar nama Meera kembali, hatinya sungguh berdenyut nyeri. Walau bagaimanapun, dia masih mencintai Meera sepenuh hati. Meera adalah kepingan hatinya, Meera adalah belahan jiwanya. Namun, dengan terpaksa Vano hempas dari hidupnya.
Dulu, Vano sempat lega. Disaat orang tuanya tidak menerima Meera dan menjodohkan dirinya dengan istri pilihan mereka, Vano mundur teratur secara sukarela saat Meera berkata akan menikah dengan Lucas.
" Bukankah saat itu kau akan menikah dengan Meera ?!! " Tanya Lucas terdengar begitu emosi.
" Tidak ! Kami tidak pernah menikah. " Elak Vano singkat. " Kau jelas tahu itu, bukan ? " Lanjut Vano yang mengira Meera telah menikah dengan Lucas.
" Apa ?!! " Lucas masih tidak mengerti.
" Kenapa masih bertanya ? Meera bilang akan menikah denganmu. " Lanjut Vano lagi, mengagetkan Lucas yang masih diselimuti dengan pertanyaan yang beraneka ragam.
" Kau begitu beruntung menikah dengannya, tapi kau masih bersikap seperti ini ! " Cibir Vano pada Lucas. Sukses membuat Lucas berdebar-debar.
Lucas terdiam. Berusaha mencerna ucapan Vano barusan. Jadi, selama ini, Meera tidak menikah dengan Vano ???
Lucas segera berlalu pergi dari sana. Jujur, hatinya senang.
Sedangkan Vano, dia memikirkan kembali ucapan dan pertanyaan Lucas padanya tadi. Hingga akhirnya Vano menarik sebuah kesimpulan.
" Tunggu ! " Teriak Vano pada Lucas, sukses mengagetkan Lucas.
" Jadi, kau tidak menikah dengan Meera ? " Tebak Vano, terdengar senang dengan dugaannya. Egoiskah dia ?
Lucas sempat menghentikan langkahnya tadi, namun tidak dia gubris, dia tidak ambil peduli. Dia butuh Meera, dia sangat ingin bertemu Ameera saat ini.
Lucas melanjutkan langkahnya lagi, tanpa menghiraukan Vano dan yang lainnya, melenggang pergi begitu saja, berlari menjauh dari tempat itu. Menyambar kunci mobil dari asisten pribadinya.
Melesat secepat angin, membelah jalanan pinggiran kota yang kosong di malam yang cukup gelap tanpa ada sinar rembulan. Lucas bermaksud menemui Meera, kepingan hatinya, belahan jiwanya, separuh nyawanya. Dia fikir, cintanya pada Meera, melebihi yang Vano rasa.
Perasaannya sungguh campur aduk saat itu. Rasa bersalah, senang, marah dan kecewa dengan situasi yang ada, bercampur segala rasa berkecamuk di dalam dada. Seperti permen saja.
Disaat fikirannya buntu harus mencari Meera dimana, mendadak fikiran Lucas terbuka.
Bayangan pertemuan dramatis di restoran dengan Meera tadi, menari dengan begitu jelas di benaknya. Rasa bersalah berkecamuk hebat menyerang jantungnya. Bayangan Meera yang saat itu menggunakan seragam restoran sederhana, dengan perut buncitnya.
Oh Ameera, ternyata dia pelayan di sana, di restoran itu.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, koment dan rate ⭐⭐⭐⭐⭐