
Lucas akhirnya mengerti. Makna dari tatapan sendu Meera, senyum penuh getir dari bibir mungil Meera, dan gurat sedih di wajah Meera.
Sesal dan sesak berkolaborasi menjadi satu. Harusnya, Lucas lebih bijak menahan diri dari rasa cemburu yang begitu membabi buta. Hingga akhirnya kini, setelah Lucas mengetahui kebenaran dengan begitu pasti, Meera-- sudah terlanjur terluka karenanya.
Perjalanan ini, terasa begitu jauh, begitu lama. Entah mengapa, menggapai Meera begitu sulit baginya.
.
.
Terlambat ...
Malam kian gelap, restoran sudah tutup saat Lucas tiba di sana. Kesedihan kian merasuki hati, mengapa mencintai Meera begitu sesulit ini. Banyak aral rintang yang terus menerjang. Seakan mencegah mereka berdua untuk hidup berdua, saling mencinta.
Hidup ini, Lucas sadar betul memang sangat perlu perjuangan. Namun, Lucas tak pernah menduga, kesulitan terbesar dalam hidupnya adalah meraih cinta seorang gadis yang bernama, Ameera.
Jangan menyerah, tidak akan menyerah. Lucas sudah memutuskan untuk berjuang sampai mati, meraih cinta Meera untuk dia miliki dengan segenap hati. Walau nyawa yang harus dia korbankan, dia sungguh rela untuk melakukannya.
Penyesalan atas kesalahan yang pernah dia lakukan harus dia tebus sekarang juga, disaat dirinya masih memiliki kesempatan untuk meraih dan memperjuangkan cintanya.
Dulu, Lucas pernah salah. Tak bersungguh-sungguh dalam mengejar cintanya. Hingga akhirnya mereka terpisah, dan Meera terperdaya cinta lelaki lain yang membuat hidup Meera akhirnya terpuruk seperti sekarang.
.
.
Tok tok tok
Lamunan Lucas buyar, ketukan pada jendela kaca mobilnya menyadarkan fikiran Lucas yang saat itu tengah terbang melayang dalam lamunan.
Mobilnya yang tengah terparkir di depan restoran yang sudah tutup itu cukup menarik perhatian orang yang melihatnya.
Lucas membuka jendela kaca mobilnya kemudian.
" Anda mencari Meera ? " Ujar orang itu, yang ternyata salah satu rekan kerja Meera, seorang wanita.
Lucas mengangguk, berfikir sejenak. " Apa dia sudah pulang ? " Tanya Lucas pada wanita itu.
" Mungkin, kau tahu dimana ru-- ... " Lucas yang mengira Meera sudah pulang karena malam telah larut, mengerjap kaget mendengar jawaban wanita itu.
" Dia-- ada di dalam. " Jawab wanita itu singkat dan tanpa berbasa basi.
" Sebenarnya-- semenjak bertemu dengan Anda tadi, sedari tadi dia menangis, dan terus bekerja tanpa henti. Entah kenapa ? " Lanjutnya terlihat begitu khawatir. Mungkin karena mengingat kondisi Meera yang sedang hamil.
Lucas terperanjat. Dadanya sesak secara tiba-tiba, seperti ada yang menindihnya. Bergegas dia turun dari mobilnya. Dengan raut wajah kalut dan begitu jelas terlihat. Lucas tak berniat menyembunyikan perasaannya saat ini, sedikitpun.
" Antar aku ! " Pinta Lucas. " Aku-- ingin menemuinya. " Lanjutnya lagi dengan begitu tergesa. Dia ingin segera bergegas pergi menemui kekasih hatinya.
Teman Meera mengangguk antusias. Dia berharap, lelaki di hadapannya itu dapat membantu permasalahan yang sedang di alamai rekan kerjanya yang sedang hamil itu.
.
.
Meera tengah berkutat sibuk dengan piring kotor yang menumpuk. Padahal sudah wanti- wanti atasannya menegur. Semua bisa dikerjakan esok hari. Meera yang tengah sedikit defresi tak menggubris perkataan itu.
Meera terhanyut dalam luka, mengambang dalam genangan air mata. Hidupnya terpuruk, hatinya terluka, untuk ke sekian kalinya dia merasa hina.
Andai ...
Dia tak sebodoh itu terperdaya oleh seorang lelaki, yang akhirnya kini membuat hidupnya seperti ini. Jika saja semua itu tak terjadi, mungkin dia masih bisa berdiri bangkit mengejar mimpi dan ambisi, walau cintanya gagal dia raih.
Lucas menatap Meera dari kejauhan, air mata memang tak lagi mengalir di pipinya, namun hatinya dipastikan menjerit luka, bersamaan dengan tangan yang begitu lincah membasuh piring hingga basah.
Dia sedih, dia kecewa, namun berusaha terlihat tegar. Waktu yang terus bergulir kian membuktikan bahwa begitu sulit bagi dirinya untuk bangkit dari keterpurukannya ini.
Aroma ini, kehangatan ini, tubuh ini, Meera mengenalnya dengan begitu pasti.
" Lucas ... " Ucapnya lirih.
Bersamaan dengan wajah yang menoleh, hati Meera seketika berbunga bahagia, kala mendapati wajah tampan, bibir berwarna merah dengan hidung mancung di dekatnya, tengah bersandar di bahunya. Lucas tersenyum hangat kepadanya, dengan sorot mata penuh rindu, damba, dan cinta ...
" Meera ... " Lucas menerbitkan senyum hangat penuh cintanya. Mendekap erat bahu Meera dengan kedua tangannya. Melepas kerinduan yang selama ini terpendam di dalam dada.
.
.
" Tempat tinggalmu seperti ini ? "
Walau terus mengomel, Lucas kukuh mengikuti langkah Meera, dengan alasan mengantarnya pulang.
Lorong yang gelap dan sempit, belum jalanan yang becek dan licin bekas hujan tadi siang, sudah menjadi alasan bagi Lucas untuk mengomel dengan tiada hentinya.
Meera sudah menduga, jika melihat tempat tinggalnya yang sekarang, reaksi Lucas pasti akan seperti ini. Tidak aman, bahaya, licin, tidak nyaman, tidak sehat, apalah-apalah ... Segala hal yang buruk akan terlontar dari mulutnya hingga berbusa.
Meera tidak pernah tersinggung, ini adalah bentuk perhatian untuknya. Dan jujur, berpisah jauh dengan Lucas, Meera merindukan omelan dan ocehan menyebalkannya itu.
" Ish ... Kalau kamu takut, jangan ikut !! " Jawab Meera pura-pura tersinggung, sedikit mengancam.
" Di sini juga banyak nyamuk, kamu tidak akan kuat. " Meera meledek Lucas, dengan gaya bicara hits, ala Dylan.
Lucas terkekeh mendengarnya. Seraya berfikir, mengingat-ingat, kalimat apa yang sebenarnya dulu sempat hits ala-ala Dylan itu.
Dia yang jarang menonton film Indonesia, kurang tahu dengan pasti.
" Kenapa diam ? " Meera yang sedari tadi merasa sepi karena tak mendengar ocehan Lucas lagi, heran kala melihat Lucas tengah berfikir seraya mengernyitkan dahi.
" Gimana-gimana ? " Refleks Lucas.
" Apa ? "
" Tidak akan kuat itu. " Jawab Lucas dengan polosnya. " Yang dari film itu, kalimatnya sebenarnya .. "
" Ha ... ha ... " Meera tertawa mendengarnya.
" Meera ... !! " Meera terus saja tertawa.
" Yang benar itu, jangan rindu, rindu itu berat, kamu tidak akan kuat. " Jawab Meera dengan gaya bicara ala Dylan. Bener gak sih, lupa lagi ??
" Benar juga. " Jawab Lucas membenarkan. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah mengaminkan kalimat tadi, cocok sekali dengan isi hati. Dan Meera, hanya terdiam menatap Lucas. Dengan sorot rindu yang begitu jelas tergambar di sana.
Menatap Meera, Lucas tersenyum. " Aku merindukanmu. "
Ucapnya seraya merentangkan kedua tangannya. Menyambut Meera untuk datang ke dalam pelukannya.
Meera terharu, dia bahagia, dengan mata yang berkaca-kaca, Meera menghambur menyandarkan kepalanya pada dada bidang lelaki yang kini siap menyambutnya, merengkuhnya.
" Lucas ... " Hangat, itu yang terasa olehnya.
" Aku juga. " Bisiknya.
Mereka berjalan berdua menyusuri lorong itu, menuju tempat tinggal Meera. Sembari tak lepas dekapan hangat kedua insan itu. Melampiaskan rasa rindu yang bersemayam di dalam dada.
.
.
💫 Bersambung ... 💫