Love

Love
25. Berpisah



Bersamaan mobilnya meledak. Buumm.. Begitu keluar dari mobilnya Sammy dan Reynald terperangah shock melihat mobil terbakar. Kemudian tak lama Ambressio juga datang. Dengan histeris dia menangis meratapi kepergian wanitanya. Semua terdiam dan tak ada sepatah kata.


Reynald menatap nanar ke arah mobilnya yang ada tubuhnya Cindy. Air matanya menetes,dia menangis diam-diam. Demikian juga Sammy lelaki itu sungguh tidak mengira akhirnya begitu tragis. Ambressio yang histeris melihat mobilnya Cindy dilalap api mencoba mendekat namun dipeluk Xander dan Kevin. Tidak satupun dari mereka yang mendekat. Tak berselang lama terdengar suara sirene mobil yang mendekati lokasi. Alexandre menyipitkan matanya seperti ada sesuatu keganjilan. Diantara mereka sepertinya belum ada yang menelepon. Karena hanya Alexandre yang tidak terbawa arus emosi duka. Petugas pemadam kebakaran langsung berlarian menuju mobilnya yang terbakar, diikuti pihak kepolisian yang memberikan batas garis lokasi kejadian, setelah itu tim medis mendekat dan truk derek bersama kru nya. Mereka bergerombol di sekitar lokasi mobilnya. Asap masih mengepul dari sisa pemadaman api. Tempat itu sudah menjadi tontonan warga. Tak lama tim medis bergerak kembali naik menuju ke mobilnya ambulance. Ambressio berusaha menahan namun langsung dihalau oleh petugas kepolisian. Agar tidak menyentuh untuk keperluan otopsi jenazah korban. Ambressio ingin ikut bergabung dalam mobil ambulance namun lagi-lagi ditolak oleh petugas medis.


Mobilnya berjalan beriringan menuju rumah sakit. Lagi-lagi Alexandre bingung menatap mobil yang sudah hangus terbakar itu sudah diangkat dan diderek. Tempat yang sama dengan Cindy dirawat. Mereka berkumpul di luar ruang kamar jenazah menunggu hasilnya.


Stuart Weitzman duduk termenung mengingat kejadian barusan, "Tolong aku jaga anak-anakku. Jauh kan dari ayahnya yang brengsek. Aku tidak sudi laki-laki itu berbahagia, dia harus merasakan sakit seperti aku. Di dompet ada identitas ku dan amplop berisi kartu dan kunci deposit bank. Semua surat berharga disana. Tolong jauhkan mereka dari ayahnya. Lelaki itu harus merasakan penderitaanku." kata Cindy lirih. Kalimat itu selalu diingatnya. Wanita cantik ini menderita dan membutuhkan pertolonganku dan aku juga sama. Kita akan menjadi partner yang solid. Dan kamu akan kujadikan MILIKKU, batinnya.


Lelaki ini, yang tangannya digenggam oleh Cindy adalah Stuart Weitzman. Pembisnis kota LN. Orang yang berdarah dingin tak mengenal kata ampun bagi setiap musuhnya. Dia sudah memerintahkan pada asistennya Bryant untuk melakukan permintaan Cindy. Hanya dengan kode matanya sang sopir yang tak lain adalah Bryant memahami perintahnya. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Bryant sudah menelpon seseorang, dengan menggunakan headset nya. Begitu sampai di rumah sakit mereka sudah di tunggu petugas medis dan segera melakukan tindakan darurat yang semestinya. Dialah yang menelepon pihak berwenang untuk membersihkan jejak pelarian Cindy. Mereka di arahkan dirumah sakit yang sama, karena akan mempermudah untuk mendapatkan hasil laporan yang maksimal. Rambutnya, kuku juga sampel darah dan hasil pemeriksaan yang dilakukan akan menunjukkan keadaan tubuhnya. Dan itulah yang membuat suaminya menderita berat, pikir Stuart Weitzman. Lelaki itu hanya tersenyum evil menatap rombongan yang lewat di depannya. Karena mereka menuju kamar jenazah yang arahnya harus melewati bagian ruang bedah. Asumsi dokter ada kemungkinannya dia hamil atau ada luka kandungan karena darah keluar dari organ inti kewanitaan.


Lain halnya dengan Kyeowook Cartwright yang tertawa puas dengan hasil kerja anak buahnya. Yang mengirim pesan singkat kepada nya. Adegan Cindy melabrak hingga aksinya kejar-kejaran biar tak keseluruhan cerita itu sudah diunggah di media internet. " Akhirnya kerajaan bisnis Cassiedy hancur", teriaknya sambil tertawa puas. Dan tinggal selangkah lagi, yakni drama penculikan anak, batinnya.


Kabar duka itu sudah menyebar, Evelyn dan suaminya Robert Cassiedy dalam perjalanan menuju kediaman putranya Reynald, keduanya ditelpon tak ada yang menjawab, hanya assisten Daffa yang menjawabnya. Dan membenarkan benar adanya berita itu. Wanita paruh baya itu histeris menangisi sang menantu. Mereka tidak mengetahui bencana susulan yakni kehilangan cucu-cucunya. Begitu sampai keduanya menunggu diruang keluarga. Anak-anaknya Reynald bergabung dengan kakek neneknya, mereka menunggu kabar dari rumah sakit. Para pelayan disibukkan segala sesuatunya untuk keperluan berkabung, karena rumah ini hanya dikunjungi para tamu dari keluarga terdekatnya. Sedangkan Sammy dan Daffa menyiapkan rumah duka untuk para relasi bisnis ataupun para karyawan yang akan datang melayat dan juga pemakamannya. Alexandre mendekati Xander dan berbisik, " Sepertinya ada yang ganjil, tidakkah kau tahu? Diantara kita semua siapa yang sudah menelpon para petugas itu? Dan perlu diketahui bahwa mobilnya langsung diderek entahlah sepertinya .." kalimat Alexandre menggantung dan Xander terhenyak, ia termenung, mengingat kejadian itu. Dan benar adanya tak ada yang menelepon tadi malam, ini sudah jam dua pagi. Mereka terdiam sejenak, Xander berbisik di telinga Kevin. Kevin, Xander dan Alexander berdiri menjauhi Ambressio dan Reynald, Sammy mengikutinya. "Ada yang aneh, bagaimana para petugas itu berdatangan dengan serentak, dan mobil nya langsung di derek, seharusnya nungguin mesin itu dingin dan bukannya investigasinya dilakukan ditempatkan?", jelas Alexandre. Ketiganya mengangguk mengerti. "Akan saya investigasi ulang terimakasih Tuan Alexandre, saya mengucapkan berterimakasih atas sarannya." sahut Sammy. "Menurut penilaianku ini sangat aneh, bagaimana bisa Cindy datang ke club'itu ?", tanya Kevin." Iya, kita datang bertiga dan tampa rencana, lalu tiba-tiba dia muncul dan melihat semua seseorang sudah memberitahu." Xander ikut berkomentar. "Aku rasakan ada yang bermain di belakangnya", sahut Alexandre.


Evelyn dan suaminya Robert Cassiedy sudah mengetahui kabar meninggalnya sang menantu dan mereka bergegas menyusul ke rumah sakit. Bertemu dengan kedua putranya. Mereka saling berpelukan berbagi rasa kesedihan, Sammy dan Daffa menyiapkan rumah duka untuk tempat peristirahatan terakhirnya Cindy dan pemakamannya esuk harinya setelah semuanya selesai dalam penyidikan. Para pelayat berdatangan dari para karyawan RCC Company dan juga para relasi bisnis. Di kediaman Reynald sendiri hanya ditempati anak-anaknya saja, sengaja agar mereka bisa beristirahat tenang. Namun mereka tidak mengetahui jika anak-anak sudah diincar keselamatannya. Keamanan sudah di lumpuhkan, tampa kesulitan yang berarti mereka sudah membawanya pergi. Namun sayangnya ditengah jalan mereka dijegal sekelompok orang dengan trik yang tak terduga dan mereka para penculiknya sudah kehilangan si kembar.


Bryant menuju ruangan VVIP rawat inap Rumah sakit tempat Cindy dirawat. Wanita itu sudah melewati masa kritis, pendarahannya dapat dihentikan oleh dokter karena dia datang tepat waktu. Saat ini dia sedang mengandung anak Ambressio, dia bahkan tak menyadari jika sedang hamil. Pintu diketuknya bersamaan Stuart Weitzman selesai menyuapi makan Cindy, wanita cantik itu sedang bersedih mengetahui bahwa ia sedang berbadan dua. "Tuan, semua sudah pada tempatnya sesuai instruksi Anda." Bryant memberikan laporannya. Stuart Weitzman hanya mengangguk mengerti. "Anak-anak sudah ditempatkan di rumah. Kapan pun kamu dapat melihatnya." Stuart Weitzman mengambil gawainya dan disodorkannya pada Cindy, lelaki itu duduk disampingnya. Wanita itu melihat ekspresi wajah anak-anaknya berubah sedikit tersenyum biarpun begitu tipis. "Terimakasih atas semuanya." kata Cindy.


"Ini tidak gratis sweat heart", bisiknya. Cindy hanya mengangguk terdiam sejenak. Mereka saling menatap Stuart Weitzman membelai rambut hitam panjang Cindy. Dan Cindy hanya terdiam dan meja matanya, menurut Stuart Weitzman itu seperti kodenya. Bryant mundur perlahan dan sudah menghilang dari balik pintu. Stuart Weitzman mencium bibir Cindy sekilas. Cup.. Cup...Cup... Lama-lama menjadi ciuman yang penuh tuntutan penuh kasih sayang lembut. Bahkan keduanya tangannya Stuart Weitzman menekan kepala bagian belakangnya Cindy. Huft. Mereka menarik nafasnya yang memburu. "Kita tunggu sampai kamu sembuh baru kita bahas semuanya sweat heart.", katanya seraya membelai rambutnya dengan menyatukan kening mereka. "Mari kita tidur sayang" direbahkan Cindy iapun segera tidur di sisinya. "Jangan menatapku terus Sweat heart, jika kau tidak sakit sudah kuajak bercinta hingga akhirnya kau tak akan dapat berjalan." Katanya. Cindy langsung membalikkan badannya dengan rasa malu. Mereka masih orang asing namun dengan mudahnya ia menerima perlakuan seperti itu. Apakah dia terlalu murahan?" pikirnya. Stuart Weitzman memeluk tubuhnya dari belakang. Mereka menempel eratnya. Cindy dapat merasakan hal yang keras membentur pantatnya. Dan kepala Stuart Weitzman tepat diatasnya ia juga merasakan deru nafasnya.


Dirumah duka Ambressio hanya duduk disampingnya kotak jenazah, tatapan mata kosong dan hampa perasaannya. Evelyn dan Robert Cassiedy menangis diam-diam, juga Reynald. Para pelayat silih-berganti dan belum selesai. Tak lama Sammy mendekat ke Reynald dan berbisik-bisik, Reynald berdiri dengan ekspresi wajah yang marah. Giginya bergemeletuk menahan diri. "Ma, aku pulang dulu mengecek anak-anak." pamitnya wanita paruh baya itu mengangguk. Mereka pergi bersama, Robert merasakan ada yang tidak beres, ia mengirimkan pesan singkat kepada Reynald, hingga pada saat lelaki itu hendak melangkah "Beritahu Papa jika ada kabar terbaru.' titahnya. Mereka saling menatap satu sama dengan yang lainnya. Reynald mengangguk sambil lalu.


Dikediaman Reynald ia menemukan anak gadisnya terikat, juga para penjaga dan para pelayan. Hanya si kembar yang tidak ada. Bahkan mereka sempat mengemas beberapa pakaian, susu, jaket, selimut dan lainnya. Karena barang-barangnya berserakan di mana-mana. "Panggil penyidik untuk investigasi keseluruhannya!" teriaknya gusar.


Dilain tempat Cindy sudah diijinkan pulang dan berkumpul dengan anak-anaknya mereka sedang persiapan pergi ke kota LN. Mereka diboyong oleh Stuart Weitzman dan akan menetap dirumahnya itu adalah rencananya Stuart Weitzman.


"Kenapa aku harus tinggal bersamamu?"


"Agar aku mudah membantumu dan satu lagi kita akan selalu bersama."


"Mulut lelaki selalu berkata manis nyatanya?"


"Sweet heart aku tak sama dengan mereka camkan itu!".


"Aku takkan akan pernah tertipu lagi."


"Kau harus mendampingi ku kemanapun aku pergi. Dan akan aku buktikan."


" Pembohong." Stuart Weitzman gemas sekali melihat ekspresi wajah Cindy langsung membalikkan badannya dan cup...cup...cup.


Mereka berciuman didepan anak-anak dan Cindy menikmati semua sentuhan Lelaki itu bagi Stuart Weitzman Cindy kesenangan tersendiri bagi dirinya. Cindy memukuli dadanya Stuart pelan karena ciumannya tak berhenti. Mereka saling menatap," Aku sudah tidak tahan untuk memiliki dirimu Sweat heart". Kata Stuart dengan suara lembutnya dan masih posisi Cindy dalam pelukannya dan kedua tangannya memegang pinggulnya Cindy erat-erat. "Jangan samakan aku dengan mantan suamimu sweat heart." Stuart mencebik kesal. "Kenapa? Kenyataan lelaki hanya seperti itu. Wanita hanya dianggap sebagai pencetak bayinya dan ia masih mencari kesenangan diluar sana." Cindy masih marah teringat akan kenangannya bersama Renald dan Ambressio. Dalam ingatannya dia hanya dianggapnya sebagai obyek pemuas nafsu dan mesin pencipta anak. Nyatanya sekarang dia hamil lagi. "Mereka menganggapku sebagai mainannya dan alat pencetak bayinya. Nyatanya sekarang aku mengandung anak keduanya." Jawabnya dengan cemberut. Stuart menaruhkan kepalanya dipundaknya Cindy dengan mencium ceruknya. "Jangan pernah samakan aku dengannya. Never say thats sweat heart". Bisiknya dengan serak dan mencium aroma tubuhnya Cindy. "Eheemm. Tuan". Stuart mengurai pelukannya di gendong bayi itu dan Cindy juga menggendong anaknya mengikuti langkah kedua pria itu. Stuart bilang bahwa statusnya sudah resmi berpisah dari Ambressio. Mereka berjalan keluar dari kamar hotel dan berkendara menuju bandara. Mereka naik pesawat pribadi miliknya Stuart langsung menuju ke kota LN. Dalam perjalanan anak-anaknya ceria berceloteh khas balita dan Stuart menanggapinya mereka bercanda ria.


Bryant terdiam disudut memperhatikan gerak-gerik bossnya, sisi lembut yang tak pernah dilihatnya. Amazing, batinnya. Begitu pesawat mendarat mereka sudah dijemput dengan mobil mewahnya bersama dua baby sister untuk si kembar, dan Cindy duduk berduaan dengan Stuart di bangku belakang. Lelaki itu menempel lekat pada Cindy seolah-olah takut wanitanya kabur. Sampailah mereka di mandi pribadi Stuart Weitzman. Mereka masuk ke dalamnya dan Cindy ditempatkan di kamar utama. Semua sudah tersedia dari pakaian, sepatu, aksesoris, tas branded. Cindy hanya terdiam terpaku melihat semuanya. Diputuskan untuk membersihkan diri lebih dahulu lalu ia masuk ke kamar mandi. Begitu keluar sudah ada pelayan yang menunggunya memberitahukan bahwa Stuart Weitzman menunggunya untuk makan malam. Setelah berganti pakaian dia pun mengikutinya dan mereka bertemu di meja makan bersama si kembar. Seperti keluarga sendiri, batinnya. Cindy dengan tenang memakan makanan yang disajikan, dia melirik sekilas tak ada reaksi ataupun tanda-tandanya ada pembicaraan. Anak-anaknya dibantu oleh baby sister masing-masing yang di pekerjakan oleh Stuart. Lelaki ini sedikit berbeda dengan Renald ataupun Ambressio, dia terlihat dingin tak tersentuh pikirnya. Dan sangat terlihat sifatnya yang mendominasi, entahlah apa hanya pikirannya sendiri. Wanita itu hanya terdiam mengamati.