Love

Love
Chapter 44 - Melepas Rindu



Mereka hanya berputar-putar, tak tentu arah. Pada akhirnya, Meera urung memperlihatkan kondisi tempat tinggal barunya pada Lucas.


Walau alasan sebenarnya adalah, Meera malu untuk jujur dengan kondisi dirinya sebenarnya. Dia tak ingin terlihat rapuh di depan Lucas, apalagi sampai dikasihani.


" Di rumah ada Vano, aku takut dia marah jika melihatmu. " Bohong Meera beralasan.


Lucas mengangkat kedua alisnya. " Jadi ? "


" Emh ... " Meera berfikir sembari mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jari telunjuknya. " Aku-- pulang sendiri saja. "


" Tidak ! " Tolak Lucas. Dia tahu pasti saat ini Meera tengah berbohong.


" Lalu, bagaimana ? " Meera menggigit bibir bawahnya.


" Ikut denganku ... " Jawabnya santai, Lucas menarik tangan Meera. Langkah kaki Lucas begitu besar, Meera sedikit setengah berlari untuk mengimbangi.


" Lucas ... " Meera menepuk bahu Lucas, dengan nafas sedikit terengah-engah.


" Ada apa ? " Lucas menoleh.


" Aku sedang hamil ... " Jawab Meera lirih.


Lucas terlupa. " Maafkan aku ... Kau baik-baik saja ? " Lucas menatap perut buncit Meera, sepertinya masih ada benci di sana.


Dibalas anggukkan pelan oleh Meera, yang menyadari Lucas sedikit tidak suka dengan kehamilan dirinya.


.


.


Jadilah mereka terdampar di sini, di depan sebuah hotel. Setelah satu jam lamanya mereka berkeliling dengan mobil yang Lucas kemudikan.


" Ke sini ?! " Teriak Meera gugup.


" Emh. " Lucas mengangguk.


" Tidak ! " Tolak Meera. Mengingat kenangan terakhir bersama Vano, jujur dia masih trauma.


" Memangnya, apa yang kau fikirkan, hmm ? " Tanya Lucas sedikit tertawa. Bermaksud sedikit menggoda Meera.


" Aku-- , " Meera menelan ludahnya kasar.


" Sejak tadi aku samasekali belum istrirahat. Aku ingin tidur. " Jelas Lucas.


" Kalau begitu-- aku pulang saja, naik taksi. " Jawab Meera cukup mengejutkan Lucas.


" Lagipula-- aku tidak enak dengan istrimu. " Lucas tersenyum kecut mendengarnya.


" Baiklah, baiklah-- kita tidak akan ke dalam, cukup istirahat di sini saja. " Rutuk Lucas, memijit keningnya, sedikit pusing. Entah karena lelah atau karena Meera menolak diajak masuk olehnya.


***


Walau sedikit alot, akhirnya Meera mengalah. Bersedia ikut masuk ke dalam hotel, tatkala


menyadari Lucas memang terlihat begitu kelelahan malam itu. Dan benar saja, sesaat tiba di sana, Lucas langsung tertidur di atas ranjang. Sejenak melupakan Meera, yang kini tengah bingung harus melakukan apa.


Meera menggigit jarinya. Seraya berfikir akan melakukan apa. Jika biasanya, disaat sulit tidur seperti ini, di tempat tinggalnya Meera akan lebih memilih untuk beberes pakaian bayi atau apa saja. Namun, di sini dia tak tahu harus apa.


Melirik ke arah tas kecil miliknya yang tergolek di atas sofa. Dia ingat, dia harus menghitung jumlah pengeluaran bulanan dan hariannya, berikut kebutuhan penting yang harus dipenuhi, demi mengatur keuangan hasil bekerja yang tidaklah seberapa.


Tek Tek Tek


Jarum jam sekon terus berputar, malam kian larut, Meera terus berkutat di sana. Heningnya malam tanpa terasa, Meera menguap pertanda kantuk telah tiba.


Setelah sesaat lalu sempat menyampirkan sebuah selimut di tubuh Lucas yang tidurnya semakin lelap saja, Meera bergegas mengambil bantal lalu memilih tidur di sofa. Menyimpan buku kecil dan tas miliknya di atas meja.


Memilih tidur, Meera sedikit kecewa. Inginnya, malam ini dia menghabiskan waktu untuk mengobrol sekedar melepas rindu bersama Lucas. Apa daya, Lucas lelah dan kini tergolek tidak berdaya.


" Meera !!! " Lucas tiba-tiba duduk terbangun, lirih memanggil nama Meera. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Sepertinya dia bermimpi, cukup buruk.


Dengan nafas yang masih tersengal, mata Lucas mengitari sekitar. Mendapati Meera yang tengah terlelap tidur di atas sofa, sedikit meringkuk, kedinginan, tanpa selimut yang menutupi kakinya yang terbuka.


Lucas terkesiap, menyadari dirinya yang bahkan tidur di atas ranjang empuk dengan selimut hangat yang membalut tubuhnya. Bergegas memindahkan Meera ke ranjang, tidak lupa, Lucas menyelimuti Meera dengan penuh kasih sayang.


Lucas menatap buku kecil itu, membacanya kemudian. Meringis kala membaca nilai nominal yang tertulis di sana. Merogoh dompet miliknya, dia mengambil segepok uang kertas dari sana, lalu memasukkannya pada dompet Meera yang hanya terdapat beberapa uang kecil di sana.


Merasakan perutnya yang lapar, Lucas lalu memesan makanan padahal waktu sudah menunjukkan tengah malam.


.


.


" Kau bangun ? " Tanya Lucas yang saat itu tengah bertelanjang dada. Dia baru sempat membuka kemejanya tadi, karena sedikit merasa tidak nyaman.


Meera menelan ludahnya. Melihat dada bidang Lucas yang menggoda, imannya hampir surut.


" Aku-- sedikit tidak nyaman dengan pakaianku tadi. " Jelas Lucas, menyadari Meera tengah menatap intens ke arahnya.


" Kau juga bisa melakukannya, jika kau tidak nyaman dengan pakaian yang kau pakai. " Goda Lucas sembari tertawa. Menundukkan kepala dengan segera, kala sebuah bantal melayang tepat di atas kepalanya.


Brukk ! Lemparan itu meleset ke arah pot plastik di sudut ruangan.


Oh No !!!


" Kemarilah, kita makan malam. " Tawar Lucas, Meera langsung berjalan menghampiri.


" Lucas, kau tidak membawa pakaian ganti ? Aku benar-benar tidak nyaman dengan pakaianku. " Ucap Meera sambil berjalan.


Lucas refleks berhenti mengunyah.


" Apa ? " Tanya Meera yang melihat reaksi serius Lucas.


" Buka saja, Ra. Seperti ini ! " Godanya lagi, memperlihatkan tubuhnya yang masih bertelanjang dada itu.


" Ish ! " Meera merenggut. " Kamu gak dingin apa ?! " Protesnya kemudian.


Lucas hanya terdiam tak menimpali, memilih tersenyum tipis, sembari membayangkan Meera yang bertelanjang dada. Otak mesum !


Menikmati makan malam nikmat itu, tak lupa Meera bersyukur. Akhir-akhir ini, sangat jarang baginya makan besar seperti ini. Dan hatinya senang, kala Lucas sesekali menyuapinya.


.


.


Lucas masih setia bertelanjang dada. Dia meminjamkan piyama besar miliknya pada Meera. Untunglah, tadi dia masih sempat membawa koper kecil dari dalam bagasi mobilnya.


Setelah sesaat lalu mereka membersihkan diri, Lucas bergegas naik ke atas ranjang untuk melanjutkan tidurnya. Kaget, kala mendapati Meera berjalan ke arah sofa.


" Meera ! " Suara Lucas sedikit meninggi.


Meera menoleh.


" Kemarilah ! " Meera diam tak bergeming.


Dan suara pekikan kencang terdengar, kala tiba-tiba Lucas mengangkat tubuh Meera dan membaringkan dirinya di atas ranjang.


" Lucas ... " Wajah Meera memucat.


" Kita tidur saja, Meera. Tidak lebih. " Jawab Lucas santai, membawa Meera tidur dalam dekapan eratnya. Menarik selimut untuk menutupinya.


***


Pagi yang cerah. Mentari kian merangkak naik, waktu semakin siang sudah hampir jam sepuluhan. Mereka masih bergelut nyenyak di bawah selimut.


Kepala Meera yang berbantalkan lengan Lucas terlihat begitu nyaman. Tangan dan wajah Meera, setia bersandar di dada terbuka Lucas yang hangat.


Entah berapa lama mereka tidak tidur selelap ini, senyenyak ini, dan senyaman ini. Perasaan itu membuktikan, bahwa mereka sangat saling membutuhkan, untuk saling mengisi kekosongan.


Meera terbangun, mengerjapkan matanya berulang kali, mendapati Lucas kini ada di hadapannya, Meera tersenyum bahagia walau ada rasa bersalah karena mengingat istri Lucas, Helena.


" Kenapa ? " Tanya Lucas tiba-tiba, yang sedari tadi telah bangun lebih dulu, memperhatikan reaksi Meera tadi yang berubah membuatnya penasaran.


" Emh, " Meera menengadahkan wajahnya menatap lelaki yang tengah dia dekap tanpa ingin melepasnya.


" Istrimu, bagaimana-- jika tahu kau berada di sini, denganku-- ? " Tanya Meera sedikit terbata-bata.


Dan Lucas hanya tersenyum mendengarnya.


Lucas lupa, perihal Lucas yang belum menikah, Meera belum tahu yang sebenarnya. Tidak seperti Lucas yang telah mengetahui, bahwa Meera samasekali tak menikah dengan Vano.


.


.


💫 Bersambung ... 💫