
Tangan Lucas terkepal melihat adegan romantis di taman itu. Emosi yang ingin membludak dia tahan, kali ini, dia tidak boleh kalah lagi.
Dengan trik, semua yang sulit takkan begitu rumit.
Dia tinggal mengambil ponsel, menghubungi asisten pribadinya, dan memintanya untuk mengurus permintaannya, sebuah permintaan eksklusif. Harus diutamakan saat itu juga, tanpa alasan apapun walau kesibukkan kian terpampang nyata.
Bergegas turun dari mobilnya, Lucas menghampiri mereka yang kini sudah berpisah dari dekapan.
Lucas berdehem pelan, Meera yang langsung menyadarinya, bergegas menghampiri Lucas untuk memberi penjelasan. Dia tak ingin Lucas salah paham pada dirinya. Walau hubungan mereka belum jelas, adegan panas pagi tadi sedikit membuktikan bahwa mereka memiliki hubungan yang lebih dalam.
" Lucas ! "
Vano terhenyak melihat Meera yang seolah lebih menjaga perasaan Lucas daripadanya. Namun, dia bisa apa.
Selain kehamilan Meera, hanya itu alasan kuat bagi Vano bisa berada di sini. Urusan perasaan, Meera telah mengabaikannya dengan begitu jelas. Sedari dulu.
Wajah Meera memucat kala itu, ketika melihat Lucas menatapnya dengan sorot mata yang begitu tajam.
Lucas sadar, perasaan Meera sudah terpaut untuknya, namun kehamilan Meera jelas membuktikan bahwa sedari dulu Lucas slalu terlambat satu langkah dari Vano, yang slalu bergerak cepat demi mendapatkan Meera.
" Meera, bisakah kau meninggalkan kami. " Ucap Lucas pada Meera.
" Tunggulah di mobil ! Hmm ? "
Ujarnya lembut. Mengelus lembut rambut Meera tanpa melepas sorot tajamnya. Dagunya menunjuk mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mereka.
" Tapi, Lucas ... "
Dengan nada suara yang bergetar. Meera takut terjadi apa-apa diantara mereka berdua.
" Aku hanya ingin berbicara saja. Apa kau begitu mengkhawatirkannya ? "
Lucas yang sedang dibakar cemburu berujar sinis pada Meera. Meera yang menyadarinya, akhirnya memilih diam dan berjalan pelan menuju mobil Lucas. Dengan hati yang penuh harap agar tidak terjadi sesuatu, terutama Lucas.
Ya, bagaimanapun juga Meera mencemaskan Lucas.
.
.
Bugh !
Bugh !
Beberapa kali, pukulan melayang tepat ke wajah Vano. Sudah sedari dulu dia ingin melakukan itu, pukulan tempo hari belum memuaskan dia untuk membalaskan dendam kesumatnya.
" Argh !! "
Pekik Meera di dalam mobil. Tubuhnya bergetar, hingga dia tidak berani keluar.
.
.
Dengan gentle man, akhirnya mereka berbicara berdua. Kali ini lebih tenang, tanpa emosi, terutama Lucas. Dia sudah puas.
Dan kini, justru Vano yang merasa menjadi pecundang. Walau begitu, dia masih memikirkan Meera yang kini tengah mengandung anaknya.
Sedikit khawatir jika melawan, perkelahian akan terus terjadi. Dan si ibu hamil yang melihat dari kejauhan akan merasa tertekan.
Jujur, Lucas tidak peduli dan belum terlalu peduli dengan kehamilan Meera. Yang dia pedulikan hanya Meera, Meera dan Meera. Egoiskah dia ?
Seiring dengan waktu, dia hanya berharap suatu saat nanti, dia akan menerima anak itu dengan hati lapang dan terbuka. Bagaimanapun, dia hanya manusia biasa. Mohon mengertilah, semuanya.
" Jauhi Meera ! " Peringat Lucas dengan tangan yang masih terkepal.
" Apa hak mu ? " Jawab Vano sinis.
" Aku akan menikah dengannya ? " Ujar Lucas lagi.
" Benarkah ? "
" Aku serius, Vano ! " Jelas Lucas.
" Dulu aku memang salah tidak bersungguh-sungguh memperjuangkannya. Tapi, kali ini, tidak lagi ! Jadi, menyingkirlah dari Meera. " Lanjutnya lagi.
" Lagipula, bukankah kau sudah menikah ? " Sindir Lucas.
" Jangan berharap untuk menjadikan Meera wanita kedua dalam hidupmu. Dia pantas mendapatkan lebih dari sekedar itu. " Jelas Lucas lagi.
" Heh ... " Vano menyeringai.
" Kau yakin ? " Tanyanya, sangsi.
" Kenapa tidak ? " Lucas merasa tersinggung dengan pertanyaan Vano.
" Aku harap, Meera tidak hanya sekedar berstatus istri simpananmu saja. " Ujar Vano.
Mengingat Meera kini tengah mengandung anaknya, maukah keluarga Lucas menerima Meera nanti ?
Lucas terhenyak, Vano tidak salah. Dia sendiri ragu apakah ibunya akan merestui hubungan mereka berdua.
Tapi, mencoba berjuang, berusaha, apa salahnya ? Kenapa tidak ? Bahkan kisah cinta sang kakak Arselli dan istrinya, Alessya tidak kalah rumit.
Tapi, justru sekarang mereka berakhir bahagia. Alessya sukses menjadi menantu kesayangan ibunya yang terkenal sombong dan angkuh.
Kemungkinan hal itu juga bisa terjadi pada Meera bukan ?
.
.
" Jadi ... kau sudah tahu, aku tidak menikah dengan Vano ? "
Tanya Meera pada Lucas dengan nada bicara takut-takut. Melihat Lucas memukuli Vano tadi, Meera sedikit banyak mengetahui karakter Lucas yang tersembunyi, Emosional.
Sekarang mereka duduk berdua di dalam mobil. Lucas mengemudikan mobilnya, melesat kencang dengan kecepatan tinggi.
" Hmm. "
Jawab Lucas tanpa menoleh pada Meera. Dia masih memikirkan ucapan Vano tadi.
" Jadi-- sedari kemarin, kau sudah tahu aku berbohong ? "
Meera tersenyum getir, wajahnya memerah menahan malu yang tak terperi.
" Hmm. "
Jawab Lucas lagi, begitu singkat. Manik wajahnya dipenuhi kekalutan dan emosi yang masih terpendam.
" Kenapa kau tidak bilang ? " Tanya Meera lembut, tersipu.
Lucas terdiam, menghentikan mobilnya di tepian jalan yang cukup sepi, lalu menoleh. Menatap Meera dingin.
" Meera ... "
Ucap Lucas dengan nada dingin dan mencekam.
" Apa ? " Jawab Meera lirih.
" Menikahlah denganku !! "
Permintaan itu sungguh bak permata di lautan lumpur. Dia yang slalu merasa rendah diri, sempat melayang hingga ke singgasana cinta.
Pantaskah dia mendapatkan semua itu ?
.
.
💫 Bersambung ... 💫