Love

Love
Chapter 45 - Hari Penuh Kejutan



Beginilah kalau dua insan kesepian terdampar di ruangan sunyi berdua saja. Tepat setelah sesaat lalu memutuskan untuk libur bersantai, lalu cuci muka dan menggosok gigi, Lucas melahap bibir Meera dengan begitu rakusnya.


Berawal dari Lucas yang menyusupkan tangannya pada tengkuk Meera melalui celah rambut halusnya, Lucas memagut bibir mungil Meera secara bergiliran atas dan bawah. Menyesap rasa manis alami di sana.


Meera yang saat itu duduk di pangkuan Lucas yang juga tengah duduk di atas sofa, pasrah dengan perlakuan hangat itu. Sesekali melenguh dan mengerang kala Lucas menyusuri leher dan menyesapnya pelan.


Dengan lihai tangan Lucas membuka satu persatu kancing atas piyama Meera, menyibaknya kemudian hingga tampak si dua gunung kembar yang belum pernah sekalipun Lucas lihat selama berpacaran dulu dengannya.


Menggigit bahu putih Meera lembut, dengan cepat tangan Lucas membuka pengait tutup dua benda seksi dan padat di hadapannya. Karena hamil, benda itu terlihat lebih besar, montok dan menggoda dari biasanya, setidaknya Lucas tahu ukurannya dulu, mengingat dia sering merabanya saat mencium bibir Meera beberapa bulan lalu.


" Ahh ... "


Desahan pelan lolos dari bibir Meera, sesekali menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya, kala Lucas memanjakan dirinya dengan begitu lembut. Dengan kasih sayang tersirat dalam setiap sentuhan nya.


Terus saja seperti itu, beberapa lama, beberapa waktu, saling menikmati saling menyicipi bibir manis dan bibir berasa khas tobako itu. Dari dulu, bibir Meera memang paling manis, termanis, entah karena apa, mungkin karena ada bumbu cinta di sana.


Menikmati moment yang sudah lama tidak mereka lakukan berdua, merajut cinta, memuaskan hasrat dan rindu yang selama ini bergelora di dalam dada.


Setelah beberapa lama, seketika Lucas menghentikan aktifitasnya kemudian. Tatkala menyadari hasratnya terlanjur membesar pagi itu. Ciuman itu terlalu panas dari yang biasa mereka lakukan dulu.


Lucas mengerang sakit, mengusap kasar wajahnya kemudian. Nafas Meera tersengal saat itu, sedikit kecewa ketika aktifitas memabukkan itu terhenti begitu saja.


Lucas gusar, dia butuh dituntaskan. Namun, dengan Meera-- dia tidak ingin melakukannya sekarang. Mengingat Meera yang sedang hamil, belum lagi status resmi yang belum dimiliki. Setidaknya, Lucas ingin menikahi Meera dulu nanti.


" Ada apa ? "


Tanya Meera dengan polosnya. Menggigit bibir bawahnya. Tangannya yang melingkari leher Lucas, belum dia lepaskan.


" Tidak apa-apa ! Aku-- harus mandi dulu, kau tunggulah di sini. " Meera diam tak bergeming.


" Ayolah ... " Menyentuh tangan Meera untuk melepas rangkulannya.


" Kita lanjutkan nanti, setelah menikah, hmm ... " Bisiknya seraya mengecup tangan Meera dengan begitu mesranya. Lalu membangunkan Meera dari pangkuannya.


Lucas bergegas pergi ke kamar mandi, dengan meninggalkan tanda tanya besar di benak Meera.


Meera diam terpaku, mendengar ucapan terakhir Lucas. Menikah ? Mungkinkah ?


***


" Ikutlah denganku. Tinggallah denganku di Paris. "


Ucap Lucas, mengejutkan Meera. Membuat Meera tersedak kala menikmati sarapan siangnya.


Sejak bertemu Lucas tempo hari, hidupnya dipenuhi dengan kejutan. Entah kejutan apa lagi nanti, yang akan didapatnya kemudian.


Jantung Meera seakan kembang kempis, adrenalinnya terpacu. Dari dulu semenjak mengenal Lucas, hidupnya memang terasa lebih berwarna, kerlap kerlip, dengan kejutan-kejutan kecil yang dibuat Lucas untuknya, terutama dalam hal berkencan. Mendadak Meera ingat kencan terakhir mereka di bianglala raksasa.


Lucas menepuk pelan pundak Meera, terkekeh senang menggoda Meera. Sekaligus menyadarkan Meera yang seakan melayang terbawa lamunan.


Sebenarnya, Lucas ingin berucap ' menikahlah denganku ' , namun mengingat Meera belum juga terbuka padanya mengenai status tak bersuaminya itu, dia urungkan. Mungkin, Meera masih butuh waktu.


" Kenapa ? " Tanya Lucas tertawa.


" Kau slalu saja seperti itu. "


Meera menatap tajam Lucas, mengingat Lucas yang slalu menggodanya.


.


.


Dengan memakai dress anggun yang dipesankan Lucas, Meera pulang dulu ke tempat tinggalnya bersama Zora, setelah sesaat lalu Lucas mengantarnya. Lucas juga bermaksud menyelesaikan beberapa urusannya terlebih dahulu. Proyek resort itu.


Berjalan menyusuri lorong gang seorang diri, Meera kaget melihat penampakan seorang lelaki yang cukup di kenalnya. Tengah menatapnya dengan begitu dalam, terutama perutnya yang mengembang.


" Vano ! "


Meera terkesiap, langkahnya langsung terhenti. Hal ini, pertemuan ini, yang paling tidak ingin dia alami. Dia langsung berbalik arah, berusaha menghindar dari lelaki yang pernah dalam posisi paling intim dengan dirinya.


" Meera ! "


Posisi Vano yang sedikit jauh saat itu, terpaksa harus berjalan cepat. Dengan langkah tergesa, Vano meraih Meera yang kini setengah berlari menjauhinya.


" Meera ... kita harus bicara ! "


" Tidak, Vano. Pergilah ! " Jawab Meera setengah berlari.


Meera menangis, tatkala Vano melingkarkan tangannya di bahunya. Vano menyentuh, lalu mengelus lembut perut buncitnya. Sejenak Meera terlena, elusan itu selama kehamilannya belum pernah dia dapatkan dari siapapun juga. Jujur, dia sangat membutuhkannya, seolah dukungan mental baginya.


" Ini milikku, Meera ? "


Bisik Vano bertanya tepat di telinga Meera. Suaranya tersedu. Walau menikah dengan wanita lain, seluruh hatinya dia persembahkan untuk Meera seorang.


" Tidak ! " Jawab Meera gusar.


Dia akhirnya merasa tidak nyaman dengan posisi itu. Berusaha melepaskan dekapan tangan itu.


" Meera ... aku merindukanmu. "


Bisik Vano mengeratkan dekapannya lagi. Membuat sekujur tubuh Meera menjadi kaku.


.


.


" Kau samasekali tidak memperjuangkan aku, Vano ! Untuk apa sekarang kau datang ? "


Dengan emosi tertahan Meera mencoba menolak Vano, terutama saat Vano mengungkit kehamilan yang pada nyatanya memang adalah benih Vano.


" Saat itu, kau bilang akan menikah dengan Lucas, Meera. Kau tidak ingat ? " Elak Vano.


" Jika aku tidak berkata seperti itu, apakah semua akan berubah ? " Sindir Meera.


Mengingat pernikahan Vano dan istrinya begitu penting untuk kelangsungan perusahaan milik orang tua Vano.


Vano terdiam, mengusap wajahnya yang memerah dengan cukup kasar.


" Jujur ! Itu sulit. "


Jawab Vano lirih, dia menundukkan kepala dan bahunya dengan ditopang kedua tangannya.


Mereka berdua kini tengah berbicara di taman, di sebuah kursi panjang yang ada di sana. Suasana siang yang panas, terhempas hembusan angin dari dedaunan.


" Lalu, kenapa kau datang sekarang ? " Tanya Meera dingin.


" Meera, bayi yang kau kandung adalah anakku. Izinkan aku untuk bertanggung jawab. " Jawab Vano.


" Tanggung jawab bagaimana ? Kau sudah menikah, Vano ? "


Jawab Meera begitu sinis. Dia benar-benar benci lelaki ini. Walau sebenarnya, Vano tidak sepenuhnya bersalah, namun situasi sulit ini membuat Meera memilih Vano untuk dia benci.


" Menikahlah denganku, Meera. Aku berjanji akan membuatmu bahagia. " Jawab Vano menatap Meera dalam.


" Lalu istrimu ? " Tanya Meera.


Mendengar ucapan Vano tadi, Meera tertawa sinis.


" Pernikahan kami, terasa hampa. Tidak ada rasa cinta di sana. " Jawab Vano.


" Kau gila ! " Umpat Meera.


Meera lalu bangun dari duduknya, dan berdiri kemudian. Setelah beberapa lama mereka bicara, tetap tidak ada kata sepakat diantara mereka. Meera yang masih begitu labil, begitu pun juga Vano yang begitu syok mengetahui kehamilan Meera.


Andai dia tahu lebih awal, mungkin dia akan menolak perjodohan itu. Apa daya, semua sudah terlanjur terjadi.


" Aku mohon, Meera. Beri aku kesempatan. "


Lagi-lagi Vano memeluk Meera dari belakang. Dan kali ini Meera diam saja, dia terlihat begitu bingung dengan situasi yang ada di hadapannya.


Dua lelaki yang berarti dalam hidupnya, datang bersamaan dalam situasi yang tidak terduga. Dan gilanya, mereka yang sudah memiliki istri masih saja meminta Meera untuk hidup bersamanya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫