Love

Love
Chapter 89 - Jujur



Malam bertabur bintang. Damai, tenang, dan menyejukkan pandangan. Lucas tampak berdiri sendiri di teras balkon kamarnya. Semilir angin mendinginkan malam itu. Tak urung membuat Lucas untuk kembali ke dalam sana.


Saat itu, Meera tengah sibuk menidurkan putrinya Nara yang mendadak rewel. Terpaksa meninggalkan Lucas demi menenangkan sang putri kesayangan.


Bergegas kembali ke kamar, setelah tangisan itu reda. Nara kembali terlelap tidur terbang ke alam mimpi.


" Maaf ! " Meera melingkarkan lengannya erat pada perut Lucas. Membenamkan wajahnya pada punggung Lucas yang terasa begitu hangat.


" Membuatmu lama menunggu. " Lanjutnya lirih. Mengeratkan pelukannya itu seiring dengan dinginnya malam yang semakin menusuk ke tulang.


Lucas membalikkan tubuhnya. Menyambut pelukan istrinya itu, dan mendekapnya erat di depan dada.


" Kenapa, Nara ? Apa dia sakit ? " Tanya Lucas pada Meera yang kini tengah menatapnya mesra.


Menyandarkan dagunya pada dada Lucas, Meera menengadah menatap Lucas lekat, sembari tersenyum. " Dia hanya sedikit rewel saja, mungkin dia tahu mommynya sedang diculik. " Jelasnya sembari merenggut manja, Lucas tampak menyukainya.


Lucas meraih kedua tangan Meera dari balik punggungnya. Memutarnya, hingga kini Meera berdiri membelakanginya. Berbalik posisi, kini dia yang memeluk erat Meera dari balik punggungnya.


Meera tersenyum geli. " Sayang ! " Mengusap pipi Lucas yang berbulu, dia sedikit tertawa ketika tangan Lucas menggelitiki perutnya. Dan ketika dagu Lucas bersandar di bahunya, dengan gerakan-gerakan kecil yang menggoda. Geli say !!


" Kau marah, hmm ? "


" Tidak ! Tentu saja tidak. " Lain di mulut lain di hati. Dia memang mulai menyayangi Nara, tapi kalau marah karena diganggu pas lagi enak-enaknya, itu beda lagi, ya kan ya ?


" Beneran gak marah ? " Usap Meera lembut pada rahang Lucas yang berbulu itu dengan gerakan menggoda.


" Kalau marah memang mau apa ? " Bisik Lucas mesra pada telinga Meera sembari menggigit dan memainkan lidahnya di sana.


" Ish ! " Meera tertawa merenggut paham.


" Maunya apa, sayang ? "


" Lanjutkan yang tadi dong ! " Tangan Lucas sudah bergerak ke mana-mana, mengingat Meera yang hanya memakai jubah tidur saat itu, sangat mudah bagi Lucas untuk mengakses sesuatu yang ada di sana.


" Sesuai perjanjian, pakai pengaman ya ? " Meera mengingatkan. Dia masih belum siap untuk hamil lagi, mengingat Nara yang masih kecil dan membutuhkan ASI.


" Ya ! " Lucas melengos sembari mengecupi leher dan tengkuk Meera. Sejujurnya, dia ingin segera mempunyai anak sendiri. Namun, mengingat usia Nara yang memang masih kecil, dia berusaha untuk mengerti. Meredam keinginan itu, untuk sementara waktu.


" Tapi-- "


" Ada syaratnya !! " Meera mendahului, dia seolah tahu dengan karakter Lucas yang satu ini. Meera tampak asyik tertawa saat itu, menertawakan suaminya yang kini malah kaget sendiri.


" Kalau tidak di atas meja, mungkin aku yang di atasmu ! " Meera menebak sok tahu.


Lucas tampak tersenyum kecil saat itu, menggaruk keningnya, dia menarik Meera ke dalam kamar. " Tidak ! Bukan itu. " Sergahnya sembari berjalan. Lalu menarik Meera untuk duduk di atas pangkuannya dengan gerakan cepat. Kini Meera duduk mengangkang di atas paha Lucas dengan kaki yang terlipat ke belakang. Sehingga posisi mereka berhadapan dan berdekatan.


" Lalu apa, sayang ... ? " Tanya Meera manja melingkarkan lengannya pada leher suaminya. Kini Meera yang bergerak aktif mengecupi pipi dan leher suaminya itu.


" Aku-- ingin menceritakan suatu rahasia padamu. " Jujur Lucas. Tangannya mengelus lembut punggung istrinya.


" Apa ?! Serius banget, jadi takut-- " Jantung Meera mendadak berdebar-debar saat itu.


Cup


Dia mengecup bibir Lucas barang sekejap. Lalu mengecup pipinya, matanya dan hampir semua permukaan kulit wajah Lucas saat itu.


Lucas sedikit gelagapan saat itu. Meraih bahu Meera agar berhenti melakukan itu padanya.


" Dengarkan, hmm ! Aku-- ingin membuat pengakuan padamu. " Lucas menatap Meera dalam.


" Kau ingat, kau pernah kehilangan beasiswamu saat kuliah dulu. " Meera terdiam terpaku mendengar hal itu.


" Hmm. " Meera mengangguk pelan.


" Aku --- "


" Sssttt ! " Meera menutup bibir Lucas dengan jari telunjuknya. " Aku tahu ! " Jawab Meera saat itu lalu bangun dari posisinya tadi. Berdiri dan berjalan mendekati pintu balkon yang masih terbuka.


Lucas tersontak kaget saat itu. " Kau mengetahuinya ? Sejak kapan ? " Mengira kini Meera marah padanya.


" Saat beasiswaku di stop lalu aku kehilangan pekerjaanku, aku sudah menduganya, Lucas. Awalnya aku sangat marah, tapi-- kau membantuku lebih dari kesalahan yang kau lakukan padaku saat itu. " Jelas Meera, berdiri membelakangi Lucas yang kini diam terpaku.


" Jadi-- kau memaafkanku. " Menghampiri, lalu memeluk Meera erat dari belakang punggungnya.


" Hmm. " Meera mengangguk. " Tapi -- .. " Meera berbalik, memainkan jubah tidur Lucas.


" Eummh, ada syaratnya ! " Tebak Lucas berbalik, Meera terkekeh mendengarnya. Menepuk-nepuk dada Lucas. Lalu menganggukkan kepalanya.


" Apa ? " Kini Lucas balik bertanya, menyampirkan tangannya di pinggang Meera, longgar. Merapatkan dahi mereka, menatap hangat, sesekali mencuri ciuman dan kecupan di bibir Meera.


" Ini syarat, Sayang ! Kau jangan menolak ! " Ucap Meera saat itu. Dia takut Lucas akan menolak keinginannya.


" Apa, hmm ? " Kini Lucas mulai menciumi leher Meera. Bergerak ke bahu setelah sedikit menyibak jubah tidurnya tadi. Lucas tahu betul di balik jubah itu sudah tidak ada kain apapun lagi, mengingat tadi sebelum Nara menangis, Lucas sudah berhasil membuka semua baju istrinya itu.


Meera memundurkan wajahnya. Menghentikan gerakan Lucas tadi.


" Aku-- akan melanjutkan kuliahku, boleh ? " Ijin Meera yang sebenarnya memaksa harus disetujui. Wajahnya meringis saat itu, membayangkan penolakan dan kemarahan Lucas padanya.


Malam ini sudah tiga syarat yang Meera ajukan. Menunda anak, menggunakan pengaman atau alat kontrasepsi, lalu baru saja beberapa detik lalu, melanjutkan kuliah lagi.


Lucas diam seribu bahasa, dengan kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Melihatnya, rasa bersalah timbul di hati Meera. Namun, dengan gerakan tiba-tiba, dengan gerakan cepat, Lucas berjalan ke arah pintu.


" Sayang ! " Panggil Meera kaget, melihat Lucas akan meninggalkannya. Karena marah ?


" Sayang ... ! " Meera berlari mengejar Lucas. Langkahnya terhenti seketika kala suara kunci berbunyi.


Klikk !


Lucas mengunci pintu kamar dari dalam. Lalu berbalik badan, menatap Meera dengan tatapan tajam.


" Sa--yang ! " Panggil Meera lirih. Seraya memundurkan badan. Melangkah perlahan ke belakang.


Dalam hitungan detik, suara pekikan terdengar kencang, tatkala Lucas tiba-tiba menggendong Meera dan melemparnya ke atas ranjang. Menindihnya kemudian, lalu mencumbunya seraya membuka jubah yang mereka kenakan.


" Lucas !! " Pekik Meera saat itu, kala tiba-tiba Lucas mencumbui tubuhnya.


" Ini-- sudah terlalu malam, Sayang ! Kita lanjutkan bicaranya besok saja. " Jawabnya sembari mulai beraksi. Bibir, lidah, jari dan tangan bermain liar di seluruh tubuh sang istri. Menyentuhnya, mencumbunya di setiap permukaan kulitnya, di setiap sudut tubuhnya, tanpa ada sedikitpun yang terlewatkan.


Melewatkan malam itu berdua setelah berpisah cukup lama. Dengan beberapa kali berganti gaya, mereka bercinta cukup lama. Menghabiskan malam dengan penuh gairah, gelora dan penuh damba. Bersama, berdua menghabiskan waktu penuh hasrat untuk terus bercinta, menikmatinya, lagi, lagi dan lagi.


.


.


💫 Bersambung ... 💫