Love

Love
Chapter 57 - Merenung



Sudah satu minggu mereka menikah. Menjalin kasih tali asmara dalam ikatan suci pernikahan. Yang janjinya begitu dijunjung tinggi, karena diambil sumpahnya atas nama Tuhan.


Meera merenung seorang diri, di pagi hari buta. Saat Lucas sang suami justru masih terlelap tidur melayang di alam mimpi.


Duduk sendiri di atas kursi meja makan, sembari menegak habis air mineral yang baru saja dia ambil dari dalam coolcase.


Tangan Meera tak henti mengelus perutnya yang makin ke sini makin membesar. Usia kandungannya hampir menginjak usia tujuh bulan sekarang, dimana bayi di dalam kandungannya sudah semakin aktif bergerak, berputar-putar di dalam perutnya.


Saat ini, Meera mendadak gelisah dan tidak tenang, entah karena apa. Yang pasti, pertemuan dengan Vano tempo lalu, masih menyisakan sesak di dalam dada. Semakin menambah deretan rasa bersalah dirinya terhadap suaminya, Lucas.


Mengingat pada pertemuan itu, Vano mengecup kening dan perutnya, bahkan dengan begitu hangat.


Meera bingung harus bagaimana. Jujurkah ? Namun, dia takut Lucas akan marah karenanya.


Berfikir cukup lama dalam keheningan malam itu. Baiklah, dia sudah memutuskan, untuk menutupi semua hal itu. Toh, pertemuan mereka tempo hari, terjadi di tempat yang begitu sepi. Bahkan di negara yang berbeda dengan negara yang sekarang mereka tinggali.


Hatinya sejatinya yakin, untuk membuka lembaran baru, dan menutup rapat lembaran lama yang cukup kelam itu.


" Ehem ! "


Tiba-tiba, deheman terdengar kencang, Lucas datang menginterupsi lamunan Meera. Meera tersentak kaget karenanya, terdiam terpaku sesaat, kala tangan Lucas bergerak mendekatinya.


" Kau melamun, Sayang ? "


Lucas berdiri di belakang Meera yang sedang duduk, sembari mengungkungkan kedua lengannya pada punggung Meera, dengan bertumpu pada permukaan meja. Bibirnya dia kecupkan pada puncak kepala Meera, begitu lembut mengalirkan kehangatan.


" Tadi-- aku merasa haus. Kenapa kau bangun, apa-- aku mengusikmu, Sayang ? " Dengan terbata Meera mencoba mengalihkan pertanyaan Lucas tadi.


" Tentu saja, kau benar-benar mengusik tidurku. Disaat ada seseorang yang ingin kupeluk saat tidur, dia malah menghilang entah kemana. " Protes Lucas manja.


Akhir-akhir ini Lucas seringkali berperan sebagai bayi besar Meera, membuat Meera gemas melihatnya.


Lucas bergerak berjalan, menarik kursi tepat di depan Meera duduk, lalu duduk kemudian, dan menatap Meera tajam.


" Apa yang sedang kau fikirkan ?! " Lucas mulai menginterogasi.


Sebenarnya, cukup lama tadi Lucas memperhatikan Meera yang tengah melamun. Sebelum akhirnya memutuskan untuk menginterupsi lamunan Meera yang dia khawatirkan akan berkepanjangan.


" Emh, Tidak ! Aku-- tidak memikirkan apapun. Mungkin itu-- hanya perasaanmu saja, Sayang ! " Meera gelagapan. Dia bahkan mencoba berpaling dari tatapan Lucas yang menyorotnya dengan begitu tajam, dengan seribu pertanyaan tersirat di sana.


" Kau yakin ? " Tanya Lucas lagi untuk meyakinkan. Dia bukannya percaya pada Meera begitu saja, namun dia ingin Meera jujur dan terbuka padanya. Tidak ingin ada kebohongan diantara mereka.


Dengan sikap Meera yang seperti ini, begitu tertutup dan menutupi masalahnya sendiri, justru membuat Lucas semakin curiga pada Meera. Ada apakah gerangan sebenarnya ?


" Aku-- " Meera bingung, lalu memejamkan matanya untuk berfikir barang sejenak dan menenangkan perasaannya.


" Aku-- sedikit bosan akhir-akhir ini. Selama kau bekerja, aku hanya tinggal di sini sendiri. Tanpa melakukan apapun. Jujur- itu sedikit membuatku jenuh. " Jelas Meera tidak sepenuhnya berbohong.


" Mhh ... " Lucas mengangguk mengerti. Memijit pelipisnya merasakan sedikit pusing. Lucas tahu, bukan itu jawaban sebenarnya. Namun, tidak menyangkal juga, bahwa Meera pasti sedikit bosan di apartemen ini.


Lucas meringis, kalau difikir-fikir dan diingat-ingat lagi, semenjak mereka menikah dan tinggal di Paris, Lucas belum pernah sekalipun mengajak Meera jalan-jalan di negara ini, sekedar berbulan madu, memperkenalkan negara yang terkenal dengan kota mode ini pada istri menggemaskannya itu.


" Mungkin-- aku hanya butuh piknik, Sayang. " Lanjut Meera lagi sembari tersenyum kecut. Kemudian memalingkan wajahnya dari tatapan suaminya itu. Berbohong, membuat dirinya merasa bersalah dan salah tingkah.


" Baiklah ! " Ucap Lucas tiba-tiba.


Meera menoleh, menatap Lucas dalam. Ada sedikit rasa terkejut di raut wajahnya. Apalagi saat melihat wajah Lucas yang terlihat sedikit kecewa. Mungkin karena kebohongan Meera tadi, firasat Lucas sebagai suami tidak bisa dianggap angin lalu belaka.


" Apa ? " Tanya Meera mengerjap penuh tanda tanya.


" Besok, aku libur bekerja. " Kebetulan besok memang akhir pekan. Peluang bagi Lucas untuk bisa mengajak istrinya jalan-jalan, keliling kota Paris.


" Benarkah ? " Meera terdengar semangat dan antusias. Mengangkat kedua tangannya dengan posisi bertepuk tangan namun tak bersuara. Ujung bibirnya tertarik untuk tersenyum, dan bola matanya berbinar bersinar memancarkan kebahagiaan.


" Tapi, ada syaratnya .. " Lucas menyeringai. Kalau urusan ini, otaknya benar-benar berfikir cepat. Menggoda Meera adalah hobinya mulai dari satu minggu lalu.


Meera menurunkan tangannya seketika, lunglai. Bibirnya sedikit mencebik, namun terlihat begitu lucu. Jantungnya mendadak berdebar-debar.


" Apa syaratnya ? " Duh, perasaan kok mendadak tidak enak ya ... Apalagi setelah meihat bibir suaminya yang menyeringai.


***


Terdapat beberapa pengeditan cerita.


Terdapat beberapa pengeditan cerita.


Terdapat beberapa pengeditan cerita.


Terdapat beberapa pengeditan cerita.


****


ini ya ...


Yang ngajak jalan-jalan siapa ?


Yang ngasih syarat siapa ?


Bibir Lucas menyeringai puas. Sementara Meera, bibirnya mencebik, matanya mendelik, dan pipinya memerah.


Meera hanya bisa terdiam, menenggak ludahnya dalam-dalam.


Kalau sudah begini, tidak mungkin menolak kan ?


.


.


💫 Bersambung ... 💫