Love

Love
Chapter 66 - Moment Terakhir



Lucas tersenyum geli mengingat pertemuan dengan istrinya saat makan siang lalu. Tadi itu, Meera tidak seperti biasanya, terlihat lebih agresif, aktif dan sedikit liar di matanya.


Sebenarnya bukan masalah bercinta saja yang Lucas maksud. Semenjak mereka memutuskan untuk menikah, Meera memang terlihat begitu pendiam, berubah jauh dari sikapnya saat masih lajang dulu. Yang slalu tampak hangat, ceria dan penuh semangat.


Sekarang, Meera lebih tertutup dan pemurung. Kehamilan yang dia alami karena jebakan seorang lelaki bernama Adam, membuat hidupnya terasa begitu nestapa.


Kehadiran Vano untuk menolongnya, tetap saja membuat hidupnya dipenuhi dengan dilema. Hingga akhirnya kini Meera hamil, akibat kisah one stand night nya bersama Vano saat itu.


Walaupun berusaha dia tepis semua itu dengan alasan jebakan dan ketidaksadaran semata, akhir ceritanya tetap sama. Ujung-ujungnya Meera tetap hamil juga. Kan ?


Dan kini, setelah Meera dan Lucas menikah, ada kebahagiaan yang terasa begitu membuncah di dalam dada. Walaupun tak dipungkiri, masih ada sorot kesedihan di mata Meera.


Lucas bukan tidak tahu itu, hanya berusaha berharap, seiring dengan waktu, sorot mata itu akan berubah bahagia. Dan berharap alasan kebahagiaan itu adalah dirinya.


Kadang Lucas berfikir, apakah hidup bersamanya, Meera merasa tidak bahagia ?


Fikiran itu, berusaha Lucas tepis seketika itu juga. Lucas tahu dengan pasti, meyakinkan diri sendiri, Meera sangat mencintainya dan bahagia hidup bersamanya.


Hanya saja, bayangan masa lalu kelam seolah masih membayang-bayangi hidup Meera dan mencemoohnya. Kehamilan itu menjadi bukti, dan membuat Meera slalu merasa rendah diri. Apalagi saat menyadari, bahwa dirinya telah menyandang gelar istri dari seorang Lucas.


Seorang yang tampan, kaya, sukses, dan berasal dari keluarga terhormat. Bukan dari kalangan orang biasa saja, seperti dirinya yang sampai detik ini slalu merasa, bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa.


Walaupun untuk saat ini, Lucas sudah menerima dengan tulus kehamilan itu, tetap saja, rasa bersalah terpancar di mata Meera. Bahkan sampai siang tadipun, kata maaf masih sempat meluncur dari bibir manis istrinya itu.


Siang itu, hari penuh kenangan, terasa begitu bergelora dan menggairahkan. Bibir manis yang slalu Lucas puja, kini mencumbui permukaan kulitnya dengan begitu mesra. Sentuhan-sentuhan itu terasa begitu liar dan memabukkan, Lucas pun begitu terhanyut menyukainya. Menjadi candu baru baginya.


Meera, yang selama ini slalu pasif hanya sesekali aktif, yang slalu pasrah dengan apa yang dilakukan Lucas padanya, siang tadi benar-benar liar menunjukkan aksinya. Kemahiran dan kelihaiannya dalam menggoda, patut diperhitungkan mulai saat itu juga.


Menarik Lucas ke atas ranjang berukuran kecil yang ada di sana. Meera mendorong dada Lucas untuk berbaring dengan gerakan pelan, merebahkan punggungnya di atas bantal, setengah bersandar di kepala ranjang itu.


Jemari lentik Meera begitu lincah membuka satu persatu kancing kemeja suaminya. Lucas yang awalnya hanya berniat bercanda untuk menggoda istrinya tadi, terkesiap karenanya.


Bukan apa-apa, bukan karena takut tergoda juga. Ini bukan hal baru bagi mereka bukan ? Mereka sudah sering melaluinya bersama. Hanya saja, waktu terus bergulir begitu cepat. Sementara sebentar lagi ada meeting penting yang harus dihadiri olehnya.


Bagaimana ini ? Kalau sudah buka-bukaan seperti ini, waktu yang begitu singkat tidak akanlah cukup bagi mereka berdua.


Meera menyusuri dada Lucas dengan jari telunjuknya. Begitu lembut, seringan bulu. Melayangkan kecupan-kecupan basah di leher suaminya, gigitan kecil disematkan di sana, noda merah pun kini terpampang jelas menghiasi leher Lucas.


" Sayang ... " Lucas menahan tangan Meera yang terus bermain liar menyusuri permukaan kulitnya. Penuh dengan sensasi geli dan panas di sana. Dan finalnya, Lucas kalah telak, tak bisa menolak. Kala jari lentik Meera dengan begitu sensualnya membuka resleting celana yang dipakainya.


Lucas senyum-senyum sendiri mengingat semua itu, mendadak merindukan Meera ribuan kali dari biasanya. Untuk menemuinya kembali, atau untuk mengulangi adegan sensual nan menghanyutkan tadi.


Lamunan Lucas terinterupsi, kala dering ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah nama yang tampak asing tampil di layar ponselnya. Kala menyadari saking jarangnya mereka berkomunikasi melalui panggilan telfon.


Nama itu, yang tertera di layar ponsel, adalah nama seorang maid wanita yang Lucas sewa untuk membantu Meera membereskan beberapa pekerjaan di apartemen yang mereka tinggali. Bersih-bersih, mencuci dan lain sebagainya. Sesuai permintaan Meera yang lebih nyaman menyendiri, maid itu hanya akan datang dua hari sekali.


Tapi, mengapa maid itu menghubunginya ? Lucas mengerutkan dahi, bukankah hari ini bukan jadwal kedatangannya ?


Mengangkat panggilan telfon dengan rasa cemas yang mulai menyesaki rongga dada, Lucas terlonjak kaget, berteriak cukup kencang akhirnya.


" Apa ?!! " Kala Lucas mendengar laporan dari maid itu.


Beranjak bangun dari duduknya, lalu berdiri menyambar jas yang tersampir di sandaran kursi. Lucas bergegas pergi, dengan setengah berlari. Tak lupa memanggil sang asisten pribadi.


" VINCENT !!! "


.


.


" Arrrggghhh !!!!! "


Lucas berteriak. Menjambak kasar rambutnya. Wajahnya merah padam. Sudut matanya sedikit berair kala itu. Tangannya kini terkepal, begitu keras, hingga memutih.


Braaaaaakkkkk


Lucas menjatuhkan semua benda yang ada di ruangan kamarnya.


Braaaaaaakkkk


Yang terpajang di atas meja, di dinding, dan terhias indah di sudut kamarnya.


Kini, semua telah hancur berkeping-keping, porak poranda tak bersisa, seperti kapal pecah, karam diterjang badai ombak lautan.


Semua seakan hancur, kenangan manis di kamar itu seakan memudar, perlahan sirna seiring dengan kepergian Meera dari sisinya


Setelah beberapa saat lalu mendapati secarik surat di atas meja. Dari Meera dengan salam perpisahan tertulis begitu jelas di sana, dan membuatnya mati rasa.


Cup


Bayangan itu begitu jelas terlihat.


Cup


Ciuman terakhir mereka tadi.


Cup


Kini Lucas mengerti apa makna yang tersirat di sana.


Siang tadi ...


Meera meraih bibir Lucas. Mengecup lembut selembut sutra. Menyesap bibir yang sudah tak berasa tobakko itu. Ya, semenjak mereka menikah, Lucas memutuskan untuk berhenti merokok.


Kini rasa strawberry mendominasi sesapan lembut siang itu. Entah kenapa Meera memilih lip balm rasa itu, padahal Lucas berkali-kali bilang padanya, rasa aple telah menjadi rasa favoritnya.


Sesapan lembut yang bergantian pada bibir atas dan bawah itu, perlahan berubah menjadi gigitan-gigitan kecil nan menggairahkan. Apalagi saat berubah menjadi l*m*t*n yang begitu menggiurkan lidah untuk ikut bermain di sana. Merasakan sensasi hangat dan panas bersamaan. Karena bagaimana tidak , kala hasrat penuh gairah telah terpancing oleh umpannya.


" Maaf ... "


Lirih Meera saat itu. Dengan mata sendu sarat dengan kesedihan, namun tetap memikat sang lelaki pujaan.


Lidahnya lalu menelusup masuk melalui celah bibir yang terbuka, tentu saja Lucas menyambutnya mesra.


" Tidak apa, hmm. Aku sangat menyukainya. " Jawab Lucas dengan suara seraknya.


Lucas meletakkan tangannya di pipi Meera. Menatap mata sendu nan indah itu. Menyampaikan rasa cintanya yang begitu besar membara.


Menelusupkan tangannya diantara celah rambut istrinya, Lucas menarik tengkuk Meera cepat. Menyatukan bibir mereka lagi, memagut kembali bibir manis itu dengan berburu hangat. Hingga nikmat terasa begitu nyata, seiring desahan yang terdengar. Diantara pagutan dua insan di mabuk cinta itu.


" Jadi ini, kata maaf yang kau maksud, Meera ? " Dengan suara lirihnya air mata tak terasa mengalir di sudut matanya.


Tangannya masih setia menggenggam surat itu dengan tangan yang tak henti bergetar.


" Bukankah kau berjanji tidak akan meninggalkanku ?!! "


Erangnya dengan suara yang terdengar begitu putus asa. Hatinya benar-benar hancur menjadi puing-puing yang berserak dan tak berharga.


Cintanya hancur tak bersisa, kala belahan hatinya pergi tak tahu kemana.


.


.


💫 Bersambung ... 💫