
Semilir angin menyegarkan tubuh. Menghempas urai rambut di udara. Lucas dan Meera tengah menikmati akhir pekan di pagi yang cerah. Mereka berjalan menyusuri taman nan indah yang tidak jauh dari rumah mereka.Taman yang disesaki berbagai jenis tanaman bunga beraneka warna.
Sang putri Nara, tampak asyik bersama pengasuhnya berjalan tidak jauh di depan sepasang suami istri itu. Mereka sengaja memperlambat jalan mereka. Menikmati waktu berduaan, namun tetap bisa mengawasi Nara walau dari kejauhan.
Sinar mentari pagi cukup menghangatkan tubuh. Kandungan Ultra Violet pagi memang sangat baik untuk kesehatan. Untuk itulah mereka sengaja berjalan-jalan. Demi bersenang-senang, sekaligus mengambil manfaat sekalian.
Meera yang sudah hamil besar memang sangat dianjurkan untuk banyak melakukan aktifitas, namun tidak berlebihan. Jalan kaki merupakan pilihan alternatif yang cukup baik dan tidak merepotkan.
Sebenarnya, Meera yang pernah mengalami kehamilan tidak terlalu cemas ataupun khawatir. Begitu enjoy menikmati semua itu. Namun, berbeda dengan Lucas, dia terlihat begitu berlebihan.
Lucas bahkan sering menemani Meera untuk sekedar berjalan-jalan di sekitar kompleks perumahan mereka. Bahkan dia yang memiliki inisiatif dan memaksa Meera untuk berjalan-jalan dengannya.
" Berhati-hatilah ! " Ucap Lucas kala melihat Meera yang berjalan cepat menghampiri Nara yang terlihat sedang menangis saat itu, entah karena apa. Bergegas Lucas mengekor di belakangnya.
" Ya, sayang !! " Lirik Meera pada suaminya. Dia menyempatkan menyentuh dagu Lucas dengan ujung-ujung jarinya.
Lucas terkekeh, merasakan geli. Sentuhan Meera memang slalu terasa berbeda.
Meera mengibur putrinya Nara yang menangis kencang saat itu. Bergerak untuk menggendongnya, namun ditepis segera oleh Lucas. " Biar aku yang menggendongnya ? " Menggendong Nara segera.
Benar saja, tangisan Nara langsung mereda seketika. Lelaki itu memang mempunyai beribu cara dan sejuta pesona untuk menaklukkan hati semua wanita. Termasuk Nara putri sambungnya.
" Kau benar-benar penakluk wanita ! " Goda Meera sembari terkekeh saat itu. Namun nyatanya disambut delikan tajam oleh suaminya.
" Aku sudah tidak seperti itu lagi. " Sangkalnya tajam. Dia yang merasa dulu adalah seorang badboy, sedikit tersinggung dengan ucapan istrinya itu.
" Ish ! Bercanda, kau serius sekali ! " Elak Meera saat itu. Dia memang tidak bermaksud menyindir Lucas tadi, hanya sekedar memuji. Karena pada kenyataannya Lucas memang telah menaklukkan hatinya begitu juga hati putrinya.
Dering ponsel tiba-tiba berbunyi. Panggilan dari sang asisten untuk segera datang ke kantor. Ada masalah cukup besar saat itu.
" Aku tidak apa-apa sayang ... " Meera mencoba menenangkan suaminya itu.
" Kau yakin ? " Merasa cemas meninggalkan Meera.
Meera mengangguk yakin.
Lucas berlalu pergi dengan menaiki taksi saja. Untunglah saat pergi tadi dia menggunakan jasa sopir pribadinya. Setidaknya Lucas tenang meninggalkan Meera, Nara dan pengasuhnya dengan sopir yang siap sedia untuk mengantarnya pulang nanti dengan mobilnya.
Dari taman kota, Meera melanjutkan jalan-jalannya ke pusat permainan anak di mall terdekat, karena Nara yang mendadak merengek ingin pergi ke sana.
@@@
Meera terjatuh, terpeleset, hingga tiba-tiba merasakan sakit di perutnya. Usia kehamilannya baru mencapai tujuh bulan saat itu. Yang membuat panik adalah, Meera sedang tidak di rumah. Melainkan sedang mengantar Nara ke pusat permainan anak yang berada di mall tidak jauh dari rumah dan taman tadi.
Untungnya, Nara tidak hanya sendiri saat itu. Ada pengasuh Nara yang juga turut serta menjaga dan menemani Nara bermain. Membantu Meera yang cukup kepayahan karena kehamilannya.
" Meera !! "
Seorang lelaki berlari dengan tergesa ke arah Meera. Dia adalah Vano yang saat itu baru saja selesai menghadiri pertemuan cukup penting bersama relasi bisnisnya. Kebetulan sekali, pertemuan itu dilakukan di restoran yang ada di mall besar itu.
" Sakiit ... "
Rintih Meera saat itu, tidak menyadari aliran darah di pahanya yang saat itu sedikit tersingkap. Dan Vano, melihatnya dengan begitu jelas.
" Meera !! " Vano begitu panik saat itu. Dengan sigap dia membawa Meera dalam pangkuannya.
Walau risih, canggung, dan merasa tidak enak, bersamaan dengan rasa bersalah terhadap Lucas yang tiba-tiba hadir di lubuk hatinya, demi keselamatan bayinya, Meera abaikan semua itu. Toh, mereka memang tidak berbuat apa-apa yang macam-macam.
" Nara, Vano !! Nara !! " Pekik Meera lirih sembari meringis perih.
Meera mengingatkan Vano akan putri mereka yang kini masih asyik bermain bersama pengasuhnya di area play kids.
" Tenanglah ! " Vano lalu menyuruh asistennya untuk mengurus semua itu.
Vano memang begitu merindukan Nara. Dia yang hampir tidak pernah berjumpa dengan putrinya tentu tak akan melewatkan kesempatan itu, yang kini sudah di depan mata.
Namun, kondisi Meera saat itu begitu kritis. Harus ditolong dengan segera. Vano yang pernah kuliah kedokteran, bahkan sampai sekarang pun masih melanjutkan pendidikannya, tentu lebih paham akan semua itu. Saat ini, Meera harus ditolong dengan segera. Kalau tidak, nyawa yang menjadi taruhannya. Baik itu bayinya, ibunya, dua-duanya.
Dengan cepat, Vano membawa Meera dalam pangkuannya. Membawa Meera ke dalam mobil dengan tergesa. Membawa ke rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan mereka berdua.
•
•
Lucas berlari tergesa di lorong rumah sakit dimana istrinya dirawat. Mendengar kabar Meera yang jatuh begitu mengagetkannya, menyesal karena meninggalkanya tadi.
" Dimana istriku ? " Menahan sesak ketika melihat Vano tengah berjaga di depan pintu ruang kamar itu, Lucas memberanikan diri bertanya.
" Dia-- di dalam, Lucas ! " Jawab Vano singkat, tidak berfikir bahwa lelaki yang kini berdiri di hadapannya itu tengah diderai cemburu yang membabi buta.
Bagaimana tidak, saat di kantor tadi Lucas menerima kabar bahwa istrinya tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit karena jatuh, padahal dia sedang hamil besar saat itu.
Dan kini Vano yang seolah berperan menjadi suami siaga, bukan dirinya yang jelas-jelas suaminya. Dalam hati, Lucas bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, mengapa Meera dan Vano bisa dalam situasi ini. Kebetulan sekali.
Vano tersadar, Lucas tengah menatap dirinya dengan begitu tajam. Menyadari dan mengerti, akhirnya diapun menjelaskan. Karena tidak ingin ada kesalahpahaman yang berkelanjutan.
" Tadi-- aku sedang menghadiri pertemuan penting di restoran, tidak sengaja melihat Meera yang terjatuh dan kesakitan. Darah segar mengalir di kakinya, dia harus mendapatkan pertolongan dengan segera. Sebaiknya, kau tidak salah paham ! " Jelas Vano panik, tidak ingin terjadi kesalahpahaman.
Walau dalam hati masih ada setitik rasa, terkadang harapan untuk kembali bersama, nyatanya Vano tidak akan tega melihat Meera kembali terluka karena dirinya. Jadi, sebisa mungkin dia menjelaskan pada Lucas agar tidak ada rasa curiga.
Lucas terdiam, berusaha menetralisir perasaan. Menenangkan hati dan perasaan. Saat ini, memang bukan waktu yang tepat untuk tenggelam dalam kecemburuan.
" Tuan Lucas !! " Panggil perawat yang tiba-tiba keluar dari ruangan Meera berada. Lucas bergegas menghampiri.
" Apakah anda suami Ny. Ameera ? " Tanya perawat itu.
Lucas mengangguk cepat mengiyakan.
" Benar ! " Jawab Lucas panik.
" Masuklah ! Tadi-- Istri anda tidak berhenti menyebut nama Anda. " Ucap perawat itu.
•
•
Lucas menghambur memeluk Meera saat itu. Dia sudah berhasil ditangani oleh dokter kandungan, yang ternyata adalah ibu Meera sendiri, dr. Amanda.
Saat itu Meera masih tertidur tenang di atas ranjang pasien. Wajahnya bahkan masih terlihat begitu pucat dan lemah sekarang.
" Bagaimana keadaannya ? " Tanya Lucas panik dengan bibir yang sedikit bergetar. Dia sangat mengkhawatirkan istri sekaligus anaknya.
" Syukurlah, mereka baik-baik saja. " dr. Amanda menarik nafas kencang.
" Hanya saja, untuk beberapa waktu ke depan, harus lebih banyak istirahat dan tidak melakukan aktifitas berlebihan. " Jelas sang ibu mertua pada Lucas, membuat Lucas sedikit lebih lega sekarang.
" Jagalah dia ! Jangan Biarkan dia pergi sendirian ! Untung saja tadi ada yang menolongnya dengan segera. " Sentak dr. Amanda menegur Lucas.
Tanpa sadar dia bahkan memuji Vano saat itu. Membuat Lucas merasa kecil hati, mengingat dirinya yang meninggalkan Meera tadi.
Sampai saat ini, dr. Amanda masih belum tahu bahwa lelaki yang menyelamatkan putrinya tadi adalah lelaki yang menghamili Meera dulu. Yang berarti, bahwa lelaki itu adalah ayah dari cucu kesayangannya, Nara.
dr. Amanda hanya mengetahui bahwa ayah dari Nara adalah lelaki yang bernama Vano, itu saja tanpa tahu rupanya seperti apa.
dr. Amanda lalu meninggalkan Lucas di kamar Meera begitu saja. Dengan amarah yang mendadak naik ke ubun-ubunnya.
Bergegas berjalan menghampiri lelaki tadi yang telah berjasa menyelamatkan putrinya itu.
" Aku sangat berterima kasih, kau telah menolong putriku tadi. " Ucap dr. Amanda saat itu, tulus.
" Putri ? " Vano mengernyitkan dahi, setahunya dulu Meera tak memiliki keluarga samasekali. " Setahuku-- dia ... "
" Ya, dia putriku. " Jawab dr. Amanda memutus ucapan Vano.
" Kami berpisah cukup lama. Panjang ceritanya. " Lanjutnya lagi.
" Kau-- sudah mengenal putriku, Meera ? Apakah kalian berteman ? " Tanya dr.Amanda antusias.
" Ya. Dia-- teman kuliahku dulu. " Jawab Vano saat itu.
" Emh. " Dr. Amanda mengangguk.
" Siapa namamu ? Sekarang putriku sedang tertidur. Jika tersadar nanti, dia pasti ingin bertemu denganmu dan mengucapkan terima kasih padamu. "
" Aku -- " Vano berdehem.
Menenangkan degub jantungnya yang terasa berantakan seketika. Mengobrol dengan ibu dari perempuan yang sempat dia sakiti dulu merasa malu bersamaan dengan rasa bersalah mendera.
Bahkan, rasa takut mendominasi. Apakah sang ibu mengetahui bahwa dirinyalah lelaki yang telah menghamili putrinya dulu tanpa bertanggung jawab ?
Dan bisakah sang ibu itu menerima dirinya sebagai ayah dari cucunya, Nara--Andara.
" Aku-- " Dengan Terbata.
" Namaku-- Vano ! " Jawab Vano ragu.
" Devano ! " Jelasnya lagi.
Deg !!
dr. Amanda menatap Vano tajam.
@@@ 🍬 Bersambung ... 🍬@@@
@
@
@
Eh ... aku mau promo nih karya terbaru aku, masih slow update nunggu novel ini beres.
Mengenai kisah Nara dan Keponakan Lucas, yang kembar tiga.
Nih penampakannya. Jika ada yang suka dan berminat masukkan favorit dulu. Masih slow update.
Masukin favorit dulu, bacanya bisa nanti setelah episodenya di up cukup banyak.