Love

Love
8. Ikut



"Sayang, kenapa kamu lariii?"


Yoga yang tertinggal tampak mengejar Iren yang terbirit-birit meninggalkan lokasi kejadian di mana ada hantu Nyonya Wening yang jelas menatapnya,


"Apa dia mengikutiku? Kumohon lihatlah, aku takut,"


Kata Iren gemetar kepada Rendi,


Rendi menoleh ke belakang, tangannya masih menggenggam tangan Iren yang juga gemetaran karena takut luar biasa,


Bagaimana tidak? Ini adalah pengalaman pertamanya melihat tempat yang ia ketahui dan orang yang ia kenal dibunuh,


Ditambah lagi, Iren yang semula sebetulnya tak pernah melihat hantu, kini tiba-tiba saja menjadi bisa melihat hantu, parahnya hantu itu menyadari pula,


"Tidak, aku tidak melihatnya, semoga saja dia tidak mengikuti,"


Kata Rendi setelah dipastikannya ia tak melihat Nyonya Wening di belakang mereka,


Iren pun lantas baru bisa bernafas lega, ia tampak bersandar di badan mobil, yang kemudian bertepatan dengan itu Yoga tunangan Iren tampak datang menghampiri dengan berlari,


"Sayang,"


Iren menoleh ke arah Yoga, pun juga dengan Rendi,


"Ada apa? Kenapa tiba-tiba lari?"


Tanya Yoga dengan nafas terengah-engah, Iren terlihat menggeleng pelan, ia tak mungkin mengatakan kepada Yoga jika ia melihat hantu di siang bolong,


Banyak orang lebih percaya dengan film dan novel karya orang yang tak melihat mereka, sedangkan sejatinya, hantu bisa muncul kapan saja, mau pagi, mau siang, mau sore, mau malam,


"Kita pulang saja Mas,"


Kata Iren akhirnya, Yoga pun menganggukkan kepalanya tanpa bertanya apapun lagi, yang ia lakukan hanya membuka kunci mobil lalu membukakan pintu untuk Iren agar tunangannya itu bisa masuk ke dalam mobil,


Rendi yang juga terlihat khawatir dengan keadaan Iren yang wajahnya tampak pucat mengiring Iren masuk, ia meminta Iren duduk sedikit menjauh dari jendela kaca mobil, sementara ia berjaga di jok belakang,


Yoga menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di belakang kemudi lalu menyempatkan diri menatap Iren lagi yang pucat,


"Kamu tidak apa-apa kan sayang?"


Tanya Yoga perhatian,


"Haiiish... Lajukan saja mobilnya bodoh! Tidak usah drama!"


Rendi di jok belakang mengomel, tapi mana bisa dengar Yoga dengan suara Rendi,


Yoga justru kini meraih kepala Iren, mengelusnya dengan lembut,


"Perlu kita ke dokter sayang? Aku lihat sejak tadi kamu sepertinya sudah kurang sehat,"


Yoga menatap Iren dalam-dalam, nyatanya ia memang sudah begitu sayang pada anak dari sahabat Ayahnya itu, baginya Iren adalah obat penawar setelah ia sakit hati oleh mantannya dahulu,


Iren balas menatap Yoga, mata lembut penuh kasih itu terasa begitu teduh dan menenangkan hati seperti biasa,


Berbeda dengan saat menatap mata Rendi di mana dadanya akan berdegup kencang dan penuh desiran rasa bahagia, menatap Yoga bagi Iren seperti membuatnya tenggelam dalam perasaan nyaman dan menenangkan,


"Aku tidak apa-apa, tidak usah khawatir,"


Kata Iren berusaha membuat Yoga tak lagi terlalu mengkhawatirkannya, namun...


"Kamu tidak baik-baik saja honey, kamu pucat begitu, kamu ketakutan setengah mati dengan hantu Nyonya Wening,"


Kata Rendi menyela, yang kemudian menyadarkan Iren jika Rendi juga masih ada di sana, tapi belum lagi ia akan meminta Yoga untuk cepat meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Yoga meraih Iren ke dalam pelukannya,


"Sayang, aku benar-benar tidak ingin kamu kenapa-kenapa, apapun yang terjadi beritahu aku,"


Bisik Yoga,


Melihat adegan tersebut, tentu saja Rendi langsung emosi, takut selanjutnya Yoga akan mencium Iren di depan matanya, Rendi pun langsung menyorongkan tubuhnya ke depan untuk menekan klakson mobil,


Tiiiint! Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiint!!!


Yoga terlonjak kaget, begitu juga orang-orang di luar mobil yang mendengar klakson mobil Yoga begitu berisik,


Yoga yang seketika langsung melepaskan pelukannya tampak celingak-celinguk bingung klakson mobilnya berbunyi sendiri,


Iren menghela nafas, ia melirik Rendi di jok belakang yang terlihat pura-pura tidak tahu dengan menatap ke kaca jendela sebelah kanan,


Iiish... Iren mendesis, sudah jelas itu perbuatan Rendi, tidak ada yang lain,


"Aneh, klakson ini..."


Yoga sedikit merinding jadinya, Iren yang tahu Yoga mulai takut akhirnya meminta Yoga agar melakukan mobilnya saja untuk langsung pulang dulu.


...****************...


Mama kaget luar biasa, manakala Iren dan Yoga akhirnya sampai di rumah Iren lagi,


Mama terlihat sendirian di rumah, sementara Papa sudah pergi dengan Kak Wisnu untuk bermain golf dengan beberapa temannya,


"Iya Ma, entahlah, kenapa orang sebaik Nyonya Wening bisa ada yang tega membunuh,"


Lirih Iren lalu menghela nafas dan menjatuhkan diri di atas sofa untuk kemudian duduk bersandar lemas,


Mama meminta Mbak Narsih mengambilkan minum untuk Iren dan Yoga,


"Coba kita lihat, apa sudah ada beritanya,"


Kata Mama sambil kemudian mengambil remote TV dan menyalakan TV rumahnya,


Yoga yang sebelumnya pamit ke toilet dulu kini tampak sudah kembali, ia hendak duduk di samping Iren, tapi Rendi yang sudah duduk di samping Iren tampak cepat mendorong Yoga duduk di sofa lain,


Yoga yang didorong tampak terhuyung dan jatuh di atas sofa yang berbeda dengan sofa di mana Iren duduk,


"Hey, kamu tuh ..."


Iren protes dengan nada suara seperti desisan, tapi Rendi terlihat nyengir sambil mengangkat kedua jari tangannya membentuk huruf V ke arah Iren yang mendelik protes kepadanya,


Yoga kembali celingak-celinguk, ia heran setengah mati karena jelas ia merasa ada yang mendorongnya tapi tak ada orangnya,


Setelah klakson berbunyi sendiri, sekarang ia didorong, apa mungkin ini hantu Nyonya Wening? Batin Yoga sambil bergidik ngeri,


"Ah belum masuk berita ya, mungkin nanti ya,"


Kata Mama,


"Ya kejadiannya juga baru saja Ma, aku ke sana posisi jenazah baru di bawa ke Rumah Sakit,"


Ujar Iren,


Mama menghela nafas, ia lantas duduk di sofa satu lagi di ruangan keluarga rumahnya tersebut,


"Kasihan sekali, apa mungkin ini ada hubungannya dengan rumor itu,"


Gumam Mama, Iren menatap sang Mama dengan kening berkerut,


"Rumor apa Ma?"


Tanya Iren yang penasaran, terbayang kembali di mata Iren kondisi hantu Nyonya Wening yang persis dengan apa yang dikatakan orang-orang yang berkerumun di sekitar tempat kejadian,


"Lehernya hampir putus seperti digorok, sangat mengerikan,"


Dan nyatanya, memang begitulah kondisi hantu Nyonya Wening pula,


"Kabarnya dia menjalin hubungan dengan salah satu pengusaha yang beberapa bulan lalu saat anaknya menikah memakai jasa Nyonya Wening, kabarnya isteri pengusaha itu sempat mengamuk di tempat Nyonya Wening,"


"Mama dapat cerita dari mana? Jangan suka termakan berita hoax lho Ma, apalagi soal perselingkuhan itu kalo tidak ada bukti jadinya fitnah,"


Kata Iren,


"Lha Mama dengar dari teman Mama yang waktu itu sedang ada di tempat Nyonya Wening, saat isteri sah pengusaha itu datang mengamuk,"


"Tuan Wijayanto?"


Tiba-tiba Yoga bersuara, membuat semua melihat ke arahnya, termasuk juga Rendi,


"Saya juga sempat dengar Tuan Wijajanto sedang ada main dengan Nyonya Wening, ada yang cerita sempat melihat mereka di Singapura satu hotel berdua,"


Tutur Yoga,


"Sungguh?"


Iren membulatkan matanya, ia rasanya sulit percaya jika Nyonya Wening seperti itu, mengingat perempuan itu begitu anggun, sopan, dan terlihat seperti perempuan baik-baik,


Yoga mengangguk,


"Banyak yang sudah membicarakan itu memang, tapi aku juga tidak percaya sepenuhnya, karena bisnis Tuan Wijajanto memang sedang bagus, jadi bisa saja isyu itu dihembuskan untuk merusak citranya,"


"Tapi jika itu benar, apa mungkin dia dibunuh oleh isteri sah Tuan Wijajanto?"


Lirih Iren yang entah kenapa malah melihat ke arah Rendi, karena sesuatu yang aneh tiba-tiba dirasakan Iren,


Tampak Rendi menatap Iren, sambil matanya mengisyaratkan sesuatu,


"Di... Dia ada di sini,"


Kata Rendi lirih.


...****************...