Love

Love
Chapter 39 - Bertemu (2)



Mobil mereka berhenti tepat di depan sebuah restoran yang cukup besar namun terlihat begitu sederhana.


Lucas, Reynald dan Diana keluar dari mobil mereka. Setelah sempat membooking saat pagi tadi, Diana yang berperan sebagai tour guide dalam perjalanan ini, memaksimalkan tugasnya dengan sebaik mungkin.


Kali ini sebagai marketing promotion.


" Walaupun tempatnya sederhana, tapi restoran ini begitu terkenal di kota ini. " Ujar Diana.


" Karena apa ? Karena makanannya enak dan mantap. " Diana mengacungkan jempolnya kepada kedua lelaki tampan itu.


Lucas dan Reynald hanya terkekeh mendengar ocehan dari wanita satu-satunya dalam rombongan perjalanan bisnis hari itu.


Seiring dengan waktu, semenjak menikah dan memiliki anak dari Reynald, Diana tumbuh menua menjadi wanita cerewet dan bawel. Yang slalu ingin mengikuti suaminya, kemanapun ia pergi.


Sepertinya, ketakutan hadirnya orang ketiga atau WIL dalam rumah tangga mereka membuat Diana kian protective. Dia sampai memboyong putra dan pengasuhnya.


Lagipula perjalanan bisnis kali ini berhubungan dengan teman adiknya Dafa. Bahkan adiknya sudah sampai di resort dari kemarin pula.


Dengan alasan ingin jalan-jalan, Diana mengikuti suaminya dan sahabatnya itu. Berpura-pura sebagai tour guide penunjuk jalan. Padahal, tanpa Diana pun ada GPS yang akan memudahkan mencari tempat tujuan.


***


Mereka memesan makanan yang begitu khas di restoran itu. Keriuhan tampak dari para pelayan restoran yang langsung dengan sigap melayani pelanggan kelas kakapnya itu.


Diana, Lucas dan Reynald duduk dalam satu meja. Tidak jauh dari meja mereka, duduk putranya dan pengasuhnya. Selain itu ada beberapa sopir dan para asisten, yang merupakan asisten Lucas dan Reynald.


" Oh iya, kau bilang tadi Helena akan ke sini ? " Diana menghangatkan suasana meja yang hening.


" Dia sedang di perjalanan. Sepertinya sebentar lagi, dia akan sampai. " Jawab Lucas sembari melirik jam tangan mahal dan bermerk nya, limited edition pula.


" Dengan siapa ? " Tanya Reynald kali ini. Cemas tunangan sahabat istrinya itu akan tersesat.


" Dengan seorang sopir. Asistenku yang mengurus perjalanannya tadi. " Jawab Lucas cukup membuat Reynald lega.


" Kau sudah pesan, Sayang ? " Tanya Reynald pada istrinya.


" Su-- ... " Ucapan Diana terputus, kala mendengar Lucas berdehem sembari tersenyum kecut.


" Ehem !! " Lucas berdehem tadi.


" Ish ! Makanya menikah Lucas. Kamu bebas sayang-sayangan dengan dia nanti. " Ledek Diana, didukung oleh Reynald yang ikut tertawa.


Diana terdiam saja kala melihat seorang pelayan wanita yang cukup jauh tengah berdiri di dekat pintu dapur restoran itu.


" Seperti, Meera ... " Ucap Diana lirih.


Lucas yang mendengarnya selagi membuka ponselnya sedikit terusik. Namun, memilih diam saja, tidak mungkin ada Meera di sini. Di benak Lucas, saat ini Meera sedang bermesraan dan bercinta dengan Vano suaminya.


" Meera siapa ? " Tanya Reynald yang ternyata mendengar lirihan Diana.


" Meera, sayang ... " Jawab Diana pada Reynald.


" Gebetan Lucas dulu. " Bisiknya pada telinga suaminya. Merasa tidak enak membahas masa lalu sahabat yang sedang ada di hadapannya itu. Mengingat kini Lucas sudah bertunangan dengan wanita lain.


Seorang pelayan lalu datang mengantarkan pesanan makanan mereka.


.


.


.


Mereka begitu asyik menikmati makan siang mereka, seraya mengobrol beberapa hal penting yang tengah hangat di lingkungan mereka, bisnis terutama.


Diana masih anteng dan fokus dengan makanan yang tersaji di atas meja. Setelah sesaat lalu, dia fokus menyuapi putranya yang sedang mengalami bad mood, mungkin sedang mabuk perjalanan.


" Ha ... ha ... " Tawa Lucas dan Reynald cukup menggelegar meramaikan ruangan makan itu. Asap rokok mulai mengepul dari sela mulut dan sela jari mereka. Mereka begitu menikmati suasana santai itu. Begitu hangat dan langka.


Mereka yang biasa menghabiskan waktu untuk makan di restoran berbintang, dengan aturan ketat dan tata Krama, pastilah merasa kaku dibuatnya. Disaat menjalani makan siang di tempat yang cukup santai seperti saat ini, terasa relax dibuatnya. Kalau orang bilang, lebih membumi atau merakyat.


Diana yang kini tengah menatap ke depannya, dimana ada Lucas di sana, duduk terpaku menatap seorang wanita yang kini tengah berjalan ke arahnya. Berhenti kemudian, lalu duduk tepat di kursi yang berada tidak jauh dari meja mereka kini.


Wanita itu membersihkan meja dengan telaten, matanya terlihat melirik ke arah dimana Lucas duduk membelakangi wanita itu. Namun, sepertinya wanita itu tak menyadari keberadaan Diana dan Reynald di sana, apalagi menyadari Diana yang kini tengah memperhatikannya.


Diana, tahu betul siapa wanita itu. Namun, sedikit ragu mendera. Mungkinkah dia ?


Tidak salah lagi, Diana tidak mungkin salah. Matanya masih normal, walaupun umurnya kian menua, kian bertambah, tapi kan masih dibawah kepala tiga.


Sejenak, Diana memilih diam saja. Memperhatikan saja dari kejauhan, takut-takut dia salah orang.


Namun,


Tatkala melihat wanita itu hendak bangun berdiri untuk pergi dari sana, Diana dengan sigap memanggilnya.


" Meera !! " Panggil Diana cukup kencang.


Sembari berdiri dari tempat duduknya. Berjalan perlahan, bergegas berlari kemudian. Mendekati Meera yang tengah duduk terpaku dan terdiam. Sepertinya, dia terkesima melihat keberadaan Diana di sana.


Lucas yang tengah tertawa sembari menikmati rokok yang terselip di jarinya, langsung terkesiap. Tubuhnya mematung seketika.


Dia tidak salah dengar bukan ?


" Meera ? " Ucap Lucas lirih.


Seraya bertahan duduk, tak bergeming dari posisinya sedikitpun. Dia takut, sungguh takut, entah karena apa ....


.


.


.


💫 Bersambung ... 💫