
Meera terkesiap kaget kala mendapati ada Diana di sana. Berusaha menyembunyikan perutnya yang menyembul, untunglah Meera yang masih duduk saat itu, perutnya tertutup oleh meja.
" Diana ... " Ucap Meera tergagap, terbata. Dengan wajah yang ikut memucat, seperti melihat hantu saja. Entah jika nanti dia tahu, bahwa Lucas juga ada di sana.
" Meera ... " Diana duduk tepat di samping Meera yang terlihat gugup dan bergetar saat itu. Untunglah, Diana tidak peka. Tak menyadari sikap aneh Meera.
" Kamu-- apa kabar ? " Diana menyentuh punggung tangan Meera. Terasa dingin seperti sebongkah es batu.
" Ba--ik ... " Jawab Meera sembari menelan ludah kasar.
Reynald yang melihat interaksi istrinya dengan seseorang, bangun berdiri dan menghampiri kemudian. Sedang Lucas masih bergeming di tempat semula, masih dengan posisi yang sama. Sepertinya, dia sedang mengumpulkan tenaga untuk terlihat berpura-pura bahagia di depan sang mantan kekasih tercinta yang selama ini dia kira telah bahagia bersama suaminya.
" Sayang ... " Reynald ikut menghampiri Diana. Menyadari bahwa wanita yang dipanggil istrinya tadi adalah Meera yang merupakan mantan gebetan Lucas, sedikit menarik perhatiannya.
Bahkan, sempat-sempatnya Reynald melirik Lucas yang masih setia duduk di tempat semula. Bigos dia ternyata. Reynald juga menyempatkan melirik istrinya kemudian, seraya tersenyum memberi tanda dengan matanya.
Lucas ... Lucas ... Mata Reynald mengarah pada Lucas. Dan Diana yang ratunya gosip langsung paham seketika. Mengangkat kedua alis matanya, lalu menengokkan kepalanya ke arah Lucas juga.
Sedari tadi Meera hanya terdiam saja. Diana berinisiatif, lagipula sekedar menyapa mungkin tak apa.
" Meera ... " Diana tersenyum aneh.
" Emh ? " Lagi-lagi Meera menelan ludahnya kasar. Menatap Diana dengan tatapan galau.
" Sebenarnya kami bersama Lu -- " Lucas yang menyadari rencana Diana, karena sedari
tadi telinganya tajam mendengarkan obrolan mereka, bergegas bangun dari duduknya, dengan cukup kasar.
Krieeett ...
Suara kursi yang bergeser dengan kasar berbunyi. Lucas berdiri lalu membalikkan badannya kemudian.
Dan ketiga pasang mata itu, menatap ke arah sumber suara, ke arah yang sama. Secara bersamaan.
" Lu--casss ... !!! "
Meera terkesiap kaget. Matanya membelalak, dengan refleks telapak tangannya bergerak menutup mulutnya yang seketika itu juga terbuka.
Meera semakin gelisah, kala melihat Lucas berjalan mendekat ke arahnya. Dengan sorot mata tajam nan mematikan, seolah dipenuhi dengan kebencian, walau begitu jelas juga terlihat ada cinta di sana.
.
.
.
Dengan sekuat tenaga, Lucas berusaha terlihat tegar dan bahagia. Dia, samasekali tak ingin membuat Meera merasa besar kepala. Mengira Lucas telah terpuruk, karena ditinggal oleh Meera untuk menikah dengan lelaki pilihannya.
" Apa kabar, Meera ? " Lucas tersenyum getir, mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Meera. Kemudian duduk di samping Meera, di tempat kosong dimana tidak ada Diana di sana.
" Ba--baik. " Jawab Meera gugup setengah mati. Jantungnya berdetak tidak karuan, membalas uluran tangan itu dengan menahan diri untuk tidak terlihat bergetar, sungguh sulit.
Meera memilih menunduk saja, kedua tangannya saling meremas satu sama lain. Hal yang paling ditakutkan olehnya adalah mereka melihat dan mengetahui kehamilannya.
" Kau, sendirian di sini ? " Tanya Lucas yang sebenarnya tak kalah gugup. Dia benar-benar tidak menyangka, akan bertemu Meera di sini, di tempat ini. Masih beruntung baginya, tak mendapati Meera bersama Vano yang bisa saja menebar kemesraan di hadapannya nanti. Membuat hatinya cemburu dan remuk redam secara bersamaan.
" Ehm. " Meera mengangguk pelan. Kali ini dia meremas ujung seragam restoran yang dia pakai. Hatinya benar-benar kacau sekarang.
" Aku- sendiri. " Lanjutnya lagi, berusaha tidak menunduk dengan menoleh ke arah Lucas, masih berusaha menyembunyikan kegugupannya. Terutama, perutnya.
Diana dan Reynald hanya menjadi penonton saja. Mereka paham, sepertinya diantara mereka berdua masih ada yang perlu diselesaikan.
Diana berdehem pelan memberi tanda pada Reynald, berusaha memisahkan diri dari mereka berdua yang sepertinya perlu berbicara empat mata.
Namun, tertahan. Ketika pemilik restoran menghampiri mereka dan bertanya pada Meera. Sepertinya dia merasa aneh, kenapa Meera bisa berkerumun dengan tamu penting itu.
" Meera ... ! " Mendengar suara atasannya, Meera yang sedang menunduk seketika mendongak.
" Ada apa ? " Tanya Bu Dian.
" Aku--, " Meera tergagap tak bisa menjawab.
Hening ...
Tek Tek Tek
" Kami, hanya teman lama. " Kali ini Diana memilih menjawab, karena melihat Meera yang terlihat begitu kebingungan. Diana masih belum mengerti apa hubungan Meera dengan restoran ini.
Mereka masih belum ngeh dengan seragam pelayan restoran yang sedang dipakai oleh Meera. Mengingat Meera sedang hamil, seragamnya memiliki model yang sedikit berbeda dari pelayan yang lainnya.
.
.
.
" Meera ! Bagaimana kalau kau menyuguhkan makanan untuk cuci mulut nya ... " Ujar Bu Dian.
Dia yang memiliki misi untuk membuat restorannya berkembang, merasa senang tatkala mendengar Meera tenyata berteman dengan tamu penting restoran miliknya.
Meera hanya diam saja, tak bergeming sedikit pun. Fikirannya kacau, hingga akhirnya dalam sepersekian detik, dia terlupa dengan kehamilannya. Dia terlupa dengan perutnya yang menyembul besar.
Meera sontak berdiri, tepat ketika Bu Dian atasannya itu, memanggil namanya kembali.
" Meera ... "
" Baik, Bu. Tunggulah ... ! " Meera berjalan cepat menuju dapur.
.
.
Melihat Meera yang berdiri dan berjalan dengan perut yang membesar, Diana membelalakkan matanya seketika. Mengerjap bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya.
Meera sudah menikah kah ? Dengan siapa ?
Sedangkan Lucas ?
Tubuhnya kaku, wajahnya pucat, bibirnya kelu. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku nya terlihat memutih. Pancaran emosi tergambar jelas di sinar matanya. Aura seram tergambar jelas di wajahnya. Diana yang melihatnya, dapat melihat dengan begitu jelas, sorot kemarahan di sana.
Kau sungguh berbahagia dengan pernikahanmu, Meera. Bahkan di perutmu, kini ada benih lelaki itu ...
Rahang Lucas mengeras.
.
.
.
💫 Bersambung ... 💫