
"Aduh, bagaimana ini, apa benar ada hantu masuk Ren? Apa kamu sekarang bisa lihat hantu?"
Mama tampak menempelkan diri pada Iren, teringat lagi ia akan aroma anyir yang persis aroma darah,
"Hantu Nyonya Wening,"
Kata Iren kemudian dengan lirih sambil memandang ke setiap sudut kamar, matanya menyiratkan ketakutan, membuat Mama lebih takut dan terpaksa menabok anaknya,
"Jangan bercanda,"
Kata Mama,
Iren yang ditabok tentu saja jadi terkejut sambil langsung mengusap bagian lengan yang ditabok Mamanya,
"Serius Ma,"
Lirih Iren pula sambil menatap Mamanya begitu serius, Yoga yang melihat dua perempuan yang ia yakini harus ia lindungi pun berusaha mengabaikan rasa takut yang jadi ikut melandanya,
Segera ia menghampiri Mama dan Iren, ia tampak bersikap siaga satu,
"Tenanglah Ma, tenanglah sayang, aku di sini akan menjaga kalian, meskipun..."
Bluk!
Belum lagi Yoga menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba parfum di meja rias Iren terlempar sendiri ke bawah, membuat Yoga dan Mama yang melihat kejadian tersebut langsung lari keluar kamar,
"Iren, kamu ngapain di situ bengong? Cepat lari naaak..."
Teriak Mama dari pintu, Iren yang jelas tidak perlu lari karena ia kini melihat Rendi tertawa di samping meja riasnya tampak hanya menghela nafas,
"Ren... Iren..."
Panggil Mama lagi, Iren menoleh ke arah Mamanya,
"Tenang Ma, kali ini hantunya bisa aku tangani sendiri,"
Ujar Iren yang jadi kesal dengan kelakuan Rendi,
Mama yang tetap tidak ingin anak gadisnya kenapa-kenapa berusaha masuk lagi ke dalam kamar, tapi tiba-tiba hp nya berdering,
Mama sejenak mengambil hp nya dari dalam saku gamisnya, dilihatnya nomor sang suami,
"Ya Pa,"
Mama menjawab telfon Papa, sementara matanya memperhatikan gerak-gerik Iren yang kini seperti sedang adu mulut dengan seseorang tapi tidak terlihat siapapun di sana,
"Ma, berkas Papa yang harusnya diserahkan ke Pak Yandik hari ini malah tertinggal, bisa bawakan ke sini Ma? Pakai taksi saja jangan bawa mobil sendiri,"
"Wisnu memangnya ke mana?"
Tanya Mama,
"Tidak tahu dia tadi pamit mau ke rumah temannya sebentar, tapi sampai sekarang tidak terlihat, dihubungi juga susah,"
"Haish kebiasaan anak itu,"
Mama menggerutu,
"Oh sebentar, ada Yoga tadi di mana dia,"
Mama yang ingat ada calon menantunya barangkali bisa dimintai tolong untuk mengantar berkas langsung celingak-celinguk mencari sosoknya,
Karena di lantai dua sudah tidak terlihat, Mama pun lantas mencarinya ke lantai satu,
"Jangan gitu dong Ren, kamu mau bikin semua orang jantungan?"
Iren tampak merengut ke arah Rendi yang akhirnya berhenti tertawa, tampaknya ia sangat puas mengerjai Yoga, bahkan ia berharap bisa membuat pemuda itu kapok datang lagi dan tak usah mendekati Iren lagi,
"Melindungi apa? Baru melihat botol parfum terlempar saja sudah lari terbirit-birit,"
Kata Rendi sembari melayang,
"Kamu juga lihat hantu Nyonya Wening takut,"
Kesal Iren masih belum surut,
"Bedalah, kalau aku kan jelas melihat penampakannya,"
Rendi tetap bersikeras membela diri,
Di lantai satu Mama masih mencari sosok calon menantunya, ia melihat ke kanan dan ke kiri, hingga kemudian ia melihat Mbak Narsih yang baru masuk dari arah pintu utama,
"Mbak, Nak Yoga ke mana? Kamu lihat?"
Tanya Mama,
"Oh Tuan Yoga barusan buru-buru pergi pakai mobil, memangnya tidak pamitan?"
Mbak Narsih pasang wajah heran, Mama pun menggelengkan kepalanya,
Kata Mama pada Mbak Narsih, tampak Mbak Narsih pun mengangguk sambil tersenyum,
Mama lantas berjalan menuju kamar pribadinya, sambil sibuk mengirim pesan kepada sang suami,
Yoga tampaknya ketakutan setengah mati sampai harus kabur begitu saja dari rumah calon mertuanya,
Tapi, apa iya hanya begitu saja dia ketakutan sampai harus kabur pergi? Mama benar-benar tidak habis pikir jika calon menantunya ternyata jauh lebih penakut daripada dirinya sendiri.
...****************...
"Non... Non Iren,"
Mbak Narsih yang diminta Mama ke kamar Iren tampak berdiri di depan kamar Iren yang pintunya sebetulnya sudah sedikit terbuka,
Namun karena Mbak Narsih mendengar Iren seperti sedang bicara, Mbak Narsih pun urung langsung masuk ke dalam kamar takut sang Nona muda yang pastinya sedang menelfon itu akan terganggu,
Ya, jelas saja Nona Iren sedang menelfon karena ia sendirian di kamar bukan? Begitulah yang dipikirkan Mbak Narsih,
"Non... Nona Iren..."
Panggilan Mbak Narsih terdengar oleh Iren di dalam kamar, ia yang sedari tadi mengomel pada Rendi akhirnya menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh ke arah pintu kamar di mana suara Mbak Narsih terdengar,
"Ya Mbak, ada apa?"
Tanya Iren,
"Anu Mbak, kata Mama, beliau mau pergi antar berkasnya Papa yang ketinggalan,"
Iren berjalan ke pintu kamar,
"Mama pergi?"
Iren kembali bertanya saat ia telah benar-benar membuka pintu kamarnya dan kini berhadapan dengan Mbak Narsih,
"Iya Non,"
"Ya sudah, tidak apa-apa,"
Kata Iren pula, meski ia takut sebetulnya ditinggal sendirian, tapi ikut pergi pun sama saja karena Rendi akan terus mengikutinya, yang nantinya pasti akan membuat ulah lagi,
"Non mau dimasakkan apa untuk makan?"
Tanya Mbak Narsih,
"Apa saja lah Mbak,"
Jawab Iren sekenanya,
Mbak Narsih pun menganggukkan kepalanya, setelah itu ia pamit meninggalkan Iren yang menutup pintu kamarnya lagi,
Kini Iren berdiri bersandar di pintu kamar, menatap Rendi yang sudah duduk selonjor di atas tempat tidur,
Entah mimpi apa Iren dulu, sekarang ia bisa satu kamar bersama Rendi padahal mereka belum menikah,
Haiish, Iren menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir pikiran aneh yang tiba-tiba melintas di otaknya hanya karena melihat Rendi di atas tempat tidurnya selonjor dan menyandarkan tubuh ke tumpukan bantal,
"Hantu Nyonya Wening, sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu,"
Tiba-tiba Rendi berbicara serius, Iren menghela nafas, mendengar Nyonya Wening disebut membuatnya kembali sadar dan merinding, cepat ia membawa langkahnya ke arah tempat tidur dan memilih duduk di sebelah Rendi,
"Pesan apa?"
Tanya Iren pelan, ia takut hantu itu akan muncul di kamarnya,
"Dia tidak bisa bicara, kan lehernya hampir putus,"
Kata Rendi, lalu bergidik ngeri,
"Ikh kamu tuh hantu apaan sih tidak jelas,"
Iren menabok lengan Rendi yang empuk seperti kapas,
Rendi menatap Iren dalam-dalam, matanya entah kenapa tiba-tiba saja jadi berkaca-kaca, Iren yang ditatap seperti itu jadi salah tingkah, dadanya berdegup sangat kencang, meskipun ia tahu jika Rendi saat ini sudah bukan lagi manusia,
"Maaf honey, maafkan aku,"
Kata Rendi sambil menunduk,
"Kenapa tiba-tiba minta maaf?"
Tanya Iren heran, padahal tadi saat ia marah karena Rendi terus mengerjai Yoga, sama sekali Rendi tak mau minta maaf dan malah balik kesal,
"Maaf aku pulang bukan lagi sebagai manusia,"
Kata Rendi.
...****************...