
" Meera, apakah aku melupakan sesuatu, mhh ? " Lucas mengecup leher Meera.
" Menurutmu ? " Meera merenggut geli saat itu.
" Apakah aku belum menceritakan suatu rahasia padamu ? "
Kali ini Lucas mengecup bahu Meera yang sedikit terbuka.
Lagi-lagi Meera merenggut geli tanpa banyak bersuara.
Mata Meera kini tengah fokus pada tangan Lucas yang sepertinya tanpa sadar mendarat erat namun lembut di perut buncitnya.
Menerka-nerka apa yang akan dilakukan Lucas kala tersadar nanti. Sejauh ini, dalam hati Meera terpatri, bahwa Lucas masih belum bisa menerima kehamilannya ini.
Bagaimana mungkin dia menginginkan dirinya menjadi istrinya ?
" Apa ini berkaitan dengan Helena, istrimu ? "
" Hmm, istri kesayanganku ... " Bisik Lucas, sengaja memancing kemarahan Meera.
Menatap Lucas dalam, raut muka Meera sedikit kesal saat itu. Sepertinya, dia cemburu. Lucas tertawa senang melihatnya.
" Apa kau cemburu, hmm ? " Goda Lucas bahagia. Telinga Meera menjadi sasaran kecupannya kali ini.
" Ahh .. Lucas geli ! "
Meera mendorong dada Lucas. Entah karena benar-benar geli atau karena cemburu tadi. Dengan kesal, Meera lalu beranjak turun dari pangkuan Lucas yang tak sedikitpun menahannya kini, sengaja kah ?
Sepertinya, Lucas tengah mengikuti permainan Meera. Menguji, sejauh mana kecemburuan Meera kepadanya.
" Kau cemburu, Meera ? " Lucas memulai permainannya.
" Tidak ! Tentu saja tidak ! " Elak Meera. " Dia istrimu, sudah jelas. " Lanjutnya lagi menggerutu.
Lucas tertawa. Dia bersyukur belum sempat bercerita masalah Helena. Hingga saat ini, ada moment seperti ini, Lucas senang karenanya. Bisa menggoda Meera sepuasnya, kapan lagi ?
" Kau benar, dia-- memang istriku, ish ... " Bibirnya seolah berdecak kagum memikirkan Helena, Meera semakin kesal melihatnya.
" Kau tahu Meera, kenapa aku menikahinya ? "
Kali ini Meera tak menjawab, hanya mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
" Selain cantik, dia juga begitu seksi. " Puji Lucas begitu sengaja.
Wajah Meera berubah kecut. Membuat Lucas semakin menjadi-jadi.
" Kau tahu ? Dia sangat pandai memijit. Pijitannya sangat lembut. Dia benar-benar handal, Meera. " Puji Lucas lagi. Tak memperdulikan wajah Meera yang kini jelas memerah karena marah.
" Selain itu, dia juga sangat pandai memasak. Dia slalu memanjakan perutku. " Lanjut Lucas lagi.
" Sepertinya, dia memang sangat mengerti kebutuhan lelaki, Meera. Selain isi perut, ya .. " Lucas sengaja memutus kalimatnya, sengaja membuat Meera berimajinasi sendiri.
Berbagai pujian Lucas lontarkan, raut muka Meera berubah seiring dengan waktu. Pucat, gelisah, dan marah jelas tergambar. Sorot matanya bahkan memancarkan emosi. Dengan jelas, Lucas dapat membacanya begitu pasti.
Senangkah Lucas ? Tentu saja. Apalagi saat melihat reaksi Meera yang semakin menjadi, saat Lucas melanjutkan lagi memuji Helena untuk ke sekian kalinya.
" Cukup ! "
Meera beranjak berdiri. Terlanjur emosi, menguasai diri. Bahkan mata Meera tampak merah kala itu. Lucas merasa bersalah, walau sedikit saja. Karena, sesungguhnya dia puas melihat reaksi Meera yang seperti ini.
" Kalau dia begitu sempurna untukmu, lalu mengapa kau mengajakku menikah ?! "
Meera menggerutu sebal. Bibirnya yang tipis berisi terlihat mencebik, bagi Lucas justru terlihat lucu. Lucas ingin menyesapnya sekarang.
Nafas Meera terengah menahan emosi yang mulai menguasai diri.
" Meera ... " Melihat reaksi berlebihan Meera, Lucas sedikit kaget. Tidak mengira reaksinya akan separah ini.
Meera mundur beberapa langkah, menjauh dari Lucas.
" Aku memang bukan apa-apa Lucas, bukan siapa-siapa. Kau tidak perlu memperjelas itu semua. Aku juga sadar siapa aku, apa saja kekuranganku ... " Tanpa sadar Meera menangis.
Meera kembali duduk, sedikit menunduk, lalu menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Isak tangis terdengar begitu dramatis. Meera bahkan tak bersusah-susah untuk menahan diri, apalagi menjaga gengsi.
" Hey, Meera ... maafkan aku, hmm. " Lucas duduk berjongkok di hadapan Meera, mencoba menenangkannya.
" Aku sadar Lucas. Tanpa kau memperjelasnya pun aku sadar dengan posisiku. Kondisiku yang sedang hamil, akupun tahu bahwa sangat sulit bagimu untuk menerimanya. " Meera terisak. Hatinya terluka.
" Meera, Meera ... aku hanya bercanda. " Rayu Lucas menenangkan Meera.
" Meera dengarkan aku, hmm ! " Lucas menarik kedua pergelangan tangan Meera. Menggenggam nya erat agar dia bisa menatap wajah Meera lebih lekat.
" Dengarkan aku !! " Tegas Lucas tak ingin Meera menolak.
" Apa lagi ? " Mencoba menarik kedua tangannya itu.
" Helena bukan istriku, kami tidak pernah menikah ! " Jelas Lucas dengan tegas.
" Apa ?!! "
***
Meera masih terisak. Kala Lucas menarik Meera dalam pelukannya. Haruskah dia merasa lega atau tenang, kala mengetahui Lucas belum menikah ? Tentu saja, dari lubuk hati yang paling dalam dia sangat bahagia.
Situasi mulai tenang, Meera memulai pembicaraan seriusnya. Bagaimanapun, ini harus dibicarakan sebelum terlambat. Sebelum penyesalan terjadi diantara mereka.
" Maafkan aku, Lucas. " Meera menengadahkan wajahnya menatap Lucas sendu.
" Hmm ? Kenapa meminta maaf, kau tidak salah padaku. " Lucas mengecup kening Meera lembut.
" Aku-- tidak bisa menikah denganmu. " Setelah berfikir cukup waktu, Meera fikir ini adalah keputusan terbaik.
" Apa maksudmu, Meera ?!! "
Lucas melepas dekapannya, sedikit menyentak bahu Meera. Dia berharap Meera tengah bercanda padanya, membalas dendam padanya.
" Mhh, " Meera berfikir sejenak. Memikirkan
kata-kata yang tepat.
" Aku tahu, sangat sulit bagimu untuk menerima kehamilanku ini. " Dengan terbata dan keraguan Meera mencoba menjelaskan.
" Itu, klise sekali, Meera ! Aku tidak percaya hanya karena itu. " Lucas marah, respon ketus terlontar darinya.
" Aku-- benar-benar tidak pantas untukmu. Kau pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dariku. "
Dengan lembut Meera mencoba mengutarakan alasan dan perasaan yang selama ini menggelayutinya.
" Kau bohong ! " Lucas bangun dari duduknya, berdiri di depan jendela yang terlihat rapuh.
" Aku --, " Meera mengikuti Lucas, menyentuh bahunya lembut namun ditepis begitu saja oleh Lucas yang telah diselimuti kecewa dan amarah.
" Apakah karena Vano, hah ? "
Lucas terlihat emosi, kesabarannya sudah habis saat ini. Lucas menatap Meera tajam, dengan luka yang jelas terlihat di sorot matanya.
" Kau masih mencintainya, bukan ? " Tanya Lucas ketus.
" Tidak ! Bukan seperti itu. "
Meera mencoba menepis tuduhan Lucas padanya. Namun, Lucas terlanjur marah saat itu.
" Jadi, kau ingin menikah dengannya ? " Tanya Lucas dengan begitu ketusnya.
Nafasnya tersengal, dadanya terlihat naik turun, karena menahan diri. Setidaknya di depan Meera yang sedang hamil, dia berusaha mengontrol emosinya dan kendali dirinya
" Tidak, Lucas. Kau salah ! " Meera menangis, tubuhnya bergetar ketakutan. " Kau salah, aku hanya ... "
Meera meringsek berjalan menghampiri Lucas yang terlihat begitu tegang. Meraih tangannya kemudian, lalu memeluk Lucas dengan begitu erat.
Menenggelamkan wajahnya pada dada Lucas yang nyaman, dia tersadar telah menabuh genderang perang. Dan satu-satunya hal yang bisa menenangkan Lucas hanyalah ...
" Maaf, aku mencintaimu, Lucas " Ucap Meera dengan terisak.
" Tapi-- aku sangat takut. Aku malu, Lucas. Aku-- benar-benar tidak pantas untukmu. "
Ucap Meera lirih. Namun masih terdengar begitu jelas di telinga Lucas. Hatinya menghangat seketika.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
.