
"Oh God ! Jangan bilang kalau momy tukang selingkuh ! " Celetuk Isabella cemberut memandangi momynya. "What's this ?" , Pekikan disertai dengan mata melotot melihat ekspresi wajah putrinya yang terlihat garang dan menyelidik menatap wajah momynya.
"Bukan momy. Tapi mereka lah yang selingkuh dan tidak tanggung jawab. Dan kala itu Mom bertemu daddy Stuart." Lanjutnya.
"Oo.." Suara Isabella dan Shawn membeo bersamaan. "Momy dan daddy Stuart saling mencintai dan dady Stuart bukan Players." Revano berkata seraya melirik Ambressio.
Uhuk.. Ambressio tersedak makanannya buru-buru dia mengambil minuman dan meminumnya.
"Lalu kenapa Daddy Ambressio baru terakhir datang ke sini ? Kenapa baru sekarang datang ke rumah ?". Lanjut Isabella bertanya dan menatap ke arah Ambressio. Ambressio gugup menatap gadis ciliknya.
Jelas sekali kemiripan Isabella dan Ayana sangat terlihat. Namun karakter mereka berbeda. Isabella lebih ceria serta banyak bicara dan Ayana pendiam seperti ibunya Cindy. Tanpa disadari dia melihat ke arahnya Cindy. Stuart Weitzman melihatnya dan giginya bergemeletuk menahan kekesalannya.
"Daddy Ambressio suka berpetualang dan dia suka berpergian terlebih sangat bersemangat jika bermain di tempat penjual bunga hitam." Sahut Stuart Weitzman dengan lantang serta menatap Ambressio tajam.
Ambressio mengalihkan pandangannya ke Stuart Weitzman matanya terbelalak tak percaya atas kalimat frontal yang dilontarkannya sedemikian jelasnya.
Barry Cartlon tersenyum, hampir saja dia kelepasan tertawa karena tingkah keduanya yang tergolong unik. Mantan suami dan suami sekarang bertemu, lucunya mereka masih saja berdebat untuk menarik perhatian wanita cantik pujaannya itu.
Revano terkekeh kecil melihat pertikaian keduanya, Reynald hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah lakunya yang kekanak-kanakan. Bagaimanapun mereka sudah selesai dan tidak mungkin Cindy mau berbalik rujuk. Stuart Weitzman benar-benar lelaki yang posesif melebihi Ambressio.
Itulah yang dipikirkannya saat ini. Ayana menatap ke arah Barry Cartlon dan masih menikmati makan malam bersama. Suasana menjadi ramai karena mereka berkumpul bersama. "Kenapa Daddy Ambressio tidak menikah ?" Tiba-tiba saja Ayana angkat bicara. Semuanya beralih pada dirinya.
"Emhm. Daddy sudah tua dan malas untuk memulai percintaan atau semacamnya. Jadi Daddy ingin menjaga kalian saja. Cepatlah besar dan menikah Daddy senang hati menjaga anak-anak kalian." Reflek Reynald menjawabnya. Dan spontan saja Cindy menatapnya dengan tatapan sulit untuk dijabarkan.
Ayana beralih ke arah Ambressio, gadis itu meminta jawaban Ambressio atas pertanyaan. Ambressio hanya tersenyum tipis melihat Ayana. "Maafkan Daddy. Untuk sesaat Daddy belum memikirkan semua itu." Jawabnya sambil makan makanan nya.
"Pernikahan dan cinta itu sangatlah rumit sayang. Kelak kamu akan mengalaminya dan kuharap kamu bertemu dengan lelaki yan tepat dan dia tidak akan menyakiti perasaan kamu. Seperti yang telah momy alami". Cindy ikut bergabung dengan pembicaraan mereka.
"Kenapa semua membahas pernikahan ? Aku masih kecil bukan ?" Isabella mulai memprotes pembicaraan mereka. Semua tertawa mendengar Isabella menggerutu kesal karena pembicaraan itu. Semuanya kembali normal setelah sesaat lalu terlihat ketidak nyamanan Ambressio yang di tanya putrinya. Jujur sampai detik ini dia masih mencintai Cindy.
"Bagaimanapun Daddy Ambressio masih muda seperti Daddy Stuart, apakah tidak ada yang menyukai Daddy Ambressio ?" Celetuk Isabella. "Bukannya tidak ada, namun Daddy Ambressio suka berpetualang dan malas memilih." Jawab Stuart ketus.
"Omong-omong bisnis apa yang kamu jalankan kak Barry Carlton ?" Revano mencoba mengalihkan perhatian semua anggota keluarga tidak lagi ada kericuhan lagi. Secara dia melihat dengan jelas kedua Daddy nya saling bertikai.
"Hanya ini itu saja. Dan aku juga masih terpaku membantu perusahaan Daddy. " Jawabnya sambil makan makanan yang disajikan, menghindari tatapan mata semuanya. "Dan hotel itu ?" Tanya Stuart Weitzman.
"Saya hanya karyawan saja. Itu milik keluarga kita. Dan sahamnya juga sudah terpecah menjadi beberapa kelompok. Saya hanya memiliki 5% belum mempunyai kemampuan untuk melakukan hal ini dan itu." jawabnya merendah diri. Kemampuannya memang boleh di acungi jempol namun ia berusaha untuk mandiri dan tidak terbelenggu oleh perusahaan keluarganya. Dan Stuart Weitzman mengetahui tentang itu.
"Itu sudah merupakan awal yang bagus. Tetap semangat dan berkarya. Kamu calon penerus yang layak mendapatkan apresiasi. Jika dia mengacuhkan semua usahamu maka tinggalkanlah tak ada gunanya berbuat jika tiada imbalannya. Bergabunglah dengan perusahaan milikku, atau miliknya Reynald pasti dia akan senang hati menampung orang pintar seperti kamu."
"Raihlah kemenangan di atasnya dan juga jangan mau direndahkan." Stuart Weitzman mengatakan itu dengan maksud tulus karena dia mengetahui tentang keadaan keluarga Barry Carlton, Pemuda itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Tampaknya pemuda itu adalah anak yang baik Kelihatan Stuart begitu peduli dengan apa yang terjadi pada dirinya, batin Reynald pada dirinya sendiri.
Keadaan menjadi hening sesaat setelah acara makan malam selesai semuanya berkumpul di ruang tengah, mereka mengobrol santai Revano dan Barry Carlton, Ayana bersama Cindy dan Isabella. Sedangkan Stuart dan Reynald bersama dengan Ambressio membahas tentang bisnis mereka masing-masing. Waktu pun berlalu dengan cepat mereka berpisah untuk istirahat di kamarnya masing-masing.
Keesokannya Barry Carlton berpamitan dengan semua orang, karena dia sudah meninggalkan kantor untuk menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi dan memohon maaf kepada semuanya.
Stuart Weitzman dengan tenang memaafkan pemuda itu karena melihat Ayana sudah kembali seperti semula, bersedia untuk komunikasi walaupun dia sekarang menjadi lebih pendiam. Lelaki itu menghargai usahanya dan keberanian untuk mengakui kesalahannya itu.
Aktivitas pun kembali seperti semula. Anak-anak kembali ke bangku sekolah, demikian juga Ambressio dan Reynald kembali ke tempatnya masing-masing. Stuart Weitzman juga kembali lagi bekerja di perusahaannya.
Ayana kembali ke sekolah, semua orang luar hanya mengetahui Ayana sakit dan tidak dapat ditengok karena keluarganya melarangnya.
Sementara itu teman-temannya sangat ingin menjenguk nya. Mereka berkerumun di sekitar Ayana dan bertanya kepada nya tentang kabarnya.
Ayana sedikit merasakan ketidak nyamanan untung saja Revano mendampingi nya saat jam istirahat dan sebelum bel masuk sekolah. Remaja itu sengaja meninggalkan kelasnya untuk menjaga adiknya agar tidak di tanyain tentang hal kejadian itu. Revano yang selalu menjawab pertanyaannya rekan-rekannya Ayana sekelas. Bahkan Revano menemani Ayana ke kamar kecil. Pemuda itu tidak risih ataupun malu melakukan hal-hal yang ringan demi adiknya.
Dia mengerti adiknya memerlukan bantuan dari dirinya untuk memulihkan kondisi mental dia atas kejadian itu. Walaupun Ayana berusaha bangkit dari keterpurukannya namun Ayana tetap saja memerlukan bantuan dari kakaknya. Revano tidak ingin orang mengetahui tentang kesehatan Ayana dan dia juga tidak ingin adiknya menjadi bahan pembicaraan mereka yang tidak menyukainya.