Love

Love
Chapter 52 - Malam Yang Tertunda



Lucas kembali ke kamarnya, setelah cukup puas minum-minum dan mengobrol menghabiskan waktu cukup asik bersama sahabatnya tadi.


Lega, akhirnya-- setelah menunggu beberapa lama, dia bisa kembali ke kamarnya lagi.


Mereka kembali pulang setelah keinginan bertemu Lucas terpuaskan. Walaupun masih bingung mendera karena tak satupun alasan kuat yang Lucas lontarkan sebagai alasan pemukulan Vano malam itu.


Kecewa,


Hanya itu yang Lucas rasakan. Setelah mendapati Meera telah terlelap tidur di atas ranjang. Ini-- bukanlah salah Meera. Waktu memang sudah menunjukkan hampir tengah malam, sedang dia baru kembali ke kamarnya.


Bergegas membersihkan diri walau hanya sesaat saja, Lucas segera naik ke ranjang dan membawa Meera tidur dalam dekapan hangatnya.


Sempat mengarahkan wajah Meera untuk bersandar di dada hangatnya, Lucas tak lupa menarik lembut lengan istrinya itu untuk melingkar di perutnya.


Walaupun gerakan Lucas begitu halus, Meera sempat terbangun walau hanya sesaat.


" Kau sudah selesai ? " Tanya Meera lirih. Tangannya bergerak mengeratkan pelukannya pada tubuh suaminya. Semakin menenggelamkan wajahnya di dada Lucas yang terbuka dan kini terasa begitu hangat.


" Hmm. Maafkan aku ... " Balas Lucas tak kalah lirih. Mengecup puncak kepala istrinya yang terguar wangi menusuk Indra penciumannya.


" Tidak apa. Lagipula mereka sahabatmu, pasti mereka ingin menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatanmu besok. " Jawab Meera mencoba mengerti.


Mereka menghabiskan malam itu untuk mengobrol selama beberapa waktu. Sesekali Lucas mengelus rambut dan punggung Meera. Kadang dia tidak menyangka, bahwa kini Meera sudah resmi menjadi istrinya. Dan sudah resmi untuk di apa-apain olehnya.


" Baguslah. Kau memang slalu pengertian selagi dulu. " Menurut Lucas, Meera merupakan perempuan mandiri, pengertian dan tidak banyak menuntut serta tidak manja tentunya. Lucas tahu semenjak Meera bekerja di apartemennya dulu.


" He ... " Meera sedikit terkekeh mendengarnya.


"Karena hanya itu yang bisa aku lakukan untukmu, Lucas. " Jawab Meera tersipu.


" Oh, iya !! "


Meera mendadak mengingat sesuatu. Menengadahkan wajahnya pada Lucas dengan sedikit ragu.


" Apa ? Hmm ? " Lucas masih mengelus lembut rambut wangi Meera yang terurai lembut di punggungnya. Membalas tatapan Meera dengan penuh tanda tanya.


" Apakah-- kita-- akan melanjutkan tadi ? " Tanya Meera dengan malu-malu, matanya terlihat sendu. Suaranya lebih lirih dari tadi.


Kesadarannya yang tadi hanya baru separuh, perlahan kembali dan akhirnya, ingatannya mengingat kembali kejadian tadi.


Meera ingat, sebenarnya dia sedikit kesal tadi. Untunglah dia tidak jadi mandi, ketika Lucas tiba-tiba datang menyusulnya ke kamar mandi, hanya ucapan permintaan maaf yang terlontar, karena harus menunda malam pertama mereka.


" Melanjutkan apa ? " Goda Lucas tertawa.


" Melanjutkan tadi -- " Jawab Meera semakin lirih.


" Apa ?!! " Kekeh Lucas.


" Ish ... !! "


Bibir Meera mengerucut. Sempat melayangkan sebuah pukulan ringan di dada suaminya. Pipinya memerah menahan malu.


" Apa ? Hmm ? Melanjutkan apa ? " Lanjut Lucas lagi. Sengaja semakin menggoda istri lucunya itu.


" Ish ... Lucas ... "


Meera malu, pipinya benar-benar merah, dan matanya kini sudah terbuka segar, kesannya kok dia yang ingin, ya ? Merenggut lucu sembari menggerak-gerakkan kakinya. Lalu bersembunyi di balik selimut tebalnya.


Lucas terkekeh. Menarik kembali selimut yang menutup wajah Meera, lalu mengecup lembut bibir manisnya.


" Besok, kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Apa tidak masalah jika kita melakukannya sekarang ? "


" Aku hanya khawatir kau akan kelelahan. " Jawab Lucas akhirnya terdengar begitu serius dan perhatian bersamaan.


Jadi, ditolak nih ...


Meera menghela nafas, bingung harus menjawab apa. Jika menjawab tidak apa-apa kelihatan sekali dia sedang menginginkannya. Kalau menjawab apa-apa, khawatir Lucas akan mencemaskan dirinya. Seperti buah simalakama saja.


Akhirnya, setelah berfikir cukup lama, demi gengsi dan harga dirinya, Meera memilih diam dan berpura-pura tidur saja. Membiarkan Lucas menunggu jawaban darinya. Hingga akhirnya kantuk menyerang, mereka pun terlelap tidur hingga pagi tiba.


.


.


Pagi ini, adalah pagi pertama mereka semenjak resmi hidup bersama. Tidak ada yang bangun kesiangan karena kelelahan menghabiskan malam. Tidak ada pakaian yang berserakan di mana-mana, apalagi seseorang yang jalannya mengangkang menahan kesakitan akibat diterjang semalaman.


Yang ada, mereka kini tengah sibuk bersiap-siap untuk menuju bandara demi mengejar jadwal penerbangan pagi. Lucas yang lebih dulu mandi dan akhirnya berpakaian, menunggu Meera yang masih sibuk mempersiapkan diri.


Selagi menunggu, Lucas mengecek beberapa email yang masuk ke ponselnya terkait pekerjaannya, sepertinya urusan yang cukup penting.


Signal yang kurang bagus di pesisian kota, mempersulit Lucas mengecek beberapa pesan yang masuk ke dalam ponselnya. Di setiap penjuru kamar, Lucas mencari posisi yang tepat dimana signal terlihat kuat.


Jadilah dia di sini, di ruangan ganti di kamarnya. Lucas tampak berdiri di pojokan mengecek beberapa pesan penting yang masuk dengan begitu serius.


Sementara itu, Meera baru saja keluar dari kamar mandi, setelah selesai dengan urusan membersihkan dirinya. Lalu bergegas berjalan menuju ruang ganti dimana pakaiannya telah disiapkan.


Meera sempat menengok ke beberapa sudut ruangan, mencari keberadaan suaminya yang ternyata tak ditemukannya. Mungkin, sedang keluar untuk sesuatu hal, fikirnya.


Di ruang ganti yang cukup besar itu, dimana ada beberapa rak kosong tempat menyimpan baju dan sebagainya, Meera segera membuka handuk yang membalut tubuhnya. Mengeringkan tubuhnya dengan segera, tanpa menyadari keberadaan Lucas di sana.


Lucas terkesiap, menegak ludahnya dalam-dalam, kala menyadari Meera masuk ke ruangan dimana ia tengah berdiri. Dan kini istrinya itu tampak tak berbusana-- samasekali, polos tanpa sehelai benang pun. Setelah sesaat lalu, Lucas melihat Meera menurunkan handuknya secara perlahan dari tubuhnya. Dengan effeck slow motion.


Darah Lucas berdesir panas dan hebat seketika. Apalagi ketika Meera sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya, entah untuk apa. Membuat tubuhnya yang polos itu semakin terlihat seksi, seakan meliuk indah, melambai menggoda dirinya yang kini mendadak dahaga dan dipenuhi hasrat yang membara.


Aroma segar terguar wangi dari tubuh Meera. Benar-benar memabukkan Lucas yang kini membutuhkan sebuah sentuhan, untuk menuntaskan sesuatu-- yang seharusnya dimulai dari sekarang. Namun, dia bertahan sekuat tenaga, kala melihat jarum jam pada arlojinya.


Lupakan jadwal penerbangan pagi ke Paris. Lucas tinggal menyuruh asistennya untuk memesan lagi jadwal penerbangan berikutnya. Inginnya !!


Namun apa daya, urusan pekerjaan yang teramat penting, menuntutnya untuk segera berangkat saat ini juga.


Kring .. kring ..


Tiba-tiba ponsel Lucas berbunyi.


Kring .. kring ..


Lucas terkesiap kaget dan panik. Begitu pun Meera, mencari sumber suara.


Meera yang belum juga berpakaian segera membalikkan badannya ke arah sumber suara terdengar menggema.


Matanya membelalak, seketika tangannya terulur mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya.


" Lucas ... kau sedang apa ? " Tanya Meera dengan suara terbata.


Sedang Lucas hanya bisa terdiam. Bingung harus menjelaskan apa. Aku bukan mengintip Meera ...


.


.


💫 Bersambung ... 💫