Love

Love
Chapter 62 - Kebahagiaan



" Jadi-- kau menyiapkan semua kejutan itu sendiri, Sayang ? "


Tak henti Meera membahas kejutan yang diberikan Lucas pagi tadi, bahkan saat sekarang, disaat dirinya tengah sibuk memasangkan dasi sang suami yang tengah bersiap untuk pergi bekerja.


Lucas hanya tersenyum kecut. Sedari tadi membahas tema serupa dengan sesekali mendapatkan interogasi dari istrinya, merasa sedikit bosan juga.


Senang sih boleh saja. Tapi kan gak gini juga, ya kan ya ?


Lucas yang secara perlahan mulai menerima, lebih tepatnya mulai mencoba menerima keberadaan anak yang dikandung Meera, sedikit terganggu dengan sikap berlebihan istrinya itu. Tapi, tak apalah, memilih mengalah saja, asalkan Meera bahagia.


" Tidak ! Vincent juga ikut membantuku, Sayang. "


Vincent adalah asisten pribadi kepercayaan Lucas. Dia sudah bekerja di perusahaan ayah Lucas hampir sepuluh tahun lamanya. Dengan mendapat rekomendasi dari kakaknya, Arselli, akhirnya kini Vincent menjadi asisten pribadi kepercayaan Lucas semenjak dari delapan bulan yang lalu.


Lucas lalu menarik tengkuk leher Meera secara tiba-tiba, lalu melayangkan sebuah ciuman pada bibir istrinya yang tengah sibuk memasang dasi di lehernya itu. Merasa gemas, karena sedari tadi istrinya itu tak berhenti berceloteh di hadapannya. Berharap dengan ciuman itu, Meera akan terdiam walau sejenak saja.


" Sayang ... ! "


Protes Meera, seraya mendorong pelan dada suaminya.


" Aku belum selesai masang dasinya ... "


Meera terlihat memberenggut kesal saat itu. Walau begitu, semburat merah tidak bisa disembunyikan dari wajahnya. Dan Lucas tersenyum puas kala melihatnya.


Meera lalu melanjutkan kembali memasang dasi Lucas dengan begitu telatennya.


" Kasihan ini bibir ... " Colek Lucas pada ujung bibir Meera.


" Kecapean, dari tadi celoteh terus. Sesekali harus dimanjain ! "


Alasan Lucas modus sekali, menggoda Meera slalu membuat hari-harinya segar, semangat dan penuh warna.


" Eummh ... modusss !! "


Meera mendengus, mencebikkan bibirnya dengan mimik lucu. Lalu menepuk-nepuk pelan dada Lucas. Tanda proses memasang dasi telah usai.


Lucas lalu menghadap ke arah cermin. Menegakkan tubuh kekar dan gagahnya, memperhatikan penampilannya dengan begitu seksama.


" Sempurna ! " Gumam Lucas memuji. Entah pada pelayanan istrinya yang telah membantunya tadi, atau pada dirinya sendiri.


Memutar bola matanya kemudian, Lucas kembali kesal. Karena pada kenyataannya, tak selang beberapa lama, Meera kembali berceloteh riang, kembali membahas hal yang masih sama dan serupa dengan hal yang tadi mereka bahas sebelumnya.


Hingga satu kalimat final yang cukup menarik perhatian Lucas terlontar. Meluncur mulus begitu saja dari bibir mungil dan manis istrinya itu.


" Apakah aku harus memberimu hadiah, Sayang ? Sebagai tanda-- " Tawar Meera asal bicara yang langsung disambut seringaian di bibir Lucas.


" Kau yakin menawarkannya, Sayang ? "


Tanpa menunggu lama, bahkan sekedar menunggu istrinya menyelesaikan kalimatnya. Lucas melangkah maju, perlahan, namun dengan derap langkah yang terlihat begitu mantap dan penuh kepastian.


Meera yang sedari awal telah menyadari kecerobohannya sendiri, langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Berjalan mundur perlahan, seiring dengan langkah suami yang semakin dekat ke tempat dirinya berada.


" Sayang ... kau harus segera bekerja. " Ucap Meera lirih sembari terus melangkah mundur.


" Ha ... ! "


Lucas langsung tertawa mendengarnya, terbahak-bahak malah.


" Bukannya kau akan memberikanku hadiah. " Lanjut Lucas membuat nyali Meera semakin menciut.


" Iya ! Tapi-- bukan hadiah seperti ini juga .. "


" Ish ! " Lucas mencolek hidung Meera, membuat pipi Meera merona merah. Setelah sesaat lalu menurunkan tangan Meera yang menghalangi wajahnya sendiri.


" Kau fikir aku akan melakukan apa, hmm ? "


Lucas mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, hingga membuat Meera memejamkan matanya dengan posisi memberenggut. Yang justru malah membuat Lucas semakin menjadi, ingin menggoda Meera lagi dan lagi.


Lucas tersenyum puas, lalu menunduk. Membenamkan wajahnya pada perut istrinya. Lalu melayangkan sebuah kecupan di sana. Membuat Meera melayang-layang di tempatnya.


Untuk sejenak, tubuh Meera menegang seperti mati rasa. Kecupan itu, laksana sengatan listrik ribuan voltase yang membuatnya kaget, namun membuatnya merasakan kebahagiaan yang tak terkira secara bersamaan pula.


Dan sungguh, kebahagiaan itu, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata untuk menjabarkannya.


Meera terharu, teramat bahagia. Dalam hati dia berjanji akan mencintai Lucas seumur hidupnya. Menyayangi Lucas sepenuh hati segenap jiwanya, menjaga ikatan pernikahan mereka hingga maut memisahkan mereka.


Setidaknya, hingga Lucas merasa bosan padanya. Meera tidak akan pernah meninggalkan Lucas hingga Lucas sendiri yang memintanya untuk pergi dari sisinya.


Meera lalu segera berlari kecil ke suatu tempat. Sebelumnya, dia menarik Lucas untuk duduk di atas sofa.


Lucas mengerjap kaget, " Ada apa ? " Sembari mengedarkan pandangan mengikuti langkah Meera yang kini tengah berlari kecil menuju ke arah dimana dirinya duduk. Setelah beberapa saat lalu Meera mengambil sesuatu dan kini benda itu sudah berada dalam genggaman tangannya.


" Sayang ! " Lucas tersontak kaget. Menahan bahu Meera yang kini tengah duduk berjongkok di hadapannya. Meera bermaksud membantu Lucas memasangkan kaos kaki dan sepatu di kaki suaminya itu.


" Jangan seperti ini ! " Protes Lucas lembut. Meraih tangan Meera untuk berhenti melakukannya.


Meera menengadahkan wajahnya menatap suaminya. Lalu melayangkan sebuah senyuman manis nan merekah. Menarik tangannya kembali dengan gerakan lembut.


" Tidak apa-apa sayang. Kau sudah melakukan banyak hal untukku. " Meera lalu menunduk dan melanjutkan memasangkan kaos kaki itu pada kaki suaminya. Dengan begitu lembut dan hangat.


Lucas sempat terbuai karenanya walau sesaat. Namun berusaha dia tepis dengan segera, karena pada kenyataannya melihat Meera duduk berjongkok di hadapannya sedikit membuatnya merasa tidak enak dan khawatir bersamaan.


Walaupun sebenarnya, dalam hatinya hangat terasa, Lucas merasa bahagia Meera memperlakukannya bak seorang raja. Mencintai dan menghargainya sebagai kepala keluarga. Walaupun sebenarnya bukan itu makna sebenarnya.


Menikah bukan menjadi terendah dan tertinggi, melainkan untuk saling menjaga dan menghargai, menjaga cinta dan kepercayaan diantara dua insan.


" Dibanding dengan semua yang sudah kau lakukan untukku, ini tidaklah seberapa. " Lanjut Meera lagi, sesekali melayangkan pandangannya pada suaminya yang kini tengah diam terpaku menatapnya begitu dalam.


" Tapi ... " Lucas mencoba mencegah Meera, namun lagi-lagi Meera menolaknya, membuatnya diam terpaku seribu bahasa.


" Anggaplah ini sebagai tanda cinta kasihku, hmm ... " Meera menunduk, sesekali menengadah lagi. Lalu tersenyum hangat kepada sang suami, tatkala tatapan mata mereka bertemu menyiratkan cinta dan ketulusan di sana.


Lucas menghela nafasnya cukup dalam.


" Sudahlah ! "


Akhirnya Lucas menarik tangan Meera dengan sedikit memaksa. Hingga akhirnya Meera berhenti dan bangun dari posisinya, lalu duduk tepat di pangkuan suaminya.


" Itu sudah cukup ! " Lanjutnya lagi.


" Kau bisa mencintaiku dengan cara lain. " Lucas tersenyum nakal lalu mengecup tangan istrinya.


Meera tersipu malu mendengarnya. Melingkarkan lengannya pada leher Lucas, lalu memeluknya dengan begitu erat.


" Terimakasih, Sayang .. " Ucap Meera manja sembari mengayun-ayunkan kakinya. Menepuk-nepuk punggung Lucas dengan tangannya.


.


.


💫 Bersambung ... 💫