
Semenjak mengetahui kehamilan istrinya, Lucas begitu protective terhadap istrinya itu. Seperti kali ini.
" Ingat-ingat perkataanku. Jangan melakukan apapun ! Kau bisa menyuruh pelayan jika menginginkan sesuatu. " Ingatkan Lucas saat itu, ketika melihat Meera bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
" Tapi-- " Elak Meera saat itu. Menghentikan langkahnya seketika.
" Dan, jangan pernah membantah ucapanku ! " Menarik lengan Meera, untuk didekapnya kemudian.
" Kau cukup melayaniku saja, Sayang. " Lanjutnya lagi membuat Meera memutar bola matanya.
Meera lalu bergerak untuk memasang dasi suaminya itu. " Sayang, apa kau tidak merasa itu terlalu berlebihan ? "
" Tentu saja tidak. Kau adalah nyonya di rumah ini, dan kau kini tengah mengandung calon anakku. Kau harus menjaga kondisi badanmu ini. " Jelasnya menatap istrinya yang kini tengah mencebik kesal. Bagaimana tidak, semenjak Lucas mengetahui kehamilannya satu minggu lalu, dia dilarang untuk melakukan apapun yang bisa membuat Meera kelelahan. Dan menurut Meera itu terlalu berlebihan.
" Kau cukup bekerja di kamar ini saja, dan di ranjang sana ! " Tunjuk Lucas dengan dagunya pada ranjang king size yang tidak jauh berada dari mereka. Membuat pipi Meera bersemu merah saat melirikkan matanya.
" Tapi-- aku bosan, Sayang. " Cebiknya saat itu. Mengeluh. Masih melanjutkan memasang dasi suaminya itu.
" Kita bisa melakukannya di kamar kosong sebelah, kamar tamu, atau ruangan kerjaku. " Saran Lucas, bercanda.
" Ngaco !! " Sembur Meera, sembari memukul pelan dada suaminya. " Bukan itu maksudku, ish !! " Berdecak sebal mendengar ocehan mesum suaminya itu.
" Lalu ? " Lucas terkekeh sembari menyeringai. Tertawa senang menggoda istrinya.
" Maksudku, aku bisa bosan jika tidak melakukan apa-apa, Sayang. Apaan sih ! " Selak Meera saat itu. Menepuk dada Lucas pelan, pertanda memasang dasi telah usai.
****
" Kandungannya baik-baik saja ! " Jelas dokter Amanda pada Lucas, yang merupakan menantu kesayangan satu-satunya itu.
" Kondisinya sehat, seperti pemeriksaan terakhir kali. " Lanjutnya lagi sembari tersenyum hangat. Ikut berbahagia karena sebentar lagi akan memiliki cucu baru.
Lucas tersenyum senang mendengarnya. Sedangkan Meera sedikit jengah melihat kelakuan lebay suaminya itu. Namun, berusaha mengerti. Bagaimanapun ini adalah bayi pertama bagi Lucas.
" Apakah-- kami boleh melakukannya ? " Tanya Lucas tanpa tahu malu. Sepertinya dia lupa dokter di hadapannya itu adalah ibu mertuanya.
Dr. Amanda mengangkat kedua alisnya,
" Eh ? " Sembari tersenyum kecil, melirik ke arah Meera yang kini terlihat salah tingkah.
" Maksudku itu, hubungan suami istri ? " Lucas memperjelas pertanyaannya.
" Emh itu ! Tentu saja, tidak masalah. Hanya saja, jangan terlalu sering dan jangan terlalu aktif. " Jawab dr. Amanda sembari tersenyum canggung. Sesekali melirik ke arah Meera putrinya yang terlihat semakin salah tingkah sekarang.
****
" Apa kau marah ? " Tanya Lucas. Mereka tengah dalam mobil menuju pulang saat itu.
" Tidak ! Aku hanya sedikit malu. " Jawab Meera lirih. Menatap ke arah luar jendela saat itu.
" Kenapa meski malu ? Itu demi kesehatan kandunganmu dan keselamatan bayi kita. " Jawab Lucas merayu.
" Tapi dia mamaku. Ish !! Aku benar-benar malu tadi. " Jawab Meera sembari mendelik ke arah Lucas. Dan Lucas hanya tertawa melihatnya.
" Apa ada yang kau inginkan ? " Tanya Lucas sok perhatian. " Bukankah biasanya ibu hamil slalu mengalami ngidam ? "
Meera menyeringai sekarang. Terlihat jelas dari sudut mata Lucas. OPS !!
" Kau yakin akan menurutinya ? " Tanya Meera dengan senyum jahil di bibirnya.
Lucas terdiam sesaat, merasakan firasat yang tidak enak. " Tentu saja ! " Jawab Lucas terbata.
Lalu kembali fokus menyetir mobilnya.
Deg deg deg
" Aku-- ingin ... "
•
•
Kira-kira apa ya keinginan Meera ? Tunggu besok ya, masih belum beres ngetiknya ...
Mohon maaf, cuman sedikit 🙏🙏