
Bagaimana bisa Ambressio adalah ayahnya? Sedangkan dari penyelidikan dia menjelaskan bahwa Ayana putrinya Stuart Weitzman dan Cindy Cassiedy. Cassiedy ? Bukankah itu nama keluarga Ambressio ? Pikirnya. Apakah Ambressio ada kaitannya dengan Cindy ibunya Ayana ? Bagaimana menjadi serumit ini ? Batinnya bermonolog pada dirinya sendiri.
"Tuan Anda ada janji makan siang dengan CEO RCC Company hari ini, bagaimana dengan janji temunya? Bukannya beliau adalah kakak dari Tuan Ambressio Cassiedy?" Tanya sang sekretaris.
Barry Carlton memijit pelipisnya. Nyeri akibat pukulan dari Ambressio tidaklah seberapa sakitnya, namun jika dia harus berhadapan dua perusahaan raksasa itu sama saja bunuh diri secara perlahan-lahan. Sayangnya jika terbukti benar adanya Ayana memiliki hubungan dengan dua perusahaan raksasa itu, seperti dugaannya maka tamatlah sudah riwayat hidupnya.
Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan pengampunan dari mereka ? Runtuknya dengan penuh penyesalan. Siang itu Barry Carlton mendatangi Reynald di hotel tempat Reynald menginap. Dia berfikir tidak ada salahnya meminta maaf dan memohon pengampunan atas semua kesalahannya itu.
Seperti saat ini mereka duduk berhadapan di suite room yang disewa Reynald. "Saya memohon maaf kepada Tuan. Atas semua yang telah saya lakukan. Saya panik, melihatnya karena kecerobohan dan nafsuku aku telah menyakiti Ayana. Saya hanya ingin menyelamatkan nyawanya, dan mengobati spikisnya karena tindakan brutal saya.
Saya akan menjadikan Ayana istri saya di masa depannya. Saya akan menunggu hingga dia sembuh dan kembali normal." Barry Carlton memulai perbincangan mereka. "Kamu pikir kami akan menerima lamaran pernikahan mu?" Tanya Reynald dengan nada sinisnya. "Saya tidak bermaksud untuk melepas tanggung jawab."
"Waktu itu saya hanya fokus pada kesehatan dia. Saya baru menyelidikinya beberapa hari terakhir ini Tuan. Setelah saya bertemu dengan Tuan Stuart Weitzman. Sebelumnya saya memfokuskan perhatian khusus pada kesehatan Ayana." Jelasnya.
"Aku hanya bisa melihat usaha mu dan apa saja yang bisa kamu lakukan untuk mendapatkan nya karena semua keputusan ini ada pada ibunya dan Ayana." Jawabnya dingin. "Saya akan berusaha mohon bantuannya dan berikan lah kesempatan untuk saya Tuan." Barry Cartlon menatap ke arah Reynald dengan penuh penyesalan.
"Tidak ada yang dapat kulakukan. Kami hanya berjaga di sisinya. Apapun keputusannya ada pada dirinya. Ayana." Tegasnya. Pembicaraan singkat tentang permintaannya memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya tidak membuahkan hasil, namun setidaknya Reynald bukan lelaki temperamen. Dia bersyukur karena ada petunjuk bagaimana cara mengatasi kesalahannya itu.
Setelah memberikan instruksi selanjutnya kepada bawahannya. Barry Cartlon pergi menuju kediamannya Stuart Weitzman. Untuk menemui nya, dan juga bertemu dengan Ayana. Gadis itu memang masih dibawah umur, namun dia sudah terpikat kecantikan dan wajah sedihnya selalu terbayang di matanya.
Saat gadis itu menatap kosong lurus ke depan tanpa mau melakukan sesuatu, seperti mayat hidup. Hatinya terasa sakit bahkan dia tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Membuatnya menjadi lebih baik lagi. Ataupun membuatnya berhenti menangis. Dia bersalah sudah gelap mata tanpa memikirkan akibatnya.
Stuart Weitzman memicingkan matanya melihat kedatangan Barry Cartlon. Lelaki itu langsung menyerang Barry Carlton dengan pukulan-pukulannya. Pemuda itu hanya terdiam dan berusaha untuk berdiri. Cindy berteriak karena terkejut sang suami memukuli orang asing di kediaman mereka.
"Sayang berhenti. Stop ! " Teriaknya. " Daddy !" Revano pun ikut berteriak memanggil meringsek maju memeluknya. "Lepaskan ! Dialah yang membuat adik mu sakit !" Teriaknya lantang dengan nafasnya memburu karena emosinya yang meledak-ledak.
Ayana memandangi wajah Barry Cartlon dari balkon lantai dua di kamarnya. Kejadian di halaman depan rumah itu begitu dramatis. Semua orang berkumpul di sana, para petugas keamanan yang berjaga-jaga. Mereka mengira bahwa dia tamunya sang majikan. Ternyata dialah yang menyebabkan tragedi hilangnya Nona mereka.
"Kamu dapat membunuh sayang. Jangan lakukan itu !" Kata Cindy seraya memeluk lengan sang suami. "Daddy.. Ayana ", Bisik Revano sambil melirik ke arah atas balkon. Stuart Weitzman mengangkat wajahnya ke atas balkon melihat ekspresi wajah putrinya yang menatapnya tanpa ekspresi. Dengan tatapan mata kosong.
Barry Cartlon juga melakukan yang sama, lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat Ayana, dapat melihatnya sudah merupakan obat baginya. Tak lama Barry Carlton pun terjatuh dari tempatnya berdiri. Dia pingsan.
"Cepat bawa dia masuk ke ruang tamu ! Segera hubungi dokter !" Cindy berteriak kepada para petugas keamanan dan pelayan. Ia sendiri naik ke atas menemani Ayana.
"Ayana. Maafkan momy. Momy tidak mengetahui jika dia berniat untuk kemari ", Kata Cindy, lagi-lagi Ayana hanya menatapnya tanpa ekspresi. Hanya beberapa kali kedipan mata nya yang bergerak. Selebihnya dia hanya diam seperti patung. "Biar para Daddy kalian yang mengurusi hukuman bagi dia. Karena sudah membuat mu seperti ini sayang." Katanya lagi.
Ayana terdiam tanpa respon terhadap semua yang telah dikatakan oleh Cindy. Wanita cantik itu hanya menatap wajah cantik putrinya itu dengan penuh kasih dan kesedihan. Lagi-lagi putrinya tidak merespon apapun.
Sementara itu di lantai dasar Dokter pribadi keluarga Stuart Weitzman juga disibukkan pasien dadakan. Dokter keluarga sudah datang dan langsung memeriksa keadaan. Dan berusaha memberikan pertolongan kepada Barry Cartlon. Tak lama kemudian Barry Carlton siuman menatapnya ke arah Stuart Weitzman.
"Saya mohon maaf atas segala kesalahanku Tuan." Bisiknya serak. Dokter itu hanya menatap Stuart Weitzman bingung.
"Dia harus melakukan pemeriksaan terhadap kepalanya dan menyeluruh, untuk mengetahui apakah ada pembekuan akibat dari pemukulan itu." Kata dokter kepada Stuart.
" Bawa dia ke rumah sakit ! Periksa di secara menyeluruh! Setelah itu bawa laporannya kepada ku secepatnya !" Perintah Stuart kepada pengawal pribadinya. Stuart Weitzman pun melangkah keluar dari kamar tersebut.
Dokter itu hanya menghela nafasnya menatap ke Barry Carlton dengan prihatin. Dia sudah menduga jika ada sesuatu yang tidak beres di keluarga ini. Lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Stuart Weitzman. Sepeninggal dokter Revano menyelinap masuk dan meminta pengawal pribadinya berjaga di depan pintu kamar.
"Apa penyebabnya sehingga kamu berbuat jahat kepada adikku ?" Tanyanya dingin menatap tajam ke arah Barry Cartlon.
"Ada yang meracuni minuman aku saat di pesta itu. Itulah sebabnya aku kehilangan kewarasan ku. Maafkan aku . Aku akan menikahinya jika umurnya sudah mencukupi menurut hukum. Aku juga dapat dipenjara dan di hukum mati. Bahkan akan ada hujatan terhadap dirinya."
"Orang tua mu sangat bijaksana tidak menuntut aku atasnya. Namun bukan berarti aku lepas tangan. Aku mengerti kemarahannya. Lukaku tidaklah sebanding dengan apa yang diderita oleh Ayana. Aku hanya bisa memohon ampun dan maaf kepada kalian semua." Ujar Barry Carlton yang menatap lekat dengan wajah sendu ke arah Revano.