
Ini adalah tujuh bulan setelah Meera melahirkan ...
•
•
Tujuh bulan kemudian ...
Sejauh mata memandang, seorang perempuan muda nan cantik dengan penampilan fashionable mengikuti trend masa kini, tengah sibuk dengan bayi mungil yang sedari tadi berada dalam pangkuannya.
Bayi berjenis kelamin perempuan yang baru bisa duduk dan merangkak itu terlihat begitu cantik, lucu dan menggemaskan.
Sang mama muda terlihat begitu aktif membawa sang bayi wara wiri ke sana ke mari untuk mencoba setiap permainan yang ada di taman bermain yang dia datangi itu.
Sedang sang bayi terlihat bergerak lincah, lucu dan tertawa gemas merasakan kebahagiaan yang tak terkira, kala sang mama mengajaknya untuk menjejali hampir setiap permainan anak yang ada di sana. Tentunya yang sesuai dengan umur sang bayi.
Taman bermain itu terletak tepat di samping sebuah rumah sakit ibu dan anak. Meera memboyong putrinya ke sana untuk mengunjungi sang ibu, yang bulan ini mulai kembali aktif bekerja di rumah sakit setelah hampir satu minggu lalu. Setelah beberapa bulan lalu cuti bekerja untuk bersembunyi bersama dirinya.
Sesuai kesepakatan bersama, mereka memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi dan menjalani kehidupan normal seperti biasanya. Jika takdir memang sudah berkehendak bagi mereka untuk bertemu dengan Ny. Alice dan Lucas, mereka bisa apa ? Hanya bisa pasrah saja. Mengikuti alur kehidupan membawa kemanapun mereka pergi.
Mereka sadar, tidak selamanya mereka bisa menghindar. Kenyataan walaupun pahit harus dihadapi. Begitu pun dengan Meera, dia sadar hubungannya dengan Lucas sang suami harus diperjelas. Walau begitu, dia masih belum berani untuk langsung menampakan diri. Seiring dengan waktu, secara tidak sengaja ataupun sengaja, mereka pasti akan bertemu. Dan jika memang Lucas masih mencari Meera saat ini, Meera menduga mereka pasti akan bertemu dalam waktu yang tidak akan lama lagi. Mengingat uang dan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarga sang suami.
" Sayang ... main ini ya ... " Tunjuk Meera pada salah satu permainan yang cukup menarik di sana. Dengan suara lembut nan mendayu-dayu, terdengar manja dan dibuat-buat dengan sengaja. Meera sengaja menggoda putrinya itu dengan gaya bicara anak-anak yang memang sering terdengar seperti itu.
Bayi yang begitu mirip dengan mamanya itu tampak tersenyum ceria. Mulut mungilnya sesekali mengeluarkan suara gelak tawa yang begitu lucu dan menggemaskan. Kadang terlihat mencebik, sesekali menangis kecil, bahkan memberontak kala keinginannya tidak terpenuhi.
" Wah ... anaknya lucu sekali. " Puji seorang wanita yang juga sedang memanjakan anaknya di sana. Sembari menjewel pelan pipi bayi Meera yang chubby.
Meera tertawa riang mendengar pujian itu. Menyadari putrinya begitu mirip dengannya, entah mengapa setiap ada orang yang memuji putrinya, Meera slalu merasa bahwa pujian itu juga dilayangkan untuk dirinya.
Oh ternyata, jiwa narsis meronta-ronta. Eit, eit, siapa itu yang pipinya merona ?
" Berapa usianya, Bun. Cantik banget kayak mamaknya ... " Puji seorang ibu lagi yang kebetulan berdiri di dekat Meera. Tuh kan, hidung Meera hampir terbang sekarang. Setelah mendengar pujian yang berulang. Ibu itu tampak menggerak-gerakkan jari mungil sang bayi.
" Enam bulan, Bu. " Jawab Meera menjawab dengan sikap ramah. Tersenyum kecil mendengar pujian tadi. Tersipu-sipu malu.
Kurang apa coba ibu itu, udah muji-muji segala, masa gak dikasih ramah, ya kan ya ?
" Gemuk banget ya anaknya, udah bisa apa aja sekarang ? " Tanya ibu itu lagi.
" Udah bisa duduk Bu sekarang. " Jawab Meera lagi dengan sopan. Kembali melayangkan senyuman tipis kepada wanita itu, menutupi kecanggungan diri saat mengobrol dengan orang asing. Mengingat dirinya yang memang jarang basa basi, namun tak ingin dicap sombong juga. Hanya senyuman yang dia andalkan saat itu.
" Emh ... hebat ya, semoga tetap sehat ya ... " Lanjut ibu itu seraya mengelus pipi sang bayi. Melenggang pergi meninggalkan Meera seorang diri.
" Terimakasih ... " Ucap Meera tulus, mengaminkan doa ibu tadi di dalam hati.
Tanpa disadari oleh Meera, sedari tadi seorang lelaki tengah memperhatikannya dengan seulas senyuman tipis tersungging di bibirnya. Lelaki itu berdiri cukup jauh di belakang Meera.
Tak sedikitpun dia bergeming, ataupun melangkah beranjak pergi, memutuskan untuk meninggalkan atau menghampiri. Sepertinya dia tengah mengalami perang bathin saat itu.
Sejurus kemudian dengan memberanikan diri, dia berjalan mendekati Meera dan berdiri tepat di belakang Meera untuk beberapa lama. Menghirup aroma tubuh yang sedari dulu dikenalinya, akhirnya dia memutuskan untuk tidak menyapanya. Padahal saat itu, tangannya sudah terulur hampir menyentuh bahu Meera. Namun urung, lelaki itu menariknya kembali.
Kita tunggu dulu untuk beberapa saat, aku cukup senang melihatmu, kau terlihat begitu bahagia dan menawan ...
Memberanikan diri setelah beberapa lama kemudian, lelaki itu menggerakkan tangannya kembali untuk menyentuh bahu Meera. Namun sayang, terlambat, Meera terlanjur pergi menjauh darinya.
•
•
Namun, Meera cukup ngeyel. Bosan dan jenuh menjadi alasan utama. Dia bukan type orang yang suka berjalan-jalan sendiri, dengan alasan tidak jelas, di pusat perbelanjaan dan pusat keramaian lainnya. Dengan pergi ke rumah sakit berniat untuk mengunjungi sang ibu, dia memiliki alasan yang kuat untuk bepergian.
Brukkk
Tiba-tiba ada seseorang yang menabraknya. Untunglah, dari arah samping bukan dari arah depannya. Kalau tidak, sang bayi pasti akan merasa kesakitan.
" Maaf !! " Suara lelaki mengejutkan Meera yang tengah menundukkan kepalanya sembari mengaduh sakit memegang bahunya.
Suara itu ?
Meera mendongakkan kepalanya, menatap orang itu, lelaki itu.
" Vano ! " Meera membelalakkan matanya.
" Meera ! " Vano tampak tersenyum bahagia. Mendapati Meera berdiri di hadapannya, dengan-- seorang bayi.
Vano menatap takjub bayi itu. Bola matanya tampak berbinar dan berkaca-kaca. Dia masih berdiri kaku, terlihat bingung dan kaget bercampur menjadi satu, mereka terdiam mematung untuk sekedar bertanya ini itu, atapun menyapa bayi itu-- yang dia sadari sepenuhnya, adalah darah dagingnya.
Meera menelan ludahnya, moment ini sungguh diluar dugaannya.
" Meera ... " Vano menatap Meera dengan begitu dalam dan hangat. Terpancar sejuta cinta dari sana.
" Dia-- anakku, Meera ? " Tanya Vano dengan bola mata yang masih berbinar.
Ada rasa haru dan bahagia bersatu menjadi satu, tak bisa diungkapkan dengan kata, rasa itu apa. Kejutan hari ini menyentuh hati dan jiwanya. Vano tidak pernah menyangka akhirnya akan bertemu dengan mereka berdua.
Meera diam mematung. Wajahnya pucat bibirnya kelu. Vano memang ayah dari putrinya itu, tapi Meera merasa canggung untuk mengakuinya. Mengingat tak ada status apapun diantara mereka. Mereka yang bercerai dan putus cinta pun akan memiliki status diantara mereka, mantan suami ataupun mantan kekasih.
Lalu mereka, statusnya apa ? Mantan-- teman tidur satu ranjang dalam kisah cinta satu malam ? Benar-benar m**emalukan !! Mendadak kepala Meera berdenyut sakit ketika mengingat dan memikirkannya.
" Meera ! " Vano memanggil Meera sekali lagi. Mencoba menyadarkan Meera dari lamunannya. Menyentuh bahu Meera dengan lembut kala Meera tak jua menyahutnya.
Meera akhirnya tersadar. " Apa ?! " Terkejut.
" Dia-- anakku ? " Tunjuk Vano pada bayi yang digendong Meera. Jarinya sudah bergerak mengelus pipi chubby bayi itu.
Meera lalu menarik nafasnya perlahan. Menenangkan diri, berusaha menyadarkan dirinya sendiri, untuk menerima kenyataan. Bahwa semua ini, suatu saat pasti akan terjadi. Baik cepat ataupun lambat.
Menatap Vano yakin, Meera mengangguk pelan. " Ya ! " Jawabnya kemudian.
Vano tersenyum mendengarnya. Air mata menetes seketika dari sudut matanya. Tanpa sadar dia bergerak untuk merengkuh Meera, namun dengan gerakan cepat, Meera mundur beberapa langkah dari posisinya semula.
" Berhenti Vano ! " Ucap Meera lirih, seraya menahan Vano dengan gerakan tangannya.
Seketika Vano tersadar. Mereka, memang tidak memiliki hubungan apa-apa. Walaupun sangat jelas, ada seorang anak diantara mereka.
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan coment yang banyak ... karena dengan coment itu menjadi penyemangat untuk terus menulis dan terus up . Mohon maaf jika tidak pernah di balas, karena memang waktu yang begitu terbatas. Selain menulis masih harus membagi waktu dengan keluarga dan pekerjaan yang lainnya. Untuk sesama author akan diusahakan untuk slalu mampir balik sekedar like dan coment, walaupun kadang terlambat , mohon maaf. Terimakasih untuk semuanya yang sudah menyempatkan membaca, terimakasih untuk semua dukungannya . Semoga kita semua sehat, dan semoga saya tetap sehat untuk tetap up melanjutkan kisah ini hingga akhir.😘😘
Notes : Bisa gak sih kalo misalnya saya up dua episode sekaligus, like(👍) dan komentnya merata, walaupun cuma coment next aza. Beneran Lo, like (👍) itu sangat berpengaruh untuk meningkatkan semangat kita... 🤭🤭🤭
Tapi beneran deh, ngeliat jumlah jempol dan koment yang banyak, benar-benar akan mempengaruhi semangat menulis. Semoga ke depannya saya tetap semangat up ya ... 😘😘