Love

Love
Chapter 60 - Menua Bersama



Mereka berjalan menuju apartemen mereka dengan langkah gontai. Masalah mereka tadi belumlah sepenuhnya usai. Walau begitu, Lucas tetap membawa tangan Meera dalam genggamannya.


Setidaknya, walau hati mereka sedang bertolak karena emosi sesaat, tangan mereka tetap terpaut saling menjaga.


Diam mendominasi langkah mereka saat itu, tak ada celotehan Meera yang slalu bermanja pada Lucas. Begitupun Lucas, tak ada sikap romantis nan mendayu merayu menghiasi perjalanan cinta mereka.


Mereka akhirnya tiba. Di apartemen itu, yang kini terasa asing bagi Meera. Tanpa tuan rumah yang menyambutnya dengan sikap hangat, apalagi bagi dirinya yang saat ini hanya menumpang hidup saja. Walaupun kini status istri disandangnya. Lagi-lagi, rasa minder dan rendah diri mendominasi.


" Mandilah, aku akan menyiapkan makan malam ! " Perintah Lucas pada Meera dengan nada suara yang jelas tak ingin dibantah.


Bahkan karena pertengkaran yang cukup menguras air mata tadi, rencana dinner romantis kejutan di restoran mewah pun terlewatkan, lebih tepatnya terlupakan.


Meera berjalan pelan ke kamar mandi. Dengan kebingungan yang menguasai.


Menangis sejadi-jadinya di kamar mandi tanpa suara, sepertinya menangis di dalam mobil tadi, tak cukup melegakan hatinya yang terasa begitu sesak.


Mendapati dress cantik setelah ritual mandinya usai, Meera menatap sendu dress yang telah tersimpan rapi di atas ranjang. Meera mengerti, Lucas menginginkan dirinya memakai dress pilihannya itu. Dress yang cukup seksi memperlihatkan dada atas dan bahunya.


Lucas terpesona, sempat terkesima sesaat ketika mendapati Meera kini telah berdiri di hadapannya dengan begitu cantik nan memukau. Aroma segar menyeruak dari tubuh Meera seakan menggoda dirinya yang kini tengah merasa galau.


" Ehem ! " Lucas berdehem.


Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk menormalkan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya. Menahan degub jantungnya yang mendadak berantakan tidak karuan.


Lucas yang sedari tadi sibuk menata makanan di atas meja yang sempat dia pesankan dari restoran yang rencana awalnya melakukan dinner romantis tadi, dan akhirnya datang dikirim saat Meera mandi tadi, menghentikan aktifitasnya dengan segera. Untunglah, memang kebetulan sudah usai juga.


" Kau, sudah selesai ? "


Lucas menghampiri Meera, lalu mengelus rambut dan pipi istrinya dengan begitu lembut, seringan bulu. Membuat bulu kuduk Meera bergidik dan meremang bersamaan.


" Ehm. " Meera mengangguk pelan.


Semakin salah tingkah kala mendapati Lucas kini tengah mengecup ujung rambutnya yang terurai.


" Wangi ! "


Puji Lucas seraya melayangkan sebuah senyuman yang cukup menggoda iman.


Meera meneggak ludahnya dalam-dalam.


" Aku-- ... "


Meera menunduk masih belum berani melayangkan pandangannya pada suaminya itu.


Lucas paham. Daripada membicarakan hal yang ujungnya malah memicu pertengkaran, lantas dengan segera dia mengalihkan perhatian.


Meera menatap takjub dengan banyaknya makanan yang tersaji di hadapannya. Semuanya terlihat mahal dan enak. Meera yang tengah hamil tentulah tergoda, air liur serasa hendak menetes saat itu juga.


" Kau, yang memasaknya ? "


Percayalah, Meera hanya berbasa basi saat itu. Makanan sebanyak ini tentu bukan Lucas yang memasaknya. Dalam waktu yang singkat pula.


Lucas tersenyum kecut. " Tadi aku hendak mengajakmu makan di restoran, hanya saja terlupakan karena kejadian-- "


Lucas menghentikan ucapannya kala melihat reaksi Meera yang terlihat tidak enak saat membahasnya.


" Maafkan aku ! "


Meera langsung menunduk saat mengucapkannya. Merasa tidak enak, karena dia yang memicu pertengkaran tadi.


Akhir-akhir ini dia seringkali terbawa emosi, mungkin karena bawaan bayi atau mungkin karena pengaruh dari hormon kehamilannya.


Lucas terdiam sejenak, memikirkan hal tepat yang akan diucapkan olehnya. Tak ingin menyinggung perasaan istrinya, apalagi memicu pertengkaran kedua.


" Pertengkaran dalam pernikahan adalah sesuatu hal yang wajar, kadang menjadi bumbu dalam kisah cinta kita. Tapi-- "


Lucas berdehem, menahan kalimatnya, melihat terlebih dahulu bagaimana reaksi Meera.


" Tapi-- bukan berarti dikit-dikit minta pisah juga kan. " Lanjut Lucas bermaksud menyindir istrinya itu.


Meera mengerjap kaget, pipinya memerah, hanya berdehem pelan untuk menenangkan degub jantungnya.


" Kalau seperti itu, sport jantung namanya ! " Lanjut Lucas lagi. Membuat Meera malu setengah mati ingin menyembunyikan wajahnya yang memerah. Meera tersadar, dia sedikit kekanak kanakan sekali saat tadi.


Tangan Lucas terulur, menyentuh dan menangkup punggung tangan istrinya.


" Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Meera ! Bertahanlah di sampingku, walau apapun yang terjadi nanti. " Ucap Lucas lembut seraya menautkan jemari mereka. Menyalurkan kehangatan dan rasa cinta dari hati yang paling dalam.


Lalu perlahan berjalan menghampiri Meera tanpa melepas genggaman tangan pertautan jari mereka. Berdiri tepat di belakang punggung Meera, Lucas melayangkan sebuah kecupan lembut di puncak kepala istrinya itu, seraya berucap,


" Menualah bersamaku, Meera. "


.


.


💫 Bersambung ... 💫