
Dengan kaku Lucas menjalani sesi sakral hari itu. Sesuai syarat dari Ibunya, Ny. Alice, Lucas akan dipertemukan dengan Meera jika menuruti permintaannya untuk segera menikah dengan Helena.
Lucas yang begitu panik dengan kondisi Meera yang sedang hamil, mau tidak mau menuruti keinginan Ny. Alice. Terpaksa.
Dan bukan Ny. Alice namanya, bila langsung saja percaya hanya dengan mendengar ucapan janji maupun perjanjian tertulis semata. Dia menginginkan buktinya saat itu juga.
Pesta pernikahan itu terjadi dengan begitu mewah. Hanya sebuah 'pesta kecil' yang dihadiri keluarga dan sahabat terdekat mereka. Dengan berat hati, Lucas menjalaninya.
Demi menemukan Meera, apapun itu, akan dia lakukan semuanya. Toh, Helena telah bersedia untuk menjalani pernikahan kontrak itu. Satu tahun, cukup untuk mereka menjalani pernikahan penuh kepura-puraan itu.
Helena, dia samasekali tidak keberatan dengan pernikahan itu. Padahal, dia tahu pasti dengan perasaan Lucas padanya. Pun saat Lucas meminta pernikahan itu hanya akan berlangsung satu tahun saja. Mencurigakankah ?
" Selamat dengan pernikahan kalian, Lucas ! " Ucap Diana sembari melayangkan pelukan pada sahabatnya itu. Diana dan Reynald bahkan sengaja terbang ke Paris hanya untuk menghadiri acara pernikahan sahabatnya itu.
" Hmm. " Jawab Lucas dengan begitu dingin. Pantaskah seorang pengantin bersikap seperti itu saat mendapat ucapan selamat dari sahabatnya ? Tentu saja tidak. Namun Lucas tampak tidak peduli dengan itu semua.
" Bersikaplah baik, Lucas. Orang akan curiga ! " Tegur Helena, menyikutkan sikutnya pada perut Lucas yang kini telah berstatus suaminya.
Lucas masih tidak mengerti dengan apa yang difikirkan perempuan yang tengah berdiri di sampingnya ini. Bersedia menikah, pura-pura dalam setahun saja.
Padahal jika Helena menolak pernikahan itu, akan mudah bagi Lucas menolaknya juga. Namun, bukanlah Ny. Alice yang mudah menyerah dengan keputusannya. Bahkan hal ini sempat Lucas bahas bersama Ny. Alice, dan hasilnya ? Ny. Alice tentu memiliki calon lain selain Helena.
Dia benar-benar berniat untuk memisahkan Lucas dengan Meera. Dan jika akhirnya Lucas dan Meera tetap melanjutkan hubungan mereka setelah pernikahan Lucas itu, terserah !
Yang penting perempuan yang bergelar resmi sebagai menantunya adalah perempuan yang sesuai dengan kriterianya sebagai menantu idaman keluarga. Selevel maksudnya.
Dan Meera yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, hanya akan bertahan dengan status istri simpanan saja.
" Sayang, kenapa aku merasa aneh dengan pernikahan ini ? " Diana mengutarakan keanehan yang dia rasakan pada Reynald suaminya.
" Sudahlah ! Ini urusan pribadi mereka. Kita nikmati saja pesta ini. " Tegur Reynald.
" Hey ! Itu si kembar. " Seru Diana sembari menunjukkan jarinya pada si kembar tiga putra pasangan Arselli dan Alessya yang kini telah menginjak usia hampir satu tahun.
Diana sedikit memberenggut, Zio putranya bahkan tidak dia bawa, mengingat acara pernikahan ini yang begitu tiba-tiba.
Diana dan Reynald lalu menghampiri si kembar tiga, dimana ada Arselli dan Alessya juga di sana. Berpelukan, mereka melepas kerinduan. Sudah lama mereka tidak bersua. Semenjak kehamilan Alessya yang begitu dramatis dulu, mereka hanya sempat bertemu setelah Alessya melahirkan. Dan kali ini, adalah pertemuan kedua mereka setelah itu.
" Ini terlalu tiba-tiba, Alessya. Apakah Lucas menghamili Helena ? " Bisik Diana pada sahabatnya itu. " Aww ! " Diana memekik pelan ketika sebuah cubitan melayang di perutnya. Tentu saja pelakunya Alessya.
Sebelum menjawab pertanyaan Diana tadi, Alessya menyempatkan dirinya untuk sejenak melirik ibu mertuanya, Ny. Alice, yang kini tengah menyapa ketiga cucu kesayangannya.
" Jaga ucapanmu ! Jika ini terdengar orang lain akan menjadi cerita heboh. Lucas termasuk salah satu orang yang slalu diincar paparazzi untuk digosipi. Hal sensitif seperti itu adalah sasaran empuk bagi mereka. " Bisik Alessya mendekatkan bibirnya pada telinga Diana.
" Bahkan mereka terlihat begitu aneh, Alessya. Mana ada pengantin seperti itu. " Diana lalu menunjukkan jarinya pada pasangan pengantin yang kini tengah sibuk dengan urusannya masing-masing.
Bahkan lihatlah !
Bahkan kini saat acara pesta berlangsung. Sepasang pengantin itu malah sibuk sendiri di sudut ruangan yang berbeda. Lucas dengan rokok dan minuman di tangannya. Sementara Helena dengan ponsel yang sedari tadi tergenggam erat di tangannya.
" Apakah mereka terpaksa ? Atau dipaksa ? " Bisik Diana lagi. Dan Alessya yang melihatnya samasekali tak berkomentar.
Andai Diana tahu, sebenarnya keanehan ini lebih dulu dirasakan olehnya maupun Arselli suaminya. Dan lagi-lagi bukanlah Ny. Alice, jika begitu mudah urusan pribadinya untuk dikorek. Arselli dan Alessya hanya sedang menunggu saja, informasi dari suruhan mereka atau dari bibir Ny. Alice yang lebih dulu terbuka.
.
.
" Bagaimana ? " Tanya Lucas seraya menyemburkan asap rokok dari mulutnya ke udara. Menengadahkan wajahnya, dia benar-benar terlihat seperti orang gila.
Vincent menggelengkan kepalanya. " Belum ada kabar baik ! " Ucapnya melengos. Hembusan nafas terdengar, dia pun tak urung kecewa, terlebih Lucas yang notabene suaminya.
Kekhawatiran mereka terhadap Meera yang saat ini sedang hamil besar semakin menjadi, mengingat sebentar lagi waktu yang diperkirakan bagi Meera untuk melahirkan akan segera tiba. Dan Lucas tentu saja ingin mendampinginya.
Walau Lucas tahu pasti bahwa Meera berada dalam genggaman ibunya, diam-diam dia tetap menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan istrinya.
.
.
Pasrah !
Meera tampak sudah menikmati situasi yang sedang dia hadapi kini. Rumah yang begitu nyaman, para pelayan yang melayani dirinya dengan cukup baik. Apalagi ? Nikmat Tuhan mana lagi yang coba kau lupakan ?
Malam itu, Meera menikmati makan malam yang disuguhkan pelayan untuknya. Sengaja diantar ke kamarnya. Meera menikmatinya sembari duduk di atas ranjang yang empuk.
" Aku senang, kau menyukainya, Nona. " Ucap pelayan itu kala melihat Meera makan dengan cukup lahap. Semua makanan hampir tandas tak bersisa.
Setelah beberapa hari lalu, Meera sempat tidak memiliki nafsu untuk makan. Hanya sedikit yang masuk ke dalam perutnya. Mengingat bayi yang dia kandung, akhirnya Meera memakannya, walau dengan terpaksa. Tanpa menikmatinya sedikitpun, seperti orang sakit saja.
Namun sekarang, secara perlahan, Meera terlihat mulai menikmatinya.
Para pelayan, bahkan sudah tidak melihat Meera yang tengah terisak menahan air mata. Dia terlihat lebih pasrah akhir-akhir ini.
" Terimakasih. " Ucap Meera tulus. Dia hanya berusaha menunjukkan rasa syukurnya kepada Tuhan.
" Tidak apa-apa, Nona. Walaupun ini tugasku, tapi aku sangat senang melihat kondisimu yang mulai tenang. " Lanjutnya lagi.
Sudah beberapa hari ini, dia mencemaskan perempuan hamil yang tengah duduk di hadapannya kini. Melihat kondisinya yang mulai membaik, tentu saja dia lega.
" Bolehkah, aku menonton televisi ? " Tanya Meera. Dia sedikit stress, tentu saja. Dia hanya membutuhkan hiburan.
" Baiklah, akan saya nyalakan televisinya. " Ucap pelayan itu. Sembari berjalan ke dekat televisi yang ada di kamar itu.
Meera tersenyum bahagia melihatnya. Hiburan sekecil inipun, patut untuk dia syukuri. Esok hari, belum tentu akan didapatkannya.
Namun, sinar matanya mendadak menghilang. Senyum yang asalnya mengembang, kuncup lagi seketika.
Tes
Perlahan air mata menetes, mengalir indah di pipinya. Perlahan jarinya bergerak untuk mencubit lengannya, berharap yang dia lihat hanyalah mimpi belaka.
Lucas menikah ? Dan lihatlah senyumannya, dia terlihat begitu bahagia ...
.
.
💫 Bersambung ... 💫
Jangan lupa like, rate ⭐⭐⭐⭐⭐
Dan koment ya ..😘😘