
"Daddy.. Ayana ", Bisik Revano sambil melirik ke arah atas balkon. Stuart Weitzman mengangkat wajahnya ke atas balkon melihat ekspresi wajah putrinya yang menatapnya tanpa ekspresi. Dengan tatapan mata kosong.
Barry Cartlon juga melakukan yang sama, menengadah menatap Ayana, lelaki itu hanya tersenyum tipis melihat Ayana, baginya dapat melihat Ayana sudah merupakan obat bagi Barry Cartlon. Lelaki itu berdiri terhuyung dan tak lama Barry Carlton pun terjatuh dari tempatnya berdiri. Dia pingsan.
"Cepat bawa dia masuk ke kamar tamu ! Segera hubungi dokter keluarga !" Cindy berteriak kepada para petugas keamanan dan pelayan. Ia sendiri naik ke atas melihat keadaannya Ayana. Sedangkan Stuart Weitzman memandangi Barry Carlton dengan tatapan mata yang tajam.
"Ayana. Maafkan momy. Momy sungguh tidak mengetahui jika dia berniat untuk datang kemari ", Kata Cindy, lagi-lagi Ayana hanya menatapnya tanpa ekspresi. Hanya beberapa kali kedipan mata nya yang bergerak. Selebihnya dia hanya diam seperti patung.
"Biar para Daddy kalian yang mengurusi hukuman untuk dia. Karena sudah membuat mu seperti ini sayang." Katanya lagi.
Ayana terdiam tanpa respon terhadap semua yang telah dikatakan oleh Cindy. Wanita cantik itu hanya menatap wajah cantik putrinya itu dengan penuh kasih dan kesedihan Lagi-lagi putrinya tidak merespon apapun.
Sementara itu di lantai dasar Dokter pribadi keluarga Stuart Weitzman juga disibukkan pasien dadakan. Dokter keluarga sudah datang dan langsung memeriksa keadaan. Dan berusaha memberikan pertolongan kepada Barry Cartlon. Tak lama kemudian Barry Carlton siuman matanya menatap ke arah Stuart Weitzman dengan sendu.
"Saya memohon maaf atas segala kesalahanku Tuan." Bisiknya serak. Dokter itu hanya menatap Stuart Weitzman bingung namun ia tetaplah menjalankan tugasnya sebagai dokter.
"Dia harus melakukan pemeriksaan terhadap kepalanya dan menyeluruh, untuk mengetahui apakah ada pembekuan akibat dari pemukulan itu." Kata dokter kepada Stuart, karena melihat banyaknya memar di wajahnya Barry Carlton.
" Bawa dia ke rumah sakit ! Periksa di secara menyeluruh! Setelah itu bawa laporannya kepada ku secepatnya !" Perintah Stuart kepada pengawal pribadinya. Stuart Weitzman pun melangkah keluar dari kamar tersebut. Dokter itu hanya menghela nafasnya menatap ke Barry Carlton dengan prihatin.
Dia sudah menduga jika ada sesuatu yang tidak beres di keluarga ini. Barry Cartlon hanya tersenyum tipis melihat ekspresi Stuart Weitzman, dia masih bersyukur karena lelaki itu hanya memukuli saja bukan langsung menyiksanya berkepanjangan dan menghancurkan bisnisnya yang baru saja dirintisnya.
Sepeninggal dokter, Revano menyelinap masuk dan meminta pengawal pribadinya berjaga di depan pintu kamar. "Apa yang menyebabkan kamu berbuat jahat kepada adikku ?" Tanyanya kepada Barry Carlton dengan nada dingin dan penuh penekanan. " Apakah kamu tidak melihat? Dia masih kecil kau perlakukan seperti itu !" Teriaknya lantang.
"Aku sungguh-sungguh menyesali atas semua. Ada yang meracuni minuman aku saat di pesta itu. Itulah sebabnya aku kehilangan kewarasan ku. Maafkan aku . Aku akan menikahinya jika umurnya sudah mencukupi menurut hukum. Aku juga dapat dipenjara dan di hukum mati oleh negara. Bahkan mungkin akan ada hujatan terhadap dirinya karena kejadian itu.
Orang tua mu sangat bijaksana tidak menuntut aku atas kejadian itu. Namun bukan berarti aku lepas tangan. Aku mengerti kemarahannya. Lukaku tidaklah sebanding dengan apa yang diderita oleh Ayana. Aku hanya bisa memohon ampun dan maaf kepada kalian semua." Ujar Barry Carlton yang menatap lekat dengan wajah sendu ke arah Revano.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk semua yang telah aku hancurkan. Keputusan ada pada Ayana. Aku akan menerima semua keputusan Ayana." Pintanya mengiba menatap Revano. Pemuda itu hanya menatap wajah Barry dengan dingin kemudian berlalu. Tanpa memberikan jawaban.
Di kamarnya Ayana hanya terdiam duduk di ranjang. Ingatan dia kembali ketika ia melihatnya. Barry Cartlon. Lelaki yang membuat dia ketakutan waktu itu. Bayangan malam nahas tersebut. Namun ia ingat lelaki itu berteriak memanggilnya, agar tetap terjaga saat dia kesakitan.
Lelaki itu juga yang menggenggam tangannya sangat erat. Dia melihat Barry Carlton dipukuli Daddy nya tanpa melakukan perlawanan dan masih melihat ke arahnya dengan ekspresi wajah yang sendu. Entahlah apa yang dipikirkannya. Dia juga dapat mengingat saat di rumah sakit lelaki itu begitu sabar menyiapkan dan menyuapi makanan untuk dirinya.
Bahkan lelaki itu bercerita dan mengajaknya berbicara namun ia tidak merespon dia hanya ingat wajahnya dan seluruh kejadiannya apa yang terjadi pada dirinya."Barry......Cartlon ? Dr. Heidi.....Klum ?" Gumamnya dan masih menatap arah ke depan.
Mendadak Revano muncul di hadapannya, ia berjongkok di hadapannya Ayana. "Lelaki itu Barry Cartlon. Dia ingin bertemu dengan mu Ayana. Dia ingin mendengar suara mu. Caci-maki dia Ayana ! Luapan emosi kamu ! Jangan kamu pendam sakit hati mu. Karena itu juga menyakitkan bagiku juga. " Kata Revano sambil menarik nafasnya dan selalu tersenyum serta mengelus-elus rambut pirang Ayana.
Mereka saling menatap. Ayana mengedipkan matanya dan tersenyum seraya menggerakkan tangannya memegang tangan Revano yang terus menerus mengelus rambut pirang Ayana. Revano tertegun atas responnya Ayana dan memperhatikan secara intens. "Barry Cartlon." Gumamnya lirih.
"Kau akan bertemu dengan Nya ?" Serunya bersemangat gadis itu mengangguk perlahan. Revano bangkit dan berjalan cepat menuju ke luar kamarnya Ayana. "Daddy... Ayana..." Serunya lantangnya menghampiri mereka yang bermaksud membawa Barry Carlton ke rumah sakit berhenti dari pergerakannya melihat ekspresi tingkah lakunya Revano yang bersemangat.
"Ada apa ?" Cindy panik mendekati Revano. "Ayana merespon ku, momy ! Dia ingin bertemu dengan dia !" Tunjuknya dengan dagunya ke arah Barry Carlton. Stuart Weitzman dan Cindy berpandangan tercengang. Tak lama kemudian Barry Cartlon sudah di ajak Revano ke kamarnya Ayana.
Diikuti oleh Revano dan orangtuanya. Revano duduk di sofa di kamar itu, Stuart dan Cindy berdiri tidak jauh dari Barry Carlton. Sedangkan Barry Carlton mensejajari tinggi nya dengan Ayana dia berjongkok di depannya Ayana.
"Sakit ?" Tanyanya lirih. "Tidak. Masih sakit yang kamu rasakan Cantik ". Jawab Barry Carlton dengan menunduk dan menggenggam tangan kedua gadis itu di kecupnya berulangkali. Dia pun mengangkat kepala menatap iris matanya. "Maafkan aku." Bisiknya serak.
Gadis itu mengangguk sepintas dan tersenyum tipis. Barry Cartlon tersenyum, bibirnya tersenyum lebar, ada rasa nyeri di bibirnya yang robek karena pukulan, bahagia di hatinya menyeruak, akhirnya gadis cilik itu tersenyum lagi, batinnya.
Bahkan dia tak menyadari air matanya menetes di pipi sampai ada sentuhan tangannya yang halus menyentuh pipinya. Dia ikut bergerak menciumi tangannya. "Terimakasih Tuhan. Kau kembalikan dia seperti semula." Katanya lirih.
Revano memperhatikan interaksi antara mereka merasa terharu, demikian juga Orang tua mereka.
Cindy tersedu-sedu karena rasa harunya, akhirnya putrinya merespon keadaan yang ada di sekitarnya. Stuart Weitzman tidak dapat berkata apa-apa lagi, air matanya menetes karena rasa harunya.
Makan malam semakin larut dengan suasana bahagia, Ayana datang ke meja makan tanpa ada yang meminta. Gadis itu memindai semua anggota keluarga yang datang untuk makan malam. Cindy menghentikan pergerakannya menata makanan untuk disajikan. Isabella dan Shawn tersenyum melihatnya.
"Kakak ayoo duduklah." Ajakan Shawn dengan tersenyum. "Ayo sayang duduklah. Di tempat yang biasanya." Cindy terbata sambil menghapus air matanya.
"Kakak apa kabarmu ? Aku kangen pengen banget main sama kakak. Kata momy kakak harus istirahat karena sakit dan tidak boleh di ganggu." Celoteh Isabella dengan menatap manik birunya Ayana.
"Kakak bener sudah sembuh ?" Shawn ikutan bertanya. "Satu-satu jika bertanya, kasihan kakak menjawabnya." Suaranya Revano mencoba menahan rasa penasarannya adik-adik nya
" Ayana ?" Suara Stuart membuat semuanya menoleh. Lelaki itu berjalan cepat memeluknya Di belakangnya ada Reynald, Barry Carlton dan Ambressio berdiri tidak jauh dari tempat duduknya Ayana.
"Daddy.." Seru Ayana nyaring, gadis itu bangkit dari tempat duduknya. Ambressio maju menghampirinya dan Ayana menyambut pelukannya.
"Daddy... I Miss You.." Teriaknya tersendat tangisnya pecah menggema di seluruh ruangan. Mereka berpelukan berbagi rasa. "Maafkan daddymu ini. Yang tidak pernah ada." Kata Ambressio diantara tangisnya.
"Maafkan daddy. Daddy mu ini juga seorang pengecut." Bisiknya. Luapan emosi dan rasa rindunya mereka tumpahkan detik itu juga.
Setelah melepaskan rindu semuanya duduk bersama dengan hidangan yang disajikan di atas meja. Ambressio selalu menatap ke arah Ayana dan tidak berhenti tersenyum. Ada rasa lega di hatinya.
Rasa takutnya ditolak seperti Cindy menolaknya dahulu tidak lah terbukti. Putrinya sangat merindukan dirinya walaupun dia bersama Stuart dan sering dikunjungi Reynald. Ataupun Revalia dan Sarah Amalia. "Jadi kita semuanya mempunyai daddy tiga, ya ?" Suaranya Isabella memecahkan keheningan.
"Mhmm. Ya kira-kira seperti... Begitulah ?" Suara Stuart Weitzman dengan nada enggan menjawabnya sambil melirik kedua pria bernama Cassiedy. "Jadi momy punya suami tiga orang ?" Shawn ikutan nimbrung.
Uhuk... Cindy tersedak karena itu. Mukanya berubah memerah karena malu, pada anak-anak dan Barry Carlton yang notabene orang luar. Barry Cartlon tersenyum tipis dengan menunduk, takut ditegur oleh mereka. Nyatanya dia hanya orang asing untuk saat ini, Batinnya.
"Iya, Momy menikah dengan mereka dan momy meninggalkan mereka berdua lalu cintanya hanyalah pada Daddy Stuart Weitzman." Jelas Revano.
"Oh God ! Jangan bilang kalau momy tukang selingkuh ! " Celetuk Isabella cemberut memandangi momynya.
"What's this ?" , Pekikan disertai dengan mata melotot melihat ekspresi wajah putrinya yang terlihat garang dan menyelidik menatap wajah momynya.
"Bukan momy. Tapi mereka lah yang selingkuh dan tidak tanggung jawab. Dan kala itu Mom bertemu daddy Stuart." Lanjutnya. "Oo.." Suara Isabella dan Shawn membeo bersamaan.
"Lalu kenapa Daddy Ambressio terakhir ke sini ? Kenapa baru sekarang datang ke rumah ?". Lanjut Isabella bertanya dan menatap ke arah Ambressio. Ambressio gugup menatap gadis ciliknya. Jelas sekali kemiripan Isabella dan Ayana sangat terlihat.