
Pembuktian
Kimber menghapus air matanya dengan kasar, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Keadaan apartemen saat itu sangat sepi, seperti tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu. Ya, kini dia tengah mencari keberadaannya. Mencari kesetiap ruangan yang ada di sana. Jika dia tidak memiliki kepentingan mana mungkin dia Ingin bertemu dengan pria itu. Namun, dia harus mengatakan jika dia siap untuk melanjutkan pertaruhan mereka, tapi denang satu syarat.
Kimber membuka salah satu kamar yang belum dia kunjungi dan benar saja di sana pria itu berada. Aaron terlihat sedang duduk di kursi membelakanginya. Perlahan wanita itu melangkah menghampirinya.
"Aku mencarimu dan ternyata kau di sini," ucap Kimber pelan.
Aaron hanya diam menunggu wanita itu menyelesaikan ucapannya.
"Aku sudah memikirkannya dan aku akan tetap maju tapi dengan satu syarat," ucapnya lagi.
Spontan Aaron berdiri dan membalikkan tubuhnya ke arah wanita itu. Kimber, wanita itu menatap lekat pria di hadapannya sebelum dia menimbang apa yang akan diucapkannya.
"A-aku akan melakukannya, A," gumam wanita itu pada akhirnya.
Aaron menatap Kimber tak percaya, lalu melangkan mendekati wanita itu. Namun, semakin pria itu mendekati wanita itu, dia semakin mundur menjaga jaraknya.
"Berhenti, A! Jangan terlalu dekat denganku." Kimber berteriak panik. namun, pria itu seakan tak peduli dan terus mendekatinya.
"Kenapa?" tanya Aaron dengan suara yang terdengar sedih.
Kimber menatap kembali pria itu yang terus berusaha mendekatinya, sampai punggungnya menyentuh tempok pun Aaron masih terus melangkah. Pelukkan hangat yang selama beberap hari dirasakannya kini mulai melingkupinya. Tangan besar pria itu mendekapnya begitu erat sampai dia lupa dengan caranya bernafas.
"Kuharap ini terakhir kalinya kau menyentuhku, A," ucap Kimber getir. Dia benar-benar ingin menagis lagi.
"Aku tidak bisa," Aaron mempererat pelukkannya.
"Aku mohon, lepaskan aku. Aku akan melakukan apa yang sudah kita sepakati."
Pria itu mengurai pelukkannya dan memisahkan tubuhnya dari Kimber. dia menatap wanita itu lekat. Lalu menyunggingkan sunyuman getir. "Kau yakin?" tanyanya tak yakin.
"Ya. Aku akan membuktikannya. Tapi, dengan satu syarat," ucap Kimber sembari menatap lawan bicaranya. "Aku ingin kau tak lagi menyentuhku, A," lanjutnya. Dia benar-benar berat mengatakan syarat itu, yang sejujurnya tak masalah jika pria itu menyentuhnya. Namun, dia enggan mengakuinya.
Sangat jelas dari raut wajah pria itu menunjukkan ketidaksenangannya. dia sudah terbiasa menyentuh wanita di hadapannya, bahkan wanita itu pula yang telah mengambil ciuman pertamanya, dan sekarang dia benar-benar tak rela jika bibir manis milik Kimber tidak bisa dicicipinya lagi.
"Kalau itu yang kau inginkan aku akan menyetujuinya, tapi setelah malam ini berakhir," ucap Aaron.
"Apa yang kau lakukan! Bukannya sudah jelas kukatakan, jika kau jangan menyentuhku lagi, Aaron!" Kimber berontak dalam pelukan pria itu berusaha membebaskan diri.
"Apa kau lupa dengan ucapanku, Kim? Atau perlu kuulangi?" ucap Aaron masih tetap memeluk Kimber. "Setelah malam ini berlalu," lanjutnya.
Tubuh wanita itu menegang, namun pelan-pelan rileks kembali. "Kuharap ucapanmu bisa kupercayai, A," ucapnya pada akhirnya dan dia benar-benar pasrah dipeluk begitu erat oleh lelaki itu. Karena dia pun menginginkannya.
"Biarkan aku memilikimu malam ini, Kim," ucap Aaron dengan suara parau dan serak.
***
Wajah Lucas benar-benar bercahaya seperti remaja yang sedang dimabuk asmara dan kenyataannya benar. Dia benar-benar sedang bahagia karena Bellanya. walaupun sekarang wanita itu tidak berada di dekatnya tapi dia bisa mencium aroma tubuh wanitanya. Lucas tersenyum ***** dengan apa yang ada di dalam pikirannya. sampai suara bell pintu memecah pemikiran itu.
Dengan langkah terburu-buru, pria itu melesat ke depan pintu dan membukanya. di sana, di depan pintu itu telah berdiri seorang wanita berambut coklat. dia lupa dengan namanya namun, dengan lancang wanita itu menerobos masuk melewatinya.
"Luc, apa kau sudah makan? aku membawakan ini untukmu," ucap wanita itu sembari berjalan menuju dapur dan Lucas berada di belakannya. tepatnya mengekorinya. Wanita itu meletakkan papper bag yang dibawanya di atas meja makan, dan mengeluarkan isinya.
Dengan cermat Lucas memperhatikan sikap lancang dari wanita itu, sampai dia berdehem menyadarkan wanita itu.
"Kenapa?" jawaban atas deheman yang keluar dari mulut Lucas.
Lucas mendelik marah dan dia benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran wanita itu.
"Apa yang kau lakukan, dan kau siapa?" tanya pria itu sarat dengan ketidaksukaan.
Wanita itu terbelalak kaget namun setelahnya dia bisa mengendalikan diri. "Kau jahat, Luc! Apa kau melupakanku?" ucapnya.
"Memangnya kau siapa? Aku tidak mengingat bahwa kita saling kenal," tuduh Lucas.
"Kau benar-benar melupakanku. Tapi tak apa, aku dengan senang hati akan membuatmu selalu mengingatku," ucap wanita itu genit dan penuh percaya diri.
"Kau wanita yang aneh dan lancang," Lucas benar-benar tidak senang dengan wanita itu, walaupun dia terlihat cantik tapi Lucas tidak akan tertarik.
"Ayolah ... jangan membuatku sedih, Luc. kau boleh melupakan namaku tapi tidak mematahkan hatiku," Wanita itu mendekati Lucas.
Lucas menatap awas ke arah wanita itu, sampai dia berada tepat di hadapannya, wanita itu menjulurkan tangan kanannya. karena Lucas hanya diam, wanita itu dengan lancang meraih tangan kanan pria itu supaya bisa berjabat tangan dengan dirinya. "Aku Kimber. Wanita yang telah menyelamatkanmu dari usaha bunuh diri yang kau lakukan tempo hari. Apa sekarang kau mengingatnya?"
Lucas membelalakkan matanya dan melepaskan tangannya dari tangan wanita itu. ya, sekarang dia ingat dengan wanita itu. Wanita gila yang menganggapnya akan bunuh diri di atas gedung apartemen ini dan wanita yang sama, yang memerkokinya berciuman dengan Bella.