I'M Sorry

I'M Sorry
21



Bab 21 Barawal Dari Cinta


Bibi Mandy menatap kepergian kedua pria tersebut. Ia menutup kembali pintu aparteman, melenggang meninggalkan kantong belanjaan yang ia tinggalkan di lantai dengan senyuman samar terpatri di bibir tipisnya.


***


Pria yang tidak dikenali oleh Bella mulai mendekatinya. Gigi pria itu tampak kuning dan tidak rata menjadi pemandangan dikala dirinya tersenyun, dan itu cukup membuat perut Bella mual.


Bella menatap jijik ke arahnya, namun satu cengkeraman kuat yang bersarang pada rahangnya menyebabkan ia tak bisa membuang wajahnya.


Dengan berlinang air mata Bella mencoba bicara, walaupun terasa menyiksa dan sakit, "Le-lepaskan aku," cicitnya masih terdengar jelas oleh pria itu.


Pria tersebut semakin melebarkan senyumannya, bahkan ia mengamati Bella seolah wanita itu adalah makanan terlezat yang harus dicicipi.


Perlahan pria itu mulai mendekati wajah Bella, namun belum sampai bibir itu mencapai kehalusan kulit Bella, wanita itu terlebih dahulu meludahi wajahnya.


Pria tersebut menggeram kerena amarahnya tersulut. Cengkeraman tangannya pun ikut mengencang dan itu cukup membuat Bella menjerit kesakitan. Tak cukup hanya itu, pria itu melayangkan satu tamparan yang mampu memekakkan gendang telinga Bella. Jejak telapak tangan tampak jelas membekas di permukaan pipi wanita itu, dan itu cukup membuatnya puas sekaligus meredakan amarahnya.


"Ludahmu akan menjadi hiasan terindah untukku, Cantik," ucapnya, membiarkan ludah Bella tetap berada di wajah pria itu.


Bella memberontak. Seluruh tubuhnya ia gerahkan, walaupun tak ada perubahan sama sekali, namun ia tetap ingin berusaha daripada hanya berdiam diri yang akan menyebabkan pria itu akan mencoba melecehkannya kembali.


"Brengsek! Lepaskan aku!" Bella menjerit. Bahkan ia mencoba menendang dengan keadaan kaki yang terikat.


Pria itu tertawa melihat tingkah wanita di depannya, lalu melepaskan cengkeramannya. Ia mengamati wajah wanita itu, lantas menggeleng seolah ia telah melakukan kesalahan.


"Ckckck ... kalau aku jadi dirimu, mungkin aku akan menjauh dari wanita berbisa itu," ucapnya sarat dengan cemo'ohan.


Bella mengernyitkan keningnya, sedangkan kedua matanya belum juga berhenti mengeluarkan air mata.


Pria itu mendengus tidak suka, sebab ucapannya membuat Bella bingung dan terkesan tidak tahu siapa sebenarnya wanita yang menyuruhnya untuk menculik Bella. Ia berjalan perlahan ke belakan tubuh wanita itu, lalu berhenti tepat di sana. Sembari memaikan ramput panjang milik Bella, ia mendekatkan bibirnya tepat di depan telingga wanita itu.


"Bibi yang jahat." Pria itu sengaja meniup telinga Bella.


Bella menegang. Ia menggeram, lalu menoleh sebisanya untuk dapat menatap wajah pria tersebut. "Apa aku akan percaya ucapanmu?


Suara Bella benar-benar terdengar seperti orang yang tengah menangis, namun memaksakan untuk tertawa diwaktu bersamaan.


Pria itu tersenyum sinis, dan itu cukup membungkam mulut Bella.


"Terserah kau akan percaya atau tidak, tapi wanita gemuk itulah yang menyuruhku untuk membunuhmu. Namun kalau dipikir-pikir lagi uang yang diberikan oleh wanita itu belum cukup untukku. Apa aku harus menghubungi kekasihmu untuk menukarkan sejumlah uang dengan keselamatanmu? Yah! Sepertinya itu ide yang bagus," ucapnya panjang lebar.


Bella tidak benar-benar mendengarkan ucapan dari pria itu. Sampai suara yang sangat familiar terdengar dari arah benda persegi panjang yang kini berada di genggaman pria itu.


***


Tubuh Lucas menegang setelah ia mendapatkan telepon dari seorang pria yang tak dikenalnya. Pria itu mengatakan bahwa Bella sekarang berada di tangannya, lebih tepatnya telah diculik oleh pria tersebut. Dan sebagai pengganti keselamatannya, bahkan untuk menebus Bella, pria itu meminta sejumlah uang dengan nominal fantastis dan tidak ada campur tangan dari pihak kepolisian. Hanya ada dirinya yang diminta untuk mengantarkan uang-uang itu tepat pukul 9:00 PM ke sebuah gudang tak terpakai di pinggiran kota. Kalau persyaratan itu tidak dipenuhi, keselamatan Bella menjadi taruhannya.


"Aku akan ikut denganmu," Aaron menawarkan diri.


Lucas menatap wajah sahabatnya lekat, lalu menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin pria itu menyakiti Bella," ucapnya. Tatapan matanya tampak sayu.


Aaron menggenggam pundak Lucas, "Ayolah ... aku ini sahabatmu, jadi apapun masalahmu akan menjadi masalahku juga."


***


Bibi Mandy menatap tidak suka ke arah potret pasangan pengantin yang tengah tersenyum bahagia di altar pernikahan. Ia tidak pernah menunjukkan sikap itu kepada siapa pun, namun karena ia sekarang hanya sendiri ia bisa meluapkan emosi yang salama ini tak pernah hilang dari hatinya.


Dendamnya membuatnya menjadi seorang wanita aneh yang tak ingin menikah. Bahkan sampai saat ini ia masih setia dan ingin mewujudkan apa yang dulu semapat dicita-citakannya, namun pupus karena norma yang ada.


Ya, Mandy sewaktu muda pernah mencintai seorang pria dan pria itu pun mencintainya. Pria yang telah dikenalnya sejak kecil, tumbuh bersama, bahkan tidur pun seranjang.


Wanita paruh baya itu tersenyum ketika ia mengingat hal-hal manis bersama pria yang dicintainya, bahkan ia mengelus perutnya tatkala bagian tubuh itulah yang sudah menjadi bukti bahwa buah hati mereka sempat tumbuh kerkembang di dalam sana.


Namun, kebahagian itu mendadak hilang ketika prianya mulai beranjak dewasa. Ia mulai mengenal dunianya sendiri yang lambat laun mulai meninggalkan Mandy remaja. Bukan Mandy remaja lagi, sebab diumurnya yang baru menginjak angka 16, ia telah mengandung buah cinta pria tersebut tanpa diketahui siapa pun. Dan puncaknya, pria itu malah membawa seorang wanita yang akan dinikahi olehnya. Mandy muda begitu hancur, dan ia memilih untuk melarikan diri di malam terakhir pria itu masih melajang.


Bibi Mandi menghapus lelehan air matanya dengan kasar. Ia menatap pasangan itu lagi lalu membanting figura tempat potret itu ke lantai, menyebabkan pecahan kaca berserakan memenuhi penjuru lantai.


"James Adnan, kau membuatku seperti orang bodoh! Meninggalkanku karena alasan 'Aku adalah adikmu' namun apa kau tahu, cinta kita menghasilkan benih. Ya, anak kita—anak pertamamu," ucap wanita itu. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


***


Bella berusaha membebaskan dirinya. Dimulai dengan mengerak-gerakan tangannya agar bisa terlepas dari ikatan yang menjerat kedua pergelangan tangannya, dan usaha cukup berhasil.


Tali itu sedikit demi sedikit mulai mengendor, membuatnya dengan mudah meloloskan pergelangan tangannya. Setelah tangannya terbebas, ia beralih ke ikatan tubuhnya lalu dilanjutkan dengan melepaskan ikatan tali yang ada di pergelangan kakinya.


Tubuhnya terasa sakit. tanda merah bekas tali yang mengikatnya pun tampak jelas di permukaan kulit putihnya. Ia mencoba merenggangkan otot-ototnya sebelum ia berdiri dan beranjak dari kursi itu. Namun suara langkah kaki yang tiba-tiba terdengar dari arah belakang tubuhnya membuatnya mematung.


Seseorang itu tampak terkejut mendapati sanderanya bisa melepaskan diri dari ikatan tali yang menurutnya sangat kencang, karena ialah yang mengingatnya ualang.


Bella membalikkan tubuhnya. Ketika wanita itu melihat siapa seseorang yang ada di belakangnya, ia tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang melingkupi wajahnya. Ia melangkah beberapa langkah kea rah orang itu, menatapnya lekat dengan air mata yang mulai luruh dari kedua bola mata indahnya.


"Jadi benar kau adalah dalang dari semua ini,Bibi?"