
Bab 18 Kimber
Bella menatap sendu ke arah tubuh yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit. ia merasa bersalah sekaligus bertanggung jawab atas insiden penembakkan itu, karena pada kenyatanya yang diincar oleh orang bertopeng itu adalah dirinya, bukan Lucas maupun Kimber, namun dengan bodoh Kimber menggantikkan posisinya. Sehingga wanita itu yang tertembak.
Sudah enam jam Kimber hanya tergolek tak sadarkan diri. Peluru yang bersarang di dada kirinya hampir saja mengenai jantungnya, dan insiden itu membuat wanita itu di ambang kematian.
Bella meneteskan airmatanya, ia tidak tahan melihat wanita itu terus-menurus tidur tak sadarkan diri. Sampai sebuah tangan menggenggam pundaknya begitu lembut, seolah memberitahunya semua pasti akan baik-baik saja.
Bella membalikkan tubuhnya. Di sana, Lucas tampak menatapnya. Pria itu tersenyum lembut, lalu menariknya ke dalam pelukkan hangat miliknya.
Usapan yang begitu lembut seringan bulu angsa dapat membuat perasaan Bella semakin tenang. Pun airmatanya sudah tak mengalir dari kedua sudut matanya.
"Apa dia akan baik-baik saja? Aku takut jika dia tidak akan bangun lagi," Bella membenamkan wajahnya di dada bidang Lucas. Mungkin dengan cara ini, ia bisa lebih tenang.
"Ssttt ... dia pasti baik-baik saja, kau jangan khawatir." Lucas semakin mengeratkan pelukkannya.
"Ini salahku, jika aku tidak hadir maka Kimber tidak akan seperti ini."
Perasaan bersalah itu mulai hadir kembali di dalam diri Bella.
"Ssttt ... jangan menyalahkan diri sendiri, ini adalah takdir. Tuhan pasti punya rencananya sendiri," ucap Lucas, mencoba menenangkan wanita itu.
***
Di sebuah gudang yang tak lagi terpakai. Terlihat siluet dua orang. Yang satu terlihat tinggi dan satunya terlihat lebih pendek.
"Kenapa kau menembaknya?" ucap seseorang yang ternyata suara seorang wanita.
"Aku hanya menjalankan tugas darimu, dan mana bayaranku?"
"Kau meminta bayaran? Apa kau gila?" dengus wanita itu tampak emosi.
"Bayar atau aku akan memberitahu seseorang siapa dalang dibalik penembakkan itu," acamnya.
"Kau! Oke! Aku akan membayarmu, tapi aku ingin kau menculik gadis itu."
"Wanita yang mana? Yang kau incar atau wanita yang tertembak itu?" lelaki itu tampak bersemangat.
"Tentu saja wanita yang kuincar. Aku tidak mau kau sampai gagal lagi," wanita itu menyerahkan sesuatu ke tangan lelaki di hadapannya. Ketika bungkusaan amplop itu dibuka, uang berwarna merah berada di dalamnya.
"Ini yang aku suka. Senang bekerja sama denganmu, Ma'am," ucap lelaki itu, lalu pergi meninggalkan wanita itu seorang diri.
***
Lucas melihat Bella khawatir karena wanita itu belum menyentuh makanan yang kini terhidang di depannya. Dia tampak larut dalam lamunannya.
"Bell, makanlah kau dari tadi belum makan sesuatu," bujuk Lucas. Lelaki itu tampak berdiri mendekati Bella, lalu duduk di sampingnya.
Bella tidak merespon, dia hanya diam sembari mengaduk-aduk makanannya.
"Ayolah, Bell ... satu suap saja," lagi-lagi Lucas membujuk wanita itu. Dia menyodorkan sendok berisi sup jagung yang dipesannya tadi.
Bella menatap wajah Lucas, airmatanya tiba-tiba meluncur dari kedua bola matanya. "Apa Kim, akan baik-baik saja?" tanyanya.
Lucas mengangguk, member tahu wanita itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kau yakin? Aku sangat takut, jika sesuatu terjadi kepadanya," ungkap Bella.
Lucas meletakan kembali sendok itu di mangkuk sup, lalu meraih tubuh Bella ke dalam dekapannya.
"Kim, wanita yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja, percayalah padaku," ucap Lucas. Mencoba menenangkan wanitanya.
***
Kimber tampak tertidur pulas. Sudah hampir sepuluh jam dia tak sadarkan diri. Tangannya penuh dengan bermacam selang yang menembus kulitnya. Dia tidak merasakan sakit, hanya saja raut wajahnya terlihat menegang. Dan benar saja, tak beberapa lama wanita itu menjerit histeris. Kedua tangannya mengapai-gapai udara seperti menghalau sesuatu yang akan mendekatinya.
Aaron sangat panik melihat semua yang dilakukan wanita itu, dengan terburu-buru dia memencet bell yang derada tak jauh dari ranjang yang ditiduri Kimber. Sembari menunggu tim medis datang, dia berusaha menenangkan wanita itu.
Dielusnya rambut coklat gelap milik wanita itu, namun semakin dia mencoba untuk menenagkannya, Kimber semakin histeris memberontak. Sampai kedua matanya terbuka. Matanya melotot seperti melihat sesuatu yang menakutinya. Pernapasannya pun tersengal hampr kesulitan untuk bernapas.
Dari arah pintu Dokter dan Perawat muncul, mereka begitu sigap dan menyuruh Aaron untuk keluar ruangan. Namun pria itu tidak ingin meninggalkan wanita yang dicintainya seorang diri. Mau tak mau seorang Perawat pun mengalah, dan mengijinkannya tetap berada di ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" Aaron bertanya ketika Dokter sudah selesai memeriksa Kimber.
Dokter itu tersenyum, "Dia baik-baik saja. Hanya saja trauma penembakkan itu memengaruhi otaknya."
"Maksud anda?" Aaron benar-benar tidak mengerti dengan yang dimaksud Dokter tersebut.
"Seperti halnya mimpi buruk, Nona ini tengah mengalami mimpi buruk."
"Tapi dia baik-baik saja kan, Dok?" tanya Aaron. Dia melihat Kimber yang kini sudah memejamkan kedua matanya kembali.
"Dia baik-baik saja. Terima kasih saya permisi," ucap Dokter itu lalu berlalu diikuti oleh Perawat yang bersamanya.
Aaron tadi sangat takut sesuatu terjadi kepada wanita itu. Tatapan mata Kimber begitu mengerikan baginya. Wanita itu tampak ketakutan, namun dia tidak tahu penyebab rasa ketakutan itu.
Digenggamnya jemari lentik milik Kimber, dan dia ingin menggantikkan posisi wanita itu—berbaring dengan luka tembakkan di dadanya.
"Aku berjanji setelah kau keluar dari sini, aku akan memaksamu tetap bersamaku," ucapnya. Airmatanya jatuh berlinang mengenai tangannya yang tengah menggenggam jemari Kimber.
"Aku benar-benar takut ketika kau tertembak dan darah tiba-tiba keluar dari tubuhmu. Kenapa bukan aku saja? Apa kau sedang menghukumku, huh?!" Aaron tidak bisa mengendalikkan dirinya. Dia terisak seperti anak kecil yang takut kehilangan Ibunya.
"Jika aku tidak menemuimu saat itu, semua ini pasti tidak akan terjadi."
Aaron begitu larut dengan apa yang dikatakannya, dia bahkan tidak mengetahui bahwa sembaKimber sudah membuka matanya kembali. Wanita itu hanya diam sembari mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria itu.
"Aku bodoh dan tak beguna. Seharusnya kau tidak seperti sekarang. Maafkan aku, kumohon maafkan aku," ucap Aaron.
Kimber tak tahan mendengar dan merasakan jemarinya basah oleh airmata pria itu. Cukup dia yang merasa sakit, tapi tidak untuk orang lain. Perlahan Kimber mulai mengeratkan genggaman tangannya sampai Aaron menyadarinya, dan mendongak ke arahnya.
Pria itu menghapus airmatanya dengan kasar, lalu tersenyum ke arah wanita itu. "Kau sudah sadar?" ucapnya.
Kimber tersenyum. Dia mengelus pipi yang tadi sempat basah oleh airmata Aaron. "Apa kau menangis gara-gara aku, A? Kenapa? Bukannya aku baik-baik saja?"
Aaron mengangguk, lalu tersenyum semakin lebar ke arah Kimber. "Aku hanya takut kehilanganmu. Jika itu terjadi, a-aku ...," ucapannya terpotong karena telunjuk Kimber sudah berada di depan bibirnya.
"Aku tidak akan ke mana-mana, mungkin setelah ini aku hanya akn kembali ke kehidupanku dulu," Kimber tersenyum.
"Tidak bisa. Kau harus terus bersamaku," Aaron tidak ingin membuang-buang dan mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
Kimber memejamkan matanya, lalu menggeleng. "Aku tidak bisa. Aku akan memulai hidup baru, aku yakin kau mengerti, A?" ucapnya sembari menghela napas panjang.
"Kalau begitu, aku akan pergi menemanimu,"-Aaron.
Lagi-lagi Kimber menggelengkan kepalanya, "Aku ingin hidup tanpa ada kau atau orang-orang di masa laluku, kuharap kau mengerti." Tutupnya.
"T-tapi ...," Aaron ingin membantah, namun Kimber menghentikan perkatannyan dengan cara yang sama pula.
"Aku mengantuk, A. aku ingin tidur lagi," setelah itu Kimber memejamkan kembali kedua matanya.