I'M Sorry

I'M Sorry
17



Bab 17 Pernikahan


Lucas mengerutkan keningnya sembari menerima pakaian itu. "Aku tidak pernah melihatnya."


Bibi Mandy tersenyum lalu mengusap pipi Lucas dengan lembut. Dari tatapan mata wanita itu tampak menyipan sesuatu yang menyedihkan. Bahkan ia nyaris menangis jika saja tidak menahan agar tetap terlihat kuat dihadapan Lucas.


Lucas ingin memeluknya, namun diurungkan karena ia tahu tubuhnya pasti sangat bau.


"Apa Bibi baik-baik saja?" tanya Lucas.


Bibi Menatap wajahnya begitu lekat. Ia masih tersenyum ke arahnya, lalu mengangguk. "Aku senang pada akhirnya kau akan menikah, Luc." Ia menghapus lelehan air mata yang kini mulai membasahi pipinya.


Lucas tak tahan lagi untuk memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Tak peduli seberapa bau tubuhnya, kini dirinya sudah meraih tubuh berisi itu ke dalam pelukkannya.


Bibi Mandy tampak menegang, namun hanya beberapa saat setelahnya ia pun membalas pelukkan Lucas sama eratnya.


"Dulu, ketika James menikah, aku tidak ada disaat hari bahagia itu. Tapi sekarang aku bisa hadir menyaksikan pernikahanmu, Luc." Bibi Mandy semakin mengeratkan pelukkannya. Tangisannya pun semakin keras.


Lucas hanya diam, yang ia mampu lakukan hanya menenangkan wanita paruh baya itu dengan mengelus-elus punggung wanita itu.


"Apa kau tahu? Kau sangat mirip dengan James. Tinggimu, hudungmu, rambutmu, bibirmu, tapi tidak dengan matamu. Mata itu milik Jessy. Dia wanita yang sangat cantik dan baik hati, aku pernah beberapa kali bertemu dengannya," kali ini tangisan Bibi Mandy telah berhenti, lalu ia melepaskan pelukkannya.


"Kau benar-benar mirip dengannya." Tangan Bibi Mandy membingkai wajah pria itu, lalu mengecup keningnya.


Lucas tidak tahu harus merespon seperti apa, dan dia hanya diam. Sampai Bibi Mandy menyeruhnya untuk bersiap, karena pernikahannya sebentar lagi akan dilaksanakan.


***


Kimber menatap nanar bayangan di depannya. Seorang wanita bergaun pengantin tampak menyedihkan menatap dirinya. Tidak ada rona kebahagian yang ada hanya tatapan sendu dengan wajah mengerikan. Sudah setengah jam ia menangis, bahkan ia tidak mempedulikan riasan yang tampak indah melukis wajahnya kini luntur oleh air matanya sendiri.


Pengakuan Aaron terhadapnya membuatnya semakin ragu. Entahlah, kenapa dirinya harus seragu itu. Namun di dalam hatinya yang paling dalam ia ingin lari dari ini semua. Terutama lari dari kedua pria itu.


Tangisannya belum juga berhenti, sampai ia merasakan rasa sakit yang teramat dari kepalanya. Kepalanya berdenyut bergitu hebatnya, seperti ada sesuatu yang tengah memukul-mukulnya. Kamar yang dilihatnya pun seolah berputar, dan itu membuat sesuatu di dalam perutnya pun ikut bergejolak seperti ingin dikeluarkan. Ia benar-benar mual, tanpa mempedulikan gaun yang dipakainya ia berlari ke arah kamar mandi. Memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya.


Dari ambang pintu, seseorang tengah menatapnya dengan khawatir. Seseorang itu ingin mendekat, namun ragu dan ia hanya diam menonton Kimber yang berusaha memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya.


Rasa mual yang dirasakan Kimber belum juga berkurang. Ia terus saja berusaha mengeluarkan apa yang ada dalam perutnya, namun yang keluar hanya cairan bening kekuningan dan itu cukup menyiksanya. Sampai tangan seseorang menepuk-nepuk punggungnya barulah rasa mual itu sedikit berkurang.


Kimber berkumur lalu membilas wajahnya, ia tampak pucat dari sebelumnya. "Terima kasih," ucapnya.


Seseorang itu menegang melihat betapa pucat wajah Kimber. Ia benar-benar merasa khawatir dengan keadaan wanita itu. "Kim, jika kau ingin, kau bisa membatalkan pernikahan ini," Ucap seseorang itu.


Tubuh Kimber menegang, lalu membalikkan tubuhnya ke belakang di mana seseorang yang telah menepuk punggungnya berada. Wajah Kimber semakin memucat setelah melihat seseorang itu yang ternyata adalah Aaron. Pria itu terlihat khawatir dengan keadaannya.


Aaron merasa hatinya tercabik ketika ia melihat tatapan mata Kimber ke arahnya. Wanita itu tampak terkejut bercampur marah, entahlah. Namun itu yang bisa diartikan olehnya. Ia mendekati wanita itu, ingin sekali untuk meraih ke dalam pelukkannya kembali, namun lagi-lagi penolakkan yang begitu kentara tampak dari ekspresi wanita itu.


"Kenapa kau sangat marah kepadaku, Kim. Aku mencintaimu, dan itu kenyataanya." Aaron berusaha mendekati wanita itu, walau wanita yang didekatinya terus menjauh.


Mata Kimber melotot dan kedua tangannya kini telah memeluk tubuhnya sendiri seolah itu adalah tameng untuknya bertahan.


"Aku tidak tahu kau akan membenciku sedalam ini, tapi aku benar-benar mencintaimu," ucap Aaron.


Ya, Kimber melihatnya, tatapan sendu dari kedua mata pria itu membuatnya rapuh antara ingin memeluknya atau mengabaikannya, namun lagi-lagi ingatannya melayang memutar kilasan pertaruhan itu dan itu cukup membuatnya sadar bahwa tidak ada yang harus dipercayainya lagi dari pria yang kini tengah menatapnya.


Kimber menatap wajah Aaron lekat. Mendekatinya, berdiri di hadapan pria itu. Kepalanya harus menengadah ke atas, kerena tingginya hanya mencapai dagu Aaron. "Lupakan aku. Anggap saja kita tak pernah bertemu selama ini," ucapnya, lalu melangkah melewati Aaron yang hanya mematung setelah mendengar ucapan darinya.


"Aku pantas mendapatkannya," Aaron bergumam. Airmatanya pun keluar dari kedua bola matanya. ia benar-benar menangis, lebih tepatnya menangisi wanita yang dicintainya.


***


Bella mengutuk pesawat yang ditumpanginya tadi malam, karena pesawat itu ia dan Arthur harus menunggu lama. Tepat pukul 2 malam pesawat itu akhirnya siap membawa dirinya maupun Arthur untuk kembali ke kota di mana Lucas berada. Dan kini mereka berdua sedang berada di dalam taxi menuju gudung apartennya.


Bella sudah tidak sabar mengatakan pada pria itu bahwa dirinya dan Lucas bukan saudara kadung yang artinya mereka berdua dapat bersatu dalam satu ikatan yang lebih sakral. Senyuman lebar merekah dari bibir penuhnya.


Arthur lagi-lagi bergidik ngeri melihat tingkah wanita di sampingnya. Ia memang teman wanita itu, namun setelah bertemu lagi dengannya ia merasa tak mengenal lagi sosok itu. Bella seperti bukan Bella yang dirinya kenal.


"Kau tersenyum terus dari tadi, apa yang kau pikirkan?" Arthur bertanya. Ia benar-benar penasaran dengan apa yang ada di dalam kepala wanita itu.


Bella menolehkan kepalanya. Tersenyum lebar seolah yang ditanyakan Arthur adalah ucapan selamat untuknya. "Aku sangat senang, Arty."


Arthur memutar bola matanya jengah, merasa apa yang dikatakan Bella bukanlah sebuah jawaban atas pertanyaannya. Karena semua orang tahu, rasa senang akan membuat seseorang itu tersenyum lebar. tapi yang dibutuhkan olehnya bukan jawaban itu melainkan penyebab rasa senang itu sendiri.


"Aku tahu kau sedang senang, tapi senang karena apa? Kau seperti bukan Bella yang kukenal," Arthur memincingkan kedua matanya.


Lagi-lagi Bella tersenyum, "Aku senang karena aku senang. Memangnya apalagi?" ucapnya.


Arthur melotot tidak percaya wanita di sebelahnya adalah temannya selama ini. Ia tidak menyangka dirinya akan muda bicara menanyakan hal konyol itu kepadanya. Entahlah ... semenjak ia menganal wanita penjual bunga itu hidupnya perlahan berubah.


"Kau itu aneh, sudahlah aku tidak ingin terlalu mempedulikan apa yang tengan kaupikirkan. Tapi sadarlah kita sudah sampai," ucap Arthur yang sudah lebih dulu keluar dari dalam Taxi.


Mata Bella melotot tak percaya, lalu mengeceknya dan benar saja mereka sudah berada di depan gedung apartemannya. Dengan langkah cepat ia membuka pinti taxi tersebut, lalu lari menuju dalam. Mengabaikan Arthur yang tengah memanggil-manggil dirinya, bahkan koper yang ia bawa pun dirinya lupakan. Ia benar-benar sudah tidah tahan untuk memeluk tubuh tegap prianya. Mencium aroma favoritnya yang sudan dirindukannya.


Laju langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya. Seseorang itu tak lain adalah security apartemennya. Pria dengan tubuh kekar mendekat ke arahnya.


"Kau Nona Bella, adik dari Tuan Lucas?" tanyanya.


Bella mengangguk.


"Tuan Lucas berpesan pada saya, jika Nona pulang hari ini dia mengatakan bahwa dia ada di Gereja biasa," ucap pria itu.


Tidak ingin membuang waktu, Bella pun berlari menuju Gereja yang tidak jauh dari apartemennya. Peluh menetes dengan derasnya dari dahinya dan itu tidak menjadi msalah karena ia baru ingat jika hari ini adalah hari pernikahan Lucas dengan wanita itu.


Arthur melihat Bella berlari melewatinya. Mau tak mau ia pun mengikutinya dari belakang. Koper milik Bella diabaikannya tergeletak di sana, karena yang lebih penting adalah pemilik koper itu sendiri. Bella tampak kesetanan melajukan kakinya, ia benar-benar tidak tahu penyebab Bella bertingkah seperti itu.


Bella berlari membelah lautan manusia, padahal manusia-manusia itu tampak tenang duduk di bangkunya masing-masing, namun tatapan mata mereka terhadapnya membuat nyanyinya menciut. Sedangkan di depan sana Lucas tengah berdiri berdampingan bersama Kimber. Mereka tengah mendengarkan Pendeta di depannya mulai membacakan janji pernikahan, dan Bella benar-benar takut. Dengan nekat ia berlari ke arah pria itu menarik pergelangan tangannya untuk menghapanya. Ketika Lucas sudah menatapnya, ia dengan tak tahu malu mencium bibir pria itu di depan semua orang.


"Aku mencintaimu, Luc. Kita bukan saudara kandung," ucap Bella setelah melepaskan ciuman singkat itu.


Mata Lucas membulat sempurna. Sedangkan Kimber terlihat pucat, ia menatap bergantian ke arah Lucas maupun Bella, lalu tersenyum lebar.


"Kalau begitu menikahlah sekarang," ucap Kimber tiba-tiba, ia mengenggam tangan Bella, lalu memberikan sebuket mawar putih yang dipegangnya untuk wanita itu. "Aku senang jika kalian menikah. Untuk hutangku, aku akan membayarnya, namun beri aku waktu, Luc." Kimber menatap wajah Lucas, lalu perlahan mundur dari hadapan meraka berdua. Namun sebelum dirinya benar-benar mundur, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Seseorang tak dikenal menggunakan topeng mengacungkan sebuah pistol ke arah Bella. Tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi selanjutnya, ia mendorong tubuh Bella sampai suara tembakkan itu memekakkan gendang telingannya. Jeritan semua orang tampak sayup-sayup didengarnya, dan kegelapan mulai mengambil alih kesadarannya.