I'M Sorry

I'M Sorry
24



Bab 24 Akhir Cerita


Aaron menatap Lucas. Ia tidak tega melihat pria itu terpuruk karena mendengar kebenaran tentang Ayah mereka.


"Itu benar, Luc, dan aku minta maaf untuk semuanya," Aaron menatap pria itu dengan sedih, lalu ngalihkan tatapannya ke arah wanita paruh baya tadi.


Aaron melangkah lagi, ia tidak takut sedikit pun, jika harus mati ditangannya. Sebab, ia yakin kematiannya adalah akhir dari semuanya. Ia ingin memperbaiki kesalahannya.


Wanita paruh baya itu menatap anak kandungnya tak percaya. Ia tidak menyangka, bahwa anaknya akan berbalik melawannya.


"Kau anak durhaka. Percuma aku mencarimu saat itu, jika tahu kenyataannya akan seperti ini," bibi Mandy mendengus tidak suka. Ia mengeratkan cengkeraman tangannya pada rambut Bella, seolah hanya rambut Bella-lah yang mampu menjadi sebuah pegangan untuknya tetap bertahan.


Aaron menatap wajah Ibunya datar, ia tidak peduli harus mendapat julukkan itu, karena yang paling penting adalah keselamatan kedua adiknya.


"Aku mohon lepaskan mereka, Mom." Aaron semakin mendekati Ibunya.


Bella menangis kesakitan, ketika tarikkan tangan bibi Mandy semakin mengerat. Ia menatap sendu ke arah dua pria itu bergantian, dan ingin mengatakan bahwa ia ingin bebas.


"Aku mohon, Mom, demi aku," Aaron kini sudah berada tepat di hadapan Ibunya. Ia ingin menggapainya, memeluknya. Menguatkan wanita paruh baya itu.


Bibi Mandy masih bergeming. Perlahan genggaman tangannya mulai melemah meninggalkan rambut panjang Bella.


Aaron tersenyum, karena Ibunya mau menuruti apa yang diinginkannya. Lalu mengalihkan tatapannya ke arah Bella.


"Cepat pergi, tenangkan Lucas," gumamnya yang hanya didengar oleh Bella.


Perlahan Bella melepaskan diri. Ia menoleh ke arah wanita paruh baya itu, lalu berlari ke arah pria yang dicintainya.


Bella memeluk tubuh Lucas. Mencoba memberinya kekuatan. Namun, pria itu hanya bergeming tanpa memberinya respon apapun.


Air mata Lucas masih menggenang dari kedua pelupuk matanya, dan Bella tidak menyukainya. Ia menangkup kedua sisi wajah pria itu, lalu mengarahkannya tepat ke wajahnya.


"Ada aku di sisimu, Luc," Bella terus menatap lekat Lucas. Ia mengusap wajah sendu pria itu.


Perlahan Lucas mulai menatap wajah cantik Bella, lalu meraih tubuh ramping itu ke dalam pelukkannya.


"Aku takut jika apa yang diceritakan Bibi Mandy benar adanya," gumam Lucas.


Tubuh Bella menegang, namun setelahnya melemas kembali.


"Aku percaya Dad tidak akan berbuat seperti itu. Karena aku percaya dia hanya mencintai Mom seorang." Bella sebenarnya ragu dengan kata-katanya. Sebab, jika memang Daddy-nya hanya mencintai Mommy-nya, kenapa sewaktu dirinya kecil, ia sempat melihat pertengkarang di antara keduanya.


Lucas mengangguk. Ia yakin dengan yang dikatakan oleh wanita di depannya, karena ia tahu wanita itu tidak akan berbohong.


Lucas berdiri sembari menarik Bella untuk berdiri juga. Setelahnya, ia hanya bisa diam menatap kedua orang di depannya.


Aaron meraih tubuh Ibunya. Ia tidak peduli, jika sewaktu-waktu moncong pistol itu akan mengarah kepadanya. Yang ia mau saat ini menenangkan Ibunya, menginginkan wanita itu kembali seperti dulu.


"Mom, lupakan ini semua dan kembalilah," Aaron mengeratkan pelukkannya. Bahkah, kini air matanya sudah luruh dari kedua matanya.


Wanita paruh baya itu menegang, namun tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya diam.


Di balik keterdiamannya, wanita paruh baya itu sedang dilema antara memilih tetap kepada keputusannya atau mundur seperti yang diminta oleh anaknya. Tetapi seulas senyuman manis mulai tercetak di bibirnya.


"A, aku ingin kau memenuhi permintaanku." Bibi Mandy melepaskan pelukan Aaron. Ia menatap wajah anaknya lekat. Kedua tangannya membingkai wajah Aaron. "Aku ingin bebas setelah aku tiada. Aku ingin menyatu dengan alam. Apakah kamu mau memenuhi permintaanku, A?" Kedua matanya kini basah. Namun, senyuman itu belum sepenuhnya hilang dari bibirnya.


Aaron mematung melihat senyuman itu. Ia teringat dengan masalalunya, ketika wanita itu pertama kali menemuinya dan mengatakan bahwa dirinya adalah Ibu kandungnya.


Aaron mengangguk. Meraih tubuh itu kembali ke dalam pelukkannya. Ia sangat senang. Karena pada akhirnya, Ibunya kembali kepadanya, melupakan ambisinya untuk menyakiti Bella.


"Aku memang membencinya, tapi aku juga menyayanginya. Rasa sayang ini terlalu besar daripada rasa benci yang kurasa. Jadi, maafkan aku telah membuatmu terluka. Aku senang karena kau adalah pria pertama dan terakhirku. Walaupun ragamu tidak kumiliki, namun kau memberiku seseorang di dalam hidupku. Aku akan tetap mencintaimu, walau harus menahan rasa sakit seumur hidupku," gumam Bibi Mandy yang dapat didengar oleh Aaron.


Dengan senyuman lebar Bibi Mandy mengangkat tangan yang tengah menggenggam pistol, lalu mengarahkannya pada dahinya sendiri.


Aaron tidak melihat apa yang dilakukan oleh Ibunya, namun ia melihat wajah-wajah pucat milik Lucas dan Bella. Keduanya hanya terlihat mematung, sampai suara memekakak telinga terdengar dari letusan senjata yang entah milik siapa.


Bella menjerit, begitu pun dengan Lucas. Keduanya berlari ke arah Aaron dan Bibi Mandy.


Aaron saat itu belum sadar dengan yang terjadi, namun ketika dirasakan tubuh ibunya melemah ia melepaskan pelukkannya.


"Apa yang Mom lakukan?" Aaron menatap wajah cantik milik Ibunya. Ia berusaha menyeka lelehan darah yang mengenai wajah itu.


Bibi Mandy tersenyum. Tangannya mencoba menggapai wajah Aaron. "Aku menyayangimu, j-jaga d-dirimu b-baik-baik."


Aaron menangis ketika ia tahu bahwa Ibunya sudah tak bernyawa lagi.


Lucas memeluk Aaron dari belakang. Sedangkan Bella, ia menggenggam telapan pria itu erat.


"Aku yakin Bibi Mandy sudag berbahagia di sana," gumam Bella.


***


Aaron memenuhi keinginan terakhir Ibunya. Dan sekarang di sini dirinya berada, di atas karang. Di bawah sana ombak tampak ganas menggulung dan menghantam karang itu. Dirinya tidak sendiri, karena Bella mau Lucas menemaninya. Mereka bertiga sepakat untuk menaburkan abu milik wanita yang mereka sayangi di tempat itu. Agar raganya bisa menyatu dengan alam.


Setelah acara menabur abu telah usai. Ketiganya pergi menuju mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.


Di sepanjang jalan, Bella selalu menggenggam tangan Lucas. Sedangkan Aaron, ia tampak murung.


Lucas menyadari sikap tak biasa dari pria itu. Lalu ia melepaskan genggaman tangannya dan menyamai langkah Aaron.


Lucas menoleh menatap wajah pria yang sekarang dikenalnya sebagai kakak tirinya itu.


"Ada kabar tentang, Kim?" Aaron menoleh, lalu menggeleng mendengar pertanyaan dari Lucas.


"Apa dia tidak meninggalkan pesan apapun untukmu, A?" tanya Lucas lagi.


Kedua bola mata Aaron membulat, lalu seulas senyuman tersungging dari bibirnya.


Ia mempercepat laju langkahnya. Membuka pintu mobil dengan tergesa. Mengacak-ngacak isi dasboard mobil itu, sampai sepucuk kertas yang terlipat rapih telah berpindah di tangannya.


"Kim menitipkan ini pada Suster itu," ucapnya girang, lalu membuka lipatan kertas tersebut untuk dibacanya.


Namun, senyuman yang tampak manis di bibir Aaron perlahan mulai memudar.


Pemandangan itu tidak luput dari Bella maupun lucas. Keduanya mendekati Aaron.


"Bagaimana?" tanya Bella.


Aaron menggeleng, lalu menyerahkan kertas itu kepada Bella.


Pada awalnya Bella tersenyum, namun seiring dia membaca surat itu. Senyumannya pun hilang tak berbekas dan tergantikan oleh raut kesedihan yang tampak jalas.


Bella menoleh ke arah Lucas, lalu memeluk pria itu erat. "Kim pergi," ucapnya.


Lucas menatap bergantian ke arah keduanya. Lalu membaca langsung surat tersebut.


Dan benar saja yang dikatakan oleh Bella bahwa Kimber telah pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali.


***


Maafkan aku untuk semuanya. Aku harus pergi karena ingin memulai semuanya dari awal. Jangan mencariku, sebab tidak ada yang tahu keberadaanku.


Maafkan aku, A, aku harus mengatakan semuanya lewat secarik kertas ini. Aku tidak membencimu, sungguh. Hanya saja aku takut jika harus berhadapan denganmu, hatiku mulai ragu. Dan aku akan lebih takut kehilangan dirimu.


Ya, ketakutanku memang menggelikan. Namun, dengan ini aku tidak harus berhadapan secara langsung denganmu. Tapi aku janji ini bukan akhir cerita kita.


Ya, aku akan mengakuinya bahwa aku mencintaimu juga. Jauh dari pengakuanmu padaku, mungkin semanjak kau muncul untuk pertama kalinya di malam itu.


Aku mencintaimu, bukan berarti kita akan bersatu. Karena sejatinya cinta itu suatu pengorbanan yang nyata.


Sekali lagi maafkan aku. Aku mencintaimu, Aaron.


Salam sayang


Kimber


-Tamat-