
Sakha membuka pintu ruangan Salsa dengan perlahan.Dilihatnya gadis itu masih tertidur dengan pulas.Mungkin hal itu disebabkan karena efek obat bius yang disuntikkan oleh perawat kepadanya.
Sakha duduk di kursi yang ada di sebelah Salsa.Di usapnya puncak kepala Salsa dengan lembut.Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik sehingga harus kehilangan anaknya yang masih didalam kandungan dan bahkan dia sendiri belum sempat mengetahui keberadaannya.
Salsa membuka matanya saat merasakan sentuhan di kepalanya. Dilihatnya Sakha sudah berada di sampingnya.Begitu melihat suaminya,tangis yang sejak tadi di tahannya pecah seketika.
"Hiks...hiks...maafin aku...!!Aku gak bisa jagain anak kita....aku bahkan gak tau kalau ada dia...!!Hiks...."
Salsa menyesali yang terjadi.Selama ini dia mengabaikan tanda-tanda kehamilan yang dirasakannya karena terlalu fokus dengan ujian sehingga dia tidak menyadari bahwa sudah dua bulan lebih dia tidak mendapatkan tamu bulanannya.Bahkan siang tadi dia malah menari-nari di wahana permainan bersama teman-temannya.Dia merasa bahwa dialah yang menyebabkan gugurnya janin yang ada didalam kandungannya.
Sakha membenamkan kepala Salsa ke dalam pelukannya.Sejujurnya hati Sakha merasa sakit melihat istrinya yang begitu rapuh seperti sekarang ini.
"Sshhh....gak papa...Ini bukan salah kamu...!!"Sakha berusaha menenangkan Salsa meskipun sebenarnya hatinya juga merasa hancur.Dulu memang dia dan Salsa belum menginginkan adanya seorang anak dalam pernikahan mereka.Tapi setelah tahu bahwa anak mereka yang ada di dalam rahim Salsa telah meninggal,mereka sama-sama merasakan kesedihan yang mendalam.Naluri mereka sebagai orang tua tiba-tiba muncul begitu saja.Salsa menumpahkan tangisnya didalam pelukan Sakha hingga akhirnya dia merasa lelah dan kembali tertidur karena kondisinya sendiri saat ini memanglah sangat lemah.
Sakha melangkah keluar dari kamar rumah sakit itu dengan hati-hati agar tidak membangunkan Salsa.Sampai diluar,dilihatnya ketiga teman Salsa dan juga papa masih setia menunggu meskipun wajah mereka tampak kelelahan.Bahkan mereka masih mengenakan seragam sekolah.Pastilah mereka belum kembali kerumah sejak pagi tadi.
"Sakha,,gimana keadaan Salsa...??"Melihat Sakha keluar ,papa langsung bertanya tentang kondisi Salsa.Dia tampak mengkhawatirkan Salsa karena baginya,Salsa sudah seperti anak kandungnya.
"Udah sedikit tenang pa...Dia ternyata gak tau kalau lagi hamil...Maknya dia masih nyalahin dirinya sendiri karena gak memperhatikan tanda-tanda kehamilan yang dia alami.Dan dia menganggap keguguran ini adalah kesalahnnya..."
Papa mengangguk tanda mengerti ucapan Sakha.Ditepuknya pelan pundak putranya yang kini sudah dewasa itu "Sabar ya...mungkin memang belum waktunya kalian punya anak...!!"papa berusaha menghibur Sakha.Dia tahu sebenarnya anaknya itu juga merasa terpukul atas kejadian yang menimpa istrinya.
"Iya pa...!!Makasih ya pa...!!"Sakha memeluk erat papanya untuk menguatkan dirinya.Sejak tadi dia berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh karena jika sampai dia terlihat rapuh,maka akan membuat Salsa semakin bersedih dan merasa bersalah.
Pandangan Sakha tertuju ke arah teman-teman Salsa yang sejak tadi diabaikan olehnya.Dia lalu melepaskan pelukannya dan berjalan menghampiri Genta dan teman-temannya. "Gue mau ngucapin makasih karena kalian udah nolongin Salsa dan juga bersedia jagain Salsa saat gue gak ada...!!"
Dengan tulus Sakha mengucapkan terimakasih kepada teman-teman Salsa.Dia mengesampingkan rasa marahnya terhadap Genta yang tiba-tiba memukulnya saat dia baru datang tadi.Dia mengucapkan terimakasih karena bagaimanapun juga mereka telah menyelamatkan nyawa Salsa.
"Sama-sama,,lo gak perlu ngucapin makasih karena Salsa itu sahabat gue...!!Udah seharusnya gue selalu ada pas dia butuhin...!!"jawab Kiran tulus.Sebenarnya dia sedikit merasa kecewa karena Salsa tidak memberitahunya tentang pernikahannya dengan Sakha.Tapi Kiran mengerti bahwa mungkin Salsa memiliki alasan untuk tidak memberitahukan hal itu kepadanya.Lagipula mereka masih sekolah.Mungkin Salsa tidak ingin kabar tentang pernikahannya tersebar dan membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
"Thanks....!!Salsa beruntung punya sahabat seperti kalian...!!"ucap Sakha lagi.
"Ka...Gue minta maaf sama lo...!!"ucap Genta tiba-tiba membuat semua mata tertuju ke arahnya.Begitupun dengan Sakha.
"Gue minta maaf karena tadi udah mukul lo tanpa tahu kejadian yang sebenarnya...!!Dan maafin gue,,selama ini gue selalu berusaha buat ngerebut Salsa dari lo....!!Gue sadar sekarang Salsa udah jadi milik lo seutuhnya...Gue janji mulai saat ini gue ikhlasin Salsa buat lo...!!Semoga pernikahan kalian langgeng ya...!!"Genta menepuk pundak Sakha dengan pelan.Dia kini merasa tenang karena ternyata Salsa tidaklah menempuh jalan yang salah.
"Hmm...makasih...!!gue juga minta maaf karena selalu cemburu sama lo dan dulu gue juga pernah mukulin lo...!!"Sakha pun tak kalah tulusnya meminta maaf kepada Genta.
Mereka kini tampak berpelukan dan saling memaafkan.Dalam sekejap,mereka mulai akrab dan mulai berbincang-bincang sambil sesekali bercanda.Kiran dan Yogapun ikut merasa lega karena sudah tidak ada lagi permusuhan diantara mereka.
Salsa sudah diizinkan pulang oleh dokter sejak dua hari yang lalu.Selama itu pula dia hanya berdiam diri dirumah karena dokter memintanya untuk beristirahat total.Tubuhnya masih belum pulih setelah mengalami keguguran.Beruntung ada Sakha yang selalu siaga disampingnya sehingga dia tidak terlalu merasa bosan.Papa Erlangga telah kembali ke Bandung setelah Salsa keluar dari rumah sakit karena harus mengurus beberapa masalah di perusahaan.
Salsa sedang rebahan di kamarnya sambil memainkan ponsel miliknya.Dia kini mulai merasa bosan dan merasa ingin menghirup udara segar diluar sana.
"CEKLEK...!!"
Pintu kamar Salsa terbuka.Sakha masuk dengan membawa satu mangkok bubur ayam dan juga segelas susu hangat.Dengan hati-hati dia meletakkan bubur dan susu di atas nakas,lalu membantu Salsa untuk duduk.Dengan telaten,Sakha menyuapkan bubur kepada istri tercintanya hingga habis dan hanya menyisakan mangkok dan sedoknya saja.
"Kamu udah makan...??"tanya Salsa karena laki-laki itu hanya menyuapkan bubur kepadanya saja.
"Udah tadi,sama yang lainnya pas kamu masih tidur...!!"jawabnya sambil membawa mangkok dan gelas kosong ke luar kamar.Tak lama kemudian,Sakha telah kembali ke dalam kamar dan ikut rebahan di samping istrinya.
"Perut kamu masih sakit sayang...??"Tanya sambil mengelus perut Salsa yang masih tampak datar itu.
Salsa menggelengkan kepalanya. "Udah enggak sih...tapi darah yang keluar masih agak banyak ...!!Maafin aku ya sayang....karena aku belum bisa jadi ibu yang baik buat anak kita....!!"Salsa kembali dihantui rasa bersalahnya. Seandainya saja saat itu dia menyadari tanda-tanda kehamilannya,pasti saat ini anak yang dikandungannya masih ada.
"Ssstt....kamu gak boleh ngomong gitu..!!Mungkin kita memang belum dikasih kepercayaan buat mempunyai seorang anak...!!Lagipula,,kita kan masih bisa bikin lagi....!!Suami kamu ini masih cukup kuat loh....!!"ucap Sakha sambil tersenyum jahil kearah Salsa membuat gadis itu langsung mencubit pinggang Sakha hingga mengaduh kesakitan.
"Sakha....."Salsa tiba-tiba merasa malu mendengar candaan Sakha barusan.Seketika wajahnya memerah seperti kepiting rebus membuat Sakha semakin senang menggoda nya.
"Ciee...malu....Kenapa malu-malu sih...??Kan kita udah sering ngelakuin itu..."ucapnya lagi terus menggoda Salsa.
"Sakhaaa....udah ah,,jangan ngomongin itu lagi...!!"Salsa pura-pura cemberut membuat Sakha menjadi semakin gemas.
"CUP....!!"
Dikecupnya bibir istrinya dengan singkat.Niatnya hanya sekedar mengecup saja.Tapi setelah merasakan kelembutan bibir Salsa membuat Sakha ingin mengeksplore segala yang ada didalam bibir istrinya itu.Sakha kembali mendaratkan bibirnya ke bibir Salsa dan melakukan apa yang diinginkannya.Tiba-tiba jiwa kelelakian Sakha tergugah.Tangannya segera bergerak menjelajahi setiap bagian tubuh Salsa.
Saat hasratnya hampir saja memuncak, dia tiba-tiba ingat bahwa saat ini dia masih belum bisa melakukannya dengan Salsa.Seketika dia melepaskan ciumannya.Dilihatnya Salsa malah cekikikan mentertawakannya.Sakha hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Dia merasa frustasi karena kebutuhan biologisnya kali ini tidak dapat terpenuhi dan dia harus menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk bisa merasakannya kembali.
***