I'M Sorry

I'M Sorry
3




Agresif



Keadaan Lucas benar-benar berubah drastis. Setelah kejadian dua hari lalu, tepatnya ketika ia mendengar pengakuan dari Bella, ia seolah menjadi Manusia baru kembali. Bahkan dia kini terus saja tersenyum kepada semua orang entah itu pria atau wanita yang dikenal atau pun tidak. Dan dia terus saja melakukan hal konyol itu. Membuat Kimber yang tidak sengaja berpapasan di jalan harus terpukau akan senyuman yang pria itu tunjukan padanya.


Bahkan Kimber seperti orang linglung dan terus saja mengikuti langkah Lucas sampai ia harus ikut memasuki sebuah gedung yang ia kira adalah sebuah kampus tempat Lucas bekerja menjadi dosen.


Senyuman yang selalu merekah dari bibir Lucas, membuat orang-orang disekitarnya saling berbisik-bisik.


"Kau lihat itu? Sungguh pemandangan yang sangat langka."


"Iya, kau benar sekali. Dia kan dosen paling mengerikan, hehehe ... kukira dia tidak bisa tersenyum."


"Hustt ... apa yang kalian bicarakan? Dia juga manusia, tentu saja bisa tersenyum."


"Entahlah yang pasti ini adalah kejadian paling langka. Mana handphonemu?"


"Hah, untuk apa?"


"Iya untuk mengabadikan moment ini. Kau lihat bukan, betapa tampannya dia."


"Kau ini. Ckckck ... ingat suamimu di rumah."


"Lupakan dia, hehehe ..."


Kimber yang mendengar pembicaraan dari sekumpulan wanita di sana pun tidak bisa menahan tawanya yang sebentar lagi akan pecah. Sampai tangan seseorang membekap mulutnya dan menariknya menuju sebuah ruangan yang ada di belakangnya.


Wanita itu terus saja memberontak untuk bisa melepaskan diri, namun bekapan itu seakan tidak ingin lepas sampai sebuah bunyi pintu terkunci barulah bekapan itu terlepas dari bibirnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" tanya seorang pria yang tadi membekap mulut Kimber.


Mata indah Kimber melotot seolah bola matanya akan keluar lalu menatap sinis pria di hadapannya. "Kau sendiri sedang apa di sini, hah?!" tanya balik Kimber.


"Aku? Tentu saja aku kerja di sini." jawab Aaron tak kalah sinisnya. "Dan kau?" -Aaron sembari menatap gadis di depannya dengan tatapan menyelidik.


Kimber tersenyum sinis dan tidak merasa terganggu akan tatapan dari Aaron. "Apa kau begitu penasarannya, hem?!" ucapnya sembari mengedipkan kedua matanya.


Aaron yang melihat kedipan mata dari gadis di hadapannya membuatnya salah tingkah, dan itu membuat senyuman di bibir gadis itu semakin merekah akan respon dari lawan bicaranya. Tak tanggung-tanggung Kimber pun mendekati pria itu dan berakhir dengan meletakkan kedua tangannya pada pundak Aaron.


"Kau terlihat gugup? Apa ini kali pertamamu diperlakukan seperti ini, hem." ejek gadis itu semakin merapatkan tubuhnya pada Aaron.


Aaron hanya bisa mematung dengan apa yang tengah dilakukan oleh gadis itu. Sesekali dia harus menahan nafas untuk menghilangkan kegugupannya.


"Hei, apa kau pernah dicium oleh seorang gadis, hem? Mau mencobanya?"


Aaron yang mendengar ucapan itu sukses membulatkan ke dua matanya karena gadis itu benar-benar berbahaya sampai-sampai kerja jantungnya pun berpacu cepat seperti dia telah melakukan lari maraton berkilo-kilo meter.


Sedangkan Kimber, dia tersenyum sangat puas akan kekonyolan yang dia buat untuk menggoda Aaron. Sebenarnya dia pun gugup dengan apa yang tengah dia lakukan, tapi setelah dia melihat espresi dari pria lugu itu membuatnya ingin terus menggodanya.


"Jangan macam-macam, Kim. Kau tidak tahu bagaimana aku yang sebenarnya," geram Aaron terlihat sedang menahan sesuatu dalam dirinya.


Kimber tidak mempedulikan ucapan dari pria itu dan terus menekan bagian payudaranya pada tubuh Aaron. Sesekali jari nakal milik Kimber, ia gerak-gerakkan membuat pola lingkaran pada punggung pria itu.


Aaron menggeram tertahan sembari memejamkan ke dua matanya, dia berusaha mengendalikan dirinya agar apa yang tengah gadis itu perbuat tidak mempengaruhinya. Namun lain lagi dengan Kimber, dia semakin tertantang untuk terus menggoda pria itu. Lalu dia pun mulai memberanikan diri mendekatkan bibirnya ke arah pria itu.


Benda kenyal itu mendarat sempurna di atas bibir tipis milik Aaron. Tidak ada pergerakan sama sekali yang ada hanya penyatuan antara dua bibir mereka saja. Tiba-tiba kerja jantung Kimber tidak seperti biasanya, terdengar seperti ada sebuah genderan yang dipukul-pukul dengan sangat kencang membuatnya merasa aneh dan apa yang dia lakukan saat ini adalah kali pertamanya, dan tentu saja dia terjebak oleh keusilannya sendiri.


Sampai salah satu dari mereka memulainya, saling melumat dan melahap seperti ingin menelannya. Bahkan suara khas orang yang sedang berciuman pun mewarnai kegiatan mereka. Dan kini tangan Kimber tidak lagi hanya menari-nari di sekitar punggung pria itu melainkan beralih pada rambut coklatnya dan mengacak-ngacak rambut itu, sesekali dia pun menjambak rambut coklat milik Aaron.


Karena keduanya kehabisan napas, mereka pun melepaskan bibir mereka. Sembari menepelkan kedua kening mereka, Aaron dan Kimber saling menatap dengan deru napas yang masih memburu. Kedua sorot mata mereka sayu, masih menandakan jika kabut gairah itu masih meliputi di antara mereka.


"S-sebaiknya aku pulang," ucap Kimber bersamaan dengan terdengarnya suara ketukan dari arah pintu.


Pintu mendadak terbuka walau Aaron tidak menanggapi si tamunya untuk masuk.


"Aaron ... bisakah ki-ta bica-ra," suara maskulin itu mendadak terbata-bata karena orang yang dia temui ternyata tidak sendiri.


Dan sebagai permintaan maafnya dia langsung kembali dan menutup pintu.


"S-sebaiknya aku pulang dan lupakan tentang tadi," ucap Kimber tidak berani menatap mata lawan bicaranya.


"Hati-hati dan sampai jumpa di rumah." balas Aaron yang membuatnya bingung sendiri akan ucapanya.


***


Setelah Kimber telah pergi dari ruangan Aaron, seseorang yang tadi sempat membuka pintu itu muncul kembali dan kini hanya kepalanya saja yang masuk melalui celah pintu yang terbuka.


"Apa dia sudah pergi?" tanyanya pada Aaron yang sedang menatapnya tak percaya dengan apa yang dia lakukan.


Masih dengan senyuman lebar seseorang itu pun membuka pintu lebih lebar dan melangkah masuk.


"Siapa dia? Sepertinya aku pernah melihatnya," ucapnya setelah dia berhasil duduk di salah satu kursi di sana.


Aaron hanya diam dan lebih tertarik akan perubahan yang ditunjukan oleh orang di hadapannya.


Karena terus menerus diperhatikan seperti itu, membuat seseorang itu pun salah tingkah.


"Apa kau benar-benar Lucas Adnan?" akhirnya Aaron bertanya juga, tentu saja dengan nada tak percayanya.


Seseorang itu yang ternyata Lucas pun hanya kebingungan dengan pertanyaan temannya itu.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,"


"Aku bertanya kau benar-benar Lucas atau bukan karena yang kutahu seorang Lucas tidak sehidup ini."


"Tentu saja apa kau sudah amnesia karena telah melepaskan ciuman pertamamu itu, hem?" ejek Lucas


Aaron yang mendengar fakta itu hanya bisa diam bahkan dia memilih menghindari tatapan menyelidik dari Lucas.


"Katakan siapa dia?"


"D-dia? Dia hanya temanku,"


"Teman? Wah ..., Aaron berteman dengan seorang wanita? Apa aku tidak salah dengar?"


"A-apakah itu salah? Dan kau! Sejak kapan bisa tersenyum selebar itu dan kau pun terlihat agresif?"


"Hei ... jangan alihkan pembicaraan."


"Sudahlah Lucas, kau tidak akan mendapat apa-apa walau pun kau tahu siapa wanita itu. Dan omong-omong aku tahu kenapa kau terlihat hidup."


"Iya, karena Bella."