
Bab 12 Penawaran Lucas
Setelah wanita paruh baya itu pergi, barulah Bella menyesali perkataannya. Ia tampak kasar dan tak punya sopan santun, bahkan dengan tak berperasaan menuduh Bibinya merencanakan sesuatu yang buruk untuknya juga Lucas, ia luruh duduk di lantai tak peduli jika laintai itu kotor karena yang ada dalam pikirannya hanya satu, bagaimana hubungannya dengan Lucas ke depan, toh pria yang dicintainya telah setuju menikahi wanita lain.
Air mata Bella tak dapat dicegah, dan ia menangis terisak. Sampai suara langkah kaki menghentikan tangisannya dan dengan terburu-buru ia menghapus lelehan air mata di pipinya.
"Apa aku boleh masuk?" ucap seorang wanita.
Bella mengenal betul dari suaranya dan wanita itu tak lain adalah Kimber wanita yang akan bersanding dengan prianya.
Dengan berat hati ia pun mempersilahkan wanita itu memasuki kamarnya. Bella berdiri dari duduknya lalu menatap Kimber dengan tatapan datar.
"Aku hanya ingin mengajak kau untuk makan siang, karena di bawah orang-orang telah menunggumu." Kimber terlihat gugup berbicara dengan Bella.
Bella tersenyum, namun dari dalam hatinya yang paling dalam wanita itu mengutuk Kimber, "Aku tidak lapar, jika kalian lapar lebih baik makan saja sekarang, jangan menungguku," ucapnnya.
Kimber bukan wanita polos dan juga lugu karena ia tahu Bella sedang cemburu kepadanya dan ia tak enak karena hal itu. Andai saja ia dan Aaron tidak memiliki kesepakatan konyol itu mungkin ia akan mundur ketika Bibi Mandy menyuruh Lucas menikahinya, kerena menurutnya pernikahan itu bukanlah hal yang bisa dipermainkan, namun harus bagaimana lagi, jika ia menolak maka dampaknya akan dirasakan oleh keluarganya.
"Apakah kau marah kepadaku, Bell? Maksudku, tentang pernikahan itu," Kimber mencoba mencari apa yang dipikirkan oleh wanita di hadapannya.
"Jika iya, apa kau akan senang," Bella menjawab dengan nada sinis.
"Tapi kenapa? Bukan' kan itu berita yang menyenangkan? Kakakmu akan menikah," panjing Kimber.
Dan setelah Kimber mengatakan itu ekspresi wajah Bella benar-benar berubah. Ia terlihat marah.
"Maka kuucapkan selamat untuk rencana pernikahanmu itu. Semoga pria yang kau nikahi benar-benar mencintaimu. Sebaiknya kau keluar, aku mengantuk," Bella benar-benar marah dan ia pun mengusir Kimber dari kamarnya.
Kimber tidak bisa berkata-kata lagi, dengan pasrah ia pun beranjak dari dalam kamar Bella dengan perasaan yang campur aduk.
***
"Apa kau sudah bicara dengan Bella?" suara seseorang mengagetkannya.
Kimber berbalik ke arah orang itu, lalu ia menunduk, "A, bolehkah aku menolak rencana pernikahan itu dan mengaku jika aku kalah darimu sebagai gantinya?"
Hening. Keduaanya larut dengan pikirannya masing-masing.
"Apakah aku harus merebut kebahagian orang lain untuk bisa membahagiakan keluargaku?" ucapan Kimber sangat pelan, namun masih bisa didengar oleh pria itu.
Aaron menatap wajah wanita itu lekat, sebenarnya ia ingin memeluk tubuh wanita itu kembali. Mendekapnya erat, membuatnya merasa amam, namun ia tidak bisa. Ia terlalu takut jika harus terpengaruh lebih dalam oleh perasaannya itu.
"Aku ingin lari, entahlah ... rasanya ini membuatku sesak. Aku tidak tahu kedepannya akan seperti apa, jika benar aku telah menikah dengan Lucas, apakah pria itu akan mencintaiku?" wanita itu benar-benar tertekan.
Aaron tidak bisa berbuat apa-apa, yang ia bisa lakukan hanya mendengarkan keluh-kesah wanita itu. Sampai ia melihat buliran air mata lolos dari kedua bola mata wanita itu, membuatnya mengeraskan hati untuk tidak terpengaruh oleh pemandangan itu.
"Sebaiknya kita kembali ke meja makan, atau nanti mereka akan curiga kepeda kita," Aaron melangkah terlebih dahulu meninggalkan Kimber. Ia sebenarnya ingin menghibur wanita itu tapi bagaimana lagi, toh ide untuk memisahkah kedua kakak-beradik itu adalah idenya sendiri tidak mungkin kan jika ia harus mundur karena perasaan wanita di depannya, memangnya Kimber siapa? Wanita itu hanya orang asing di dalam hidupnya.
Keduanya berjalan beriringan. Kimber di belakang mengekori tubuh tinggi Aaron. Air matanya sudah ia hapus dan ia harus berakting kembali seolah dirinya adalah wanita yang paling bahagia karena akan menikah dengan Lucas.
Sesampainya keduanya di meja makan, Lucas menatap Kimber dengan tatapan datar lalu mengalihkan pandangannya ke arah Aaron.
"Kenapa kau lama sekali, A?" tanyanya setelah Aaron kembali duduk di hadapanya.
"Perutku mulas, sepertinya tadi pagi aku salah makan," Aaron melirik Lucas sembari menyunggingkan sebuah senyuman khasnya.
"Kalau begitu segera cari pasangan, aku tidak mau mendengar kabar duka dalam beberapa hari kedepan." Lucas mendengus lalu tersenyum.
"Tentu, dan itu tidak akan lama lagi," timpal Aaron.
Sedangkan Kimber maupun Bibi Mandy hanya diam. Sepertinya mereka lebih ingin berdialog dengan dirinya sendiri di dalam kepala mereka, daripada bergabung dengan obrolan para pria di dekatnya.
"Kim bolehkah setelah makan kita bicara?" Lucas bertanya membuat wanita itu tersentak kaget dan melirik ke arahnya.
"Bicara apa? Kenapa tidak di sini saja?" Kimber tidak ingin jika harus berduaan dengan pria itu, apalagi harus membicarakan rencana pernikahan itu. Mendadak nafsu makannya menghilang dan perutnya terasa melilit karena gugup.
"Apa kau akhirnya menyetujui untuk menikahi Kimber, Luc?" Aaron benar-benar penasaran.
Lucas mengerutkan keningnya lalu tersenyum misterius ke arah temannya.
Aaron melihat senyuman lebar dari Lucas membuat hatinya mendadak kalut dan ia benar-benar tidak suka jika pria itu mencoba mempermaikan Kimber.
"Sebenarnya Kimber siapa? Bukannya dia hanya orang lain untukmu, tapi kenapa kau tidak senang jika Lucas akan mempermainkan wanita itu?" Aaron mendengus pelan karena tiba-tiba teringat dengan apa yang dipikirkannya beberapa menit lalu.
***
Sesudah makan siang Kimber digiring menuju kamar Lucas. Sedangkan Bibi Mandy dan Aaron, mereka berdua masih berada di dapur.
Kamar pria itu terlihat rapi, dan Kimber merasa heran ada pria seperti Lucas di bumi ini.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Kimber memilih duduk di ranjang sembari menatap wajah pria itu.
Lucas menaikkan kedua alis matanya ke atas, lalu ikut duduk di samping Kimber, "Aku akan tetap menikah denganmu, dan itu karena permintaan dari Bibiku, tapi jangan harap aku akan melibatkan perasaan di dalam pernikahan kita nanti."
Mata kimber membulat sempurna dan ia benar-benar terluka atas perkataan pria itu.
"Maksudmu? Aku tidak mengerti," ucap lirih Kimber.
Lucas mendengus tidak suka jika perkatannya harus diulang kembali, "Aku akan tetap menikah denganmu, tapi tanpa cinta. Setelah kau melahirkan bayi kita akan bercerai."
Kimber seperti disambar petir saat itu, dan perasaannya hancur sehancur-hancurnya. Air matanya tak dapat dibendung lagi seketika lelehan itu menggenangi pelupuk matanya.
"K-kenapa kau tidak menolak saja dan menikahi Bella?" Kimber terisak.
"Karena itu tidak mungkin," jawaban Lucas begitu datar dan ia enggan untuk memandang wajah wajah wanita di sampingnya.
"Kenapa itu tidak mungkin, bukannya kalian saling mencintai? Kata orang cinta dapat mengalahkan apapun halangan yang menghadang mereka," ucap Kimber.
"Sayangnya itu hanya dongan saja, toh pada akhirnya aku akan menikahimu, bukan Bella." Lucas menoleh untuk menatap wajah Kimber.
"Kalau itu yang ingin kau bicarakan sepertinya aku harus mempertimbangkan rencana pernikahan konyol ini." Kimber sudah akan berdiri, namun pergelangan tangannya ditahan oleh pria itu.
"Kau tidak ada pilihan lain, Kim, karena aku sudah meminta izin dari keluargamu dan mereka menyetujuinya. Kuperkirakan nanti malam atau besok seluruh keluargamu sudah sampai di sini dan dua hari lagi kita akan menikah." Lucas menyentak pergelangan tangan Kimber sehingga wanita itu kembali duduk di sampingnya.
Lagi-lagi kedua bola mata kimber membulat sempura mendengar penuturan dari pria di sampingnya. Benar apa yang dikatakan Aaron, Lucas memiliki hati yang dingin dan juga arogan. Air matanya tak dapat ia kendalikan, apalagi dengan isakan yang keluar dari bibi tipisnya, ia benar-benar lemah dsn ingin melarikan diri. Andai saja dulu ketika Aaron berkunjung ke rumahnya dan menawarinya rencana tak masuk akal itu, ia pasti akan menolaknya jika tahu pada akhirnya akan seperti ini.
"Kenapa harus aku," gumamnya lebih pada dirinya sendiri.
"Karena kau dari awal telah menjadi penggangu," Lucas benar-benar tidak punya hati.
Perasaan yang dirasakan oleh Kimber tidak dapat dikatakan dengan kata-kata, toh siapa yang akan mendengarnya.
Sebenarnya Lucas tidak mau menyakiti hati wanita itu, namun harus bagaimana lagi. Jika ia terlihat lembut kepadanya, karena ia tidak mau member harapan palsu kepada wanita itu. Toh dengan ini, Kimber akan sadar bagaimana perasaannya setelah mereka nanti menikah.
"Jika aku menolak bagaimana?" ucap Kimber sembari menunduk.
"Kupastikan itu tidak akan terjadi, karena aku telah melunasi semua hutang-hutang keluargamu dan aku tidak yakin kau dapat melunasinya dalam waktu dua hari," Lucas tertawa culas, dan ia benar-benar seperti seseorang yang tengah memanfaatkan wanita itu karena ketidakberdayaannya.
"Aku kira kau orang baik ternyata aku salah, kau sama saja dengan seorang renternir." Ucapan kimber membuat tawa Lucas semakin keras, dan ia benar-benar tidak suka.
"Kau itu lucu. Bagaimana bisa kau samakan aku dengan renternir, jika bayarannya hanya bersedia menikah denganku dan memberiku anak, itu tidak akan sesulit yang kau bayangkan."
Kimber meringis mendengan perkataan Lucas, dan dia sedikit malu karena telah menyamakannya dengan seorang renternir.
"Aku tetap tidak bisa," ucap Kimber.
"Kalau begitu bayar hutang keluargamu kepadaku," Lucas melirik Kimber sembari menyunggingkan seringainya.