
Bab 16 Perasaan Aaron
Lucas begitu larut dalam kesedihan. Ia bahkan tak mempedulikan berapa gelas alcohol yang telah dirinya tenggak. Karena yang ada di dalam kepalanya hanya ada satu, kepergian Bella membuatnya frutasi.
Matanya berkeliaran ke penjuru tempat hiburan itu. Suara dentuman musik yang keras membuatnya ingin turun ke lantai dansa dan bergoyang, melupakan apa yang kini tengah dirasakannya.
Ia mulai melangkahkan kakinya dengan sempoyongan, tidak mempedulikan bahwa dirinya sudang sering kali menabrak orang-orang ada di sekitarnya, sampai seseorang mencekal pergelangan tangannya membuatnya marah dan membalikkan tubuhnya ke arah orang tersebut.
Di sana sudah berdiri seorang wanita. Wanita itu mengenakan pakaian yang tak sesuai dengan tempat hiburan itu, terlalu tertutup. Rambut coklat gelapnya diikat asal-asalan membuat anak rambut di sisi kiri-kananya menjuntai dengan nakalnya. Wajahnya tampak khawatir melihat pria yang dikenalnya bertingkah seperti itu.
"Luc, ayo kita pulang," ucap wanita itu berusaha menyeret pergelangan tangan Lucas.
"Siapa kau ... hehehe ... apa aku mengenalmu," Lucas cekikikan. Ia mendekati wajah wanita di hadapannya lalu tersenyum. "Oh ... kau wanita penggangu itu rupanya, sedang apa kau di sini?"
Kimber meringis mendengar perkataan itu, lalu mulai menyeret kembali pergelangan tangan pria itu. Namun, berapa kali ia berusaha, toh hasilnya sia-sia. Malah dirinya yang kini di seret oleh pria itu menuju sudut gelap di tempat itu.
Lucas dengan kasar mendorong tubuh Kimber ke dinding, lalu mencium bibir itu dengan kasar. Sangking kasarnya ia dapat merasakan bahwa bibirnya telah berdarah.
Kimber berusaha mendorong dada liat milik Lucas untuk menjauh dari tubuhnya, namun apa yang dilakukannya tampak sia-sia, karena Lucas tetap menampel erat pada dirinya.
"Apa kau sudah gila, hah!?" jerit Kimber berusaha mengalahkan musik yang berdentum keras di belakangnya.
Lucas menyeringai, lalu mulai menggapai tubuh wanita itu lagi, "Aku hanya ingin ini," ucapnya, lalu mengecup bibir tipis itu lagi.
"Kau gila!" Kimber benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bahkan tubuhnya kini sudah ada dalam pelukkan pria itu lagi. Melecehkannya tanpa bisa berbuat apa-apa.
Aaron melihat perlakuan Lucas terhadap Kimber, dengan langkah lebar ia menuju ke tempat itu, menarik tubuh Lucas agar tidak menempel pada tubuh wanita itu.
"Apa yang kau lakukan? Bukannya mengajaknya pulang, kau malah mencari kesempatan untuk menggodanya!" Aaron berteriak ke arah Kimber. Entah apa yang dirasakannya, namun ia tidak suka jika pria yang sekarang tengah ada di dekapannya menyentuh Kimber.
Kimber hanya diam dibentak seperti itu. Ia lebih memilih pergi meninggalkan tempat hiburan itu.
***
Bella terlihat gelisah karena penerbangannya diundur dua jam lagi, sedangkan sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan ia harus menunggu bersama Arthur di kantin bandara.
Sesekali ia meringis mengingat tindakkannya. Ia terlihat konyol karena dengan gampangnya menyerah kepada takdir, namun di balik itu semua dirinya pun senang karena mengetahui fakta bahwa dirinya dan Lucas bukan saudara kandung yang artinya mereka berdua dapat bersatu.
Bella tersenyum samar di sela lamunannya, membuat Arthur yang berada di depannya mau tak mau merasa heran. Pria itu melambaikan telapak tangannya, namun tidak ditanggapi olehnya.
"Aku menjadi takut berdekatan denganmu, Bell." Arthur berdiri meninggalkan wanita itu untuk memesan kopi hitam untuknya.
***
Aaron memapah Lucas masuk ke dalam kamarnya membaringkan pria itu di tempat tidurnya, sedangkan Kimber, ia membuat kopi hitam untuk Lucas karena setahunya kafein yang terdapat di dalam kopi bisa menetralisir alcohol di tubuh pria itu sehingga rasa pusing dan mualnya akan sedikit berkurang.
Ketika wanita itu baru sampai di ambang pintu, Kimber melihat Aaron duduk di tepi ranjang tengah menatap Lucas dengan pandangan yang sulit diartikan. Tatapan matanya tampak sendu, namun Aaron hanya diam tidak melakukan apa-apa.
Kimber terlalu larut dengan apa yang dilihatnya, sampai ia tidak sadar jika Aaron telah berbalik untuk menatapnya. Pria itu berdiri lalu melangkah ke arahnya.
Aaron sengaja mensejajarkan wajahnya dengan wanita yang telah mengusik hatinya. Ia ingin melihat dengan jelas wajah polos wanita itu, menyimpannya di dalam otaknya karena sebentar lagi dirinya tidak bisa menatap wajah itu dengan leluasa seperti saat ini. Telapak tangannya dengan lancang mengelus permukaan kulit halus wanita itu, lalu menyatukkan dahinya dengan dahi Kimber.
"Aku rasa aku telah jatuh cinta padamu, Kim." Aaron memejamkan kedua matanya.
Kimber berusaha mencerna perkataan Aaron kepadanya, namun otaknya seolah tak mampu mengartikannya.
"Ya, aku mencintaimu," ucap Aaron. Pria itu mengecup singkat bibir tipis milik Kimber.
Mata Kimber membulat sempurna, dan ia melangkah mundur memberi jarak diantara mereka berdua. Air matanya tak mampu ia bendung lagi, karena dengan derasnya air mata itu mengucur dari kedua mata indahnya.
Entah apa yang harus dirinya lakukan, yang jelas ia merindukan kehidupan yang dulu, ketika ia belum mengenal Aaron mau pun orang-orang disekitarnya.
"Belum cukup kau mempermaikan hidupku, hah?!" Kimber perlahan mundur semakin memberi jarak di antaranya mau pun Aaron.
"Maafkan aku, jika aku telah mempermainkanmu. Tapi aku benar-benar jatuh cinta kepadamu, Kim, aku mencintaimu." Aaron berusaha mendekati wanita itu, namun terhenti ketika melihat tangisan pilunya.
"Aku tidak percaya dengan omong kosongmu. Kau sengaja membuatku menderita. Apa salahku kepadamu, A?" Kimber terisak lalu luruh duduk di lantai. Kedua tangannya berusaha memeluk dirinya sendiri.
Aaron tidak bisa berkata-kata lagi, ia merasa sakit melihat wanita yang dirinya cintai kini tengah menangis kerenanya dan ia benar-benar marah terhadap dirinya sendiri, karena terlalu terlambat menyadari perasaannya sendiri.
Sayup-sayup Lucas mendengar keributan di dalam kamarnya, walau pun kepalanya berat ia memaksakan untuk membuka kedua matanya. Di sana ia melihat wanita yang sebentar lagi akan menikah dengannya tengah menangis dengan posisi yang membuat semua orang yang melihatnya akan iba terhadapnya. Sedangkan Aaron hanya diam mematung seakan hanya bisa menonton wanita itu.
"Aku mohon percaya padaku, Kim, aku benar-benar mencintaimu." Aaron berusaha menggapai tubuh rapun Kimber, namun dihentikan dengan sebelah tangan wanita itu.
Lucas mendengarnaya dan ia tidak menyangka jika kedua orang itu ternyata memiliki hubungan yang tidak diketahui olehnya, bahkan ia baru sadar bahwa dirinya tidak mengetahui tempat tinggal wanita itu sampai sekarang.
"Jangan mendekat, A, jangan! Aku tidak mau mendengar kebohonan darimu lagi, cukup ini yang terakhir." Kimber berdiri lalu meninggalkan kamar Lucas. Meninggalkan Aaron sendiri di tempat itu.
***
Sampai fajar menising di ufuk barat, Lucas tidak bisa memejamkan kedua matanya. Ia masih mengingat kejadian semalam. Tentang pengakuan Aaron kepada Kimber, dan itu adalah kata-kata yang Luca ketahui dari dalam hati. Karena ia pun pernah mengalaminya, mengatakan perasaan pada wanita yang dicintainya.
Kepalanya mendadak sakit dan ia benar-benar mengutuk kebodohannya yang melarikan diri pada minuman beralkohol. Sejenak ia menginat kembali nasib wanita yang dicintainya. Sampai ketukkan dari arah pintu menyentaknya dan menatap seseorang yang kini telah berdiri di ambang pintu.
Di sana Bibi Mandy terlihat sudah bersiap dengan gaung pastil cantiknya, membuat kecantikan wanita paruh baya itu terlihat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Lucas tersenyum dan menyuruh wanita itu masuk.
"Bibi kau terlihat sangat cantik dengan gaun itu," ucap Lucas tulus.
Bibi Mandy tersenyum mendengar pujian dari keponakkannya lalu duduk di sisi ranjang Lucas.
"Aku tidak apa-apanya dengan Mommy-mu, Luc." Bibi Mandy tersenyum lebar sembari menyerahkan pakaian yang sekarang di tangannya ke arah Lucas.
"Apa ini?" tanya Lucas.
Bibi Mandy tersenyum, "Pakaian yang dikenakan kakakku ketika menikahi Mommy mu,"