I'M Sorry

I'M Sorry
4



. Ciuman Kekasih?


Hari ini adalah hari yang panjang bagi Lucas, setelah seharian berkutat di kampus untuk mengajar, akhirnya dia bisa melangkahkan kakinya di apartementnya sendiri. Namun, apa yang diharapkannya jauh dari kenyataan, karena tempat itu masih sepi dan tidak ada tanda-tanda bahwa Bella sudah pulang.


Dengan berat hati Lucas pun melangkahkan kakinya menuju dapar untuk mencari sesuatu yang bisa menghilangkan rasa hausnya.


Dibukanya lemari pendingin dan ternyata isinya hanya ada beberapa kaleng minuman soda. Mau tidak mau dia pun mengambil salah satu dari kaleng soda itu.


"Kuharap ini bisa menghilangkan rasa hausku." gumamnya lebih pada dirinya sendiri lalu menenggak minuman itu sampai tandas.


Rasa dingin mengalir membasahi tenggorokkannya dan itu sedikit membantunya menghilangkan rasa hausnya. Disenderkannya punggungnya pada pintu lemari pendingin itu. Tatapan matanya seakan kosong dan dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Ya, ini terlalu sepi menurutnya dan dia semakin sadar jika dia sangat membutuhkan Bella di sampingnya, karena hanya Bella-lah hidupnya benar-benar akan sempurna.


Ekor matanya tidak sengaja menangkap sebuah kertas mungil berwarna merah muda di atas meja makan. Tanpa berpikir dua kali, Lucas pun melangkahkan kakinya menuju benda itu. Dibacanya sebaris tulisan yang sudah sangat dia kenali. Ya, itu adalah tulisan tangan Bella yang memberitahukan bahwa dia sekarang sedang pergi berbelanja di swalayan dekat dengan apartement mereka. Dengan seulas senyuman yang terlukis di bibir tipisnya, dia pun menaruh kertas itu kembali, lantas merogoh saku celananya dan mengeluarkan handphonenya.


'Tunggu aku di sana, aku akan menyusul.'


Tulisnya lalu mengirimkannya pada Bella.


***


Lucas sudah ada di dalam swalayan, tapi dia belum menemukan orang yang dicarinya. Lantas dia mengeluarkan handphonenya dan mengetik sederet angka yang dia ingat di luar kepalanya. Tidak beberapa lama kemudian terdengarlah suara lembut yang dia rindukan.


"Kau ada di mana?" tanya Lucas tanpa basa-basi.


"Oke! Jangan kemana-mana, aku akan segera ke sana."


Setelah itu, Lucas pun pergi menuju counter buah-buahan. Ketika dia baru saja menginjakkan kakinya memasuki counter itu, ke dua mata tajamnya langsung menemukan gadis yang dicarinya. Ya, gadis itu adalah Bella. Bella terlihat sedang memilih-milih buah jeruk. Tanpa menunggu lama Lucas pun menghampiri gadis itu dengan terus saja menyunggingkan senyuman manisnya.


"Bella!" serunya. Ketika dia sudah ada di belakang gadis itu.


Sedangkan Bella, dia langsung membalikkan tubuhnya karena tahu siapa orang yang telah memanggilnya itu.


"Luc," desahnya tanpa sadar lalu tersenyum lebar.


Reaksi yang ditunjukkan oleh Lucas pun tak kalah sama. Lalu dia melangkah lebih dekat dengan gadis yang notabeneny adalah adiknya itu.


"Kau sudah selesai? Ayo kita pulang?"


"Belum, Luc. Aku masih memilih ini," ucapnya sembari melirik buah jeruk yang ada di tangannya.


"Oh, kalau begitu cepatlah. Aku akan membantumu memilihkannya."


***


"Sekitar pukul satu, mungkin." jawab Bella ragu-ragu.


"Mungkin?" kening Lucas mengkerut curiga.


Bella melihat perubahan ekspresi dari wajah Lucas langsung salah tingkah lalu mendekati pria itu.


"Aku tidak tahu benar tadi aku pulang jam berapa. Ayolah ... kau tidak mencurigaiku kan?" ucap Bella sembari menyentuh pipi kiri Lucas dengan telapak tangan kanannya.


Lucas yang diperlakukan seperti itu pun luluh juga dan keningnya yang tadinya mengkerut pelan-pelan menghilang digantikan senyuman manis yang merekah dari bibir tipisnya.


"Kau tidak mencurigaiku kan, Kakak?" tanya Bella sekali lagi sembari menggoda Lucas dengan sebutan Kakak.


Pria itu tersenyum lalu menyentuh tangan Bella yang ada di pipinya.


"Untuk apa aku mencurigaimu. Jika itu yang kau katakan aku akan selalu percaya."


Bella tersenyum lalu mendekati wajah pria di depannya. Dengan penuh perasaan dia menempelkan bibir mungilnya di atas bibir tipis milik pria itu. Hanya sebuah penyatuan saja lalu melepaskan bibirnya. Mata Lucas membulat sempurna masih tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh Bella.


Bella melirik pada Lucas melihat espresi apa yang akan ditunjukkan oleh pria itu atas ciuman tiba-tibanya, namun ternyata dia hanya melihat wajah datar yang biasa pria itu tampilkan.


Lalu pelan-pelan Bella menarik telapak tangan miliknya dari pipi Lucas, tapi sebelum telapak tangan itu benar-benar terlepas, telapak tangan yang lebih besar milik Lucas sudah menggenggam kembali telapak tangan mungil miliknya. Belum cukup di situ saja, pria itu kini telah menyatukan bibirnya kembali dengan bibir Bella.


Lumatan-lumatan lembut mengawali ciuman mereka sampai erangan tertahan keluar dari mulut mereka masing-masing. Tanpa disadari oleh ke duanya, dari arah pintu seseorang tengah memperhatikan kegiatan ke duanya tentu saja dengan wajah shocknya. Orang itu melotot tidak percaya dengan apa yang dilihatnya karena yang dia tahu ke dua orang itu tak lain adalah sepasang adik-kakak tapi apa yang dia lihat sungguh membuatnya jijik dan tidak percaya, sampai sesuatu yang dia bawa terjatuh begitu saja dari genggaman tangannya.


Suara yang ditimbulkan oleh benda yang terjatuh itu menjadi penyebab berhentinya kegiatan sepasang manusia itu. Sampai ke tiganya saling bertatapan bergantian dengan mimik shock yang kentara dari masing-masing orang itu.


"Maaf, tadi pintunya terbuka makanya aku langsung masuk," ucap orang ketiga salah tingkah lalu mulai membungkuk untuk memunguti benda yang tadi terjatuh, tapi sayang benda itu sudah hancur tak berbentuk dan mengotori lantai.


"Biar aku bantu." ucap Bella yang sudah berada di depan orang ketiga itu sembari membantu memunguti benda kenyal dari lantai.


"Sudahlah biar aku saja, ini menjijikan sebaiknya kau, emm ... berdiri saja."


Bella tidak tahu maksud dari ucapan orang yang ada di depannya itu, namun firasatnya mengatakan bahwa orang itu kini tidak ingin dekat-dekat dengannya bahkan untuk menatap wajahnya pun dia tidak mau.


Dengan perlahan Bella pun berdiri dan mulai menjauhi orang itu.


Lucas, dia hanya diam seperti patung sembari memperhatikan ke dua orang yang ada di depannya dalam diam. Mungkin dia terlalu shock dengan kejadian yang baru dia alami. Tertangkap basah sedang berciuman penuh nafsu dengan adik kandungnya sendiri dan sialnya kegiatannya disaksikan oleh gadis yang beberapa hari lalu dikenalnya. Ya, orang ketiga itu adalah Kimber, gadis yang dikenalnya beberapa lalu dengan cara yang tak terduga juga.


"Sebaiknya aku pulang, mungkin lain kali aku akan buatkan puding lagi. Maaf sekali lagi atas ketidak sopananku ini dan juga atas kekacauan yang telah aku perbuat tentunya." ucap Kimber tanpa mau memandang salah satu wajah dua orang di depannya, lalu dia beranjak meninggalkan tempat itu.