I'M Sorry

I'M Sorry
10



Bab 10 Bibi Mandy


Ciuman itu pelan, namun membuat keduanya sesak napas. Suara erangan mulai terdengar dari keduanya. Lumatan-lumatan yang semula pelan kini semakin liar. Lidah Lucas menyelinap ke dalam ronga mulut wanitanya, mengabsen semua yang ada di dalamnya termasuk susunan gigi Bella. Mengecap semua rasa yang dia bisa rasakan. Keduanya terengah-engah lalu melepaskan penyatuan bibir mereka hanya untuk mengambil oksigen, lalu menyatukan kembali bibir mereka.


Dari balik pintu, Kimber mematung menyaksikan adegan kakak-beradik itu dan efeknya masih sama seperti kemarin—jijik melihatnya, dia lalu mundur beberapa langkah sampai punggungnya terbentur sesuatu di belakangnya. Dia menoleh dan di sana telah berdiri pria itu—Aaron. Pria yang beberapa terakhir ini memporak-porandakan hidupnya. Mengambil sesuatu yang seharusnya dia pertahankan untuk seseorang kelak.


"Kenapa kau mundur? Bukannya kita sudah sepakat, Kim?" ucap Aaron sinis kepada Kimber. Dia terang-terangan tidak suka melihat wanita itu menjadi lemah.


Wanita itu mendengus tak suka, lalu membalikkan tubuhnya untuk pergi dari hadapan pria itu.


"Mau ke mana?" ucap Aaron lagi. Dan pria itu benar-benar mengingkari janjinya, dia mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan sangat erat sampai dia bisa mendengar suara rintihan kesakitan dari mulut Kimber.


"Lepaskan aku dan kau tak berhak menyentuhku lagi setelah kesepakan kita dibuat, itu pun jika kau ingat!" Kimber merusaha meloloskan tangannya, namun tidak berhasil.


Aaron tidak akan melepaskan cengkramannya sampai wanita itu benar-benar mau mendengarkannya. "Aku hanya ingin mengatakan satu hal kepadamu dan mungkin ini akan membantumu, Kim," ucapnya lalu melihat reaksi wanita itu. "Sebentar lagi seseorang akan datang ke sini, dan berpura-puralah jika kau sedang dekat dengan Lucas."


Kimber menatap tak percaya pada pria itu. "S-siap yang kau maksud?"


"Tak lama lagi, Kim. Jadi, bersabarlah." Aaron tersenyum manis ke arah wanita itu lalu melepaskan cekalan tangannya.


***


Lucas masih saja mencumbu tubuh adiknya sampai seseorang mengganggu aktifitasnya. Dia menolkan kepalanya ke arah seseorang itu lalu mendengus tidak suka. Aaron tersenyum simpul melihat sahabatnya melakukan sesuatu yang tak wajar untuk sebagian orang lalu melangkah menjauh dari ambang pintu. Tak beberapa lama Lucas pun keluar menemui pria itu.


"Ada apa?" tanya Lucas setelah dia sudah berada di hadapan Aaron.


Senyuman Aaron semakin lebar. "Bibi Mandy ada di ruang tamu," ucapnya.


Kening Lucas mengkerut lalu berjalan menuju ruang tamu. Sesampainya di sana Lucas bisa melihat wanita paruh baya itu tengah terlibat pembicaran dengan Kimber. Mereka tampat sangat akrab dan itu jarang terjadi, karena sifat Bibi Mandy tidak mudah akrab dengan orang yang baru dia temui.


Kedua wanita itu menyadari kehadirannya lalu menatapnya. Senyuman keibuan tampak mengembang dari bibir mungil wanita paruh baya itu, lalu berdiri menghampiri Lucas. Pelikkan hangat dia dapatkan dari wanita paruh baya itu. Ya, dia memang merindukan Bibinya itu terlebih mereka tidak saling bertemu semenjak Lucas dan Bella pindah ke kota ini sepuluh tahun yang lalu.


"Aku merindukanmu, My Boy," ucap Bibi Mandy sembari memeluk tubuh Lucas.


"Aku juga, Bibi." Lucas benar-benar sangat merindukan bibinya itu sampai dia tak sadar air matanya kini mulai luruh dari kedua matanya.


"Hei! Kau masih menangis seperti anak kecil ... lihatlah apa yang kubawakan untukmu?" tanya Bibi Mandy setelah dia melepaskan pelukannya, lalu berjalan menuju tas besar yang ada di atas kursi, lalu membukanya dan mengeluarkan sebuah toples kaca yang berisikan biscuit berbentuk orang.


Air mata Lucas masih saja mengalir, dia bahkan melupakan kehadiran dua orang lagi selain Bibinya yang berada di sana. "Biskuit jahe? Oh ... Bibi aku merindukan ini," pria itu lalu mengambil toples berisi biscuit kesukaannya.


"Ngomong-ngomong mana, Bella?" tanya Bibi Mandy.


"Bella masih tidur, Bibi," ucap Lucas memberi alasan untuk wanita itu.


Kening bibinya mengkerut lalu tersenyum sembari berjalan ke arah Kimber. "Kekasihmu sangat cantik dan sopan, aku menyukainya. Kapan kalian menikah?"


Lucas seperti dihantam oleh batu yang sangat besar setelah mendengar ucapan tak terduga dari Bibinya, lalu dia mengalihkan tatapan matanya pada wanita di samping Bibinya.


"Apa yang Bibi katakana? Aku dengan dia tidak memiliki hubungan sama sekali," ucap Lucas dalam satu tarikkan napas.


Bibi Mandy terlihat kecewa lalu termenung. Lucas melihat perubahan yang ditunjukkan oleh Bibinya mau tak mau menghampiri wanita paruh baya itu dan berlutut di hadapannya.


"Bibi kira kau akan segera memberiku cucu, Luc, kau tahu sendiri kan, Bibi tidak pernah menikah dan tidak mmemiliki anak," ucap Bibi Mandy sedih sembari menatap lekat wajah Lucas. "Dan harapanku hanya pada kalian berdua, kau dan Bella."


Lucas benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa jika Bibinya sudah seperti itu, apalagi kini air matanya sudah turun membasahi pipi senjanya.


"Kumohon jangan menangis, Bibi ... aku janji akan segera menikah," ucapnya pada akhirnya yang membuat Bibinya tersenyum lebar ke arahnya.


"Secepatnya, Bibi, bahkan jika kau ingin sekarang pun aku akan menikahinya," ucap Lucas tak sadar, karena yang ada dalam pikirannya hanya Bella lah yang menjadi mempelai wanitanya.


"Wah ... kejutan yang menyenangkan dan aku sangat berterima kasih kepada siapa pun dia yang telah menelponku," ucap Bibi Mandy girang. "Dau kau ... apa kau sudah siap jika pernikahannya besok, Kim?" Bibi Mandy mamandang wajah Kimber di sampingnya.


Mulut wanita itu kelu tidak dapat mengucapkan satu patah kata pun, lalu tersenyum kaku ke arah wanita paruh baya itu. "Aku tidak tahu," ucapnya bingung. Dan ya, dia benar-benar bingung dengan semua ini apalagi ketika dia menoleh ke arah pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk, pria itu tengah menatapnya lekat dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Kenapa? Jangan gugup seperti itu, tenanglah semuanya akan baik-baik saja."


***


Bella benar-benar enggan bangun dari ranjangnya, namun karena dia tidak menemukan kakaknya di kamarnya, dia pun keluar dan berjalan menuju dapur. Saat itu matahari sudah bersinar sangat terik dan Lucas tidak membangunkannya. Ketika kaki rampingnya melangkah memasuki dapur, matanya menatap figure seseorang yang tak asing untuknya. Seorang wanita paruh baya tengah membelakanginya. Dia terlihat sedang sibuk meramu sesuatu di dalam wajan. Setelah wanita paruh baya itu membalikkan tubuhnya, Bella tersenyum lebar ke arahny, lalu berlari untuk memeluk pinggang besar milik wanita paruh baya itu.


"Bibi kapan kau datang?" tanya Bella di sela-sela pelukkannya.


Bibi Mandy tersenyum lalu membalas pelukan Bella sama eratnya. "Tadi pagi, Sayang, ketika kau masih tidur," ucapnya.


"Kenapa Bibi tidak membangunkanku?" ucap Bella manja.


"Aku tidak ingin mengganggu tidur keponakanku," Bibi Mandy tersenyum lalu melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah wajan tadi.


Bella berjalan mendekati wanita paruh baya itu, lalu menengok ke dalam wajan. Aroma lezat menguar memenuhi hidungnya. Di dalam wajan itu terdapat makanan kesukannya dan juga Lucas.


"Waw ... Bibi ... sudah lama aku tidak merasakan masakan ini lagi! Aku sangat merindukannya," jerit Bella antusias melihat kerang saus tiram yang sebentar lagi akan terhidang di meja makan.


Bibi Mandy tersenyum, lantas mematikan kompor dan memindahkan masakannya pada piring.


"Kau hanya merindukan masakannya saja buka aku, Bell? Kau keponakan paling durhaka." Bibi Mandy mendelik ke arah Bella.


Bella tersenyum mendengar ucapan Bibinya, lalu memeluk tubuh wanita paruh baya itu kembali. "Aku sangat-sangat-sangat menrindukanmu, Bi ...," Bella benar-benar merindukan figure seorang Ibu dan untungnya Bibi Mandy berada di sini. "Dan aku merindukan Mom, apa dia senang di surge sana?" ucap Bella. Pelukkannya semakin erat di pinggang Bibinya.


Wanita paruh baya itu dapat merasakan kesedihan dari keponakannya. Ya, dia tahu bentul ketika orang tua gadis itu meninggal. Bella masih sangat kecil, sedangkan Lucas, pria itu harus belajar dewasa di umurnya yang ke 14 tahun. Dia menarik napas lalu menghembuskanya secara perlahan.


"Anggap saja aku Mommu, Bella." Bibi Mandy menitikkan air matanya.


Dari kejauhan Lucas bisa melihat pemandangan yang tidak ingin dia lihat, karena setiap dia teringat dengan kenangan kedua orang tuanya, hatinya mendadak sakit. Ya, dia sakit karena tidak seperti orang lain yang memiliki keluarga utuh. Dia menghapus lelehan air mata yang tak disadarinya telang mengalir membasahi pipinya, lalu berjalan mendekati kedua wanita yang begitu berharga dalam hidupnya.


Kedua wanita itu tidak menyadari kehadiran Lucas yang telah duduk di salah satu kursi meja makan. Memandang mereka dengan tatapan sendu, dia sangat merindukan saat seperti ini di mana kedua orang tuanya masih hidup.


"Aku senang akhirnya kakakmu akan menikah," ucap Bibi Mandy.


Tubuh Bella menegang lalu melepaskan pelukkannya dari tubuh Bibinya.


"Kau sudah bertemu dengan calon istri Lucas? Dia sangat cantik dan sopan," Bibi Mandy berbalik menghadap Bella. Kedua matanya tampak bersinar dan dia benar-benar bahagia.


Wajah Bella memucah, napasnya tersendat-sendak, dia seperti sesak napas. "S-siapa dia, B-bibi?" tanyanya terbata-bata.


Bibi Mandy tersenyum lebar, lalu menangkup wajah tirus Bella dengan kedua tangannya. "Wanita itu bernama Kimber, apa kau belum bertemu dengannya?"


Air mata Bella luruh seketika setelah mendengar kabar yang begitu menguncang dirinya. Pria yang dia cintai akan menikah dengan orang lain. Bahkan baru tadi pagi dia dan Lucas masih bersama-sama seperti sepasang kekasih dan kini dia harus mendengar kekasihnya akan menihahi wanita lain. Hati Bella benar-benar hancar, tanpa mempedulikan tatapan terpana dari Bibinya, dia berlari meninggalkan tempat itu.


Lucas tak kalah kagetnya dengan Bella. Tadi pagi dia memang mengiyakan akan segera menikah, tapi bukan dengan wanita lain melainkan dengan Bella adiknya sendiri. Namun, karena saking senangnya dia memikirkan pernikahannya dengan Bella, dia tidak sadar bahwa yang dimaksud oleh Bibinya adalah Kimber. Ya, dengan bodohnya dia menyanggupinya.


"Shit!" umpat Lucas, lalu menyusul Bella ke kamarnya.


Bibi Mandy menatap tingkah laku kakak-beradik itu dengan tatapan maklum, karena menurutnya Bella tidak rela kakaknya akan menjadi milik orang lain. Wanita paruh baya itu tersenyum lalu membiarkan kedua saudara itu untuk menyelesaikan masalahnya.