
Prolog
"Kau adalah hadiah terindah yang pernah diberikan Tuhan. Karena kau hatiku seakan menjadi batu, bahkan terkesan dingin jika harus berhadapan dengan kaun sepertimu. Bukan karena aku tidak normal tapi karena hatiku sudah tertambat ke hatimu. Maaf karena aku memilihmu. Maaf karena aku telah menganggapmu jadi milikku, dan maaf jika aku terlalu egois."
***
Lucas Adnan, seorang pria berumur dua puluh lima tahun. Tampan, tinggi dan digilai oleh banyak wanita. Namun, Lucas tidak sekali pun tertarik untuk melayani wanita-wanita itu. Ia bahkan terkesan dingin dan arogan, setiap kali ada yang mendekatinya. Sikap itu ia tunjukan kepada semua wanita terkecuali adiknya, Bellatrik Adnan.
Bellatrik Adnan adalah adik perempuan satu-satu. Karena alasan itulah ia terkesan over proktektif terhadapnya. Ke mana pun kaki adik gadisnya itu melangkah, maka ia akan selalu berada di belakang adiknya, lebih tepatnya mengawal gadis dua puluh tahun tersebut.
Seperti saat ini Lucas dengan sabar mengikuti langkah pelan Bella.
"Apakah kau tidak sibuk?" tanya Bella, masih dengan menggenggam tas belanjaannya.
"Kukira tidak, karena hari ini tidak ada jadwal kuliah. Kita mau ke mana lagi?"
Lucas terus saja mengekori adiknya. Bahkan, ia rela kedua tangannya membawa banyak papper bag milik adiknya. Sesekali ia melirik ke arah depan sembari menggelengkan kepalanya bahkan bibir tipisnya yang jarang sekali tersenyum, kini tampak menyunggingkan senyuman tipis.
"Aku ingin ke sana," tunjuk Bella dengan jari telunjuknya.
Di seberang jalan, ada sebuah kedai es krim dengan bangunan yang terlihat klasik. Karena saking klasiknya, bangunan itu tidak seperti sebuah kedai es krim pada umumnya. Jika saja tidak ada papan reklame yang tertempel di tembok bangunan itu sebagai pengenalnya, maka dipastikan tidak akan ada orang yang mengira bahwa bangunan itu adalah sebuah kedai.
"Kedai es krim," ucap Lucas ragu karena dia sudah melupakan rasa manisnya es krim semenjak kedua orangtua mereka meninggal dunia ketika dia beranjak remaja. Sedangkan Bella, ia masih sangat kecil dan tidak tahu apa-apa.
"Ada apa? Tidak mau? Ya sudah biar aku saja sendiri, kau bisa pulang duluan," respon Bella sembari menengok ke arah belakang.
"Tentu saja tidak. Aku akan menemanimu." Lucas tersenyum.
"Kau yakin?" Bella melirik Lucas.
"Tentu saja. Ayo," balas Lucas dan ia pun bersiap untuk menyeberang. Jalanan terlihat padat, membuat Lucas mengaratkan rangkulannya pada tubuh Bella.
***
"Bella? Kau, Bella kan?" tanya seorang pria tampan yang sedang duduk di meja kedai es krim itu.
"Kau melupakanku? Ini aku, Benny Browe."
"Benny Browe? Oh iya aku ingat, kau?" teriak Bella sembari menghambur ke dalam pelukan pria itu.
"Bella, aku tidak menyangka kita bisa bertemu lagi. Aku sungguh merindukanmu." Benny mengeratkan pelukannya pada gadis itu.
Amarah Lucas seakan tak bisa dikendalikan, setelah ia melihat langsung dengan kedua matanya sendiri, adik gadisnya disentuh oleh pria lain dan lebih parahnya adiknya yang pertama kali menyentuh pria di depannya. Dengan sekali sentak Lucak menarik pergelangan tangan Bella.
Lucas langsung menyeretnya pergi meninggalkan kedai es krim itu dan acara untuk menikmati manisnya es krim pun pupus sudah.
Sedangkan Benny hanya diam tanpa bisa berbuat apa-apa karena ia tahu siapa pria yang telah menyeret Bella pergi dari dirinya.
"Sudah berapa kali aku katakan, jangan dekat-dekat dengan pria mana pun tanpa sepengetahuanku." bentak Lucas masih menarik pergelangan tangan adiknya dengan begitu keras. Membuat Bella harus menahan rasa sakitnya bahkan desakan air matanya yang sebentar lagi akan turun.
"Dia hanya temanku. Kumohon lepaskan aku, kau menyakitiku." ucap Bella, dan kini air matanya tak dapat terbendung lagi.
"Hanya teman katamu? Haha ... mana ada teman berbeda jenis kelamin dan kau sampai memeluknya di depan umum." ejek Lucas dengan sinis. Bahkan saking sinisnya pria itu tertawa mengejek seakan hal yang dia katakan adalah hal terkonyol yang membuatnya ingin tertawa.
Air mata Bella semakin menjadi apalagi setelah dia melihat sisi lain dari kakaknya itu yang membuatnya ketakutan.
"K-kau membuatku takut." cicitnya.
"Ini tidak seberapa. Jika kau melihat yang lebih dari ini, aku jamin kau pasti akan lari dan tak ingin kembali lagi. Jadi, jaga sikapmu itu." ucap tegas Lucas yang membuat keberanian Bella menciut. Karena dia sangat tahu betul bagaimana sifat dari kakaknya itu
"Maaf. Aku minta maaf, aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi. Tapi lepaskan tanganmu itu." cicit Bella tanpa berani melihat ke arah wajah kakaknya.
Lucas tersenyum lalu melepaskan tangannya. "Aku yang seharusnya minta maaf, maafkan aku." timpal Lucas.
Dari kejauhan, diam-diam ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan keduanya. Dua orang itu tersenyum lantas meninggalkan tempat persembunyiannya dan melangkah ke arah berlawanan.
"Apakah hanya itu imbalannya, jika kau kalah, Aaron?" tanya gadis di sampingnya.
"Ya, hanya itu yang bisa kupertaruhkan, Kimber. Dan siap-siaplah besok pertaruhan kita dimulai." ucap Aaron dengan senyuman manisnya.