
Bab 23 Identitas Aaron
Lucas tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti kemauan wanita paruh baya itu. Sebab ia tidak ingin wanita yang dicintainya terluka. Namun, ketika ia melihat bagaimana wanita paruh baya itu memperlakukan Bella dengan kasar, emosinya tersulut dan ia hampir saja mengabaikan ancaman dari bibinya.
"Sudah kukatakan jangan mendekat, atau kau ingin melihat wanita ini mati di tanganku?!" bibi Mandy berteriak, setelah melihat Lucas bergerak beberapa langkah.
Tubuh Lucas mematung, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyaksikan Bella di sakiti oleh orang yang sempat dianggapnya sebagai pengganti Ibunya sendiri.
Bibi Mandy tersenyum. Ia amat sangat senang melihat pria itu tidak berkutik karena perintahnya, namun dalam hatinya yang paling dalam, ia merasa sedih. Sebab Lucas-keponakkannya lebih memilih wanita yang dianggapnya menjadi penghalang daripada menuruti kemauannya untuk menikahi wanita pilihannya.
Lucas tidak suka dengan senyuman yang terpatri di bibir bibinya. Ia mendengus, lalu mengalihkan tatapan matanya ke arah Bella.
Bella tampak kesakitan. Rambut panjangnya masih ditarik dengan keras oleh wanita paruh baya itu. dan ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis merasakan rasa perih yang menyengat dari kepalanya.
***
Aaron berusaha menguhubungi Ibunya untuk mengatakan bahwa ia dan Lucas akan berusaha menyelamatkan Bella, namun wanita yang tidak lama dikenalnya sebagai Ibu kandungnya tidak mengangkat telepon darinya. Membuatnya mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ibunya lagi. Dan lebih memilih menyimpan benda persegi panjang tersebut ke dalam saku celananya, lalu berlari membelah senyinya lorong rumah sakit.
Kemeja yang dikenakan oleh Aaron telah basah oleh keringatnya sendiri, deru napas yang berkejaran membuatnya seperti seseorang yang baru saja berlari berkilo-kilo meter jauhnya. Namun, itu semua tidak membuat laju langkahnya terhenti.
Seulas senyuman manis terukir di bibirnya. Ketika kamar yang ditujunya sudah ada di depan mata. Ia membuka pintu kamar itu dengan tergesa, namun apa yang didapatinya tidak seperti yang diinginkannya. Sebab, kamar itu kosong seperti tidak pernah ada seseorang yang pernah menempati kamar tersebut. Sampai suara seorang wanita mengagetkannya.
"Apa anda mencari, Nona Kim?" tanya wanita berpakaian perawat, ketika Aaron telah berbalik ke arahnya.
Aaron mengangguk dengan senyuman yang sedari tadi bertahan di bibirnya.
Perawat itu tersenyum, lalu merogoh saku di pakaiannya. "Ini dari Nona Kim, sebelum dia meninggalkan rumah sakit ini."
Kening Aaron mengernyit bingung. "Dia sudah pulang?" tanyanya.
Namun, sebelum perawat itu menjawab pertanyaan Aaron, suara dering telepon lebih dulu menyita perhatiannya.
"Hallo? Lucas?" ucap Aaron. Ia semakin khawatir ketika seseorang yang menghubunginya tidak merespon apa-apa, namun sayup-sayup ia bisa mendengar suara yang amat dikenalinya. Suara seorang wanita sedang bicara entah kepada siapa.
"Sudah kukatakan jangan mendekat, atau kau ingin melihat wanita ini mati di tanganku?!"
Mendadak tubuh Aaron menegang. Ia mengabaikan perawat di depannya dan lebih memilih meninggalkan kamar tempat Kimber dulu dirawat.
***
Perasaan yang dirasakan oleh Aaron berkecamuk menjadi satu. Ia tidak mengira dalang dari semua kejadian ini adalah wanita itu.
Sebenarnya ia pun memiliki andil yang cukup banyak dengan kejadian yang menimpa Lucas dan Bella. Sebab sedari awal ia telah merencanakan semua itu bersama wanita itu.
Berawal dari balas dendam karena membuat hidupnya harus menjadi seseorang yang terbuang. Melihat wanita yang tidak dikenalnya mengetuk pintu rumah keluarganya, dan mengaku kepada dirinya bahwa ialah Ibu kandungnya. Aaron saat itu tidak ingin mempercayai semuanya, namun melihat air mata yang mengalir dari kedua bola mata wanita itu, membuatnya luluh dan menerima semuanya.
Tetapi kini, setelah ia melihat, bahkan mendengar langsung perbuatan wanita tersebut, Aaron tidak ingin terlibat lagi, apalagi orang-orang yang akan disakiti olehnya adalah orang-orang yang disayangi sendiri.
Laju mobilnya telah membelah jalanan yang lumayan sepi. Pandangannya fokus ke depan. Namun, sesekali ia meruntuki kebodohannya. Sebab bukannya pergi ke kantor polisi untuk menyusul Lucas, ia malah datang ke rumah sakit untuk mencoba merayu wanita yang dicintainya untuk menerima lamarannya.
"Aku mohon jagalah adikku, Tuhan," gumam Aaron.
***
Kimber bersembunyi ketika ia melihat Aaron berlari terburu-buru meninggalkan kamar inapnya.
Air matanya luruh. Tangan kanannya menyeret koper yang telah terisi oleh pakaiannya sendiri, walau tidak banyak namun cukup untuk hari-hari yang akan ia lalui.
"Aku harap keputusanmu adalah yang terbaik. Aku hanya bisa membantumu sampai di sini saja, ini tiket penerbangan ke New York." Wanita berpakaian perawat itu menghampiri Kimber, menatapnya khawatir karena melihat Kimber menangis, lalu mengelus perut rata milik Kimber. "Aku telah menghubungi bibi Alice, ia menunggu kalian. Kuharap kalian akan bahagia di sana. Jaga diri kalian, Kim."
Tangisan Kimber pecah. Ia tidak akan melupakan kebaikan perawat bernama Lily. Sebab Lily lah yang selalu membantunya ketika ia dirawat di rumah sakit ini.
"Aku akan menelponmu, jika aku sudah sampai di sana, sekali lagi aku ucapkan terima kasih padamu, jika tidak ada kau ... aku tidak tahu harus bagaimana," ucap Kimber. Ia memeluk erat tubuh Lily.
Lily memeluknya dengan erat juga, menenangkkannya dengan mengelus-elus punggungnya. "Hsstt ... jangan menangis ...."
***
Senyuman memuakkan masih terpatri dari wajah wanita paruh baya itu. Bahkan ia tidak segan untuk tertawa keras ketika mendengar jeritan kesakitan dari Bella.
Lucas, pria itu tidak bisa berbuat apa-apa selain mematung menyaksikan wanita yang dicintainya disiksa seperti itu. Namun, keinginannya untuk memberontak lebih besar. Dengan memanfaatkan situasi, Lucas mulai melangkah mendekati wanita paruh baya tersebut.
"Sudah kukatakan jangan mendekat, atau kepala Bella akan kuledakkan?" Bibi Mandy menodongkan moncong pistolnya kembali.
Lucas menegang, lagi-lagi tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan sakiti dia, aku mohon, Bibi ...." Lucas menyerah. Ia tidak ingin bibi Mandy terus menyakiti Bella.
Wanita paruh baya tersebut tertawa keras mendengar permohonan dari keponakkannya. Ia tidak menyangka jika pria itu akan semudah ini dikalahkannya.
"Permohonanmu tidak akan menyelamatkan hidup wanita ini, tapi ... bisa mengulur waktu sampai tiba kematiannya," Bibi Mandy menyeringai.
Dari kejauhan Aaron menyaksikan semuanya, dan ia tidak menyukainya. Apalagi wanita yang disandera itu sudah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
Aaron melangkahkan kakinya, menampakkan kehadirannya ke semua orang yang ada di sana.
Bibi Mandy tersenyum melihat Aaron. Raut wajah Bella masih terlihat ketakutan, sedangkan Lucas, pria itu mengernyitkan keningnya.
"Kau sudah datang dan mau bergabung denganku?" tanya bibi Mandy ambigu.
Lucas menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut dengan kernyitan yang semakin banyak di keningnya.
"Aku tidak ingin melihat adikku kau perlakukan seperti itu. Lepaskan mereka," ucap Aaron begitu pelan, Aaron melenggang mendekati kedua wanita tersebut.
Raut wajah bibi Mandy menunjukkan ketidaksukaannya. Sebab pria itu membela wanita sialan yang kini berada dicengkeramannya.
"Adik? Adik yang mana maksudmu, Nak?" tanya bibi Mandy sembari mendesis.
Kedua alis Aaron diangkat, lalu tersenyum sinis ke arah bibi Mandy, "Tentu saja mereka, jika kau masih mengingatnya, Mommy." Ia menekan kata Ibu kepada wanita paruh baya tersebut.
"Mommy ...," Lucas mengulang apa yang dikatakan oleh Aaron kepada bibinya.
"Ya, Luc ... bibi Mandy adalah Mommy-ku, sekaligus kau adalah adik tiriku dan sepupuku," ucapan Aaron sukses membuat wajah Lucas pucat.
"Aku tidak mengerti dengan semua ini," gumamnya kebingungan.
"Kita memiliki ayah yang sama, Luc. Kau dan aku, yang membedakannya hanya satu, kau lahir karena hubungan yang syah, sedangkan aku, aku hanya anak haram dari pasangan abnormal," Aaron mengucapkan fakta yang selama ini dipendamnya. Karena dulu, ia tidak ingin menyakiti hati Ibunya, namun karena ia tidak bisa lagi melihat orang-orang yang ternyata disayanginya tersakiti, ia rela untuk menelan kepahitannya sendiri.
Wajah Lucas semakin memucat, bahkan tubuh pria itu luruh ke tanah. "Kau berbohong, kan?"