
Makhluk Menjijikkan
Setelah Kimber keluar dari dalam apartemen Lucas, dia terlihat kacau. Air matanya mendadak keluar, entah apa yang terjadi dengan dirinya yang jelas dia begitu shock melihat pasangan kakak-beradik itu berciuman dengan cara yang tak lazim. Dia terus saja berjalan, bahkan tidak mau mempedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya karena yang dia inginkan adalah cepat-cepat sampai di apartemennya.
"Bodoh!" runtuknya kesal.
***
Bella menatap nanar ke arah lantai basah bekas puding itu terjatuh, lalu mengalihkan tatapannya kepada Lucas.
"Ke-napa semua ini terjadi?" Bella bertanya kepada pria di depannya berharap apa yang dia pikirkan akan ada jawaban darinya.
Lucas mendekati Bella dengan sorot mata yang teduh, lalu memeluknya.
"Ini kehendak Tuhan."
Bella menangis begitu keras sampai dia tak ingin menatap pria yang memeluknya. Tangisan yang cukup lama, bahkan saking lamanya mereka tidak menyadari ada seseorang telah bergabung dan memerhatikan kegiatan kakak-beradik itu.
"Boleh aku menyela adegan kalian?" ucap seseorang itu berusaha mengalihkan keduanya.
Bella masih tenggelam dalam tangisannya sehingga dia tidak mendengar ada seseorang tengah berada di sana. Lain lagi dengan Lucas, pria itu menatap seseorang yang baru bergabung itu.
"Ada apa? Tumben ke sini, A?" sapa Lucas masih dengan memeluk Bella.
Aaron memutar kedua bola matanya jengah melihat kelakuan sahabatnya itu. Dengan tidak tahu malunya sahabatnya terus saja memeluk wanita yang dicintainya.
"Aku hanya mampir, karena pintu depan terbuka." Aaron menjelaskan maksud kedatangannya.
Lucas menatap sahabatnya lalu mengalihkan tatapannya pada wanita yang tengah dipeluknya. Lucas tersenyum setelah mendapati Bella kini telah tertidur pulas dipelukkannya.
Aaron melihat gerak-gerik sahabatnya, lalu tersenyum. "Aku akan menunggu di ruang tamu, kuharap kau hanya akan membaringian Bella di ranjang," ucapnya sembari berlalu pergi.
Lucas tersenyum kecut setelah mendengar ucapan sahabatnya. Ya, dia tahu maksud dari ucapan pria itu.
***
Lucas berjalan ke arah sahabatnya--Aaron, pria itu tengah duduk sembari membolak-balik majalan gosip. Dengan wajah serius dia berusaha membaca bait demi bait tulisan yang ada di sana. Seulas senyuman konyol pun terukir dari bibir Lucas. Ya, dia merasa aneh melihat sahabatnya sedang membaca majalah Bella--majalah para wanita. Banyangkan saja seorang Aaron yang terkenal galak membaca majalah itu?
"Apa kau begitu menikmatinya, A?" tanya Lucas tanpa basa-basi.
Aaron menatap pria itu kebingungan kerena tidak tahu maksud darinya. "Aku tidak mengerti dengan apa yang kau tanyakan," ucap Aaron.
"Sudahlah lupakan saja," jawab Lucas sembari duduk di samping Aaron.
Keduanya terdiam sampai di antara mereka ada yang mulai pembicaraan.
Aaron menatap lekat wajah sahabatnya, setelah itu dia menyeringai. seringaian yang jauh dari kata menakutkan, hanya saja itu terlihat konyol di mata Lucas karena pria itu tahu maksud di balik seringaian itu.
"Apa kau sedang mengejekku?" tanya Lucas tanpa basa-basi.
Lucas balas menyeringai, "Ya, kau orang kedua yang menggangguku," jawabnya acuh.
Aaron mengkerutkan keningnya bingung. "Maksudmu sebelum aku ke sini ada seseorang lagi yang mengganggu kegiatan kalian, siapa?" tanya Aaron penasaran.
Lucas menatap sahabatnya lama, lalu dia menyeringai ke arah sahabatnya. "Apa kau penasaran?"
Aaron melotot tidak suka cara Lucas menggodanya. "Kau tak akan memberitahuku?"
Lucas tersenyum, "Aku tidak tahu kalau kau bisa merajuk, kau terlihat seperti wanita, A."
Aaron menyeringai lalu mendekatkan tubuhnya ke arah sahabatnya, "Dan aku lebih mirip menjadi kekasih lelakimu, Luc." Aaron benar-benar puas melihat perubahan wajah sahabatnya itu. karena dia tahu dia paling benci jika dirinya sudah berkata seperti itu kepadanya.
Bukan rahasa umum jika keduanya sangat dekat, bahkan orang-orang mengira mereka adalah pasangan kekasih.
"Menjauh dariku, A, aku tidak suka jika ada yang menganggap begitu. kau tahu sendiri aku normal, tapi entahlah jika menyangkut dirimu," ucapnya dengan satu kali tarikkan napas.
Suara tawa Aaron pecah memenuhi ruang tamu dan itu membuat Lucas bertambah jengkel. "Sebaiknyan kau pulang saja. Kau tak jauh beda dengan wanita yang tadi masuk tanpa izin," dengus Lucas dan berdiri mempersilahkan Aaron untuk pergi.
"Kau mengusirku, Luc?" tanya Aaron masih tetap duduk di tempatnya.
Lucas menyeringai, "Sayangnya iya," jawab Lucas.
Tak ada perlawanan dari Aaron, dia pun berdiri lalu meninggalkan tempat itu.
***
Lucas berjalan ke arah kamar Bella. Dia mengintip si empunya yang tengah tertidur pulas. Bella terlihat damai dalam tidurnya, rambut pirangnya terlihat berantakan dan ada sebagian yang menutupi wajahnya. Karena Lucas tak tahan untuk menatap wanita itu lebih dekat, dia pun melangkah memasuki kamar di terkesan feminim itu.
Seulas senyum terbit dari bibir tipis Lucas. Pria itu kini sudah duduk di tepi ranjang dekat Bella terbaring, tangan besarnya tak mampu dia kendalikan dan kini sudah mendarat pada untaian rambut yang menutupi sebagian wajah wanitanya.
"Kau makhluk terindah yang Tuhan berikan untukku," gumamnya sembari menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik Bella.
Lalu Lucas ikut bergabung tidur bersama Bella. Dia memeluk wanita itu dari belakang, dan tak lama dia pun terlelap.
***
Aaron memasuki apartemnnya. Apartemen itu terasa sepi, padahal dia tidak tinggal sendiri sejak beberapa hari lalu. Pria itu berusaha mencari satu sosok yang selalu mengganggunya itu, tapi tidak ada di mana-mana. Sampai dia berjalan ke arah kamar, samar-samar dia mendengar suara tangisan seseorang dari kamar sebelahnya. Karena merasa penasaran, Aaron pun membuka pintu kamar itu yang ternyata tidak terkunci. Kimber--wanita itu tengah menangis keras. Dia terlihat menyedihkan.
Aaron mendekatinya lalu duduk di samping wanita itu. "Ada apa denganmu?" tanya pria itu khawatir.
Kimber mengangkat wajahnya dan menatap sekilas wajah Aaron. "Aku sangat baik-baik saja, dan ya ... selamat untukmu, karena telah menyededku dalam kekacauan paling memjijikan selama aku hidup," ucap wanita itu, lalu menenggelamkan wajahnya di atas tumpuan tangannya.
Aaron merasa bingung dengan ucapan wanita itu. "Apa maksudmu?"
Wanita itu sebenarnya malas untuk bicara, namun dengan adanya Aaron di sampingnya membuatnya ingin meluapkan kemarahannya pada pria itu. Ya, pria yang menyerednya dalam kekacaun itu.
"Aku marah padamu, A! Sangat marah tentunya, karena pertaruhan konyol itu, kau membawaku masuk dalam lingkaran dosa. Ya, dosa! Mereka makhluk menjijikan!" jeritnya.
Aaron membelalakkan matanya, karena dia tidak mengira, bahwa wanita itu akan tahu semuanya dalam waktu sesingkat ini.