I'M Sorry

I'M Sorry
13



Bab 13 Rencana


Kimber menatap wajah Lucas dengan tatapan nanar, bahkan ia tidak peduli lagi dengan wajahnya yang kini terlihat menjijikkan karena lelehan air mata maupun ingusnya, "Aku pasti akan membayarnya, tapi berikan aku waktu."


Lucas tertawa keras mendengar perkataan Kimber, lalu melirik wanita itu datar, "Waktumu Cuma dua hari, jika kau sanggup, kau bisa hubungi aku."


Lagi-lagi mata Kimber membulat sempurna, bahkan mulut mungilnya pun ikut terbuka. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bayangkan saja dalam waktu dua hari ia harus membayar hutang-hutang itu yang jumlahnya pasti sangat besar, uang dari mana ia, pekerjaan pun ia belum mendapatkannya.


***


Siang telah berganti malam, dan Bella masih enggan untuk keluar kamar. Bahkan dari pagi perutnya belum terisi apapun dan kini ia merasa kelaparan. Dengan perlahan ia membuka pintu kemarnya dengan sangat perpelan, karena ia tidak ingin Lucas maupun Bibi Mandy memergokinya. Dengan kakinya yang tak beralas ia berjalan mengendap-endap seperti seorang pencuri.


Sesampainya Bella di dapur, wanita itu mencari apa pun yang bisa ia makan. Dan beruntungnya dirinya kerena menemukan sepotong puding coklat di dalam lemari pendingin. Dengan terburu-buru ia mengambil puding itu lalu menyendokkan sendokkan besar ke dalam mulutnya.


"Apa pudingnya enak, hem?" tanya seseorang dari arah belakang tubuhnya.


Bella benar-benar kaget dan ia hampir saja tersedak, "Apa kau ingin membunuhku, huh," ucapnya, lalu berbalik menghadap ke arah orang yang mengagetkannya.


Lucas tersenyum melihat tingkah konyol adiknya sekaligus wanita yang ia cintai. "Puding itu buatan calon kakak iparmu, enak bukan?"


Bella mendengus tidak suka, lantas menyimpan pudding itu kembali ke dalam lemari pendingin. Padahal wanita itu baru memakan satu sendok saja dan rasa laparnya belum hilang sama sekali.


"Jika aku tahu itu buatan wanita yang kau sebut calon istrimu, mana mau aku memakannya, bisa saja kan di dalam puding itu terdapan jampi-jampi yang bisa meluluhkan hati seseorang," Bella menatap tak suka pria itu.


"Apa kini adikku sedang cemburu, karena kakaknya sebentar lagi akan menikah? Menikah atau tidak, aku tetap akan menyayangimu." Lucas tersenyum, namun dari senyumannya tersirat perasaan yang disembunyikannya.


"Sepertinya kau sudah terpengaruh jampi-jampi wanita itu, huh. Dan aku tidak heran jika kau mau menikah dengannya," Bella benar-benar tidak menyangka, jika Lucas akan dengan mudah menyetujui pernikahan itu yang jelas-jelas tidak diinginkannya.


Lucas tahu betul apa yang tengan dipikirkan wanita yang di cintainya, namun ia sadar jika hubungan mereka tetap dipertahankan pasti banyak pihak yang terluka, termasuk orang tuanya di Surga sana. Mereka pasti akan sedih, jika melihat kedua anaknya memiliki moral seperti binatang. Ia meringis menahan sesak, jadi begini perasaan seseorang yang sedang berakting di depan orang yang di cintainya.


"Aku akan keluar mencari makan, apa kau ingin ikut, Bell?" Lucas menatap wajah cantik Bella dengan sendu, lalu menjulurkan tangannya untuk menggenggam tangan wanita itu.


Walau ia masih sakit hati, namun dengan patuh ia menyambut uluran tangan pria yang dicintainya, menggenggamnya dengan sangat erat. Di dalam hatinya, wanita itu tersenyum lebar, karena ia tahu pria yang sebentar lagi akan menikah dengan wanita lain, tidak akan mungkin berpaling darinya dan akan tetap menjadi miliknya.


***


Kimber mendekati Aaron yang kini tengah duduk di sova, pria terlihat sedang focus menonton tv. Sesekali bibir merah alami milik pria itu tersenyum lebar, karena melihat kekonyolan dalam adegan yang ditontonnya, sampai ia mengalihkan perhatiannya pada seseorang yang kini mendekat ke arahnya, ekspresi wajahnya mendadak berubah datar.


"Boleh aku duduk di sini?" Kimber meminta izin, dan itu terlihat seperti bukan dirinya.


Aaron mengerutkn keningnya, mungkin heran dengan tingkah wanita itu yang akhir-akhir ini berubah drastis. Lalu mengangguk mengijinkan Kimber duduk di sampingnya.


"Ada apa, kau terlihat berbeda?" tanya Aaron yang kini memusatkan perhatiannya kea rah wanita itu.


Kimber tersenyum kikuk, karena ia tidak menyangka Aaron akan merasakan perubahan yang dialaminya, "A, b-bolehkan aku meminjam uang darimu?" ia benar-benar gugup.


Pria itu menaikkan dua alisnya, lalu menatap wajah Kimber lebih intens, "Untuk apa? Bukannya kau tidak butuh uang setelah tinggal di sini karena aku yang menanggung hidupmu."


Benar yang dikatakan oleh Aaron, Kimber tidak butuh uang sama sekali karena semenjak ia tinggal dengan lelaki itu apa-apa yang dibutuhkannya pasti akan disediakan olehnya, namun kali ini lain, ia harus mengembalikkan uang yang sudah dibayar oleh Lucas untuk hutang keluarganya.


"Aku membutuhkannya, A, jadi bagaiman kau akan meminjamkannya untukku?" Kimber mengerjapokan matanya menunggu keputusan dari Aaron.


"Tapi untuk apa? Aku perlu tahu," Aaron memincingkan kedua matanya tampak curiga.


"Untuk membayar hutang keluargaku," akhirnya wanita itu menyerah dan mengatakan yang sebenarnya.


"Kau sangat lucu, Kim, bukannya kau punya calon suami yang mapan, kenapa kau tidak meminta uangnya saja." Aaron terus saja tertawa tanpa mempedulikan perasaan wanita di sampingnya.


Kimber memang bodoh. Mana mau pria itu menolongnya, toh ia yang telah menjerumuskannya dengan iming-iming membawa lari dari keluarga. Ya, dulu ia memang di selamatkan, jika tidak akan Aaron, mungkin sekarang dirinya telah menjadi istri dari seorang kakek tua. Intinya Aaron menawarkan kesepakatan konyol itu dengan imbalan ia akan melindunginya dari keluarga yang ingin memaksanya untuk menikahi kakek tua yang memang tua tanah di kotanya. Dan keluarganya terlilit hutang pada tua Bangka itu.


"Katakan saja kau tak mau menolongku, dan jangan bawa-bawa pria itu di dalam pembicaraan kita," ucap Kimber kesal, lalu berdiri meninggalkan Aaron di tempat itu.


Setelah Kimber pergi, barulah Aaron menyesali perbuatannya. Ia terlihat tak mempunyai hati. Dengan wajah datar ia meraih handphone yang tergeletak di atas meja, lalu mendeal nomer yang telah ia hafal di luar kepalanya. Suara nada sambung terdengar di seberang, tak lama setelah itu suara seseorang terdengar menyapa namanya.


"Mommy, apa ini benar?" ucap Aaron sanksi. Ekspresi pun wajahnya terlihat sendu.


"Apa yang kau katakana, tentu ini benar, dan ini pun untuk kebaikkan kita semua," timpal seseorang di seberang sana.


"Tapi aku ragu, Mom, aku kasihan padanya. Dia tidak tahu apa-apa, apakah ini adil untuk dia?" Aaron terlihat kalut dengan ucapannya sendiri.


"Apa kau menyukainya? Sebaiknya jangan, karena rencana kita akan hancur berantakkan."


"T-tapi, M-mom, dia tidak tahu apa-apa," ucap Aaro lagi.


"Kukatakan kepadamu, buang sikap lemah itu atau kau akan hancur karenanya," balas suara di seberang sana, lalu setalah itu lenyap, karena si empunyanya telah memutus sambungan telponnya.


Aaron hanya bisa menurut dengan kemauan dari Ibunya, lebih tepatnya Ibu kandungnya yang baru ia ketahui satu tahun yang lalu.


***


Kimber berdiri di ujung beton di mana ia pertama kali bertemu dengan Lucas. Ya, kejadian itu memang bukan murni kebetulan, karena ia telah merencanakannya setelah melihat pria itu berjalan menuju bangunan teratas di gudung apartemen ini. Dengan sikap uyang menurutnya konyol, ia mengira bahwa Lucas akan menjatuhkan dirinya ke bawah. Ia sempat mengutuk perbuatan konyolnya karena siapa pun orang yang akan melihat Lucas dalam keadaan saat itu tidak akan bertindak sepetinya.


Sampai suara langkah kaki menyentaknya dari lamunan konyolnya. Suara itu terdengar sedang mendekatinya dan ia mau tak mau harus menyunggingkan senyuman yang entah untuk apa.


Lucas menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit diartikkan. Ya, wanita itu menelponnya untuk berbicara empat mata dengannya, dan di sinilah ia sekarang. Di atas gedung apartemnnya. Angin malam berembus kencang, namun wanita itu dak memakai pakaian musum gugurnya. Mau tak mau ia melepaskan jaket yang ia kenakan untuk di sampirkan ke atas bahu Kimber.


Kimber benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan Lucas terhadapnya, ia tidak menduga pria itu akan memberikan jaketnya untuk ia kenakan. Jujur saja ia memang merasa kedinginan dan lebih bodohnya wanita itu keluar aparteman menggunakan pakaian seadanya—kaos pendek dengan jelana jeans panjang.


Kimber menoleh ke arah Lucas, lalu tersenyum memberi isyarat pada pria itu, bahwa ia berterima kasih atas jaket yang dipinjamkannya.


"Ada apa?" tanya Lucas mengabaikan senyuman manis wanita itu.


Kimber masih tersenyum manis ke arah pria itu, "Terima kasih."


Lucas menaikkan alisnya karena bingung, "Untuk?"


"Jaket ini dan untuk hutang yang kaubayarkan, tapi maaf aku sepertinya tidak dapat melunasinya dalam waktu dekat. Apakah kau bisa memberiku keringanan?" Kimber mengerjapkan matanya berusaha setabah mungkin.


"Sayangnya tidak bisa. Atau kau ingin mengatakan jika kau bersedia menikah denganku, namun kau malu?" Lucas menatap tajam wajah waniata itu.


"A-aku ... a-aku tidak tahu," suara Kimber terdengar lemah, dan sebantar lagi ia akan menangis lagi.


"Terima saja, toh itu tidak rugi untukmu. Aku bisa dikatakan tampan, bahkan wanita diluaran sana rela mengantri melihat senyumanku, dank au, kau wanita beruntung yang kuajak menikah bukannya itu sebuah keberuntungan?" ucap Lucas arogan.


Kimber mendengus tidak suka, namun dari semua perkataan pria itu adalah benar adanya. Dengan berat hati ia meyakinkan dirinya, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"B-baiklah aku menerima untuk menikah denganmu," Kimber benar-benar gugup sampai ia menahan nafasnya karena perkatannya.