
Mimpi
Kimber berjalan tergesa-gesa seakan takut ada seseorang yang akan memergokinya dari belakang. Ketika ia berhenti tepat disalah satu pintu, ia pun mulai memencet bell intercom dengan terburu-buru. Beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
"Huft ... kenapa kau lama sekali membukanya!" gerutu Kimber pada seorang pria di depannya.
Pria itu tersenyum lantas menarik tubuh Kimber ke dalam pelukannya. Beberapa saat kemudian ia malah tertawa terbahak karena tubuh Kimber mendadak menegang.
"Kau menegang karena kupeluk?" ejek pria itu masih dengan memeluk tubuh Kimber.
Kimber memberontak berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari dekapan pria itu, namun belitannya terlalu kuat untuk ukuran seorang wanita. Jadi, ia pun menyerah.
"Aaron, kau jangan bercanda. Lapaslan aku sekarang." jerit Kimber dengan menghentak-hentakkan kakinya.
Aaron semakin mengeratkan pelukannya begitu pula dengan tawa yang keluar dari bibirnya membuat Kimber semakin memberontak.
"Tenang, aku tidak akan memakanmu, kok. Ngomong-ngomong kau sudah berhasil masuk ke dalam kehidupan mereka?" Aaron bertanya lantas melepaskan pelukkannya.
Kimber menatap wajah pria di depannya lantas meninggalkannya sendirian di depan pintu.
"Hei, aku sedang bertanya padamu, Nona. Jadi, bersikaplah sopan," pria itu berteriak, membuat Kimber yang saat ituk sudan melangkah mendadak berhenti lalu berbalik untuk menatap pria di belakangnya.
"Kau mau mengajariku sopan santun rupanya, hah?!" bentaknya.
Kimber berjalan ke arah pria itu lalu memperlihatkan luka yang ada di ke kedua sikutnya. "Kau lihat ini? Seharusnya jika kau punya sopan santun, ajak dulu aku masuk bukannya kau peluk aku di depan pintu. Ajak aku istirahat dan tunjukkan di mana letak kamarku." gerutunya kesal.
Sedangkan Aaron, ia hanya bisa tersenyum dengan apa yang dilihatnya. Jujur saja ia belum pernah sedekat ini dengan seorang wanita apalagi sampai menjalin hubungan special dengan makhluk itu, ia pun belum pernah. Karena menurutnya, wanita itu makhluk yang menjengkelkan bahkan ia menganggapnya sebagai Monster yang mempunyai dua mulut. Dengan alasan itulah selama ia hidup belum sekali pun dirinya mau dekat-dekat dengan makhluk tersebut.
"Jawab dulu pertanyaanku, baru kutunjukkan kamarmu." tawarnya dengan senyuman liciknya.
Kimber menatap muak pria di depannya lalu melangkahkan kaki jenjangnya sampai jarak di antara mereka hanya satu jengkal telapak tangan anak kecil. Secara otomatis Aaron memundurkan kepalanya agar tidak sedekat itu dengan Kimber.
"Apa kau takut padaku, heum?" ucap sinisnya karena respon dari Aaron yang terkesan menjaga jarak dengannya.
"Ti-tidak. Tidak sama sekali," Aaron terlihat gugup.
"Jangan membohongiku, itu terlihat jelas di dahimu."
"Apa? Mana?" ucap Aaron sembari memegangi dahinya sendiri. "Apa kau bisa membaca pikiran orang?" tanyanya menyimpulkan sendiri, membuat wanita yang ada di depannya menyemburkan tawa geli akan ulah konyolnya.
"Bodoh! Kau gampang sekali dibodohi. Ckckck ... kukira kau tidak sebodoh dan sepayah itu." ucap Kimber masih dengan tawa kerasnya.
Karena terlalu malu akan ulah dari dirinya sendiri, Aaron pun meninggalkan tempat di mana wanita itu berdiri.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Kimber melihat Aaron pergi begitu saja tak mengabaikan dirinya.
Kimber mengikuti Aaron sampai pria itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya tepat di depan wajah Kimber.
"Sudah kuduga, kau dan kaum sepertimu semuanya mengerikan. Untung saja aku tidak pernah sekali pun tertarik pada kalian!" Aaron berteriak sama kerasnya di dalam kamar itu, yang membuat Kimber terkejut dengan fakta yang baru saja didengarnya.
"Apa kau gay?" tanya spontan Kimber dengan mimik menahan tawanya?
Hening beberapa saat, namun tidak lama setelah itu pintu kamar terbuka menampakkan pria penghuni kamar tersebut.
"Aku normal dan jangan sekali lagi kau mengatakan jika aku ini gay." ucapnya dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan oleh Kimber. "Untuk kamarmu, kau bisa tidur di kamar sebelah." lanjutnya lantas menutup kembali pintu kamar itu.
Kimber benar-benar tidak bisa menahan rasa geli yang ada di dalam perutnya, bak bom meledak tawa kerasnya pecah begitu saja memenuhi ruangan, sampai ia meneteskan air matanya dan perutnya kram karena terlalu lama tertawa.
***
Lucas tetap saja duduk di tempatnya walaupun keadaan ruang tamu sudah gelap gulita dan Bella pasti sudah tertidur lelap di kamarnya. Pelan-pelan Lucas merenggangkan seluruh otot-ototnya lalu berdiri beranjak menuju kamarnya. Sebelum ia sampai di depan pintu kamarnya, ia menyempatkan diri dulu untuk menengok ke dalam kamar adiknya, yang pada saat itu lampunya masih menyala.
Dibukanya pintu kamar itu dengan sangat pelan agar suara yang ditimbulkan tidak mengganggu tidur Bella. Diintipnya keadaan di dalam kamar. Di sana Bella sedang terbaring dengan sangat nyanyaknya sembari memeluk boneka Beruang pemberian darinya yang membuat bibir tipis milik Lucas merekah karena senang dengan apa yang dilihatnya.
Lucas melangkahkan kakinya memasuki kamar itu, masih dengan senyum yang ada di bibirnya. Pria itu mendekati Bella lalu duduk di tepi ranjang sembari mengamati wajah cantik miliknya.
Wajah itu, wajah yang membuatnya luluh dan jatuh cinta. Cinta yang terlarang, tepatnya. Karena kisah cinta sedarah sangat dikutuk oleh semua orang. Bukan karena cinta mereka tidak suci, namun lebih memacu ke hal moral. Ya, semua orang akan menganggap cinta sedarah itu hanya dimiliki oleh Binatang saja, bukan Manusia maka dari itu, pasangan sedarah banyak dicemooh bahkan diasingkan.
"A-aku mencintaimu, Luc ...," igau Bella dalam tidurnya.
"Ja-angan jatuh cinta pada wanita lain, atau aku akan mati."
Bak gayung menyambut air, lamunan Lucas buyar begitu saja setelah ia mendengar igauan dari Bella. Walau ucapan itu hanya sekedar dari efek mimpi saja, tapi Lucas tahu bahwa Bella mempunyai perasaan yang sama sepertinya. Ya, perasaan mencintai wanita kepada seorang pria.
Lucas terus saja tersenyum lebar sembari mendengarkan igauan dari Bella. Sesekali ia juga harus terkikik geli karena mendengar pengakuan yang keluar dengan begitu jujurnya tentang bagaimana perasaan Bella yang pencemburu, jika Lucas sedang berdekatan dengan wanita lain.
"Kenapa kau ajak ia ke rumah kita?! Aku tidak suka jika kau mengajak wanita lain. Aku cemburu, Luc. Bahkan jika aku mampu aku akan mengurungmu di kamarku agar wanita lain tidak melirikmu, karena kau hanya milikku,"
Lucas tidak dapat menahan tawanya yang menyebabkan ia tertawa terbahak dan membangunkan Bella. Mata Bella terbuka dan langsung menatap manik mata Lucas.
"Kau sialan! Kenapa kau tertawa?! Tawamu membuat kadar ketampananmu bertambah berkali-kali lipat!" seru Bella lantas mengambil posisi duduk dan memeluk erat tubuh Lucas dalam pelukkannya.
"Jangan tertawa seperti itu di depan wanita lain, karena kau dan semua yang ada di dalamnya adalah milikku." ucap Bella setelah melepaskan pelukkannya, matanya terus saja menatap lekat mata Lucas.
Lucas masih syok dengan apa yang dikatakan oleh Bella. Bahkan ketika ia tengah dipeluk oleh Bella, ia hanya diam saja tanpa bisa merespon apa pun. Dan kini ketika Bella mengatakan itu dengan matanya yang terbuka, Lucas hanya bisa membalas menatap mata wanita itu.
"Aku mencintaimu, Luc."
Bella mengataknnya begitu pelan lalu menundukkan kepalanya, sedangkan Lucas, ia tersenyum sembari mendekati wajah Bella, dan mengankat dagu wanita itu dengan telunjuknya.
"Aku juga sangat mencintaimu, Sayang." balas Lucas tepat saat wajah Bella sudah sejajar dengan dirinya, namun ada yang aneh. Karena kedua mata Bella ternyata sudah menutup kembali yang membuat Lucas tersenyum lantas mengecup bibir mungil milik Bella.
"Selamat tidur."
Dibaringkannya tubuh Bella lalu memperbaiki letak selimutnya. Setelah itu, Lucas pun beranjak meninggalkan kamar Bella.