
Pesawat yang ditumpangi Sakha,Salsa beserta mama,papa dan Bunda telah mendarat di Bandara Internasional Hussein Sastranegara.Disana,pak Boy rupanya sudah menjemput mereka.Jadilah mereka bisa segera meninggalkan bandara.
"Loh,,kita mau kemana pa...ma...??"Sakha keheranan karena mobil yang dikendarai pak Boy sepertinya tidak menuju ke arah rumahnya ataupun rumah Salsa.
"Kita mampir dulu ke suatu tempat...papa,mama sama bunda punya sesuatu buat kalian...!!"jawab papa sambil tersenyum sambil melihat mama dan bunda bergantian.
Sakha tidak banyak bertanya lagi.Dia kembali menyadarkan kepalanya di pundak Salsa sambil mencium aroma wangi dari sampo dari rambut Salsa yang selalu menjadi aroma favoritnya.
Mobil mereka memasuki halaman sebuah rumah mewah dengan dua lantai.Pak Boy segera turun dari mobil dan menurunkan koper milik Sakha dan Salsa.
"Loh...kok koper Sakha sama Salsa diturunin disini pa...??"Sakha bingung karena pak Boy menurunkan koper miliknya dan Salsa.
"Iya...ini rumah kalian...!!"ujar papa.
"Hah...??Rumah siapa...??"Sakha masih bingung dengan ucapan papanya.
"Iya sayang....rumah ini punya kalian.Ini hadiah dari kami...!!"Kali ini mama Elina yang berbicara."Yaudah...masuk dulu yuk...!!Biar kalian tau dalemnya...."Lanjut mama.
Sakha dan Salsa langsung mengangguk.Mereka segera turun dari mobil.
Di teras rumah,mereka disambut oleh dua orang satpam,satu tukang kebun dan dua orang ART.
"Nah,,kenalkan ini Mbok Darmi dan mbok Ratmi,,.mereka bertugas mengerjakan pekerjaan rumah tangga. "Papa menunjuk ke arah dua wanita separuh baya.Kedua itu langsun mengangguk hormat pada papa Erlangga.
"Yang ini namanya pak Kusno...panggil aja pal Kus...!!Beliau tukang kebun di rumah ini...."Lanjut papa sambil menunjuk ke arah lelaki separuh baya yang mengenakan celana pendek dan kaos bolong.
"Mereka mas Danu dan Mas Edin....mereka yang menjaga rumah ini...."Kali ini papa mengenalkan dua orang yang masih agak muda dengan seragam satpam.
Setelah acara perkenalan selesai,mereka kini mulai masuk ke dalam rumah.Papa menunjukkan ruangan-ruangan dalam rumah itu secara detail.
Fasilitas didalam rumah itu sangat lengkap.Terdapat kolam renang dan juga rumah olahraga,juga tempat bermain bilyard di dalamnya.Tidak jauh berbeda dengan fasilitas yang ada di rumah papa Erlangga dan Mama Elina.
"Ya ampun pa....papa sebenarnya gak perlu repot-repot sampe kasih rumah ini pa...!!Kan kita bisa tinggal dirumah papa atau dirumah bunda...!!"ujar Sakha.Dia tidak menyangka orang tuanya memberikan rumah se mewah ini.
"Jelas perlu syang...Kalian kan sudah menikah...Jadi lebih baik kalian tinggal terpisah dari kami....Tapi kapanpun kalian ingin menginap,pintu rumah kami akan selalu terbuka untuk kalian....!!"ujar mama Elina.
"Makasih ma...pa...bunda...!!"
Sakha dan Salsa bergantian memeluk mereka bertiga sebagai ucapan terimakasih atas apa yang mereka berikan.
.
.
.
Hari ini hari pertama Sakha mulai bekerja di kantor papa Erlangga.Papa memutuskan untuk pensiun dan berencana akan berlibur bersama mama untuk menikmati hari tuanya.Sementara bunda yang kini telah sehat kembali menyibukkan diri dengan mengurus Cafe bersama Salsa yang sesekali akan membantu bunda karena suatu saat nantinya Cafe itu juga akan menjadi milik Salsa.
Setelah memperkenalkan diri kepada para karyawannya,Sakha segera masuk ke ruangannya.Dia kini mulai bekerja dengan serius dengan membaca beberapa berkas yang telah berada di mejanya.
"Tok-tok-tok..."Terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk...!!"perintah Sakha.
Muncul seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan Sakha.Wanita yang tampak anggun dengan pakaian kantornya itu yang tak lain adalah sekretaris Sakha.
"Permisi pak...Saya sekretaris baru yang menggantikan pak Seno..."ucap wanita itu.
"Almira...??"Sakha tampak terkejut saat mengetahui bahwa sekretarisnya itu adalah orang yang dikenalnya."Apa kabar...??"
Wanita yang dipanggil Almira itupun tak kalah terkejutnya dengan Sakha.Dia tidak menyangka bosnya adalah seseorang dari masa lalunya.
"Pak Sakha...??Ya....saya harus panggil anda pak kan...??karena anda atasan saya...??Kabar saya baik pak..."balas Almira.
Sakha tersenyum mendengar ucapan sekretarisnya itu.Tapi kemudian dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia sependapat dengan sekretarisnya itu.
"Ya....benar...Kita harus profesional...!!"jawab Sakha.Dia kemudian memberikan berkas-berkas yang harus diperiksa oleh Almira hingga Almira kini harus kembali ke mejanya yang terletak di luar ruangan Sakha.
"Baik pak,,saya permisi dulu...Kalau butuh apa-apa, bapak jangan sungkan untuk memanggjl saya...."pamit Almira sebelum keluar dari ruangan Sakha.
Almira duduk di mejanya.Dia masih merasa berdebar-debar saat tiba-tiba bertemu dengan Sakha.Sekilas dia mengingat saat-saat kedekatannya dengan Sakha dulu.
Sakha dan Almira sangat dekat saat duduk di bangku SMP.Almira diam-diam menaruh hati pada Sakha,tapi Sakha tidak pernah menyatakan rasa suka terhadap Almira.Karena ingin membuat Sakha cemburu,Almira berpacaran dengan pria lain berharap Sakha akan menyatakan perasaannya.Tapi sayangnya,Sakha sama sekali tidak merespon apapun.Almira justru terkekang oleh pria itu.Pacarnya yang sangat posesif itu melarangnya untuk dekat dengan Sakha hingga saat lulus dari SMP,dia dan Sakha tidak lagi berkomunikasi.
Almira tiba-tiba tersenyum.Dia tidak menyangka Sakha ternyata masih ingat kepadanya.
"Mungkin ini kesempatanku sama Sakha untuk busa deket lagi dan memulai kisah yang dulu belum sempat dimulai...!!"gumannya sendiri.Dia tidak mengetahui fakta bahwa Sakha telah menikah karena mereka tadi tidak sempat mengobrol.
Sebenarnya Sakha memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Almira.Oleh sebab itu,dia tidak mau membahas masa lalu dengan Almira.Sakha hanya menjelaskan pekerjaan yang harus di kerjakan oleh Almira karena memang dirinya datang di kantor ini untuk bekerja.
.
.
.
Saat jam istirahat,para karyawan tengah menikmati makan siangnya.Ada yang makan di luar kantor dan ada juga yang makan di kantin.Almira dan teman-teman barunya memilih untuk makan siang di kantin sambil membicarakan bos baru mereka yang super tampan itu.Siapa lagi kalau bukan Sakha.
"Eh...ngomong-ngomong si bos udah ada yang punya belum sih...??"tanya Almira yang sedari tadi kepo dengan status Sakha.
"Kayaknya sih belum....si bos baru aja dateng dari Bali.Dia baru lulus kuliah katanya...."ucap Nada,salah satu karyawan di bagian keuangan.
"Masak sih...??secakep itu masih single...??"kini gadis yang bernama Dira yang menimpali.
"Cakep sih...tapi emang dia itu kulkas tau...!!"ucap Zoya yang saat ini juga bekerja di perusahaan itu atas rekomendasi dari ayahnya yang menjabat sebagai manager pemasaran."Dia itu satu sekolah sama gue dulu..!!"Lanjutnya.
"Serius...??"tanya Nada,Dira dan Almira berbarengan.
"Serius gue....Bahkan dulu gue sempet ngejar-ngejar dia...Tapi gue ditolak mentah-mentah...."
"Trus....selama di SMA dia punya pacar gak...??"semuanya masih antusias mendengar cerita Zoya tentang bos mereka.
"Ada sih...Tapi gue yang saat itu ambis banget buat dapetin dia berhasil bikin tu cewek pergi dari sekolah karena salah paham.Sejak itu,gue gak pernah lihat si bos jalan sama cewek lagi...."
"Jadinya lo tetep gak berhasil dapetin si bos biarpun lo udah berhasi nyingkirin cewek itu..??"tanya Almira.
"Ya enggak...Malah gue ketahuan kalo gue yang udah bikin mereka salah paham.Hampir aja gue dibunuh sama tuh cowok....Si bos kalo udah marah serem banget tau gak...??Makanya kalian harus hati-hati, jangan sampe mancing emosinya si bos...!!"
"Masak sih...??"Almira tampak tidak percaya pada cerita Zoya.Dia dulu juga sempat dekat dengan Sakha,tapi dia sama sekali tidak pernah melihat Sakha berbuat kasar.
Sebenarnya dia tidak sedekat itu dengan Sakha.Mereka hanya dekat saat di sekolah saja sehingga Almira tidak mengetahui kebiasaan Sakha yang suka mengikuti balapan liar dan tawaran di luar sekolah.
***