I'M Sorry

I'M Sorry
25



Epilog


Tiga bulan telah berlalu, namun pencarian akan sosok wanita yang dicintainya tidak berbuah manis.


Kimber menghilang seperti ditelan bumi, dan sejak tiga bulan terakhir ini hidup Aaron berantakkan. Ia merasa bahwa dirinya telah berubah menjadi seseorang yang tak pernah dikenalinya lagi.


Aaron menatap ke arah taman di depan rumahnya. Taman itu telah berubah menjadi semakin indah dengan hiasan bebunganan yang tampak tertata apik melingkar menyerupi terowongan bunga. Tak hanya itu, tanaman sulur terlihat melilit pada pilar-pilar yang diletakan sebagai hiasan di sana.


Aaron tersenyum lemah. Karena pada akhirnya Lucas dan Bella dapat bersatu. Melangsungkan pernikahan mereka. Setelah perjuangan panjang keduanya dalam menghadapi masalah yang bertubi-tubi mengampiri.


Aaron seharusnya senang, namun dari hatinya yang paling dalam ia merasa iri dengan Lucas. Sebab, adiknya sebentar lagi akan memiliki hak sepenuhny atas wanita yang dicintainya. Sedangkan dirinya, tidak.


Namun, Aaron tidak ingin menyerah begitu saja, karena dirinya yakin Tuhan akan mempertemukannya dengan Kimbernya kelak, dan dirinya harus bersabar sampai waktu itu tiba.


***


Bella memejamkan kedua matanya, mencoba mengatur debaran jantungnya. Ia sangat gugup. Ya, hari ini adalah hari di mana dirinya akan mengucap janji suci bersama Lucas.


Ia menatap bayangannya di dalam cermin. Seorang wanita dengan rambut pirang yang dibiarkan tergerai tampak memukau.


Bayangan wanita itu seperti bukan dirinya. Apalagi hiasan flower crown tampak melingkar di atas kepalanya membuatnya terlihat seperti peri di negeri dongeng.


Gaun putihnya tampak pas melekat di tubuh rampingnya. Ia sangat puas. Sebab gaun ini adalah gaun Ibunya dulu, yang entah bagaimana bisa ada di atas ranjangnya. Bella tersenyum lebar, lalu memejamkan kedua matanya kembali.


***


Lucas sudah tidak sabar ketika ia berdiri di depan altar. Di sana pria itu tengah tersenyum manis menunggu mempelai wanitanya.


Di ujung sana, Bella tampak memukau dengan apa yang ada didirinya. Gaun putih, buket mawar putih ada digenggaman tangannya. Sedangkan tangan kiri wanita itu mengapit ke lengan kakak tirinya--Aaron.


Keduanya berjalan perlahan menuju ke arah Lucas. Tatapan mata Bella bertemu pandang dengan Pria itu yang membuat debaran jantungnya semakin bertalu-talu kencang. Telapak tangannya dingin, dan ia sangan gugup. Namun, Aaron menenangkannya. Pria itu membisikan agar dirinya tetap rileks


Dengan tersenyum lebar, Lucas berusaha bersabar, ketika wanita yang dicintainya sedang melangkah pelan bersama Aaron.


Ia merasa gugup, apalagi ketika berpasang-pasang mata menatap ke arah Bella yang semakin dekat membuat debaran jantungnya semakin keras. Dirinya tidak pernah seperti ini sebelumnya.


***


Bella mengeratkan rangkulan tangannya di lengan Aaron. Ia sangat gugup, namun seperti sihir, tatapan pria di depan altar membuat kegugupannya perlahan mereda.


Ia memang bukan Issabella Swan, yang akan menikahi pria vampire-nya. Tetapi bagi Bella, Lucas lebih segalanya dibandingkan dengan pria vampire itu.


Bella meringis karena telah membandingakan dirinya dan Lucas dengan tokoh fiksi itu. Tapi yang jelas, dirinya ingin bahagia seperti pasangan vampire tersebut. Memiliki seorang anak yang lucu-lucu. Membayangkannya saja mampu membuat kedua pipinya merona.


"Tidak, A, aku ingin bersamanya sampai ajal menjemput diantara kami berdua," ucap Bella mantap.


Lagi-lagi Aaron tersenyum lebar. "Seharusnya kata-kata itu kau simpan dulu, karena aku bukan pendeta yang akan menikahkan kalian," kekehnya. "Ķau terlihat sangat cantik. Aku senang karena kalian akhirnya dapat bersatu untuk selamanya," lanjutnya. Ia menatap wajah Bella lekat, lalu tersenyum lebar berusaha menyembunyikan kesedihan yang ada di dalam hatinya.


Bella tersenyum. Ia mengencangkan rangkulannya. "Aku yakin kau akan bertemu Kim lagi, dan kalian pasti akan bersatu selamanya," ucapnya.


Aaron mengangguk, lalu tersenyum kembali. "Semoga." Kedua matanya tampak berkaca-kaca. "Bell, kau sadar tidak? Lucas terlihat sudah tidak sabar di depan sana, sebaiknya percepat jalanmu, atau pria itu akan ke sini dan menggendongmu," goda Aaron.


Bella mendelik mendengar perkataan dari pria itu. Namun, ia tidak menampik bahwa apa yang dikataan Aaron benar adanya. Sebab, dirinya sangat tahu benar bagaimana sifat pria yang dicintainya--tidak sabaran.


Kedua pipi Bella semakin memerah dan ia lebih memilih diam. Memusatkan pandangannya hanya ke arah pria yang dicintainya.


***


Kimber sengaja datang dari New York untuk menghadiri pernikahan Bella dan Lucas.


Dirinya menyelinap diantara tamu-tamu. Menatap penuh rindu pada sosok pria yang kini tengah menyerahkan Bella ke tangan Lucas.


Ia tersenyum. Namun, ia menangis juga. Sebab, rasa rindu yang tak tertahankan menyerangnya selama tiga bulan terakhir ini. Dan sekarang, ketika ia melihat sosok yang dirindukannya ada di depan mata, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menatap pria itu dari kejahuan, dan itu cukup membuatnya puas.


Kimber mengusap perutnya yang tidak rata lagi. Ya, karena usia kandungannya saat ini memasuki minggu ke-14.


Kimber terlihat cantik. Rambut coklat terangnya ia gerai. Dan ia memakai topi besar untuk menutupi wajahnya.


Ketika pemberkatan itu telah berakhir. Kimber lebih memilih untuk pergi. Perlahan ia berbalik dan berjalan menjauh dari kerumunan.


Laju langkahnya mulai cepat. Sebab, ia tidak ingin ada yang mengetahui keberadaannya.


Namun, Tuhan sepertinya berkata lain. Aaron yang saat itu berada tak jauh darinya melihat dirinya sedang berjalan tergesa-gesa.


Langkah Kimber semakin cepat, ia sangat panik, ketika pria itu mulai mengejarnya dan memanggil-manggil namanya.


"Kim, tunggu! Aku mohon," Aaron berteriak. Ia tak peduli walaupun dirinya harus menambrak orang-orang di depannya.


Kimber tidak mempedulikan panggilan dari pria itu dan terus berjalan, lalu masuk ke dalam sebuah taksi yang telah menunggunya sejak tadi.


Aaron berhenti. Menatap taksi yang membawa wanita yang ducintainya. Bahkan, ia tidak mempedulikan kedua matanya kini telah basah oleh air matanya sendiri.


"Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia. Karena aku yakin kau akan kutemukan, dan kita akan bersama-sama lagi," ucap Aaron.


-----------Selesai-----------