I'M Sorry

I'M Sorry
11



Bab 11 Tujuan Bibi Mandy?


Lucas menyusul Bella ke kamarnya, namun sebelum dia masuk ke kamar itu, suara Bella lebih dulu menghentikkan laju kakinya. Ya, wanita itu berteriak supaya Lucas meninggalkan dirinya sendiri, tanpa berkata apapun Lucas pun meninggalkan tempat itu.


Lucas kembali ke dapur. Di sana Bibi Mandy tampak sibuk membersihkan alat-alat bekas tadi memasak. Tubuhnya yang berisi tampak bergoyang karena gerakan tangannya. Pemandangan yang selalu dirindukan semenjak kepergian Ibunya. Ya, Ibunya meninggal ketika umurnya menginjak 14 tahun. Dan dia benar-benar kehilangan sosok figure Ibu.


Bibi Mandy menoleh karena merasa ada yang memperhatikannya dari belakang. Setelah tahu Lucas yang tengah menatapnya, sebuah senyuman manis terlukis di bibir tipis miliknya.


"Apa kau sudah bicara dengan Bella?" tanya Bibi Mandy.


Wanita paruh baya itu berjalan mendekat ke arah Lucas, lantas duduk di samping pria itu.


"Aku tahu bagaimana perasaan Bella setelah mendengar Kakaknya akan menikah, dia pasti cemburu." Bibi Mandy tersenyum.


Lucas mengkerutkan keningnya mendengar perkataan bibi Mandy, "Cemburu? Maksud Bibi?"


Wanita paruh baya itu tersenyum, namun tidak berkata apa-apa lagi karena dia mulai sibuk menata piring-piring berisi masakan yang tadi dimasaknya.


"Bibi apa keputusanmu untuk menikahkanku adalah benar?" perkatan Lucas berhasil menghentikan apa yang tengah dikerjakan oleh wanita paruh baya itu.


"Maksudmu aku salah?" Bibi Mandy menatap Lucas dengan pandangan tak terbaca. Dia lalu menggenggam kedua tangan Lucas erat. "Luc, aku tahu kau tidak mencintai Kimber tapi aku mohon kepadamu untuk belajar mencintainya," ucapnya.


"Kalau Bibi tahu kenapa kau memaksaku untuk menikahi wanita itu?"


"Aku ingin yang terbaik untuk keponakan- keponakanku." Bibi Mandy berdiri lalu mulai sibuk dengan pekerjaannya tadi.


***


Kimber berjalan menuju kamar pria yang tinggal serumah dengannya, dia ingin meminta penjelasan darinya, tanpa mengetuk pintu wanita itu langsung masuk ke dalam kamar pria itu.


Di sana, di dalam kamar, Aaron terlihat baru saja selesai mandi. Rambut coklat tuanya masih terlihat basah bahkan ada beberapa tetes air yang jatuh mengenai kaos yang kini dikenakannya. Dan itu benar-benar membuat wajah Kimber panas.


"Apa kau tidak punya sopan santun, huh?!" Aaron membalikkan tubuhnya untuk menghadap Kimber.


Wanita itu tidak merespon apa-apa selain mengawasi pria di depannya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, namun setelahnya dia bisa menguasai diri.


"Sopan santun? Untukmu? Aku tidak punya, karena kau memang tidak seharusnya diberikan itu." Kimber membalas ucapan pria itu dengan tak kalah sinisnya, dan entah kenapa setiap dia berhadapan dengannya emosinya selalu terpanjing.


"Tentu saja, karena aku tahu wanita macam apa kamu. Katakan ada perlu apa kau ke sini? Karena aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni wanita tak punya sopan santun sepertimu." Aaron berjalan melewati Kimber dan keluar dari kamarnya. Mau tak mau wanita itu pun mengukutinya.


Pria itu terus berjalan tanpa mempedulikan wanita yang kini sedang mengikutinya dari belakang.


"Hei! Sebenarnya ke mana kau," ucap Kimber yang terus mengikuti Aaron.


"Ke tempat yang tak ada kau di dalamnya."


Aaron menuju dapur lalu mengambil air putih dari lemari pendingin. Namun sebelum dia menenggak air itu Kimber lebih dulu merebutnya dari tangannya.


"Apa yang kau lakukan!" bentak Aaron karena air minumnya telah berpindah ke tangan Kimber.


"Mengambil ini darimu. Kenapa ada masalah?" ucap Kimber sembari tersenyum lebar.


Aaron mendengus lalu merebut kembali gelas itu dari tangan Kimber.


"Sebaiknya jaga sikapmu karena sebentar lagi kau akan menjadi istri dari Lucas Adnan yang terkenal sangat dingin.


Kimber mengkerutkan keningnya, lalu menatap wajah pria itu. Aaron terlihat berbeda, dia terkesan menjaga jarak dengannya. Apa karena persyaratan yang telah dibuatnya sehingga pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak menyentuhnya lagi.


"Kenapa aku harus menikahi Lucas?" Kimber bertanya ketika Aaron sedang menghabiskan air minumnya.


Aaron hampir saja menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya, lalu menatap wajahi wanita di depannya.


"Bukankah itu yang kau mau? Dan aku sudah mempermudah jika kau yang akan memenangkan permainan ini," ucap Aaron.


"Tapi bukan dengan cara ini. Pernikahan harus didasari dengan cinta." Kimber mengikuti langkah Aaron ketika pria itu berjalan menuju meja makan.


"Apa itu penting? Bukannya itu akan lebih baik, hubungan yang tak didasari oleh perasaan?"


Perkataan dari pria itu sukses membuat Kimber jengah. Dengan tangan rampingnya dia mencekal pergelangan tangan Aaron untuk membuatnya berhenti menghindarinya. Dan itu berhasil.


Aaron berhenti lalu menatap wajah Kimber lekat. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan pergelangan tangannya digenggam sangat erat karena dia sama sekali tidak merasa kesakit hanya saja berada di dekatnya membuat detak jantungnya bekerja lebih dari semestinya dan dia benar-benar takut.


Pria itu kini tak lagi menghindari Kimber walaupun tangannya kini sudah bebas. Dia terus saja menatap wajah cantik Kimber seakan hanya inilah hari terakhir untuk bisa dengan bebas mengaguminya.


"Tapi kenapa?" tanya Kimber.


Aaron tidak menjawab pertanyaan Kimber, tapi dia lebih memilih memeluk tubuh wanita itu. Entah disadarinya atau tidak, wanita yang kini tengah dipeluknya sudah menjadi salah satu wanita paling berharga setelah Ibunya.


***


Bibi Mandy pergi ke kamar Bella, di sana wanita itu masih membaringkan tubuhnya. Pundaknya terlihat masih naik turun, dan wanita paruh baya itu mengarti bagaimana perasaan Bella. Karena dia pun pernah merasakannya dulu, kehilangan cinta yang diinginkannya, sampai dia tidak bisa membuka hatinya untuk pria mana pun.


"Bella ...," ucap Bibi Mandy mendekat kea rah ranjang Bella.


Bella hanya diam dan enggan untuk menoleh. Biar saja Bibi Mandy akan curiga akan sikapnya, yang penting dia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


"Bibi tahu perasaanmu, tapi ini akan lebih mudah untuk kalian berdua," Bibi Mandy duduk di sisi ranjang lalu mengelus puncak rambut Bella.


Bella penasaran dengan perkataan dari Bibinya, ia pun membalikkan tubuhnya menghadap wanita paruh baya itu, "Maksud Bibi apa?"


Kening Bella berkerut dan ia benar-benar kebingungan.


Bibi Mandy mengulum senyumannya, lalu menarik tangan Bella agar wanita itu bangun, "Makan siang sudah siap, jangan sampai calon kakak iparmu menunggu lama, Bell."


Lagi-lagi Bella mengerutkan keningnya karena mendengar ucapan Bibinya tentang calon kakak ipar itu, jika benar wanita yang bernama Kimber menjadi istri Lucas lebih baik ia pergi saja, menghilang hingga orang-orang tidak dapat menemukannya.


"Sebenarnya apa tujuan Bibi?" Bella memincingkan kedua matanya. Ia tampak curiga dengan kedatangan wanita paruh baya itu, karena selama 10 tahun lebih tidak terdengar kabar beritanya dan sekarang wanita paruh baya itu tiba-tiba berada di sini.


Wajah Bibi Mandi terkesiap kaget mendengar penuturan dari keponakannya, namun itu hanya seperdetik, "Apa maksudmu? Apa kau mencurigaiku, Bella?" wanita paruh baya itu menatap lekat wajah Bella. Sedangkan tangan yang tadi digunakan untuk menarik pergelangan tangan Bella kini telah terlepas.


"Aku hanya heran kepada Bibi, kenapa kau memaksakan pernikahan konyol itu kepada Lucas?" Bella benar-benar tak mau menjadi wanita yang lemah dan ia berusaha memberontak.


"Apa ini yang kau katakana sopan santun," ucap Bibi Mandy merasa sedih.


"Aku bukannya tak sopan, Bibi, tapi aku hanya heran kepadamu-" Bella berdiri, "dan tahu apa Bibi tentang Lucas dan Kimber? Bahkan wanita itu baru beberapa hari kami kenal," lanjutnya.


Bibi Mandy benar-benar tak menyangka jika Bella akan bersikap seperti itu. Ya, ia mengakui jika ialah yang merencanakan itu semua, karena ia tahu bagaimana hubungan kakak-beradik itu. Ia tidak ingin nasib mereka sama sepertinya. Tak tarasa sebutir air mata lolos dari salah satu matanya.


"Tapi Lucas menyetujuinya," ucap Bibi Mandy lirih lalu berbalik meninggalkan Bella sendiri.


***


Setelah wanita paruh baya itu pergi, barulah Bella menyesali perkataannya. Ia tampak tak punya sopan santun, bahkan dengan tak berperasaan menuduh Bibinya merencanakan sesuatu yang buruk untuknya juga Lucas, ia luruh duduk di lantai tak peduli jika laintai itu kotor karena yang ada dalam pikirannya hanya satu, bagaimana hubungannya dengan Lucas ke depan, toh pria yang dicintainya telah setuju menikahi wanita lain.


Air mata Bella tak dapat dicegah, dan ia menangis terisak. Sampai suara langkah kaki menghentikan tangisannya dan dengan terburu-buru ia menghapus lelehan air mata di pipinya.


"Apa aku boleh masuk?" ucap seorang wanita.


Bella mengenal betul dari suaranya dan wanita itu tak lain adalah Kimber wanita yang akan bersanding dengan prianya.


Dengan berat hati ia pun mempersilahkan wanita itu memasuki kamarnya. Bella berdiri dari duduknya lalu menatap Kimber dengan tatapan datar.


"Aku hanya ingin mengajak kau untuk makan siang, karena di bawah orang-orang telah menunggumu." Kimber terlihat gugup berbicara dengan Bella.


Bella tersenyum, namun dari dalam hatinya yang paling dalam wanita itu mengutuk Kimber, "Aku tidak lapar, jika kalian lapar lebih baik makan saja sekarang, jangan menungguku," ucapnnya.


Kimber bukan wanita polos dan juga lugu karena ia tahu Bella sedang cemburu kepadanya dan ia tak enak karena hal itu. Andai saja ia dan Aaron tidak memiliki kesepakatan konyol itu mungkin ia akan mundur ketika Bibi Mandy menyuruh Lucas menikahinya, kerena menurutnya pernikahan itu bukanlah sesuatu yang dapat menjadi mainan, namun harus bagaimana lagi, jika ia menolak maka dampaknya akan dirasakan oleh keluarganya.


"Apakah kau marah kepadaku, Bell? Maksudku, tentang pernikahan itu," Kimber mencoba mencari apa yang dipikirkan oleh wanita di hadapannya.


"Jika iya, apa kau akan senang," Bella menjawab dengan nada sinis.


"Tapi kenapa? Bukan' kan itu berita yang menyenangkan? Kakakmu akan menikah," panjing Kimber.


Dan setelah Kimber mengatakan itu ekspresi wajah Bella benar-benar berubah. Ia terlihat marah.


"Maka kuucapkan selamat untuk rencana pernikahanmu itu. Semoga pria yang kau nikahi benar-benar mencintaimu. Sebaiknya kau keluar, aku mengantuk," Bella benar-benar marah dan ia pun mengusir Kimber dari kamarnya.


Kimber tidak bisa berkata-kata lagi, dengan pasrah ia beranjak dari dalam kamar Bella dengan perasaan yang campur aduk.