
Seorang gadis kecil berambut ikal dan panjang berwarna coklat terang berlari membelah lautan manusia. Gadis kecil tersebut tampak bersemangat. Apalagi di tangan kanannya terdapat sebuah piala yang menandakan bahwa dirinya telah memenangkan sebuah lomba yang diikutinya.
Kaki kecilnya terus saja berlari. Pun dengan senyum lebar menghiasi bibir mungilnya. Ia menuju dua orang yang tengah menunggunya di depan sana.
Rambut ikal panjangnya terombang-ombing seiring gerakan tubuhnya. Gadis kecil itu tampak menggemaskan untuk semua orang yang berpapasan dengannya. Namun, ia seolah mengabaikan tatapan orang-orang yang ingin meraihnya ke dalam pelukan mereka. Sebab, gadis kecil tersebut lebih memilih untuk terus berlari ke arah dua orang yang terlihat tidak sabar untuk memeluknya.
Gadis kecil itu berhenti tepat di depan seorang wanita cantik. Ia memamerkan piala yang dipegangnya, lalu tersenyum lebar.
"Mom, lihat apa yang aku bawa," gadis kecil tersebut menggoyang-goyangkan benda di tangannya. Membuat wanita di hadapannya tersenyum lebar, dan meraih tubuh mungil itu ke dalam pelukkannya.
"Wah ..., aku tahu kau pasti menang, Sam. Karena kau satu-satunya yang paling cantik diantara yang tercantik," wanita itu menatap wajah putri kecilnya, lalu menoleh ke arah pria yang daritadi hanya diam melihat interaksi Ibu dan anak itu.
Gadis kecil itu mendadak cemberut, seolah apa yang dikatakan oleh Ibunya hanyalah sebuah kebohongan.
"Aku bukan satu-satunya yang tercantik, Mom, karena pemenangnya bukan hanya aku, tapi ada satu lagi." Gadis kecil yang dipanggil dengan nama Sam, tampak kesal dan ia terlihat semakin menggemaskan.
Pria yang daritadi hanya diam kini meraih tubuh mungil Sam dan mengangkatnya. Ia tersenyum, lalu mengecup dahinya.
"Yang penting kau memenangkan lombanya, Sayang. Jadi, mari kita rayakan. Kau ingin apa? Es krim atau pergi ke taman hiburan?" pria itu tersenyum, sembari melangkah menuju mobil yang tak jauh dari tadi tempatnya berdiri.
Kedua mata Sam berbinar, lalu tersenyum lebar. "Wah ... Daddy ..., aku ingin ke taman hiburan."
Sam terlihat sangat senang. Namun, ketika ia melihat seorang anak seusianya tengah memegang piala yang sama persis dengannya, senyumannya mendadak memudar. Ia tampak tidak senang dengan gadis kecil tersebut.
Pria itu melihat perubahan ekspresi dari putrinya, lalu menoleh ke arah objek yang ditatap oleh gadis kecil digendongannya itu.
Ia mengernyit ketika tatapannya tertumbuk kepada seorang gadis kecil. Rambut sebahu berwarna merah tembaga tampak berkilau terkena cahaya matahari. Gadis kecil tersebut tampak sedang memegang piala yang sama persis dengan yang dimiliki Sam. Dan ia cukup tahu, alasan perubahan mendadak dari putrinya.
"Apa dia yang kau maksud, Sayang?" pria itu bertanya. Dan tak lama setelahnya, Sam mengangguk.
Wanita di sampingnya merasa kebingungan dengan yang ditanyakan oleh suaminya. Namun, ketika tatapan matanya mengikuti arah pandang keduanya ia baru mengerti, lalu menggelengkan kepalanya. Sebab, ia teringat dengan masa kecilnya dulu.
"Kenapa dia hanya sendiri? Di mana kedua orangtuanya?" kali ini giliran wanita itu yang bertanya.
Sam menoleh, lalu menggelengkan kepalanya. "Sebenarnya dia selalu sendiri, Mom. Bahkan, tidak ada yang ingin berteman dengannya. Mommy nya selalu telat menjemput. Bahkan, dia sering pulang sendiri." Ia menatap gadis kecil itu.
"Bagaimana kalau kita ajak dia?" wanita itu telah melangkah menuju gadis kecil yang terlihat sedih.
Sam sebenarnya ingin menolak saran dari Ibunya, namun melihat Ibunya telah berada di dekat anak itu, membuatnya hanya bisa diam dan pasrah.
Ibu Sam mensejajarkan tinggi tubuhnya. Tersenyum manakala menatap wajah bingung milik gadis berambut merah tembaga itu.
"Kau sendiri? Di mana kedua orangtuamu?" ia bertanya. Gadis kecil itu menatapnya ragu-ragu. Bahkan, ia enggan untuk menanggapinya.
"Kenalkan, aku Bellatrick, Mommy-nya Sam. Kalian berteman kan?"
Gadis kecil itu menoleh ke arah Sam, lalu menunduk. "Aku memang satu kelas dengannya, tapi kami tidak berteman, Nyonya." Suaranya terdengar sedih.
Wanita itu yang lebih dikenal dengan sebutan Bella, menggapai pipi gadis itu. Mengelusnya pelas, seolah takut kulit halusnya tergores karena elusan jemarinya.
"Itu sama saja, Sayang. Sam tidak pernah mengajakmu bicara bukan berarti dia bukan temanmu," Bella tersenyum.
"Benarkah?" Mendadak seulas senyuman manis terbit dari bibir mungilnya.
Bella mengangguk, membalas senyuman gadis kecil tersebut. "Siapa namamu? Kau mengingatkanku kepada dua orang?"
Gadis kecil itu tersenyum kembali, "Aku Ester, Nyonya," jawabnya.
Bella mengernyitkan keningnya. Ia terus saja mengamati wajah anak bernama Ester lekat. Seolah wajah itu pernah dilihatnya dan sangat familiar.
"Mau kah kau ikut bersama kami? Kulihat kau hanya sendiri," ucap Bella tanpa mengalihkan tatapannya. "Dan jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja Bella," lanjutnya.
Ester mengernyitkan keningnya. Ia tampak ragu dengan ajakkan wanita yang baru dikenalnya, walaupun sejatinya wanita itu adalah Ibu dari teman sekelasnya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa. Mamaku pasti akan mencariku," kepala Ester tertunduk lemah. Ia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya. Sebab, sebenarnya dirinya ingin ikut dengan keluarga Sam.
Belum sempat Bella mengatakan sesuatu untuk meyakinkan Ester, dari arah belakang tubuhnya ia mendengar suara tawa Sam dan suara seorang pria yang sudah ia kenali.
Bella menoleh. Di sana, Sam tampak sedang digendong oleh seorang pria. Pria itu menyeringai lalu memutar tubuhnya.
"Papa lihat ... aku memenangkan perlombaan," ucap Sam antusias.
Pria yang dipanggil Papa, semakin mengeratkan gendongannya seiring putarannya semakin mengencang.
"Benarkah? Waw ... itu namanya anak kesayangan Papa," ucapnya disela-sela tertawanya.
Sedangkan pria satunya hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepala melihat tingkah kakaknya.
"A, turunkan putriku, atau dia akan pusing dan muntah," kali ini Bella yang mengingatkan pria itu. Ia beranjak dari hadapan Ester untuk menurunkan Sam dari gendongan pria itu.
"Mommy ... kenapa aku harus turun, aku ingun bersama Papa," Sam terus merangkul tubuh kekar pria tersebut.
Bella tersenyum. Karena ia tahu bagaimana hubungan antara keduanya. Ya, pria itu adalah Aaron--kakak tiri suaminya, Lucas. Sekaligus paman Sam, namun Sam memilih memanggil Aaron Papa.
"Ayolah ... Sam, atau kita tidak jadi pergi ke taman hiburan?" Ancam Bella.
Sam tampak sebal, namun ia menuruti kemauan Ibunya.
"Okay ..., tapi aku ingin permen kapas yang besar, boleh kan Mom?" Bella menggelengkan kepalanya, namun setelah itu dirinya tersenyum.
"Tentu. Kalian berdua akan mendapatkan permen kapas yang terbesar, benar kan, Ester?" Bella menoleh ke arah gadis kecil di belakangnya.
Ester tampak berbinar dan ia mengangguk, walaupun dirinya tidak tahu jika keputusannya akan membuat hati seorang wanita yang tak jauh dari mereka dan sedang bersembunyi akan sedih.
Ya, wanita itu tak lain adalah Ibu Ester yang datang telat karena harus bekerja dulu. Ketika ia menangkap pemandangan di depannya, hatinya berdesir. Apalagi ketika ia menanggap sesosok pria yang sampai saat ini masih berada di hatinya--Aaron.
Ya, jika pria itu bernama Aaron berarti wanita yang kini bersembunyi adalah Kimber.
----Selesai-----