
Aku Dan Kau
Bella mengerjapkan kedua matanya. Dia terbangun ketika hari sudah gelap, di sisinya masih ada Lucas yang tertidur pulas sembari memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang. Seulas senyuman lebar tersengging dari bibir merahnya. Ya, dia tampak sangat bahagia, karena seseorang yang sejak awal dikaguminya kini telah menjadi kekasihnya.
Kekasih? Dia menyernyitkan keningnya tampak berpikir, apakah hubungan mereka sudah bisa dikatakan seperti itu? Entahlah. Karena di matanya dan Lucas, mereka sudah sah menjadi sepasang kekasih. Namun, beda dengan pandangan orang lain. Mereka akan memandang rendah jika tahu hubungannya dengan Lucas lebih dari sepasang kakak-beradik.
Sebersit kekecewaan mulai menggerogoti hatinya dan pikiran-pikiran yang tak masuk akal mulai mengambil alih dirinya.
Bella melepaskan tautan jemari Lucas. Dengan sangat perlahan dia menuruni ranjang tempatnya tadi tidur, lalu berdiri menghadap ke arah pria itu.
Bella menatap lekat wajah Lucas. Bibir yang tadinya menyunggingkan sebuah senyuman kini memudar yang tersisa hanya sebuah garis tipis. Ekspresi wajahnya terlihat muram. Entah apa yang tengah dipikirkannya.
"Aku percaya kau mencintaiku. Tapi, apakah itu mungkin?" gumamnya lebih pada dirinya sendiri. Lantas berlalu meninggalkan kamar itu.
***
Aaron masih shock mendengar penuturan dari wanita itu. Ya, wanita yang beberapa hari terakhir tinggal bersamanya akan tahu rahasia dari dua orang yang dia incar. Sebenarnya dia tak masalah jika rahasia kakak-beradik itu diketahui. Tapi, jika reaksi wanita itu akan seperti ini, mungkin dia akan mencari seseorang yang lebih profesional. Namun, bodohnya dia malah memilih wanita itu yang notabenenya adalah sepupu jauhnya.
"Karena kau sudah tahu rahasia mereka, kuharap kau tidak akan mundur, Kim," ucapnya tanpa basa-basi. Wajahnya terlihat datar seakan dia tidak memiliki belas kasihan.
Kimber menatap nyalang Aaron, dia benar-benar tak habis pikir dengan sikap dingin pria itu. Lantas berlari menuju lemari pakaiannya.
Sebuah koper telah diambilnya, lalu dengan kasar dia membuka pintu lemari itu. Satu-per-satu baju-baju yang ada di dalam lemari itu telah berpindah ke dalam koper tadi.
Apa yang tengah dilakukan Kimber membuat Aaron sedikit emosi. Dengan langkah lebarnya dia telah sampai di samping wanita itu.
"Apa yang kau lakukan, hah?!" tanyanya sarat dengan kemarahan.
Namun, Kimber mengabaikannya dan terus memasukkan baju-baju itu. Karena tidak tahan diabaikan, Aaron menyentak pergelangan tangan Kimber untuk menghentikan kegiatannya itu. Mau tak mau Kimber pun berhenti.
"Lihat aku, Kim!" bentak Aaron setelah apa yang dia lakukan pada Kimber.
"Demi Tuhan, lihat aku, Kim!" bentak pria itu frutasi.
Wanita itu hanya diam enggan menuruti apa yang diinginkan pria di dekatnya. Sampai sentakan dari kedua bahunya membuatnya mau tak mau menghadap pada pria itu. Tak cukup di situ saja, Aaron mendaratkan bibirnya tiba-tiba di atas bibir Kimber. Dia menciumnya dengan sangat kasar, namun wanita itu hanya diam tanpa membalas ciuman Aaron. Hanya air matanya saja yang semakin deras mengalir dari kedua pelupuk matanya.
***
Bella terdiam di balkon sembari menatap langit. Udara dingin yang menusuk tidak membuatnya merasa kedinginnya, malah sebaliknya. Dia merasa sangat kepanasan. Sampai suara derap langkah kaki memecahkan lamunannya. Seperti sihir, pria itu berjalan ke arah Bella. Dia terlihat berkali-kali seksi, dengan rambut coklat yang berantakan membingkai wajahnya. Mata dengan bola mata berwarna kelabu membuatnya tampak melihat luasnya langit. Dadanya yang bidang membuat siapa saja yang telah bersandar di bahunya akan merasa nyaman. Ya, dia Lukas kakaknya sekaligus kekasihnya.
Bella tersenyum ke arah pria itu, lalu menunggunya untuk bergabung bersamanya.
"Kenapa kau tidak membangunkanku, heum?" tanya Lucas, dan kini tangan kokohnya telah merayap di pinggang ramping wanita itu.
"Aku tidak tega. Kulihat kau tertidur sangat lelap," jawab Bella sembari menyandarkan pipi kanannya pada dada bidang pria itu.
Lucas tersenyum, "Seharusnya kau membangunkanku, Sayang. Apa kau sudah makan?"
Wanita itu menggelengkan kepala lalu menengadahkan wajahnya untuk menatap Lucas.
"Apa kau lapar? Biar kubuatkan sesuatu dulu," ucap Bella. Namun, sebelum dia melepaskan dari dari rengkuhan Lucas, Lucas terlebih dahulu mengeratkan rengkuhannya.
"Aku hanya ingin ini," ucap Lucas, lalu menundukkan kepalanya dan mencium bibir mungil Bella.
Ciuman singat memang, namun efeknya sangat dasyat. Bella benar-benar kaget dengan tindakkan Lucas. Bahkan dia tidak menyangka kakaknya akan seberani itu.
"Apa kau masih ragu dengan hubungan kita?" tanya Lucas karena melihat reaksi Bella.
Bella hanya diam, tapi Lucas tentu saja sudah tahu maksud dari sikap diam Bella. Dilepaskannya dekapan tangannya lalu dia menatap Bella lekat, "Aku menganggapmu seperti wanita pada umumnya. Jika saja aku bisa merubah takdir kita, aku ingin kau menjadi orang asing dan setelah itu aku bisa memilikimu tanpa harus takut reaksi orang-orang di sekitar kita. Namun, takdir berkata lain, karena nyatanya kau adalah adikku." ucap Lucas sembari menatap Bella lagi, "tapi, aku tidak menyesal telah memilihmu menjadi milikku. Maksudku menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku, karena aku mencintaimu. Bukan sebagai seorang kakak terhadap adiknya melainkan seorang pria kepada wanitanya." tutupnya.
Bella tersenyum mendengar ucapan dari pria itu. "Apa itu mungkin?" tanya tak yakin.
"Yakinlah. Karena aku dan kau sudah ditakdirkan seperti itu."