I'M Sorry

I'M Sorry
22



Bab 22 Obsesi Gila


Wanita paruh baya itu menatap Bella tajam. Bibir tipisnya menyeringai. Ia tak lagi menyembunyikan identitasnya setelah tahu orang suruhannya telah membocorkan rahasianya, bahkan pria ***** itu telah berani berkhianat, menelepon Lucas untuk meminta sejumlah uang tebusan.


Ia mengetahuinya. Sebab, tak lama setelah ia meluapkan kebenciannya pada potret pasangan suami-isteri itu, Lucas dan Aaron datang.


Kedua pria itu tadinya tampak kaget melihat pecahan beling berserakan memenuhi lantai, namun dengan lihai wanita paruh baya tersebut berkelit bahwa ada seekor kucing yang masuk dan menyenggolnya.


Lucas maupun Aaron tentu saja percaya. Mereka berdua lalu membantu membersihkan pecahan beling itu sembari bercerita tentang Bella. Ia awalnya memang kaget, namun bukan karena wanita itu diculik. Melainkan karena pria suruhannya telah berkhianat. Jelas-jelas ia menyuruh pria ***** itu untuk membunuh Bella secepat mungkin, namun nyatanya tidak.


Maka di sinilah ia sekarang. Menatap wanita di depannya penuh kebencian yang sebenarnya tidak beralasan.


Bella memang tidak ada sangkut pautnya dengan kisah cintanya dulu, namun wajah Bella, rambut dan postur tubuhnya begitu mirip dengan wanita perebut itu. Mau tak mau, wanita paruh baya itu pun terobsesi terhadapnya. Lebih tepatnya ingin mengenyahkannya dari orang-orang yang ia sayangi.


Ia kira kejadian sepuluh tahun silam akan membuatnya puas karena ialah penyebab kecelakan itu terjadi. Namun, nyatanya ia semakin tersiksa. Apalagi ketika ia mengetahui keponakannya—Lucas begitu mirip dengan ayahnya—James, obsesinya pun tumbuh lagi.


Sedangkan di sisi lain ia telah mengetahui bahwa Lucas mencintai adiknya sendiri, dan ia semakin tidak suka, ketika tahu bahwa Bella adalah anak dari adik Jessy yang otomatis mereka bisa bersatu dalam satu ikatan sakral. Namun, anak kandungnya yang dulu sempat ia berikan kepada orang lain membantunya menemukan sosok wanita muda yang begitu mirip dengannya, dan ia ingin wanita muda itu menikah dengan keponakannya.


Tetapi, rencana yang sudah ia susun matang-matang harus hancur seketika, ketika anak kandungnya ternyata telah jatuh cinta kepada wanita muda pilihannya. Dan masalah pun mulai bertambah kacau ketika Bella mengetahui bahwa dirinya hanyalah anak adopsi.


Bella menatap wanita paruh baya itu lekat. Ia tidak tahu apa yang kini tengan dipikirkan Bibinya. Sebab, yang terlihat oleh Bella, wanita paruh baya itu tampak terdiam dengan tatapan mata yang tidak fokus. Seolah Bibinya sedang melamunkan sesuatu.


Bella tidak tahu alasan Bibinya berbuat semua ini. Ia tidak mengira jika wanita yang disayanginya tega menculik bahkan akan membunuhnya. Karena yang ia tahu, wanita paruh baya itu terlalu lembut dan penuh kasih sayang, makanya ia tidak menyangka dibalik sifat tersebut tersimpan sosok yang mengerikan.


Bella melangkah beberapa langkah ke arahnya, ingin sekali menggapai tubuh wanita paruh baya itu. Meminta penjelasan tentang semuanya, dan ia sangat berharap bahwa yang tengah dilakukan oleh wanita paruh baya itu hanyalah sebuah lelucon.


"Kenapa?" hanya satu kata itulah yang bisa terucap dari mulut Bella.


Bella menatap wajah Bibi Mandy dengan linangan airmata.


Dengusan keras yang dibarengi dengan suara tawa terdengar dari mulut wanita baya tersebut. Ia menatap Bella meremehkan, lalu melipat kedua tangannya di bawah payudaranya. "Kau seharusnya tidak ada di keluarga kami," ucapnya. "Namun, wanita itu membawamu ketika saudarinya meninggal karena kecelakan," lanjutnya.


Bella mendengarkannya, tapi tidak paham dengan apa yang dikatakan wanita paruh baya itu.


"Aku tidak mengerti," Bella menatap Bibi Mandy yang menulai berjalan mendekatinya.


"Kau itu sama dengannya yang tidak akan paham walaupun seseorang telah memberimu peringatan sekali," suara Bibi Mandy begitu sinis.


Bella tampak ketakutan, sebab ia tidak pernah melihat Bibi Mandy yang sekarang. Jarak keduanya semakin dekat, dan Bella masih bergeming di tempatnya.


Bella mengernyitkan keningnya. Ia benar-benar merasa bingung, "Siapa yang Bibi maksud," ucapnya tepat ketika jaraknya hanya dua kepal tangan orang dewasa.


Bibi Mandy menyeringai. Lipatan tangannya kini ia lepaskan, dan memegang kedua sisi pundak Bella.


"Bibi? Hahaha ... kau itu bukan keponakanku, Bella ... kau hanya anak pungut dari adik wanita sialan itu," desisinya. Kedua genggaman tangannya pun mengerat.


"Maksudmu Mom adalah Bibiku?" gumamnya pelan.


Wanita paruh baya itu tertawa keras. Ia cukup puas melihat raut sedih yang ditunjukkan oleh Bella. Andai saja ia juga melihat saat Jessy sedang meregang nyawa pasti rasa benci terhadap wanita itu sedikit berkurang, namun nyatanya wanita itu membawa serta pria yang dicintainya juga.


"Begitulah yang aku tahu," Bibi Mandy semakin mengeratkan cengkeraman tangannya, ia seolah tak mau peduli jika Bella tampak kesakitan.


"Sa-sakit ... lepaskan aku," gumam Bella.


Bibir wanita paruh baya itu berkedut. Seolah tengah menahan sesuatu. "Kau bilang lepaskan? Apa kau kira aku bisa kau perintah? Ckckck ... dasar wanita tak tahu diri. Seharusnya kau menghilang saja waktu itu, tapi kenapa kau malah kembali."


Wajah Bella memucat, ia tidak tahu bahwa wanita paruh baya di depannya begitu senang ketika ia pergi.


"T-tapi kenapa? Apa salahku?" Bella bertanya.


Bibi Mandy melapaskan cengkeraman tangan kanannya dan berpindah menepuk-nepuk pipi Bella. "Wajahmu yang salah, karena apa yang kau miliki menginatkanku kepada Jessy. Aku membencinya!" teriaknya begitu kencang. Membuat Bella menutup kedua telinga dengan tangannya.


"K-kenapa kau membencinya?" Bella masih penasaran dengan alasan Bibi Mandy.


Bibir wanita baya itu berkedut lagi, lalu tersenyum sinis. "Kau bertanya kenapa aku membencinya? Ckckck ... seharusnya kau tahu karena wanita itu telah merebut James. Pria yang kucinta," ucapnya.


Kedua mata Bella terbelalak tidak percaya. Dan itu cukup membuatnya mengerti kenapa Bibi Mandy begitu membencinya.


***


Lucas membawa uang yang diinginkan oleh penculik itu menuju sebuah gudang yang tak lagi terpakai di pinggiran kota. Tempat itu jauh dari hiruk-pikuk keramaian, membuatnya menjadi tempat teraman untuk menyembunyikan seseorang.


Pria itu hanya seorang diri, namun di belakang, Aaron telah membuntutinya berserta dengan Polisi.


Ia mulai melangkah memasuki gedung itu, namun semakin ia melangkah pria itu tadak menemukan seseorang pun, hanya kesunyian yang mendominasi tempat itu. Karena penasaran ia pun berjalan lebih dalam memasuki gudang sampai kedua matanya menatap sebuah tubuh terbaring di tanan.


Tubuh orang itu membelakangi Lucas. Dengan perlahan ia mendekati tubuh itu. Menggapainya untuk membalikkannya. Dan ketika tubuh itu sudah terbaring terlentang, kedua mata Lucas terbelalak tak percaya. Sebab, orang itu tak lagi bernyawa.


Darah segar masih keluar dari bekas lubang di dada kirinya. Kedua bola matanya masih terbuka dan melotot syok. Lantas Lucas pun mengusap wajah orang itu yang otomatis menutup pula kedua mata orang tersebut.


Lucas berdiri, lalu melangkah dan ia mendengar suara seseorang sedang terlibat suatu pembicaraan. Ia mencari sumber suara itu, dan ketika kedua matanya menangkap suatu pemandangan di depannya, ia terbelalak antara percaya dan tidak percaya.


Dua sosok yang amat sangat dikenalnya, tengah terlibat suatu pembicaraan. Dari raut wajah keduanya tampak mereka sedang bertengkar. Apalagi ketika Lucas melihat ada airmata di kedua pipi Bella membuktikan bahwa wanita itu sedang dalam masalah, dan benar saja sesuatu yang tak pernah dibayangkan olehnya teradi. Wanita paruh baya yang selama ini disayanginya tega menodongkan moncong pistol tepat di dahi Bella.


Dengan sigap Lucas berlari ke arah kedua wanita itu. Namun, belum sampai pria itu menggapai keduanya, jeritan memekakan itu membuatnya mau tak mau menghentikan laju kakinya. Dan ia hanya pasrah, ketika tangan Bibi Mandy menarik dengan keras rambut wanita yang dicintainya.


"Bagus ... tetaplah di sana. Karena sekali saja kau melangkah. Maka kepala wanita sialan ini akan pecah," ancam Bibi Mandy.


0UvY