
"BRUKK...!!"
Tubuh Salsa ambruk ke lantai.Almira menjadi panik dibuatnya.Dia memanggil orang yang ada disekitarnya untuk mengangkat tubuh Salsa.
Dari dalam,Sakha seperti mendengar suara ribut diluar.Dia segera melangkah keluar untuk melihat apa yang terjadi.Sakha begitu terkejut saat mendapati tubuh Salsa sedang dibaringkan di sofa yang disediakan untuk tamu.Sakha bergegas menghampiri istrinya yang sedang tidak sadarkan diri.
"Kenapa dia...??"
"Ehm...gak tau pak...Tiba-tiba aja pingsan di depan ruangan bapak...!!"jawab Almira gugup.Dia tidak ingin pembicaraannya dengan Salsa diketahui oleh Sakha.
Sakha segera memeriksa tubuh Salsa.Sepertinya tidak panas.Dia lalu mengoleskan minyak kayu putih yang diberikan oleh salah seorang karyawannya yang ada disana.Berharap Salsa segera sadar saat mencium aroma minyak itu.
"Ehm...bapak lanjutin kerjaan bapak aja...!!Biar cewek ini saya yang ngurusin pak...!!"Almira masih berusaha agar Salsa tidak sampai berbicara kepada Sakha.
"Kamu yang lanjutin pekerjaan kamu...!!"ucap Sakha ketus.Dia begitu panik karena Salsa tiba-tiba pingsan di luar ruangannya dan Almira malah memintanya meninggalkan Salsa.
"Ehh....ta-tapi pak...Nanti setelah makan siang kita ada rapat penting pak...!!Kalau bapak buang-buang waktu buat ngurusin orang ini,nanti pekerjaan bapak bisa kacau...!!"
"Diam kamu Almira....!!"
Seketika Almira langsung bungkam karena Sakha tiba-tiba membentaknya.Wanita itu melangkah menuju ke mejanya dengan kesal.
Salsa membuka matanya perlahan-lahan.Sakha langsung membantu Salsa untuk duduk dan memberikan teh hangat yang telah tersedia di meja.Mungkin salah satu karyawannya yang telah menyiapkan teh hangat itu.
"Sayang....kamu kenapa...??kok sampe pingsan di depan ruangan aku...??"
"Hmm...kepalaku tiba-tiba pusing banget...!!Mungkin karena belum makan...Tadinya aku mau masuk keruangan kamu dan ngajak kamu makan siang bareng,,tapi aku gak dibolehin masuk sama sekretaris kamu...!!"jawab Salsa sambil memijat keningnya.Kepalanya masih terasa pusing
"Almira...??Dia nggak ngizinin kamu masuk...??"
"Hmmm...."
"Yaudah,,kamu istirahat dulu...!!Atau kamu mau istirahat di dalem ruangan aku...??Disana juga ada sofanya..."
Salsa menganggukkan kepalanya. Sakha kemudian memapah Salsa memasuki ruangannya agar Salsa bisa beristirahat dengan nyaman disana.
Sementara Almira,dia begitu heran melihat Sakha yang begitu perhatian kepada Salsa.Dia jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya Salsa itu.Dia takut jika sampai gadis memberitahukan apa yang tadi dikatakannya kepada Salsa.
Almira memukul kepalanya sendiri karena merasa dirinya sangat bodoh.Dia tidak ingin Sakha didekati oleh perempuan lain sehingga dia menjadi gelap mata dan mengaku-ngaku sebagai calon istri Sakha.
.
.
.
Didalam ruangan,Salsa hanya diam saja.Dia masih memikirkan kata-kata Almira barusan.Bagaimana bisa wanita itu mengaku sebagai calon istri dari suaminya...??Apakah suaminya telah berselingkuh dengan sekretasinya seperti kisah-kisah dalam novel yang sering dia baca...??Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di pikiran Salsa.Tiba-tiba saja air mata Salsa menetes membasahi pipinya.Entah kenapa perasaannya begitu sensitif saat ini.Biasanya dia tak pernah menghiraukan para wanita yang berusaha mendekati Sakha.Tapi saat mengingat kata-kata Almira tadi,Salsa begitu takut jika memang Sakha benar-benar memiliki hubungan dengan sekretarisnya itu.Apalagi Almira mengatakan bahwa Sakha sudah begitu dekat dengan anaknya.Salsa jadi merasa rendah diri karena sampai saat ini dia belum bisa memberikan seorang anak untuk Sakha.
"Sayang,,kamu kenapa...??Apa ada yang sakit...??"Sakha merasa khawatir karena Salsa tiba-tiba menangis.
Mendengar pertanyaan Sakha,Salsa malah semakin terisak.Dia memeluk tubuh Sakha dengan erat karena saat ini dia merasa sangat takut kehilangan suaminya itu.Sakha merasakan gelagat aneh dari istrinya.Tapi dia tidak menanyakan lebih lanjut karena tahu bahwa istrinya saat ini butuh ditenangkan.Sakha balas memeluk istrinya sambil mengelus punggungnya dengan lembut agar perasaan Salsa merasa lebih baik.
Benar saja,tak lama kemudian Salsa sudah berhenti menangis.Salsa sudah merasa sedikit lebih tenang karena pelukan hangat dari suaminya.Dia merasa sepertinya suaminya memang tidak berselingkuh darinya.
Salsa hanya menggelengkan kepalanya."Oh iya,,tadi aku bawa makanan....Makan dulu yuk...!!Aku laper...."
"Oh ya...mana...??"
"Tadi aku pingsan di depan...Mungkin masih ketinggalan di luar sayang...!"Salsa mencoba berdiri.Dia ingin mengambil makanan yang tadi dibawanya dari cafe.
"Udah...kamu istirahat aja..!!Biar aku yang ambil...!!"Sakha mencegah Salsa untuk bangun.Dengan cepat Sakha melangkah keluar untuk mengambil makanan yang tadi dibawa istrinya.
Dilihatnya makanan yang dibawa Salsa masih tergeletak utuh di meja.Sakha segera mengambil bungkusan makanan itu dan membawanya ke dalam ruangan untuk dimakannya bersama Salsa. Keduanya lalu menikmati makan siang mereka.
"Loh...kok kamu bawa makanannya tiga porsi...??Satunya lagi buat siapa...??"tanya Sakha saat menyadari bahwa masih ada satu porsi makanan lagi di dalam tas kanvas yang dibawa oleh Salsa.
"Oooh...itu...Tadinya aku pengen bawain makanan buat sekretaris kamu sekalian....Tapi....."Salsa terdiam.Dia ragu-ragu harus mengatakan kepada Sakha atau tidak soal ucapan Almira tadi.
"Kamu kenapa....??Ada masalah sama Almira...??"Sakha merasa bahwa istrinya memiliki masalah dengan Almira.
"Sayang....kamu ada hubungan apa sama sekretaris kamu...??"Salsa malah balik bertanya kepada Sakha.Dia benar-benar ingin memastikan bahwa suaminya memang tidak memiliki hubungan yang spesial dengan sekretarisnya itu.
"Kamu kok tanya gitu sih sayang....??Hubungan aku sama Almira ya cuman sebatas bos sama sekretaris aja....!!Memang Almira dulu temen SMP aku...makanya aku gak terlalu kaku sama dia...."
"Beneran gak ada apa-apa...??Tapi kamu juga deket sama anaknya...??"
"Sayang...kamu kenapa sih...??Kenapa pertanyaan kamu aneh-aneh gitu...??"Sakha tidak mengerti kenapa Salsa tiba-tiba berubah menjadi sedikit posesif.
"Pak....Alika ingin bicara dengan anda...!!"Almira tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Sakha tanpa mengetuk pintu. Jelas Salsa langsung kembali merasa curiga karena hal itu.
"Ah...i-iya..."Sakha yang merasa tidak enak kepada Alika langsung menerima ponsel Almira.Dia mulai mengobrol dengan akrab dengan Alika.
Salsa yang melihat hal itu merasakan sesak di dadanya.Dia tidak sanggup menyaksikan suaminya tampak akrab dengan anak dari wanita lain.Tanpa menghabiskan makanannya,Salsa segera pergi dari ruangan Sakha.Bahkan dia tidak berniat untuk berpamitan dengan suaminya. Almira yang melihat Salsa pergi meninggalkan tempat itu tampak tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Alika...ngobrolnya udah dulu ya...!!Om masih banyak kerjaan nih...!!"Sakha segera mengakhiri obrolannya dengan Alika.Dia buru-buru keluar untuk menyusul Salsa.
"Pak...setelah ini bapak harus menghadiri rapat...!!"Almira berusaha mencegah Sakha yang ingin mengejar Salsa.
"Batalkan rapatnya....!!"jawab Sakha,lalu segera berlari untuk menyusul Salsa.Ponsel milik Almirapun dia letakkan begitu saja dimeja tanpa mengembalikan kepada pemiliknya.
"Ta-tapi pak....."ucapan Almira terhenti karena Sakha telah berlalu dari ruangannya.
Salsa berlari dengan sekuat tenaganya keluar dari kantor suaminya.Tanpa sadar air matanya meleleh membasahi pipinya.Dia merasa Sakha memang memiliki hubungan yang spesial dengan sekeretartisnya karena wanita itu bisa keluar masuk di ruangan Sakha tanpa mengetuk pintu.
"Brukk....!!"Karena sibuk dengan pemikirannya,tak sengaja Salsa menabrak seseorang di pintu masuk.
"Salsa...??kenapa lo...??"Ternyata orang itu adalah Devano.Dia merasa terkejut saat melihat Salsa keluar dari perusahaan Sakha sambil menangis.
"Devano...??Plis Dev,,anterin gue pulang...!!Cepetan...!!"Salsa langsung menarik tangan Devano menuju ke basement.Devano yang masih terkejut dan tidak mengerti dengan apa yang terjadi hanya bisa mengikuti kemauan Salsa.Dia segera mengajak Salsa menuju ke mobilnya dan membawa gadis itu pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu,Sakha merasa frustasi karena tidak berhasil menyusul Salsa.Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Salsa tiba-tiba pergi meninggalkannya begitu saja.
***